
Pagi itu suasana kediaman Wijaya sangat sepi kedua pasangan suami istri yang selalu ribut di pagi hari masih meringkuk di atas ranjang dengan tubuh polosnya.
Citra memang merasa aneh terhadap Zio ia kadang bingung dengan kemauan Zio yang selalu mengajaknya untuk berhubungan padahal Zio saja masih belum sepenuhnya mengingatnya. Sejak Zio pulang ke rumah ayahnya ia sempat menolak Citra untuk tidak sekamar dengan nya, walau satu kamar namun mereka tidak seranjang. namun sekarang Zio justru berubah dan semangkin tergila gila padanya dan bahkan tidak bisa jauh darinya. apa memang Zio sebenar sudah ingat pada nya.
Zio terbangun dan tersenyum melihat gadis yang kadang ia panggil halu itu tertidur dengan wajah leleh nya. semalam Zio berhasil membuka kamar tamu yang Citra tempati itu dan langsung menyerang Citra yang tengah terlelap itu.
merasa ada yang menusuk pipinya, Citra membuka matanya dan melihat senyum manis Zio dengan gigi putih yang rapi. ia meraba wajah Zio kemudian terpejam lagi.
"apa kau sangat lelah sayang?" kata Zio sambil memainkan rambut Citra.
tiga puluh menit berlalu Zio kembali melirik jam di atas nakas yang sudah menunjukan pukul tujuh pagi. ia kembali membangunkan istrinya.
"sayang bangun" kata Zio mencium pipi Citra.
"nanti saja ya, aku masih capek mas" jawab Citra malas dan memeluk kembali Zio seperti guling.
"sayang" ucap Zio lagi hingga Citra langsung membuka matanya.
"apa sayang kau memanggilku sayang?" tanya senang.
"emang kenapa kalau aku panggil sayang" ucap Zio.
"tidak, ayo bangun kau akan ke kantor" kata Citra semangat.
"iya, aku akan ke kantor ku yang di puncak" ujur Zio yang membuat Citra cemberut.
"jangan kau tidak boleh pergi kesana" kata Citra setengah teriak.
"kenapa kan itu juga kantor ku, banyak kerjaan yang harus aku urus disana" ucap Zio dengan suara yang lembut.
"tidak ya tidak, aku tidak mau kau kenapa napa" kata Citra yang seketika langsung menangis.
"kenapa menangis sayang?" tanya Zio bingung.
"kamu tau aku sangat sedih saat kamu kecelakaan waktu itu, dia pasti masih ingin menyakiti mu" ujur Citra lirih dan semangkin memeluk Zio sangat erat
__ADS_1
kecelakaan yang menimpa Zio dan Erik tiga pekan lalu itu merupakan perbuatan Vito yang memang mencintai Citra dari dulu. dan sekarang Vito harus mendekam di penjara karena pihak polisi menemukan hal yang sangat janggal dalam kecelakaan itu.
"bukan kah dia sudah di penjara dan mengakui kalau dia salah, dan sudah meminta maaf" kata Zio dengan lembut
"tapi aku masih takut jika kau ke sana" ucap Citra tidak masih tidak mau melepaskan Zio.
"sayang percayalah pada ku, aku ada kerjaan penting di sana, aku janji akan memulihkan ingatan ku sayang, mengerti lah" ujur Zio mengusap punggung polos istrinya.
Citra menangis semangkin kencang ia tidak rela suaminya berhubungan dengan orang yang sudah mencelakainya. dan orang yang mengurus perusahan fashion nya itu adalah kakak dari Vito. walau Panji sempat sangat marah dengan cinta buta adiknya itu hingga hampir merenggut nyawa sahabatnya, namun Citra masih merasa takut membiarkan suaminya pergi ke sana biar sekali pun itu perusahaan milik nya.
"hiks... hiks... hiks... aku takut mas" ujur Citra sambil menangis.
"iya aku tidak jadi ke sana, jangan nangis lagi" bujuk Zio.
Citra pun melepaskan pelukan nya dan membiarkan suaminya membersikan diri. Zio masuk lagi ke kamar tamu dengan membawa susu dan roti panggang yang sudah di siapkan ibunya untuk Citra.
"sarapan dulu sayang, aku pamit dulu mau ke Bogor, kamu tidak usah khawatir, aku bersama Zico dan Erik ke sana" ujur Zio membuat Citra melotot.
"kau membohongi ku, kau jahat mas..." ucap Citra yang masih tidak mengijinkan suaminya pergi.
"sayang aku harus pergi ke sana" ujur Zio tidak tega.
Zahra yang mendengar tangisan menantunya pun masuk ke kamar tamu dan mendapati Citra masih dengan tubuh polosnya dan ditutupi oleh selimut.
"anak mama, jangan nangis sayang, papa juga ikut ke sana sayang" kata Zahra mengusap bahu polos Citra.
"tidak aku tidak mau berhenti menangis jika Zio belum kembali" jawab Citra hingga membuat Zahra heran.
"kamu kenapa sayang?"tanya Zahra yang melihat ada perubahan dari diri Citra.
"tidak kenapa napa ma, aku hanya ingin zio disini" ujur Citra
"iya, nanti kalau urusan Zio udah selesai dia langsung pulang, kamu sarapan dulu, Angel sudah menunggu mu di ruang tamu" kata Zahra hendak pergi.
"sejak kapan dia disini" tanya Citra
__ADS_1
"sejak Zio berangkat sayang" jawab Zahra senyum melihat Citra berhenti merengek dan menangis hanya karena Zio pergi.
"tapi aku tidak ingin pergi kemana mana ma" kata Citra
"dia ingin mengajak mu ke butik nya, sudah kamu siap-siap, kasihan dia jika harus menunggu lama" ujur Zahra hendak pergi
"ma, bisa minta tolong" ucap Citra malu.
"apa sayang?"tanya Zahra yang sudah tau pikiran menantunya.
"pakaian ku sudah robek semua ma, bisa panggilkan bibi untuk mengambilkan aku pakaian, tidak mungkin aku keluar dengan tubuh polos" ujur Citra menunduk malu dan baru kali ini mertuanya melihatnya tidak mengunakan sehelai benang pun.
"iya, tunggu sebentar ya, mama panggilkan pelayan untuk antar baju mu" ujur Zahra senyum.
"terima kasih ma" ucap Citra.
"iya ci, yang rajin ya bikin cucu buat mama" kata Zahra yang membuat Citra malu.
Siang itu Angel mengajak Citra ke butik cabang miliknya, yang baru di buka dua hari lalu. tadi pagi iya mendapat kan telpon dari Zio yang memintanya untuk mengajak jalan istrinya karena tidak mengijinkan dia pergi.
"manja bangat sih kamu ci" kata Angel melihat Citra masih saja cemberut.
"siapa yang manja" jawab Citra tidak terima
"kalau tidak manja, kenapa kamu malah nangis di tinggal Zio kerja, kan banyak yang ikut dia ke sana" ujur Angel kesal karena rencananya untuk ketemu pacarnya gagal karena sahabatnya.
"aku cuma ingin dia di sisi ku, aku takut dia kenapa napa gel" ucap Citra kembali menangis hingga Angel pun menjadi bingung.
"aduh salah ngomong apa aku, ci Zio baik-baik saja di sana, jangan nangis ya" ujur Angel bingung.
"hiks... hiks... hiks... kita makan bakso ya" kata Citra dalam tangisnya. Angel melongo mendengar kata Citra tidak biasanya iya menjadi aneh seperti ini.
"gel, makan bakso ya, aku pengen bakso, sebagai ganti mas Zio" ujur Citra lemas.
"iya iya, kita cari bakso" ujur Angel senyum
__ADS_1
"ni orang pasti ngidam" kata Angel dalam hatinya.
hari ini Citra memang merasakan ada yang aneh padanya, dia yang sampai menangis hanya karena tidak mau di tinggal oleh suaminya, sebenarnya iya tidak masalah suaminya pergi ke Bogor jika adik iparnya ikut ke sana. namun disisi lain ia memang ingin suaminya bersamanya satu hari ini.