
Satu Minggu setelah Alfa pulang ke rumah, Alena pun ikut tinggal di rumah mewah itu, karena Alfa tidak mengijinkan dia pergi sedikit pun, mau pulang ke rumah orang tua nya saja Alfa akan ikut.
seperti saat ini, Alfa sudah kembali lagi ke kantor dan Alena juga ikut setelah perdebatan panjang mereka.
walau selalu dekat dengan Alfa, tapi Alena belum juga memberi Jawaban apa pun pada Alfa, ia masih ragu dengan hati nya sendiri.
"Al, temani aku meeting ya" kata Alfa menatap Alena yang terpaksa kerja secara online.
"aku lagi sibuk mas, kamu meeting sendiri saja" sahut Alena fokus pada laptop nya.
"oke, jangan kemana mana" kata Alfa menatap Alena.
"tidak, udah pergi sana" ujur Alena.
Alfa keluar dari ruangan nya dan tidak lupa dia mengunci pintu ruang nya supaya Alena tidak bisa kemana mana.
karena merasa haus, Alena pun beranjak dari tempat duduknya dan ingin pergi keluar untuk membeli minuman, tapi ia kembali terkurung di ruangan itu, karena Alfa sudah mengunci nya
"bisa mati aku, kalau seperti ini, belum nikah aja udah begini bagaimana nanti" kata Alena kembali duduk di kursinya.
karena tidak bisa menahan haus nya lagi, Alena pun menelpon sekertaris Alfa, untuk mengantarkan minuman pada nya. tidak lama wanita yang seumuran dengan nya pun masuk dengan membawa minuman di tangannya.
"maaf mbak, agak lama, habis ramai bangat di kantin" ujur Dinda.
"tidak apa, pintunya jangan di kunci lagi ya Din" ucap Alena memohon.
"maaf mbak, nanti pak Alfa marah lagi, turuti aja ya" sahut Dinda.
"ya udah, kamu boleh keluar, tapi ini apa?" tanya Alena.
"makanan mbak, takut mbak juga lapar" sahut Dinda.
"terima kasih ya Din" ujur Alena.
Di rumah sakit, Citra belum juga menunjukan tanda-tanda ia akan sadar, Nancy bahkan hampir satu jam sekali melihat anaknya itu dan mengajak dia bicara, tapi tidak ada sedikit pun respon dari Citra.
walau pun Citra tidak merespon namun tidak ada sedikit pun lelah yang Nancy rasakan untuk membuat anaknya bisa sadar.
begitu juga dengan Zio, yang terkadang tidak ke kantor demi menemani istrinya di sing hari, karena jika malam ia harus pulang untuk putra nya yang terkadang menangis jika pada malam hari nya.
"bagaimana mana dik, apa ada kemajuan pada istrinya saya?" tanya Zio pada dokter yang menangani istrinya.
"belum perubahan apa pun pak, ibu Citra belum juga bisa merespon kita, terus ajak dia bicara pak, ceritakan pada nya masa indah kalian" kata dokter.
"terima kasih dok" sahut Zio lesu.
"semangat nak, jangan lemah, lakukan lah apa yang dokter sarankan" ujur Nancy.
__ADS_1
Zio pun pamit kembali ke kantornya karena kadang ia juga harus membantu kakak ipar nya mengurus beberapa bisnis yang Citra punya selama ini.
setelah Zio pulang Indra pun datang ke rumah sakit, karena selama Citra dinyatakan koma oleh dokter Indra selalu datang tiap hari untuk menjenguk putrinya.
"hai anak ayah yang paling cantik, ayah datang lagi nak, sama bunda kali ini" ujur Indra yang sengaja mengajak Nancy untuk bersama masuk ke ruangan IGD.
"iya sayang, bunda dan ayah datang demi kamu, kamu bangun ya, bunda kangen nak, apa kamu tidak merindukan anak mu Zia" kata Nancy dan seketika tangan Citra pun bergerak.
"mas, tangan Citra bergerak mas" ujur Nancy senang.
"iya nan, aku juga liat" sahut Indra.
kedua mantan suami istri itu pun menceritakan banyak hal mengenai Citra kecil, hingga air mata Citra pun menetes.
"kenapa nangis nak, apa yang sakit, bangun lah biar bunda bisa peluk kamu dan jaga kamu" ujur Nancy sedih.
"sudah dulu untuk hari ini, kita keluar dulu, biarkan dia istirahat" kata Indra pada Nancy
"iya mas" sahut Nancy mencium dahi putrinya dan pergi.
setelah keduanya keluar Tania dan Jonas pun langsung berdiri dari duduknya nya.
"kalian kenapa seperti orang habis kepergok" kata Indra.
"tidak ada yah, gimana Citra?" tanya Tania.
"tadi tangan nya bergerak dan dia juga menangis saat kita ceritakan masa kecil dia" sahut Indra.
"iya mas, aku harap dia bisa bangun sudah dua Minggu dia koma, aku tidak tega liat banyak alat di tubuhnya mas" kata Nancy.
"iya, Citra pasti sadar aku janji akan buatkan dia warung bakso yang enak dan banyak pelanggan nya nanti" ujur Jonas.
"usaha Citra saja udah banyak Jon, restoran nya ada tiga cabang, mana butik, perusahaan, restoran dan butik lagi yang di Bali" kata Indra.
"itu kan beda In, anggap aja ini hadiah dari ku, dan nanti semua anak-anak bisa mengurus nya secara bergantian" kata Jonas.
"terserah kamu saja lah, aku tidak masalah dengan apa pun itu, asalkan ketiga anak mu tidak cemburu saja pada anak ku" ujur Indra.
"tenang saja, aku sudah siapkan hadiah untuk mereka walau itu sekedar usaha yang kecil, tapi kamu juga tau mereka, mereka tidak mau hadiah seperti itu in" sahut Jonas.
"yang mereka mau itu bukan usaha dan bisnis tapi segala fasilitas yah" kata Tania.
dan Indra baru tau kenapa Rama tidak mau mengantikan nya menjadi direktur di perusahaan ayahnya yang ia serahkan kembali pada ayahnya itu karena masalah dengan adiknya dulu.
"oh pantas saja Rama dan Chelsea tidak mau aku minta untuk mengantikan ku jadi direktur di perusahaan ayah dulu, dan lebih memilih yang lain, walau pun Chelsea sekarang dengan terpaksa mau mengantikan ibunya di butik" kata Indra senyum.
"iya, karena mereka itu tidak mau in, tapi kenapa jadi bicara bisnis dan penerusnya ya" ujur Jonas.
__ADS_1
setelah selesai meeting Alfa kembali ke ruangan nya, di sana sudah ada Alena yang tertidur karena kelelahan.
Alfa mendekat dan tiba saja ia melihat rok yang di pakai Alena naik ke atas hingga membuat bagian bawah nya tegang seketika. Alfa mengangkat tubuh Alena dan memindahkan nya di ranjang tempat ia istirahat saat di kantor.
Alena pun bangun saat Alfa sudah meletakan tubuhnya di atas kasur.
"kenapa bagun?" tanya Alfa.
"tidak" sahut Alena karena Alfa sudah menindihnya.
"aku mau kamu" ujur Alfa.
"tidak mas, tidak bisa" kata Alena mendorong Alfa dari atas tubuhnya.
berapa saat kemudian Alfa berhasil membuat wanita itu polos, dengan cara merangsang hingga Alena lemas dan tidak memberontak pada nya.
Alfa memeluk kaki Alena dan menenggelamkan kepalanya nya di sana, Alena yang tidak pernah di perlakukan seperti itu oleh Romi dulu, menjadi tidak tahan dengan rasa yang Alfa berikan.
"ah mas,,, geli mas,, aku mau pipis" desah Alena sambil tangannya menekan kepala Alfa agar makin dalam di sana, hingga Alfa pun makin gila.
Alfa mengangkat kepalanya dan melihat wajah Alena yang baru saja mendapatkan pelepasan pertama nya.
kedua orang yang belum ada ikatan itu pun tidak pernah lelah mencari kenikmatan di tubuh masing-masing, hingga hari sudah mulai gelap.
"ah,,mas,,aku tidak kuat lagi mas,, mau pipis ah,," desah Alena saat gelombang itu mulai datang lagi.
"bersama lah sayang" sahut Alfa.
keduanya pun menggerang bersama, Alfa pun menyemburkan lahar panasnya di rahim Alena.
"banyak bangat Al" ujur Alfa masih di atas Alena.
"iya, ini masa subur ku mas, bagaimana. jika aku hamil?" tanya Alena di sela sela sadar nya.
"ya kan ada bapaknya kenapa takut" ujur Alfa memeluk wanita nya.
"ya udah, kita harus menikah mas, habis aku dimarahi ibu ini" sahut Alena.
"yakin mau menikah dengan ku?" tanya Alfa senang.
"iya aku mau menikah dengan mu mas" sahut Alena malu.
Alfa pun senang liar biasa, dengan pernyataan Alena tadi.
"kalau aku tau begini caranya membuat kamu mu menikah dengan ku, udah dari dulu aku lakukan, walau ini salah" kata Alfa menatap wajah lelah Alena.
**Happy reading.
__ADS_1
like, vote dan komen ya.
terima kasih**.