
Setelah Zio dan mertuanya pulang, Citra beranjak dari ruang tengah, ia masuk ke kamarnya yang sudah hampir tujuh tahun ia tinggalkan. ia menatap sekeliling kamar itu tidak ada yang berubah, hingga tangan nya berhenti di sebuah foto.
"bunda, aku merindukan bunda" ujur Citra senyum menatap foto bundanya.
ia duduk di sisi ranjangnya dan kembali mengingat kenangan bersama bunda dan ayahnya. hingga ia pun teringat kata Rama waktu ulang tahunnya di mana bunda nya sekarang.
Citra tidak pernah nyangka kalau bundanya akan menikah dengan suami ibu sambungnya. lamunan Citra pun buyar setelah mendengar suara ketokan pintu kamarnya.
"non, makan malam nya sudah siap, bapak dan ibu sudah menunggu" kata maid dari luar pintu.
"iya sebentar" ucap Citra meletakan foto di nakas dan berjalan menuju ruang makan dan di sana sudah ada kakak dan adiknya.
"selamat datang non Citra" ujur Alfa senyum
"apaan sih mas" kata Citra menunduk melihat wajah ayahnya.
"ya kan menyambut kedatangan kamu kembali ci" kata Alfa
"benar itu kak, gimana kalau habis makan malam ini kita panggang ayam aja" kata Chelsea semangat
"aku setuju gimana raf, yan" sambung Rama. dan disetujui oleh Rafael dan Ryan
"ah itu palingan memang keinginan nya kak Chelsea" ucap Citra karena tadi Chelsea mengajaknya untung memanggang ayam.
"hehe, iya sih, tapikan jarang lo kita semua kumpul lagi di rumah ini" kata Chelsea sedih.
"oke deh apa sih yang tidak bisa buat ibu hamil" ucap Citra.
"sudah bahas panggang memanggang?" tanya Indra.
"sudah yah" jawab Rafael.
"kalau sudah silahkan makan" ucap Indra dingin.
"sih ayah, dingin bangat sih mukanya kayak batu es" kata Rafael dan langsung mendapatkan tendangan dari ibunya.
"aw, sakit" teriak Rafael, hingga semua mata tertuju padanya.
"kenapa kamu raf?" tanya Rama.
"tidak, kaki ku menendang bangku" ujur nya menunduk karena mendapatkan tatapan tajam ayahnya.
sesuai rancana mereka tadi, malam itu mereka memanggang ayam di halaman belakang rumah Indra, ke lima saudara beda orang tua itu dan ditemani oleh Ryan, mereka berkumpul sambil benyanyi dan bercanda karena ini pertama kalinya lagi mereka berkumpul.
Rama putra Tania selama ini tinggal di Amerika untuk menyelesaikan kuliah S2 nya di sana, sedangkan Citra memilih tinggal sendiri setelah pertengkaran nya dengan Chelsea dan berujung pengusiran yang tanpa sengaja ayahnya lakukan, begitu juga dengan Alfa seorang pembisnis yang sibuk dengan bisnisnya serta kuliah di Pulau Bali, sedangkan Chelsea dan Ryan terkadang tinggal di apartemen mereka.
malam pun begitu larut, setelah membereskan peralatan yang mereka gunakan, mereka pun kembali ke kamar masing-masing.
pagi pun menjelang siang namun pagi ini Citra masih terlelap dalam tidurnya. para maid sudah bergantian membangunkannya. rasa malas bangun dan ingin tidur membuat Citra tidak menghiraukan panggilan para pelayan ayahnya.
"sayang bangun, udah siang, kamu tidak sarapan" kata Tania lembut sambil mengguncang bahu Citra.
"nanti ya bu, aku masih lemas, mau tidur" ujur Citra malas.
"kamu sakit?" tanya Tania sambil memegang dahi Citra.
"tidak bu, hanya lemas saja" ujur Citra.
__ADS_1
"ya sudah jangan lupa makan ya, ibu pergi dulu" ucap Tania mencium kening Citra. Citra pun hanya menggangukan kepalanya.
Tania pun menutup kembali kamar Citra dan turun ke bawah menemui suami dan anaknya.
"mana Citra bu?" tanya Indra.
"masih tidur yah, kasihan dia kayak nya capek" ujur Tania.
"ya udah kalau begitu besok saja kita ke pantai nya. ayah mau pergi ke kantor saja bantu Alfa, chel jangan lupa bangunkan adik mu nanti" kata Indra.
"iya yah" jawab Chelsea sibuk dengan cemilannya.
"ayah ke kantor?" tanya Tania.
"iya, Alfa minta bantu ayah untuk, menanggani proyek besar ini" kata Indra
"ya udah kalau gitu, mama berangkat dulu" ucap Tania yang akan ke salonnya.
...****************...
sudah tiga hari Citra di rumah ayahnya. sedangkan Tania sibuk di salon dan Indra harus ke luar kota bersama Rama dan Alfa. karena tidak ada yang menggangunya Citra pun menghabiskan waktunya hanya untuk tidur.
"dek bangunnn, makan siang dulu, ini udah sore" teriak Chelsea yang hampir setiap pulang dari kampus membangunkan adiknya yang masih tidur.
Citra hanya mengangkat kepalanya dan merubah posisi tidurnya.
"kakak makan saja dulu, aku masih ngantuk" ujur Citra malas
"kamu sakit?" tanya Chelsea.
"kalau engak mau makan, kakak kasi tau Zio ya" ancam Chelsea.
"jangan kak, nanti Zio marah. ya udah aku mau makan asal kakak buatkan aku rendang jengkol" ucap Citra berusaha bangun dengan bantuan Chelsea.
"rendang jengkol bukanya kamu tidak suka jengkol?" tanya Chelsea heran.
"iya pengen aja, pasti enak rasanya" ujur Citra menatap netra kakaknya.
"baiklah, tapi kamu mandi dulu" perintah Chelsea.
"dingin kak, nanti sore aja ya" jawab Citra nyengir.
"ya ampun ci, udah cuci muka dulu jangan tidur" kata Chelsea sebal.
Chelsea pun meninggalkan adiknya di kamarnya dan berjalan menuju dapur. ia mengeluarkan bahan untuk membuat rendang jengkol. Tania datang dari salonnya dan melihat Chelsea sedang bergulat di dapur.
"buat apa kak?" tanya Tania mengusap perut buncit Chelsea.
"rendang jengkol bu, Citra minta di buatkan" kata Chelsea mulai memasak. Tania hanya mengganguk
"apa dia belum juga makan dari pagi?" tanya Tania pada maid nya.
"maaf bu, non Citra tidak mau makan, kalau bukan dia sendiri yang memintanya" kata maid menunduk.
"sudah tiga hari dia disini, apa setiap hari seperti itu?" tanya Tania.
"iya bu, keinginan makanya hanya malam bu" ujur maid
__ADS_1
"baiklah silahkan pergi" kata Tania.
rendang jengkol pun sudah siap, Chelsea masuk ke kamar Citra lagi ia kembali di buat naik darah oleh adiknya. mau tidak mu Chelsea pun mengelap wajah Citra dengan air dingin. Citra pun kaget dan langsung bangun. melihat Citra sepertinya kedinginan membuat Chelsea tidak jadi untuk memandikan adiknya.
di meja makan Tania terus saja memperlihatkan anak sambung nya itu, ingin dia menerka nerka apa yang terjadi pada putrinya itu.
"makannya yang banyak ci" ujur Tania mengusap rambut putrinya.
"iya bu" jawab Citra.
"nanti kalau kamu pengen sesuatu minta saja pada ibu" ujur Tania.
"iya bu, Citra tidak pengen apa-apa lagi" kata Citra. Tania pun mengganguk mengerti.
...****************...
Di restoran selesai meeting Zio duduk menyendiri sambil memainkan ponselnya, sudah tiga hari ini Citra tidak mengangkat telpon atau membalas chat nya. Zio sangat ingin menjemput istrinya itu.
"kenapa bos?" tanya Erik.
"Citra tidak mau membalas atau mengangkat telpon saya" kata Zio kesal.
"mungkin sibuk bos" ujur Erik.
"sibuk apanya, yang ada dia tidur sepanjang hari" kata Zio.
"dari mana bos tau?" tanya Erik melihat wajah dongkol bos sekaligus sahabatnya.
"dari Chelsea" ucap Zio.
"oh, mungkin dia mau memulihkan staminanya bos untuk menghadapi bos nantinya" kata Erik dengan tawanya.
"ah, ayo pulang" kata Zio.
"pulang kemana bos?" tanya Erik lagi
"ke rumah Citra, ada yang mau saya cari" kata Zio beranjak dari tempat duduknya.
Zio pun melajukan mobilnya menuju rumah istrinya dengan Erik di samping nya. sampai di rumah mewah itu Zio memakirkan mobilnya, ia turun dari mobil itu dan menatap sekeliling rumah itu yang begitu indah dan mewah. ia masuk dan di sambut oleh wanita paruh baya yang menjaga dan merawat rumah itu.
"malam den, silahkan duduk, mau minum apa?" tanya bik Laras
"apa saja bik" jawab Zio.
"baik den, kalau mau istirahat silahkan saja ke kamar non Citra, di lantai dua dan disitu hanya ada satu kamar yang paling besar itu lah kamarnya" ujur bik Laras.
"baik bik, antar saja ke kamar" kata Zio.
bik Laras pun menuju dapur setelah mengantarkan Erik ke kamar tamu.
Zio masuk ke kamar itu yang bernuansa putih itu, ia menatap sekeliling dan melihat seluruh isi kamar yang tersusun sangat rapi. hingga ia menjatuhkan buku album foto milik Citra, Zio membuka album itu dan menatap foto Citra yang begitu manis di foto. ia mengambil beberapa foto dan memasukan ke dalam tas kerjanya.
**Happy Reading
like, vote, dan komen ya
terima kasih**
__ADS_1