Jodoh Untuk Ku

Jodoh Untuk Ku
Liburan


__ADS_3

pagi ini Citra berjalan mengelilingi Villa, ia duduk di sebuah bangku di dekat pohon, udara di sekitar villa sangat lah sejuk.


saat lagi sedang menikmati sejuknya udara, ia di kaget kan oleh sepasang suami istri yang lagi sedang ingin mengambil buah mangga di dekat itu.


"itu kan Vina dan Vito, ngapain mereka ada di sini"ujur Citra saat melihat kedua pasangan yang menikah karena sebuah masalah.


Ia pun berjalan ke arah Vina dan Vito yang sibuk dengan buah mangga yang ingin mereka ambil.


"ngapain di sini?" tanya Citra mengagetkan kedua nya.


"lah, kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Vina balik.


"aku lagi libur sama keluarga" sahut Citra.


"oh sama, kita juga lagi libur" ujur Vina.


"mau manjat pohon Vit?" tanya Citra.


"iya, tapi pohon nya ke besaran" sahut Vito takut.


"pakai tangga naiknya, lagi ngidam ya" kata Citra.


"iya, mintanya aneh-aneh lagi" sahut Vito.


"kan anak kamu yang minta, lagian kamu juga yang bikin, gimana tidak hamil jika di gempur terus setiap saat" ujur Vina kesal.


"iya, mas akan panjat pohon nya" kata Vito berusaha untuk memanjat pohon mangga yang agak besar batang nya tapi pendek.


"udah minta ijin apa sama pemiliknya?" tanya Citra takut.


"udah, tadi aku temui orang yang punya villa" sahut Vina.


Setelah beberapa kali gagal, akhirnya penjaga Villa pun datang dengan membawa tangga untuk mempermudahkan Vito naik ke atas pohon.


sampai di atas Vito pun di buat bingung dengan buah mangga yang istrinya inginkan, di tambah lagi Citra yang mengacau nya minta di ambilkan buah mangga matang.


"yang itu mas, sebelah kamu" kata Vina sambil menunjuk buah mangga nya.


"yang ini?" tanya Vito.


"bukan satunya lagi" kata Vina.


"yang ini kah?" tanya Vito lagi.

__ADS_1


"benar itu, iya yang itu, jangan di lempar taroh di plastik yang kamu bawa" ujur Vina senang.


setelah mendapat beberapa mangga muda, Vito pun menuruti permintaan Citra, ia pun memetik beberapa mangga yang sudah matang.


"wah segar ini" kata Citra mengupas buah mangga.


"sekarang kamu tolong kupas kan aku ya" ujur Vito.


"iya" sahut Citra.


Vina pun memakan buah mangga muda itu dengan lahapnya, setelah habis ia pun minta lagi pada Vito dan untungnya Vito tadi memetik tidak cuma satu dan menaruhnya di plastik yang berbeda.


karena melihat Citra tidak juga kembali, Zio pun membawa Zia untuk mencari istri nya, ia pun kaget melihat istrinya lagi sedang makan mangga bersama Vina dan Vito di dekat pohon.


"ternyata di sini, capek aku cari ya" kata Zio di belakang Citra.


"eh, mas, mau buah mangga tidak, Vito yang memetiknya tadi" ujur Citra.


"tidak makan kamu saja" ujur Zio duduk di dekat istrinya.


"mas aku mau anak seperti Zia ya" kata Vina setelah menghabiskan mangga muda nya.


"iya sayang, mudah mudahan anak kita lahir laki-laki ya" sahut Vito.


"tapi bagaimana caranya supaya wajah anak kita seperti Zia?" tanya Vito bingung dengan ngidam istrinya kali ini.


"aku tidak mau tau, jika wajah nya tidak mirip Zia, aku tidak mau memberi dia asi" kata Vina cemberut.


"jangan seperti itu sayang, itu kan benih mas, mana bisa sama seperti Zia wajahnya, sekalipun itu benihnya Zio tidak akan bisa mirip sama sekali" kata Vito memberi pengertian.


"pokoknya aku tidak mau tau" sahut Vina pergi dengan cepat Vito pun mengejar istrinya.


"gimana jika nanti saat anak mereka sudah lahir Vina tidak mau memberi asi pada anaknya karena tidak mirip dengan Zia" kata Citra pada Zio.


"itu cuma ngidam sayang" sahut Zio mengusap rambut Citra.


"mudah mudah lah" ujur Citra.


"kembali ke villa ya" kata Zio.


"iya, tapi gendong" kata Citra merengek.


"ini gimana?" tanya Zio ia tau istrinya minta di manja.

__ADS_1


"telpon Lala" ujur Citra.


Zio pun menelpon Lala, dengan cepat Lala datang dan mengambil Zia dari gendongan Zio, setelah Lala dan Zia menjauh Zio pun mengendong istrinya.


dan menjatuhkannya di ranjang mereka, Citra mulai terpejam dengan usapan lembut di perut nya.


"ya, malah tidur" gumam Zio melihat istrinya sudah tertidur.


sorenya mereka pun berkumpul di depan Villa, sambil bersenda gurau, Vina dan Vito pun datang menghampiri mereka.


"anak nakal baru muncul" ujur Indra pada Vina.


"aku tidak nakal di om, tapi Citra yang nakal" sahut Vina tidak terima di bilang nakal.


"terus apa jika tidak nakal?" tanya Indra.


"keras kepala aja" sahut Vina.


"sama saja" ujur Indra.


malam itu pun suasana di sekitar Villa tambah ramai dengan kedatangan Zahra dan Adit bersama Kinara dan orang tua mereka.


dan satu restoran penuh dengan keluarga Pramana dan yang lainya yang akan mempersiapkan resepsi pernikahan dan pernikahan Alfa dan Alena, setelah Zio dan Citra.


Namun suasana liburan yang sangat hangat menjadi haru saat Citra memperkenalkan Andini sebagai istri dari Dimas.


sebelum kedatangan Andini tadi, Frans sempat mengatakan niatnya untuk melamar Rianti adik tiri Citra yang sangat Citra jaga itu, wajah Citra pun berubah menjadi garang saat melihat Frans melamar adiknya, karena dia tau jika Frans tidak mau dengan cepat melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.


kembali pada Andini, ia pun menangis terharu di dalam pelukan nenek Rita yang merupakan bunda sambung bagi Adit, karena sejak kecil Adit dan saudara tinggal di rumah nenek Rita, dan orang tua Adit meninggal karena kecelakaan pesawat.


"kenapa kamu tidak datang pada kami nak?" tanya Zahra yang lemas dari tadi.


"aku takut mama marah" sahut Andini, anak sebatang kara yang berkerja sebagai penjual pentol keliling yang di tolong oleh Dimas dan di nikahi nya.


"kami tidak akan marah nak, kami memang ke hilang Dimas sejak usia dia belas tahun, ia pergi, setelah membunuh orang yang ingin melecehkan mamanya, karena ia mengaggap dia tidak pantas tinggal di rumah Wijaya karena ia seorang pembunuh, setelah itu kita kehilangannya jejak Dimas dan berharap ia pulang kembali, tapi dia tidak akan pernah kembali lagi pada kami untuk selamanya" kata Adit pada Andini.


"maaf kan aku, aku hanya merasa tidak pantas menikah dengan pria sebaik mas Dimas yang merupakan pengusaha yang sukses di waktu muda, sedang kan aku, dari usia enam tahun belum juga bisa sukses seperti nya, itu lah alasan kenapa aku tidak datang pada kalian setelah mas Dimas meninggal" sahut Andini.


"sekarang tinggal lah bersama kami, walaupun nantinya kamu akan menikah lagi" ujur Zahra.


karena paksaan dari Citra untuk menemui orang tua Dimas, Andini pun datang, setelah memberitahu identitas anaknya pada keluarga suami nya ia pun ingin kembali lagi ke luar negeri untuk memulai kehidupan baru nya di sana, tapi sekarang ia malah di minta tinggal di rumah Adit yang ada di Jakarta.


Happy reading

__ADS_1


__ADS_2