Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 91. MEMINTA RESTU


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih tiga puluh menit mobil Januari hendak memasuki sebuah rumah mewah berlantai tiga model Mediterania itu.


Klakson mobil milik Januar terdengar jelas di telinga petugas keamanan yang berjaga di sana.


Pintu gerbang dibuka lebar oleh petugas keamanan yang berjaga di rumah utama keluarga Baskoro. Ketika pintu gerbang itu sudah terbuka lebar, mobil yang dikendarai Januar memasuki pekarangan rumah.


"Pa, sepertinya Putra kita sudah datang."ucap Nyonya Raina ketika mendengar suara deru mobil milik Januar terdengar jelas di telinganya.


"Kita lihat saja, Apakah Putra kita berhasil membawa wanita itu ke rumah."sahut Tuan Baskoro.


Terlihat Nyonya Raina sudah tidak sabar melihat sosok wanita yang mampu mencairkan hati putranya yang sudah lama membeku. Usia Januar sudah menginjak hampir 38 tahun, tetapi ia belum juga melepaskan masa lajangnya.


Berulang kali Nyonya Raina menjodohkan Januar kepada putri teman-teman sosialitanya. Tapi tampaknya Januar sama sekali tidak tertarik. Sehingga Nyonya Raina penasaran melihat sosok wanita yang saat ini berhasil membuat putranya ingin segera menikahinya.


Nyonya Raina Yang penasaran langsung membuka pintu tanpa menyuruh asisten rumah tangganya. Padahal sang asisten rumah tangga sudah mau membuka pintu rumah utama.


Saat pintu sudah terbuka, Januar dan Evi yang sudah berada di depan pintu rumah utama hendak mengetuk pintu, terhenyak melihat Nyonya Raina sudah membuka pintu dan berdiri di sana.


"Halo Mom, sapa Januar sambil mengembangkan senyumnya menatap Nyonya Raina dengan tatapan penuh arti. Sementara Evi langsung memberi salam kepada Nyonya Raina dan mencium punggung tangan Nyonya Raina dengan takzim.


Nyonya Raina mengerutkan keningnya. Lalu Nyonya Raina mempersilahkan keduanya masuk dan duduk di ruang tamu. Tuan Baskoro pun berdiri dan mempersilakan calon menantu dan putranya duduk. Tetapi sebelumnya Evi memberi salam kepada Tuan Baskoro kemudian ia mencium punggung tangan Tuan Baskoro dengan takzim.


"Jadi kamu yang bernama Evi?"tanya Tuan Baskoro bersamaan dengan istrinya membuat Januar langsung tertawa cengengesan.


"Idih, suami istri kompak banget! bisa-bisanya seperti janjian langsung bertanya kepada calon istri Aku." ucap Januar.


"Iya, iyalah. Namanya juga suami istri harus kompak dong. Namanya juga sama-sama saling mencintai dan juga sehati." sahut Tuan Baskoro.


"Astagfirullah, ingat umur! jangan sok masih muda Pa, Ma. lihat di kepala sudah uban tumbuh semua di kepala."


"Memangnya kamu lihat Papa ubanan?"


"Iya, Memangnya kamu lihat Mama ubanan?" Nyonya Raina bertanya hal yang sama kepada putranya.

__ADS_1


"Iya, memang tidak terlihat sih. Itu karena dicat."gerutu Januar yang mampu membuat Evi geleng-geleng kepala melihat keluarga calon mertuanya .


"Sayang maaf ya, namanya juga Opa, Oma gaul ya gini, deh."ucap Januar yang langsung dibalas tatapan tajam dari Nyonya Raina.


"Maksud kamu, apa?


"Kamu mau cari masalah sama Mama?


"Upsss Nggak berani, takut singa betina ngamuk."ucap Januar sambil langsung berpindah tempat duduk tempat di samping Evi.


"Kamu ya! sudah mau kawin saja belum berubah. Masih saja terus begitu."


"Memangnya berubah jadi apa Mom"


"Berubah jadi Ultraman Apa power rangers?"canda Januar.


"Ini anak memang benar-benar enggak bisa dibilangin, ya."


"Ya udah, langsung ke intinya saja. "Bagaimana rencana kalian, apa kalian benar-benar saling mencintai?"tanya Tuan Baskoro yang tiba-tiba membuat Evi langsung menundukkan kepalanya.


"Kok malah kamu aja yang menjawab? Masalahnya kamu sudah Mama tahu. Saat ini Papa ingin mendengar langsung dari Evi. Apakah dia benar-benar mencintai kamu atau tidak?" ucap Nyonya Raina berharap Evi membuka suaranya.


Januar menggenggam tangan Evi mencoba menenangkan Evi dari kegugupannya.


"Iya Nak, Apakah kamu benar-benar mencintai Putra kami Januar? tanya Tuan Baskoro.


Evi masih terdiam tidak dapat menjawab pertanyaan Tuan Baskoro. Rasanya kata-kata yang ingin keluar dari mulutnya orang sulit keluar dari mulutnya.


"Astaga, aku harus jawab apa sekarang? Padahal aku sendiri belum tahu jawabannya, apakah aku mencintai Januar apa tidak." gumam Evi di dalam hati.


"Kenapa diam Nak?


"Ayo sayang, jangan diam saja."bisik Januar.

__ADS_1


Evi menghela nafas panjang. Kemudian ia mulai mengangkat kepalanya menatap Nyonya Raina dan Tuan Baskoro dengan tatapan mendalam.


"Begini Om, Tante. Kalau ditanya mengenai rasa cinta Evi terhadap Mas Januar? Evi akui Evi mencintai Mas Januar. Tapi, mungkin Mas Januar belum memberitahu siapa Evi yang sebenarnya kepada Om dan Tante. Agar tidak ada penyesalan ke depannya, lebih baik Evi langsung berterus terang dari sekarang.


"Evi tidak ingin, status Evi menjadi masalah di kemudian hari. Evi sebenarnya anak yatim piatu, dan hanya anak rantau di kota ini. Asal Evi berasal dari kota Medan. Tidak jauh dari kampung halaman Kak Tamara,"


"Tapi, Kak Tamara lebih beruntung, dia masih memiliki kedua orang tua yang lengkap. Dulunya Evi belum mengenal Kak Tamara. Kamu kenal di ALC COMPANY. Kala itu Evi bekerja sebagai petugas kebersihan,"


"Mungkin, karena Kak Tamara merasa kasihan melihat saya. Sehingga Kak Tamara mengangkat saya sebagai staf di kantor ALC COMPANY. Hingga saat ini saya bekerja di sana,"


"Saya sudah memberitahu siapa jati diri saya yang sebenarnya.Jadi kalau Om dan Tante tidak merasa keberatan dengan status Evi, Evi bersedia menikah dengan mas Januar. Tapi kalau Om dan Tante merasa keberatan lebih baik diberitahu sekarang, daripada ada masalah di kemudian hari."ucap Evi berhati-hati berbicara di hadapan Tuan Baskoro dan nyonya Raina.


"Tuan Baskoro benar-benar tertegun mendengar penuturan dari Evi. Wanita itu berbicara apa adanya. Dia berbicara jujur. kepada tuan Baskoro dan nyonya Raina.


"Wanita ini jujur sekali, penampilannya juga sederhana. Tetapi dia masih terlihat cantik." gumam Tuan Baskoro di dalam hati mengagumi kecantikan natural yang dimiliki oleh Evi.


Sementara Nyonya Raina tidak berkomentar apa-apa. Dia hanya menatap Evi dari ujung kaki hingga ujung rambut. Membuat Evi sedikit tidak nyaman dengan tatapan Nyonya Raina.


"Pa, Ma! Januar mohon restui kami."mohon Januar kepada Tuan Baskoro dan nyonya Raina.


Tuan Baskoro menatap istrinya sekilas. Ia melihat raut wajah istrinya biasa-biasa saja. Dia tidak menunjukkan aura kesukaan atau ketidaksukaan terhadap Evi.


"Kalau Papa setuju setuju saja. Tapi sekarang kita tanya kepada Mama kamu." ujar Tuan Baskoro sambil menatap istrinya dengan tatapan penuh tanya.


Hal itu menarik atensi Evi. Ia pun kembali berusaha mendongakkan kepalanya, menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan penuh memohon. Tapi sepertinya wanita itu belum memberikan respon apa-apa.


Sementara di tempat lain, Regen yang mendapat pesan Whatsapp dari Januar yang memberitahu kalau dirinya saat ini sedang meminta restu kepada Tuan Baskoro dan nyonya Raina, sepertinya kesulitan untuk memberi restu kepada Evi. Ia ingin langsung datang ke rumah utama keluarga Baskoro. Dia tidak ingin sang Tante, tidak memberikan restu kepada Evi, karena ia sangat mengetahui sosok Evi yang sebenarnya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS


__ADS_2