
"Ini bukan masalah pekerjaan, Tetapi Ini masalah pribadi yang selama ini sudah saya pendam." ucap Ronald memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya kepada Marissa yang selama ini sudah ia pendam. Tetapi untuk hari ini, sepertinya sudah tidak bisa memendamnya lagi. Karena rasa cinta Ronald kepada Marissa semakin dalam.
Hingga Ronald mengumpulkan keberaniannya untuk mengutarakan perasaannya kepada Marisa.
"Aku sangat mencintaimu, Marissa." ucap Ronald dengan lantang membuat Marissa mengerutkan keningnya
Marisa yang menganggap kalau Ronald itu hanya bercanda, diam sejenak.
"Pak, kalau bercanda jangan waktu makan dong, nanti selera makan saya jadi hilang. Bapak ada-ada saja." ucap Marissa kepada Ronald.
"Saya tidak bercanda Marissa, Saya benar-benar sangat mencintaimu." ucap Ronald sembari meraih tangan Marissa.
Marisa menatap Ronald dengan seksama. Marisa berusaha mencari kebohongan di mata Ronald, tetapi ia tidak menemukan kebohongan di sana.
"Bapak serius?"
"Saya serius, saya sangat sayang dan cinta sama kamu Marissa. Aku mohon, terimalah cintaku." ucap Ronald kepada Marissa dengan tulus.
Marissa terdiam. Ia tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun, karena ia sedikit canggung, ketika mendengar Ronald mengungkapkan isi hatinya pada Marissa.
"Kalau belum bisa menjawab sekarang, tidak apa-apa. Tetapi yang pasti, aku akan setia menunggumu, sampai Kamu siap menjadi ibu dari anak-anakku kelak." ucap Ronald terlihat serius.
Sejujurnya Marissa juga sudah memiliki perasaan yang sama seperti Januar. Karena semenjak Marissa bekerja di ALC COMPANY, Marissa sudah tertarik kepada Ronald yang bekerja sebagai HRD di perusahaan ALC COMPANY. Karena Ronald yang memulai mengungkapkan isi hatinya, membuat hati Marisa merasa lega. Yang ternyata cintanya
selama ini tidak bertepuk sebelah tangan.
"Mas Ronald, serius?" panggilan Mas dari mulut Marissa membuat Ronald mengembangkan senyumnya. Ia menatap Marissa dengan tatapan penuh cinta.
"Iya Marisa, saya sangat serius. Sebenarnya saya sudah lama menyukaimu, semenjak kamu mulai bekerja di kantor ini setahun yang lalu.
"Apakah kamu memiliki perasaan yang sama kepadaku?" Ronald balik bertanya kepada Marissa. Marissa tidak dapat langsung menjawab, ia hanya diam dan menatap Ronald dengan tatapan penuh tanya.
"Kamu Kenapa diam, Marissa?
Marissa mengembangkan senyumnya sembari membuka Tupperware bekal miliknya.
"Apa tidak ada tempat lain yang lumayan romantis untuk mengungkapkan perasaan Mas Ronald kepadaku? Mas Ronald tidak romantis banget sih, Masa di ruang kantor mengungkapkan isi hati kepada seorang wanita yang ia cintai." ucap Marissa sambil sedikit tertawa cengengesan.
Ronald menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia pun akhirnya tertawa mengingat dirinya mengungkapkan perasaannya begitu saja kepada Marisa di ruang kantor.
__ADS_1
"Maaf kalau saya tidak seromantis yang kamu harapkan. Tetapi itulah yang ada di dalam isi hatiku, jujur saya tidak bisa memendam perasaan itu lagi. Sehingga saya mengungkapkannya langsung kepada kamu di sini. Mumpung ada waktu.
"Sudah, tidak perlu dipikirkan.Saya hanya bercanda kok. lebih baik kita makan dulu, perutku sudah mulai keroncongan. cacing-cacing di perutku sudah berdemo meminta jatah. Tadi Mas sudah bilang Kan kalau Mas juga sudah lapar?" ucap Marissa kepada Ronald sambil mengembangkan senyumnya.
"Jadi bagaimana nih, jawabannya?" tanya Ronal.
"Sudah, yang lain aja kita bahas. Sekarang kita makan, nanti saja kita bahas itu, lebih baik kita mengisi perut kita dulu." ucap Marissa.
"Tapi, Marissa. Hatiku belum tenang, kalau kamu belum menjawabnya." sahut Ronald
Marisa langsung terkekeh melihat wajah Ronald yang begitu menggemaskan menurutnya, menuntut jawaban yang pasti darinya.
Cup!
Marisa langsung mengecup wajah tampan Ronald dengan sekilas.
membuat tubuh Ronald bagai tersengat listrik mendapat kecupan hangat dari Marissa.
"I love you too!! sahut Marisa dengan nada kecil.
Coba katakan sekali lagi
"Ih gemesin banget sih, I love you too Pak Ronald, yang terhormat." ucap Marissa dengan suara sedikit meninggi, membuat Richard langsung meraih tubuh Marissa kepelukannya.
Marisa menganggukkan kepalanya, membuat hati Ronald bagai terbang ke langit ketujuh
"Terima kasih Marissa, ternyata kamu memiliki perasaan yang sama kepadaku. jujur Hari ini aku sangat bahagia sekali, mendengar ini Sayang." ucap Ronald kepada Marisa dan kata-kata sayang keluar begitu saja dari mulut Ronald.
"Sudah puas dengar jawabanku, kan?sekarang lebih baik kita langsung makan. Soalnya cacing-cacing di perutku sudah pada berdemo meminta jatah." ucap Marissa sambil tertawa cengengesan. Keduanya pun makan bersama di ruang kerja Marisa. mereka benar-benar menikmati masakan sederhana yang dibawa Marisa dari rumah.
Ronald benar-benar bahagia ternyata perasaannya yang sudah ia pendam selama ini, juga pendapat respon positif dari wanita yang sangat ia cintai. Ternyata Marissa juga mencintainya. Ronald juga berencana ingin segera melamar Marissa menjadi pendamping hidupnya. Dia hanya membutuhkan restu dari kedua orang tuanya.
***
"Sayang, ini sudah sore. lebih baik kita pulang besok saja kita lanjutkan pekerjaannya." ujar Ronald kepada Marisa. Marisa melirik jam yang ada di pergelangan tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul enam. sore.
"Ya Allah, Marissa nggak nyadar kalau sudah jam enam." ucap Marissa. padahal Marisa sudah janji kepada bibinya untuk menemani bibinya ke pesta pernikahan anak dari salah satu teman bibinya.
"Mas, sepertinya Bibi sudah menungguku di rumah. Marisa sudah janji untuk menemaninya ke pesta pernikahan teman Bibi." ucap Marissa kepada Ronald.
__ADS_1
"Biar saya antar saja, kamu sayang."
"Tapi, bagaimana dengan motor Marissa?"
"Kamu tenang saja sayang, biar nanti sopir yang mengantarkannya langsung ke rumah bibi." ucap Ronald.
Marisa langsung membereskan meja kerjanya, agar mereka segera pulang karena Marisa takut kalau bibinya terlalu lama menunggunya.
Tiba di parkiran mobil, Ronald membuka pintu mobilnya agar Marisa dapat masuk dengan leluasa. Terlihat Marissa menikmati sikap manis Ronald yang memperlakukannya layaknya seorang ratu.
"Mas, kalau Bibi nanti nanya gimana dong?"
"Tidak apa-apa, Mas akan memberitahu yang sebenarnya mengenai hubungan kita. Agar bibir tidak suudzon sama kamu, Jika kamu terkadang telat pulang kerja."
"Sekali lagi terima kasih ya, Sayang. Kamu sudah hadir di hidup Mas. Kehadiran kamu di hidup Mas, membuat hidupmu semakin berwarna. Marisa hanya mengembangkan senyumnya kepada pria yang selama ini ia cintai semenjak Marissa bekerja di perusahaan ALC COMPANY.
***
Satu minggu kemudian kondisi Baby Andika sudah stabil dan dokter sudah memperbolehkan Baby Andika dirawat di rumah. Karena perkembangan kesehatan baby Andika yang cukup signifikan. Hal itu membuat Tamara merasa lega dan bahagia.
"Mama !!!! panggil Cia.
"Iya, ada apa Sayang?" sahut Tamara
"Mama, dedek bayi hari ini pulang ke rumah kan?" tanya Cia yang sudah tidak sabar menanti kepulangan adiknya.
"Iya Sayang."
"Kalau dedek bayi sudah pulang ke rumah, Cia bisa main dong sama adiknya Cia
"Hore.... hore ....hore." ucap Cia sampai meloncat loncat kegirangan. Karena mendengar kalau adiknya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
"Apa kamu senang memiliki Adik sayang?"
"Tentu dong, Ma. Cia benar-benar bahagia. Itu berarti dia tidak akan sendiri lagi nanti bermain."
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN