Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 60. TANGIS CIA


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh anak buah Alven sudah tiba di sebuah rumah sederhana yang ada di kawasan puncak. Rumah itu sepertinya sudah lama tidak dihuni. Terlihat Alven membaringkan Cia di atas tempat tidur lusuh yang ada di rumah itu.


Sementara di tempat lain, Wali kelas Cia sudah mencari keberadaan Cia. Tapi mereka tidak menemukan keberadaan Cia. Seluruh guru-guru dan murid yang ada di sekolah itu mencari keberadaan Cia, tapi tak kunjung ditemukan.


Hal itu membuat wali kelas Cia menjadi khawatir. Mau tidak mau wali kelas itu menghubungi Tamara, mencoba mencari tahu siapa tahu Tamara sudah menjemput Cia lebih awal.


Saat Tamara dihubungi oleh wali kelas Cia, Tamara begitu terhenyak ketika mendengar putrinya tidak ada di sekolah. Cia khawatir akan kondisi putrinya saat ini.


Tamara langsung berlalu meninggalkan Pak suyatno dan ibu Sumiati di rumah. Ia langsung mengendarai motor matic miliknya menuju sekolah Cia. Saat sang wali kelas menuturkan kalau dia tidak kelihatan mulai jam membuat Tamara benar-benar mengkhawatirkan putrinya.


Ia menghubungi Regen, berharap Cia saat ini berada bersama Regen. Regen yang saat ini sedang berada di ruang kerjanya melihat nomor ponsel Tamara menghubunginya. Tak biasanya Tamara siang-siang begini menghubungi Regen. Biasanya hanya mengirimkan pesan Whatsapp untuk mengingatkan makan siang.


Regen mengerutkan keningnya, Karena penasaran wanita yang sangat ia cintai tiba-tiba menghubungi dirinya, Ia pun langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya, agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Tamara.


"Halo selamat siang sayang, tumben kamu menghubungi Mas siang-siang begini. biasanya hanya mengirimkan pesan Whatsapp untuk mengingatkan Mas makan siang." ucap Regen kepada Tamara.


"Mas ini urgent, Cia ada sama Mas tidak ?


"Tidak ada Sayang, memangnya Cia ke mana? tanya Regen kepada Tamara.


"Nggak tahu Mas, wali kelasnya menghubungi Tamara Kalau Cia tidak ada di sekolah semenjak jam istirahat. Padahal ini sudah dua jam berlalu. Tapi Cia tak kunjung pulang ke sekolah dan ke rumah. ucap Tamara membuat Regen langsung bangkit dari tempat duduknya.


"Kamu serius sayang?


"Iya Mas," sahut Tamara sambil terisak. jangan menangis, berpikir positif Mas akan segera ke sana." ucap Regen sambil langsung mematikan sambungan telepon selulernya.


Regen langsung keluar dari ruang kerjanya menuju lift khusus petinggi perusahaan. Januar melihat Regen berjalan terburu-buru masuk kedalam lift khusus petinggi perusahaan. Penasaran Mengapa Regen saat ini terlihat buru-buru.

__ADS_1


Sebelumnya Regen langsung menghubungi Mario untuk bersiap mengantarkan dirinya ke sekolah Cia. Ia ingin mengetahui kronologis bagaimana dia tidak ada di sekolah.


Setelah Regen berada di dalam mobil dan duduk dengan nyaman, Mario melajukan mobilnya ke arah jalan raya menuju sekolah Cia.


"Ya Allah, di mana kamu Cia." gumam Regen di dalam hati. Ia tau betul Bagaimana Tamara jika kehilangan Cia. setelah melakukan perjalanan kurang lebih lima belas menit kemudian, Regen tiba di sekolah Cia. Yang di sana ada Tamara sedang menangis sesungguhkan menunggu kabar terbaru keberadaan putrinya.


Regen langsung memeluk Tamara. Kemudian Ia bertanya kepada wali kelas dan guru-guru yang ada di sekolah itu. Regen meminta kepada pihak kepala sekolah untuk segera membuka rekaman CCTV untuk mengetahui kemana perginya Cia saat ini.


Pihak sekolah pun langsung menyetujui permintaan Regen. Mereka menuju ruang CCTV, saat rekaman itu terbuka, terlihat seorang pria menghampiri Cia. yang tak lain dan tak bukan adalah mantan suami Tamara.


"Astagfirullah itu kan, Mas Alven."gumam Tamara


"Iya dia Alven, Sepertinya dia ingin merebut Cia dari kamu, setelah mendengar kabar pernikahan kita. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi. Aku akan mencari Cia sekalipun itu ke ujung dunia." geram Regen.


Regen meminta kepada anak buahnya untuk segera mencari keberadaan Cia. Karena otak dibalik penculikan itu mereka sudah mengetahui siapa. Kini Januar yang ahli di bidang IT langsung mencari keberadaan Alvan saat ini, melalui nomor ponsel Alven.


Januar langsung menghubungi Regen saat mengetahui keberadaan titik terakhir Alven saat ini. "Ada apa, katakan apa kamu sudah menemukan titik terangnya?"tanya Regen kepada sang asisten.


"Bos, tidak perlu khawatir, kalau masalah kecil seperti ini serahkan kepada Januar. Mereka berada di kawasan puncak Bogor. Bos tenang saja, aku akan menuju ke sana bersama beberapa orang anak buahku."ucap Januar memberitahu.


"Kamu serius? kalau Putri ku Cia bersama mereka masih aman, dan saat ini berada di puncak Bogor." tanya Regen kepada Januar yang sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatan Cia.


"Aku pasti kan Alven berada di kawasan puncak. Dia melakukan ini ada motifnya ingin menggagalkan acara pernikahan kalian. karena dia ingin kembali kepada Tamara, setelah ia mengetahui kalau janin yang ada di dalam kandungan Soraya itu ternyata bukan benihnya, melainkan benih orang lain,


Dia merasa tidak rela kalau Amara hidup bahagia dengan pria lain yang ternyata kamu orangnya."


"Apa maksudnya? bukankah selama ini Alven sendiri yang menghianati cinta Tamara? aku tidak akan mengampuninya jika terjadi sesuatu kepada Cia." ucap Regen dengan penuh emosi.

__ADS_1


"Sudah dulu ya, Bos. Aku ingin langsung menuju kawasan puncak." ucap Januar sambil masuk ke dalam mobil miliknya diikuti oleh beberapa orang anak buahnya.


"Aku serahkan putriku Cia kepada kamu! Tolong selamatkan Cia. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadanya cia Belahan Hati calon istriku. Cia adalah permata Hati kami." ucap Regen memohon kepada Januar.


"Bos tenang saja, urusan ini biar aku yang urus. Yang penting Bos tenangkan saja Tamara." ucap Januar sambil langsung memutuskan sambungan telepon selulernya. Saat ini mobil yang membawa Januar sudah berada di jalan tol menuju kawasan puncak Bogor.


Di dalam mobil Januar terus memperhatikan layar laptopnya dan memastikan titik keberadaan Alven saat ini.


Sementara di tempat lain, di sebuah rumah sederhana yang sudah lama tidak berpenghuni itu. Tampak Cia menangis histeris meminta untuk segera pulang ke rumah bertemu dengan Tamara. Anak buah Alven sudah mengurung Cia di dalam kamar yang lusuh itu.


Mungkin karena dia dehidrasi, sehingga dia terlihat lemas. "Mama.....Papa Regen.....kalian di mana? Tangis Cia mencari keberadaan Tamara dan juga Regen. Mendengar nama Regen disebut oleh Cia membuat amarah Alvin semakin memuncak.


"Regen bukan Ayah kamu! Ayah kamu itu aku!! Kenapa kamu memanggilnya dengan panggilan Papa???" ucap Alven dengan nada tinggi


Papa Regen.....Huaa....Mama....Hua....kembali Cia menangis histeris membuat Alven kehilangan kendali, dan memberikan tamparan beberapa kali di wajah cantik bocah kecil itu. Hal itu membuat Cia saat ini kehilangan kesadarannya, tapi sepertinya Alven tidak peduli. Ia langsung keluar dari kamar itu, meminta kepada anak buahnya untuk tetap berjaga di sana.


Regen yang sudah mendapat kabar tentang keberadaan Cia, dari Januar memberitahu kepada Tamara. Kalau saat ini dia sudah berada di kawasan puncak Bogor. Membuat Tamara meminta kepada Regen untuk segera menghantarkannya ke sana. Ia ingin segera bertemu dengan putrinya, khawatir terjadi sesuatu kepada Cia.


Dia memohon kepada Regen untuk segera menghantarkannya ke sana. Dan permintaan Tamara tidak dapat ditolak oleh Regen. Dia tidak ingin membuat Tamara kecewa, dan juga membuat Tamara sedih. Sehingga Regen memutuskan untuk segera berangkat menuju kawasan puncak Bogor, bersama beberapa orang anak buahnya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"

__ADS_1


__ADS_2