
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih dua puluh menit membelah jalanan ibukota, Evi akhirnya tiba di basement apartemen yang selama ini ia tempati. Dia langsung menaiki lift ke lantai sepuluh yang mana apartemen yang selama ini ia tempati berada di lantai sepuluh
Evi langsung menekan nomor pin pintu apartemennya. Kemudian ia langsung masuk dia menyimpan tasnya di dalam rak. Kemudian ia langsung masuk ke dalam kamar mandi mengingat tubuhnya saat ini sangat gerah, aktivitas yang cukup padat membuat dirinya cukup benar benar lelah.
Setelah selesai melakukan ritual mandinya Evi keluar dengan menggunakan handuk yang dililitkan di tubuhnya. Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar jelas di telinganya. Membuat dirinya bingung Siapa sore-sore begitu mengetuk pintu ke apartemen yang selama ini ia tempati. Dengan cepat-cepat Evi memakai baju seadanya yang biasa ia gunakan di rumah jika sedang sendiri
Evi menggunakan celana pendek yang pendeknya layaknya seperti kolor dan dia hanya menggunakan tank top saja. Karena ia tidak ada planning untuk keluar. Ia ingin sehabis mandi langsung istirahat sambil merebahkan tubuhnya di sofa untuk menonton drama Korea kesayangannya.
Tanpa melihat dari lobang pintu, Evi membuka pintu apartemen miliknya. Ia benar-benar melihat kehadiran Januar di sana.
"Pak Januar!"pekik Evi
"Iya saya, kamu kira siapa?
"Tidak, aku tidak mengira siapa-siapa, aku kira hanya petugas apartemen saja."sahut Evi
Dia hanya membuka pintu apartemennya separuh.
"Apa saya bisa masuk? dan kenapa kamu membuka pintu hanya separuh saja?Evi hanya nyengir kuda. Ia pun akhirnya mempersilahkan Januar masuk. Lalu ia langsung berlari masuk ke dalam kamar. Padahal Januar sudah sempat melihat penampilannya yang terlihat seksi dan membuat Januar kesulitan untuk menelan salivanya.
"Kenapa berlari? ucap Januar sambil langsung menarik tangan Evi agar tidak pergi meninggalkannya.
"Pak Januar duduk saja dulu, tidak mungkin saya berpakaian seperti ini Pak Januar berada di sini.
"Jadi kalau lelaki yang bernama Christopher itu di sini kamu mau berpakaian seperti itu di sini?
Evi mengerutkan keningnya bingung Mengapa tiba-tiba pertanyaan itu yang keluar dari mulut pria yang ada di hadapannya.
"Maksudnya apa?
"Maksud saya, kenapa rupanya Kalau kamu berpakaian seperti itu saya disini. Apa kamu pikir saya laki-laki bejad?
"Sudah tidak perlu protes, sebentar Aku tinggal dulu."ucap Evi sambil menepis tangan Januar lalu langsung masuk ke dalam kamarnya untuk memakai bajunya kembali.
Beberapa menit kemudian ia kembali menghampiri Januar. "Ada apa Pak? kok bapak sore begini datang ke apartemen Evi? apa ada sesuatu yang bisa Evi bantu?"
"Memangnya saya tidak bisa bertamu ke apartemen kamu? tanya Januar
"Bukan begitu, tapi masalahnya tumben saja Pak Januar sore-sore begini sudah datang ke sini. Padahal biasanya diajak mampir saja Pak Januar jarang singgah, baru pertama kali waktu kebanjiran kemarin Pak Januar singgah di apartemen Evi.
Januar menghela nafas panjang. Kemudian Ia menatap Evi dengan seksama.
__ADS_1
"Kenapa kamu bertanya seperti itu kepadaku? bukankah tadi siang aku sudah mengungkapkan segala isi hatiku kepadamu?" ucap Januar kepada Evi.
"Itu seriusan?
"Memangnya siapa yang bercanda, Evi?
"Aku kira Mas hanya bercanda.
"Astagfirullah, Aku berbicara seserius gitu, kalau aku hanya bercanda ngak mungkin aku seperti ini." ucap Januar kepada Evi.
Tiba-tiba suara ponsel Evi mengalihkan atensi keduanya. Evi mengambil ponselnya, yang ia letakkan sebelumnya di atas meja. Padahal sebelumnya Januar sudah melihat nama tertera yang menghubungi Evi.
Evi menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Christopher.
"Halo assalamualaikum Pak dokter." ucap Evi saat sambungan telepon itu sudah tersambung.
"Bagaimana, Apa kamu memiliki waktu malam ini, Aku ingin mengajak kamu makan malam. Kan, tadi siang Sudah aku bilang sama kamu." ucap Christopher di dalam sambungan telepon selulernya.
"Maaf Pak Dokter, sepertinya Hari ini aku tidak bisa. Mungkin lain waktu. Kebetulan aku ada tamu di rumah." ucap Evi menolak ajakan dari Christopher.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Tapi lain kali kamu jangan menolak, ya. ucap Christopher Lalu setelah selesai berbicara dengan Christopher Evi langsung memutuskan sambungan telepon selulernya.
"Pria itu lagi,?
"Pria yang mana maksudnya?
"Pria yang tadi siang ngajakin kamu makan malam."
"Oh, Iya itu dokter Christopher.
"Kenal di mana?
"Teman masa kecil, sayangnya kami berbeda nasib. Dia melanjutkan pendidikannya mengambil fakultas kedokteran di Penang. sementara aku hanya tamat SMA. karena keburu kedua orang tuaku sudah meninggal,"
"Kedua orang tuaku sudah lama meninggal semenjak aku masih duduk di bangku SD, ayahku meninggal. Sementara sewaktu aku duduk di bangku SMP, ibuku meninggal. Jadi aku harus berjuang untuk melanjutkan pendidikanku sampai aku tamat SMA . Hingga Aku bekerja di menjadi office girl di ALC COMPANY Hingga kak Tamara mengangkat ku sebagai staf di sana. Karena aku sering sekali membantu Kak Tamara dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai manajer di kantor itu" ucap Evi memberitahu
"Oh, jadi kamu sudah lama mengenal dokter Christofer?
"Iya, lebih tepatnya mulai dari orok?
"Maksudnya?
__ADS_1
"Iya,sebelum lahir saja kami tetanggaan."ucapnya sambil terkekeh.
Januar hanya ber oh ria.
"Kenapa? cemburu sama Christopher? ya Nggak mungkin lah aku sama dia. Secara kedua orang tuanya pasti tidak akan setuju dia menikah denganku. Karena kedua orang tua Christopher itu orangnya terlalu pemilih,"
"Tentunya mereka tidak akan sudi memiliki menantu yang hanya anak yatim piatu seperti itu."ucap Evi sambil berusaha mengembangkan senyumnya. Padahal di dalam hatinya menangis membayangkan bagaimana perih pahitnya dia menjalani hidup kala itu, hingga dirinya bisa seperti sekarang ini.
"Kamu setegar itu ya. Aku tidak menyangka kalau kehidupan kamu dulunya benar-benar berat." ucap Januar
"Ya begitulah, namanya kehidupan. Semuanya harus dilalui dengan lapang dada dan bersyukur. Kalau aku tidak mensyukuri akan apa yang aku dapatkan aku pasti tidak ada lagi di dunia ini. Begitu berat cobaan dan tantangan yang aku hadapi ketika aku duduk di bangku SMP sampai SMA, mulai dari SMP aku sudah bekerja menjadi buruh cuci di rumah tetangga untuk menghidupi kehidupanku sehari-hari. Sampai aku duduk di bangku SMA, aku juga bekerja sebagai buruh cuci setelah aku pulang sekolah,"
"Di waktu kelas Dua ada tawaran sama aku bekerja di sebuah kafe sebagai pelayan di sana. Aku menerima tawaran itu, karena menurutku pekerjaan itu lebih baik daripada aku terus menjadi buruh cuci. Jika aku bekerja di sana pasti, aku akan mendapatkan pengalaman yang lain,"
"Sehingga setiap pukul tiga sore aku bekerja di sebuah Cafe sampai jam sembilan malam. hingga aku tamat sekolah SMA dan aku melamar bekerja dengan bermodalkan ijazah SMA yang aku miliki, aku diterima sebagai office girl ALC COMPANY. Hingga aku diterima menjadi staf. Itu tidak luput dari campur tangan Kak Tamara."ucap Evi memberitahu panjang lebar masa-masa hidupnya
"Sudah lah,yang Lalu biarlah berlalu. Maafkan aku, aku jadi mengingatkanmu luka lama yang kamu kubur dalam-dalam." ucap Januar meminta maaf kepada Evi
"Tidak apa-apa Mas, santai aja kali."
"Jadi bagaimana? apakah kamu bersedia menjadi pendamping hidupku?
"Mas beneran?
"Mas nggak akan menyesal nanti memiliki istri yang hanya seorang yatim piatu? hati-hati lho Mas. lebih baik tanya dulu kedua orang tua mas, apa mereka setuju mas menikah dengan Evi. Jujur Evi tidak ingin mencari pacar. Kan, sebelumnya sudah Evi katakan, Evi tidak ingin mencari pacar tetapi Evi ingin mencari suami."ucap Evi
"Iya, aku yakin kedua orang tuaku pasti menerima kamu apa adanya. Karena selama ini kedua orang tuaku tidak pernah memandang orang dari segi ekonomi, ras, dan golongan. Jadi kamu nggak perlu khawatir mengenai restu dari kedua orang tua Mas." ucap Januar berusaha meyakinkan Evi.
"Begini saja deh, Mas. Evi tidak mau ribet, kalau memang Mas serius, dan kedua orang tua Mas menyetujui pernikahan kita nanti, lebih baik Mas bawa aja langsung kedua orang tua mas untuk melamar Evi. Itu tanda keseriusan Mas kepada Evi." ucap Evi membuat Januar benar-benar terhenyak. Itu artinya Evi menerima cintanya.
"Jadi itu artinya kamu menerima Mas?
, Evi mengangguk pelan. Membuat mata Januar berbinar.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1