Jodoh Untuk Ku

Jodoh Untuk Ku
Aku kembali


__ADS_3

Happy Reading


"Hello Fa ada apa? tanya Angga


"iya ga, makasih ya lo udah kasi tau Citra, mengenai permintaan Chelsea" ujur Alfa


"oh iya fa" jawabnya


"eh kok lo bisa hubungi Citra" tanya Alfa


"aku mengirim pesan ke ponsel lamanya" kata Angga


"apa ponsel itu masih aktif" tanya Alfa lagi


"gue tidak fa, yang penting permintaan Chelsea terkabulkan" ujur Angga


"iya ga, udah dulu gue mau mandi ni" ujur Alfa


"oke" jawan Angga


...****************...


Hari sudah beranjak siang Zio masih setia dengan selimut dan kasur empuknya, namun semua tidak begitu lama ibu nya datang dengan teriak-teriak.


"Zi bangun, enak aja kamu tidur, cari istri kamu sampai ketemu" teriak Zahra sambil menyibak selimut yang menutupi tubuh Zio.


"ada ma, pagi-pagi sudah teriak aja" jawabnya setengah sadar.


"pagi kamu bilang ini sudah siang Zio" ujr Zahra lagi


"apa sudah siang" kata Zio kaget iya pun langsung duduk


"kenapa kamu tidak bilang sama mama, kalau Citra hilang" tanya Zahra sambil melotot


"maaf ma, Zio cuma engak mau mama khawatir" ujur Zio lirih


"sekarang bagaimana Citra udah ketemu?" tanya Zahra geram


"belum ma" jawab Zio menunduk


"makanya kalau ada apa-apa bilang Zi" kata Zahra menasehati


"iya ma, sekarang cerita kan apa yang terjadi" kata Zahra menatap anak nya


Zio pun menceritakan semaunya berawal dari dia yang membawa Citra kembali ke penthouse, dan Citra sempat menolak, iya juga mencerita apa yang di bilang Alena,Angel, dan bi Lila sebelum Citra ijin ke minimarket.


"mama baru tau kalau dulu Citra pernah mengalami kekerasan fisik" ujur Zahra seraya menatap Zio


"iya ma, Citra orang yang selalu ceria kata temannya, rekannya, dan bahkan nenek pun bilang begitu" ujur Zio


"iya, sudah kamu mandi sekarang papa mu sudah menunggu di bawah" kata Zahra kembali menakutkan.


"iya ma" ucapnya

__ADS_1


Zio bergegas ke kamar mandi. iya pun turun sesuai perintah mamanya, Zio menatap papanya iya melihat wajah papa nya seperti singa yang siap menerkam mangsanya.


plak


Adit menampar muka Zio


"kenapa kamu menyembunyikan semua ini, bagaimana kalau terjadi apa-apa sama Citra?" tanya Adit geram, sejak dulu Zio selalu memberitahunya apa pun masalah yang sedang Zio hadapi.


"maaf pa, tapi Citra tanggung jawab Zio sekarang" ujurnya sembil mengusap pipinya yang merah akibat tamparan Adit


"oh jadi sekarang kamu tidak membutuhkan kami lagi?" tanya dengan rahang yang sudah mengeras


"bukan begitu pa" ucapnya membela diri


"terus apa?" kata Adit yang sebenarnya merasa sangat khawatir menantunya kenapa-napa.


plak


Adit melayangkan kembali tangan nya ke wajah putranya. Adit sudah sangat marah karena putranya tidak memberitahu bahwa menantunya hilang, apalagi jikalau Zio yang menyakiti Citra bisa-bisa Zio habis di gebuk nya.


# flashback on


Pagi itu disaat Zahra sedang masak di dapur Zico datang membawa kabar bahwa Citra hilang entah kemana. Zico yang baru saja pulang pagi itu melihat teman kakaknya Erik tengah bersama para polisi tengah menelusuri jalan dan bertanya kepada orang setempat, iya pun menghampirinya dan menanyakan apa yang terjadi, Erik pun menceritakan bahwa Citra hilang entah kemana. Zahra yang mendengar apa yang putranya katakan langsung memberitahu kepada suaminya, dan mereka pun bergegas ke rumah Zio.


# flashback off


"tunggu jangan pukul dia" kata seseorang yang baru saja datang


"sayang kamu kemana aja?" kata Zahra sambil memeluk Citra


"am.. waktu itu ada urusan dadakan ma" ujurnya gugup


"tapi kamu bisa memberitahu ku" ucap Zio berusaha menahan amarahnya,


"maaf mas, ponsel ku tiba-tiba ada mati" Citra menjelaskan


"kan bisa cas, gara-gara kamu aku yang jadi sasaranya"kata Zio dingin dan pergi menuju kamarnya.


"sudah lah sayang, yang penting kamu tidak kenapa napa"ujur Zahra lega


"iya ma, maaf sudah merepotkan" ucapnya menunduk


"tidak sayang, kalau Zio marah jangan di dengarkan ya, nanti dia akan baik sendiri" kata Zahra menasehati


"iya ma" jawab nya singkat


"ya sudah sayang, mama sama papa pulang dulu, kamu istirahat aja" ujur Zahra pamit


"iya ma, hati-hati" ucapnya kepada mertuanya yang sudah berjalan menuju teras


Setelah ke pulangan mertuanya Citra berjalan menuju kamar nya, iya sedang melihat Zio sedang duduk di ranjang sambil memainkan ponselnya. Citra masuk dan menghampirinya, Zio hanya menatap tajam Citra yang membuat nyali Citra menjadi ciut.


"mas, maaf ya aku tidak bermaksud merepotkan mu" ujurnya lirih seraya menunduk

__ADS_1


Zio melirik sekilas ingin sekali dia meneriaki gadis yang sudah jadi istrinya itu, akibat perbuatan Citra iya menjadi korban kemarahan papanya. namun mengingat cerita teman Citra tempo lalu iya jadi takut jika harus memarahinya, iya takut Citra pergi semangkin jauh.


"lain kali jangan seperti itu dulu, jika ada masalah jangan kabur, beri tahu pada ku" ucap Zio dingin tanpa menatap Citra


"iya mas, aku obati dulu memarnya" kata Citra yang melihat pipi Zio lebam akibat pukulan mertuanya


Adit memang tidak suka bila orang terdekatnya menyembunyikan sesuatu seperti yang Zio lalukan, apa lagi itu menyangkut manusia.


"tidak usah" ujur Zio datar


namun Citra tidak mengindahkan kan iya turun ke dapur untuk mengambil air dan handuk kecil untuk mengompres memara di pipi suaminya


"ini harus di kompres mas, biar memarnya cepat hilang" ujurnya mulai mengompres pipi Zio


"ah, pelan-pelan ci, sakit" ujur Zio


"iya mas ini udah pelan kok" ucap nya masih fokus ke pipi Zio


"cantik" gumam Zio dalam hati


"emmmm, sudah ci ini sakit" ucap Zio seraya mengambil handuk yang Citra pegang.


"tapi ini sedikit lagi selesai mas" ujur nya


"udah bawa ke dapur, atau aku kasi hukuman buat kamu" ujur Zio licik


"hukuman apa?" tanya nya penasaran


"meniduri mu" kata Zio tegas


sehingga membuat Citra langsung pergi ke dapur, Zio tersenyum, tapi iya tidak mungkin melakukannya, sebelum iya mengenal Citra lebih dalam lagi, iya pun masih kesal kepada Citra yang pergi tanpa ijin.


"mau kemana?" tanya Zio dingin


"ke kampus mas" jawab nya


"awas jika kamu bohong" ancam Zio


"ti...tidak mas" ujur Citra takut


"di antar supir aja tidak usah ngebantah" ucap Zio tidak mau Citra mencari alasan lagi


melihat kata Zio yang sangat dingin, membuat Citra menuruti apa yang Zio kata kan.


"baik lah mas, aku pergi dulu" ujurnya seraya mencium tangan Zio


"iya" jawab Zio ketus


padahal sebelum dia pergi Zio tidak terlalu dingin kepadanya. Citra berjalan menuju kelasnya karena hampir dua minggu ini iya tidak masuk kampus, karena pernikahan nya dan kepergiannya ke pulau untuk mempersiapkan hatinya menerima tinggal bersama Zio.


**terima kasih sudah membaca


like, vote ,dan komen ya**

__ADS_1


__ADS_2