Jodoh Untuk Ku

Jodoh Untuk Ku
Akhirnya kamu sadar


__ADS_3

Satu minggu setelah kecelakaan itu, Zio masih juga belum sadar dari komanya. setiap hari Citra harus bolak balik ke rumah sakit setelah selesai ngantor atau kuliah. Dua hari setelah kecelakaan suaminya iya memperkenalkan dirinya kepada semua karyawan dikantornya bahwa dirinya lah pemilik perusahaan itu. Citra terpaksa meminta Frans untuk mengantikan pergi ke New York untuk urusan perkerjaan.


Citra masuk keruang rawat suaminya, dengan wajah yang begitu lelah. Dan akhir-akhir ini iya juga diminta untuk mengantikan Zio untuk menyampaikan kata sambutan dalam acara lonceng produk baru di perusahaan suaminya.


"udah pulang ci?" tanya Zahra saat melihat menatunnya datang.


"iya ma" jawab Citra sambil menyalami mertuanya.


"capek ya, kalau capek pulang aja biar mama aja yang jaga Zio" ujur Zahra yang merasa kasihan melihat menantunya.


"tidak ma, mama kan harus pulang, apalagi mama jaga mas Zio dari semalam terus pulang sebentar kesini lagi" kata Citra tidak enak.


"ci kamu sangat lelah, nantinya kamu bisa sakit, apalagi kamu habis dari kantor ke kampus dan sekarang mau jaga Zio. nanti kalau kamu sakit bagaimana" ujur Zahra. sambil mengusap rambut Citra.


"kalau begitu Citra pulang dulu, nanti sore kesini lagi ma, titip mas Zio. kalau ia sadar telpon aku ya ma" ucap Citra pamit.


"iya sayang" jawab Zahra.


Sebelum pulang Citra menuju ranjang Zio.


"sayang aku pulang dulu ya, nanti aku kesini lagi. cepat bangun aku merindukan kan mu" ujur Citra lirih dan mencium suaminya.


Setelah kepergian Citra nenek Rita pun datang ke rumah sakit. sudah lama iya ingin menjenguk Zio tapi iya tidak punya alasan kuat untuk meminta ijin pada suaminya. dan terlebih lagi kakek Arifin tidak tau kalau cucunya itu sudah menikah.


"bun, apa kabar?" sapa Zahra setelah melihat orang yang sudah iya anggap sebagai orangtuanya.


"baik ra, gimana keadaan Zio?" tanya nenek Rita yang melihat kondisi cucunya belum juga sadar.


"sudah ada perkembangan bun, tapi belum juga sadar" ujur Zahra lirih.


"kita berdoa saja mudah mudahan Zio cepat sadar" kata nenek Rita yang menatap Zio dengan banyak alat medis yang melekat di tubuhnya.

__ADS_1


sambil menunggu Zio di rumah sakit nenek Rita dan Zahra membicarakan perkembangan pernikahan Zio dan Citra. dan ia juga memberitahukan rencana nya untuk memberi tahu ayah Citra bahwa anak nya sudah menikah. karena dua bulan lagi Indra akan menemui Brian di Singapura untuk membahas perjodohan Citra dengan Angga.


"ma, mama" kata Zio sontak membuat ke dua wanita itu melihat ke arahnya.


"sayang, kamu sudah sadar" ucap Zahra histeris melihat putra tersadar dari komanya.


"ma, aku kenapa disini" ujur Zio bingung.


"akhirnya kamu bangun nak" ujur Zahra memeluk putranya.


sedangkan nenek Rita bergegas menghubungi dokter. dokter pun datang dan tidak lama Citra pun datang keruangan suaminya, iya pulang hanya untuk membersihkan diri saja.


saat membuka pintu rawat Zio Citra kaget melihat suaminya sudah sadar dan langsung memeluknya.


"sayang kamu sudah sadar" teriak Citra sambil memeluk suaminya.


"siapa kamu, kenapa peluk saya?" ucap Zio bingung.


"istri sejak kapan aku menikah, aku belum pernah menikah, kamu menghayal kali, pengen jadi istri ku" ujur Zio sambil melepaskan pelukan Citra.


"mas kamu kenapa?" tanya Citra heran karena Zio tidak mengenalnya.


"maaf bu, suami ibu kehilangan separuh ingatannya, tapi itu tidak berlangsung lama, ibu dan keluarga bisa menceritakan kembali kepadanya dan mungkin menunjukan foto saat kalian bersama." dokter menjelaskan.


"aku kira kamu sudah sembuh total setelah ini, tapi masih ada lagi, dan itu kamu melupakan ku" ujur Citra di hadapan Zio hingga Zio menatap lekat wajah itu.


"sabar ci pelan pelan saja nanti mama bantu supaya Zio bisa ingat kamu lagi" kata Zahra memberi semangat.


"iya ma terima kasih" ujur Citra memeluk mertuanya. iya sangat senang Zio bisa sadar dari komanya, walau untuk sementara Zio tidak mengingatnya.


...******************...

__ADS_1


Di rumah sakit yang berbeda Vina menunggu ibunya. yang tak kunjung sadar itu. iya sangat sedih melihat ibunya terbaring lemah. tapi di hatinya iya merasa iri dengan kakaknya yang sangat di cintai ibunya, sampai ibu stres seperti ini karena kehilangan kakaknya.


"bu, apa mas Kevin sangat berarti bagi ibu, hingga ibu engan untuk bangun lagi. disini ada aku bu anak ibu. apa ibu tidak sayang pada ku?" kata Vina lirih.


dibalik pintu Tania mendengar apa yang di katakan keponakan nya itu iya sengaja datang ke rumah sakit untuk mengantikan Vina menunggu ibunya.


"vin ngomong apa kamu?" tanya Tania yang sudah di samping keponakanya.


"tidak tante" jawab Vina yang tidak tau tantenya sudah datang.


"kamu jangan berpikir, ibu mu tidak menyayangimu" ucap Tania saat melihat raut wajah Vina.


"jika ibu sayang pada ku, tidak mungkin ibu terus depresi seperti ini, dan tidak punya niat untuk sembuh. hanya karena mas Kevin, dari dulu selalu mas Kevin di bela nya" ucap Vina yang merasa ibunya lebih menyayangi Kevin.


"siapa yang tidak sedih vin, jika anak yang iya lahir kan dengan susah payah hilang entah kemana" kata Tania memberi pengertian.


"iya tante, tapi kan masih ada aku yang iya lahir kan juga. dari dulu aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. apa aku bukan memang bukan anaknya" ujur Vina menangis.


"Vin bukan begitu nak, kamu anak ibu mu, tante tau apa yang kamu rasakan saat ini" ujur Tania lembut


"mungkin ini saat nya aku harus pergi" kata Vina dan berlari ke luar ruangan


Tania menjadi panik saat mendengar perkataan Vina, iya tidak menyangka Vina akan mengeluarkan seluruh sakit hatinya pada ibu.


sedari kecil Vina memang tidak terlalu di perhatikan oleh ibunya. dari dulu ibu nya hanya ingin memiliki anak laki-laki saja. Karina yang gila akan warisannya itu menjadi tidak senang saat anak yang iya lahir kan itu perempuan. karena dalam keluarganya hanya anak laki-laki lah yang mendapatkan warisan dari ayahnya. iya merasa iri dengan Indra kakaknya karena perusahaan pusat dari semua bisnis ayahnya sudah di serahkan pada Indra dan putra nya Alfa yang baru berusia dua tahun itu.


hingga sampai saat ini Vina tidak terlalu memperhatikan ibunya itu, dan sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama iya sudah tinggal di apartemen pemberian ayahnya, saat ayahnya jarang sekali di rumah dan sering bolak balik Amerika Indonesia karena urusan bisnis.


Dan Vina juga tau jika dulu ibunya pernah menyiksa adik sepupunya, selama dua bulan dirumahnya. dan berkat dia lah Citra di usir dari rumah itu dan bebas dari sekapan ibunya. karena hanya itu lah cara membebaskan Citra dari keserakahan ibunya terhadap harta dan kekayaan.


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2