Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 123. MELAMAR MARISSA


__ADS_3

Regen dan Tamara kembali ke rumah, tentunya didampingi oleh dokter Dirga dan dua orang suster. Karena Regen ingin kalau suster yang merawat putranya adalah seorang suster yang benar-benar handal di bidang merawat bayi.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih empat puluh menit, dari rumah sakit Aditama group menuju rumah utama keluarga Aditama. Mereka pun tiba di sana. Alangkah terkejutnya ketika Regen dan Tamara turun dari dalam mobil diikuti oleh dokter Dirga dan dua orang suster yang ingin merawat baby Andika.


"Senyum sumringah terlihat jelas di wajah Ibu Sumiati, Pak suyatno dan Tuan Aditama menyambut kedatangan cucu mereka.


Apalagi dengan Cia yang sangat antusias menantikan sang adik. Alunan musik, dan beberapa kerabat sudah berdatangan untuk sekedar mengucapkan selamat kepada Tamara dan juga Regen Aditama atas kehadiran anggota baru di tengah-tengah keluarga Aditama.


"Wah, rame banget!"gumam Tamara karena Tamara dan Regen sama sekali tidak mengetahui kalau kedua orang tua Tamara dan Tuan Aditama memiliki rencana untuk mengadakan syukuran kepada putranya.


"Ini siapa yang merencanakan Pa?"tanya Regen kepada Tuan Aditama.


"Papa, dan kedua mertua kamu merencanakan ini semua. Jujur Papa sangat bahagia dengan kehadiran baby Andika di tengah-tengah keluarga kita. jadi tidak ada salahnya dong kalau Papa merayakan kecil-kecilan untuk menyambut cucu Papa yang tampan ini."ucap Tuan Aditama sambil meraih tubuh mungil cucu kesayangannya, yang selama ini Tuan Aditama nanti nantikan dari Regen.


"Terima kasih nak Tamara, kamu sudah memberikan kebahagiaan di tengah-tengah keluarga kita. "ucap Tuan Aditama merasa bersyukur.


Tampak beberapa kerabat dan tetangga dan juga rekan bisnis Tuan Aditama, banyak berdatangan untuk memberikan selamat kepada Tamara dan juga Regen.


***


"Mas jujur Tamara tidak menyangka kalau Papa merencanakan ini semua. Padahal Tamara tidak terlalu mengharapkan yang seperti ini. Tamara sehat, dan Putra Tamara sehat dan kita semua sehat itu sudah cukup buat Tamara." ucap Tamara kepada sang suami.


Baby Andika cukup aktif walaupun lahir prematur tapi tidak mengurangi ketampanannya. Tamara mempercayakan baby Andika untuk dimandikan oleh suster yang dipilihkan khusus oleh Regen untuk merawat dan menjaga baby Andika.


Evi dan Marissa tidak mau ketinggalan mendengar berita kalau baby Andika sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Dia meminta izin kepada Januar untuk pergi ke rumah utama keluarga Aditama.

__ADS_1


Karena Evi sudah tidak sabar ingin bertemu dengan baby Andika buah hati dari pasangan Tamara dan Regen Aditama.


Terlihat jelas senyum sumringah di wajah Evi dan Marissa ketika mereka tiba di kediaman rumah utama keluarga Aditama. Evi dan Marissa langsung menghampiri baby Andika. alangkah bahagianya Evi dapat melihat wajah Tamara sudah semakin membaik. Begitu juga dengan Marissa. Kedua wanita ini tampak antusias ingin bercanda dengan baby Andika.


Sementara Januar meminta kepada pihak kepolisian agar mengusut tuntas kejadian yang dialami oleh Tamara.


"Tuan Januar yang terhormat, Bagaimana perkembangan kasus tentang penganiayaan istri saya?"tanya Regen Aditama kepada Januar dalam sambungan telepon selulernya.


"Kakak tenang saja. Clarissa sudah dijebloskan ke dalam penjara dan akan Aku pastikan tidak akan ada yang bisa membantunya keluar dari sana." ucap Januar kepada Regen Aditama memastikan.


"Aku minta, Clarissa dihukum seberat-beratnya. Saya tidak akan mengampuni dia lagi."ucap Regen kepada Januar.


"Apalagi itu menyangkut istri dan anakku. Aku tidak akan mengampuninya."ucap Regen Aditama penuh dengan emosi, kepada Januar meminta kepada pihak kepolisian dan juga kuasa hukum keluarga Aditama, untuk memastikan hukuman yang setimpal kepada Clarissa yang sudah tega menganiaya istri dan calon bayinya.


****


Marisa sebenarnya saudara sepupu Regen Aditama, dari almarhumah ibunya Regen. tetapi karena kedua orang tua Marissa berada jauh di luar kota, sehingga Marissa lebih memilih tinggal bersama bibinya di kota Jakarta.


Ketika Ronald turun dari mobil, iya Pun bertegur sapa kepada Marissa dan juga Ibu Marina. Ibu paruh baya itu sedikit heran melihat kedatangan Ronald disertai senyum sumringah dari wajah Marissa. Padahal selama ini sudah beberapa kali Ronald mengantar dan menjemput Marissa tetapi mimik wajah Marissa Tak segembira sekarang.


Ronald memberi salam kepada Ibu paruh baya itu.


"Selamat sore Tante!" sapa Ronald kepada Ibu Marina. sambil memberikan salam kepada Ibu Marina.


"selamat sore!"sahut Ibu Marina sembari mempersilakan Ronald masuk ke rumah sederhana milik ibu Marina yang selama ini sudah lama mereka tempati.

__ADS_1


"Marissa tolong buatkan minum untuk teman kamu." ujar Ibu Marina kepada Marissa.


"Baik Bibi!" sahut Marissa sembelih langsung berlalu ke dapur. Sekitar sepuluh menit kemudian, Marissa keluar dari dapur dengan membawakan Tiga cangkir kopi buatan Marissa sendiri. Maklum di rumah sederhana milik ibu Marina tidak memiliki asisten rumah tangga.


Yang mengerjakan urusan rumah biasanya Marissa sendiri dibantu oleh ibu Marina. Walau hidup sederhana, tetapi kehidupan Ibu Marina bahagia membuat Marisa betah tinggal disana. Ibu Marina harus bekerja keras untuk menyekolahkan kedua putra-putrinya yang menuntut ilmu di salah satu universitas ternama yang ada di Sumatera.


Hal itulah yang membuat Marissa selama ini masih mengurungkan niatnya untuk menjalin hubungan dengan setiap lelaki. apalagi semenjak Marissa lulus kuliah ia bertekad harus terlebih dahulu membahagiakan kedua orang tuanya yang ada di kampung. Tetapi ia juga tidak memungkiri rasa cinta, yang dimiliki oleh Marissa terhadap Ronald, yang cukup besar membuat dirinya pun tidak membantah apa permintaan Ronald untuk menikahinya.


Mengingat umur Ronald sudah sepatutnya harus menikah. Niat serius Ronald untuk menikahi Marissa ditanggapi positif dari Marissa sendiri.


Walaupun dirinya belum mampu membahagiakan kedua orang tuanya dengan memberikan yang terbaik kepada kedua orang tuanya. Tetapi sebelumnya Ronald sudah berjanji kepada Marissa untuk membutuhi kehidupan Marissa dan juga kedua orang tuanya.


"Ada apa Nak, kok kamu terlihat serius sekali?"tanya ibu Marina kepada Ronald.


"Begini Bu!"sejujurnya Ronald ingin berbicara kepada Ibu kalau Ronald berniat untuk melamar Marissa menjadi pendamping hidup Ronald untuk selamanya."jawab Ronald to the point tanpa ada basa-basi sedikitpun.


"Maksud kamu?


"Begini Bu, sebelum lamaran resmi ini saya sampaikan kepada orang tua Marissa, ada baiknya Ronald meminta persetujuan dari ibu terlebih dahulu. Karena saya benar-benar menghargai Ibu. Mengingat Ibu adalah orang tua Marissa yang ada di Jakarta ini. jujur Ronald sangat sayang dan cinta kepada Marissa."ucap Ronald kepada Ibu Marina.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2