Jodoh Untuk Ku

Jodoh Untuk Ku
Kenakalan Rafael


__ADS_3

Pagi ini Citra terpaksa membuka matanya saat pintu kamar mereka di gedor dari luar.


"ada apa sih pagi-pagi bikin ribut?" tanya Citra kesal.


"mau pinjam mobil suami kamu, nama Zio?" ujur Alfa.


"lagi tidur" sahut Citra malas.


"bangunin dong" perintah Alfa.


"iya, mobil mas kemana, lagian masih pagi bangat mau pergi kemana" omel Citra.


"mobil mas rusak, mas mau ke Bogor, ada masalah dengan perusahaan yang ada di sana" kata Alfa.


"iya, sebentar" sahut Citra berjalan menuju ranjang.


"mas bangun, mas Alfa mau pinjam mobil kamu" kata Citra. Zio pun bangun dan menyambar kunci mobil di nakas.


"ini kunci nya" ujur Zio pada Alfa.


"terima kasih zi, nanti gue balik cepat kok" sahut Alfa.


"iya, pakai aja, aku pakai mobil Citra saja nanti" ujur Zio.


"oke, gue cabut dulu" kata Alfa melangkah ke arah lift.


setelah Alfa pergi, Zio dan Citra tidak jadi melanjutkan tidur dan memilih untuk pergi ke taman belakang setelah mandi.


di taman mereka melakukan kegiatan memasak untuk sarapan pagi mereka, sambil bercerita dan bercanda tidak terasa masakan yang mereka masak sudah matang.


mendengar ada suara di taman Tania pun melangkahkan kaki nya ke sana, Tania tersenyum melihat kedua pasangan itu sibuk menata makanan mereka di taman.


"lagi buat apa ni?" tanya Tania senyum.


"buat nasgor bu" sahut Citra.


"enak tidak?" tanya Tania menggoda keduanya.


"pasti enak lah bu, kan aku yang bikin" sahut Zio senyum.


"ibu mau coba?, ayo duduk dulu" kata Citra.


"iya boleh" sahut Tania duduk dan menuang nasi goreng ke piring nya.


Indra yang sudah pulang semalam pun bergabung bersama istri dan anak nya di taman.


"zi, kamu kemana saja hari ini?" tanya Indra.


"tidak ada yah, kenapa?" sahut Zio.


"kamu, ke sekolah Rafael ya nanti, dia bertengkar terus dengan temannya" ujur Indra.


"bisa yah" sahut Zio.


"terima kasih ya zi" ujur Indra.


pagi itu Zio pun mengantar Rafael ke sekolah sambil mengantikan ayah mertuanya untuk datang ke sekolah karena masalah Rafael.

__ADS_1


"kenapa bisa, ayah di panggil ke sokolah?" tanya Zio pada adik ipar nya.


"aku bertengkar dengan Ridi" sahut Rafael


"kenapa emangnya?" tanya Zio sambil menatap sekilas adik iparnya.


"dia, selalu merebut wanita ku" sahut Rafael membuat Zio menatap Rafael dengan lekat.


"kamu masih kecil, jangan pacaran" kata Zio.


"kak, aja udah pacaran dari kecil sama kak Citra" sahut Rafael.


"iya, tapikan kakak tidak pernah kelahi, seperti kamu, bahkan sampai setiap hari, hanya karena wanita" omel Zio.


"iya maaf" sahut Rafael menunduk.


"janji tidak akan bertengkar lagi karena wanita?" tanya Zio.


"iya janji" sahut Rafael takut.


sampai di sekolah Zio langsung ke ruang BK, dimana guru sudah menunggu ke datangan nya.


"selamat pagi pak" sapa Zio.


"silahkan duduk mas" ujur guru BK.


"terima kasih pak" sahut Zio duduk di samping Rafael.


"maaf mas, mas siapa nya Rafael?"tanya guru BK.


"saya kakak iparnya, ayah lagi sibuk pak tidak bisa datang" ujur Zio.


"saya minta maaf pak, atas perilaku adik saya" ujur Zio.


"dan kenapa kami minta orang tua untuk datang kesini, karena selain itu, kemarin Rafael ikut tauran dengan SD lain mas" kata guru BK.


"tauran, kenapa pak?" tanya Zio tidak percaya.


"iya, mereka tauran karena masalah kalah main bola, dan saling menyerang satu sama lain" ujur guru BK.


"terima kasih pak atas info nya, saya janji adik saya tidak akan ikut yang begituan lagi" kata Zio.


"atas kesalahn ini, kami akan menskors Rafael selama satu minggu" kata guru BK.


"iya pak, saya pamit dulu" kata Zio.


Zio pun melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Rafael dengan membawa Rafael untuk kembali pulang kerumahnya.


"lain kali jangan pernah ikut tauran lagi, jika kakak tau kamu ikut lagi, kakak akan pindahkan kamu ke luar negeri" kata Zio.


"jangan kak, aku janji tidak akan nakal lagi" sahut Rafael takut.


"oke, Kakak pegang janji kamu" kata Zio.


sebelum pulang ke rumah Zio menghentikan mobilnya di sebuah cafe untuk menemui rekan kerjanya dengan membawa Rafael ke sana.


"kamu tunggu di dalam sana, di sana ada game kamu boleh main" ujur Zio pada adik iparnya itu.

__ADS_1


"baiklah kak" sahut Rafael.


menjelang siang Zio pun mengajak Rafael pulang karena semua urusan nya sudah selesai. sampai di rumah Tania menatap anak dan menantunya, ia pun heran kenapa Rafael bisa pulang jam segini.


"kamu tidak sekolah?" tanya Tania pada putranya.


"ibu baca ini saja" kata Zio menyerahkan amplop pada Tania.


tanpa bertanya lagi, Tania langsung membuka amplop itu dan membaca isinya.


"kamu ya Raf, terus saja bikin ulah, biar sekalian di keluarkan dari sekolah, biar nanti saat sudah dewasa kamu jadi pengganguran" kata Tania yang kesal dengan putranya.


"maaf bu" sahut Rafael takut.


"maaf, habis itu di ulang lagi, kamu mau jadi mafia?" tanya Tania.


"tidak bu" sahut Rafael.


"terus kenapa harus ikut tauran?, sudah kuat?, kalau kamu kenapa napa bagaimana?" tanya Tania.


"maaf bu" kata Rafael mulai menangis.


"udah sana masuk kamar" perintah Tania.


Rafael pun berjalan ke kamarnya sambil terinsak.


"terima kasih zi, sudah mau datang ke sekolahan Rafael, untung bukan ayah, kalau tidak habis Rafael di pukul ayahnya" kata Tania.


"iya bu, saya ke kamar dulu ya" kata Zio.


"iya" sahut Tania.


Zio berjalan menuju kamarnya, sampai dikamar ternyata kamar kosong, Zio pun membuka kamar putranya dan melihat Citra lagi asik mengajak putranya berbicara.


"jagoan papi, papi pulang" kata Zio menghampiri putranya.


"kenapa lama mas?" tanya Citra.


"pulang dari sana, ketemu rekan dulu bahas proyek" sahut Zio.


"oh, ada masalah apa Rafael sampai ayah di panggil ke sekolah?" tanya Citra.


Zio pun menceritakan pada Citra, semua perbuatan Rafael selama sekolah.


"wah, nakal juga ya dia" kata Citra.


"iya, nampak nya pendiam tapi di luar sangat nakal" ujur Zio.


"dulu kamu juga nakal" kata Citra.


"tidak, aku tidak nakal" sahut Zio.


"siapa bilang, siapa yang dulu suka jahil dan ganggu yang lain?" tanya Citra.


"itukan dulu saat masih di Jakarta, tapi saat di London aku tidak pernah jahil lagi" sahut Zio.


mereka berdua pun kembali bermain bersama Zia dan mengajak Zia bicara, mulut Zia seolah mengikuti apa yang orang tuanya bicarakan.

__ADS_1


keduanya pun keluar saat Frans datang ke rumah mereka.


__ADS_2