
"pagi bu" sapa Alfa
"pagi juga fa, jam berapa semalam datang?"tanya Tania menata sarapan.
"jam dua bu" jawab Alfa yang sedang mengolesi roti tawar dengan selai kacang.
"oh, pantas ibu tidak ingat ayah datang" ucap Tania.
"gimana mau ingat tidur saja sudah kayak orang mati" ujur Indra.
"apaan sih yah" ucap Tania cemberut.
"hai, selamat pagi" kata Chelsea dan Ryan.
tidak lama meja makan pun penuh.
"Citra mana?" tanya Rama melihat Citra tidak ada bersama mereka.
"di kamarnya mas, lagi tidur" ujur Chelsea.
"tumben dia jadi tukang tidur" ucap Alfa.
"selama kalian di luar kota Citra tidak pernah sarapan dan makan siang, dia hanya makan saat malam saja, kerjaannya pun hanya tidur" ujur Tania melihat suaminya.
"udah kamu bangunkan tadi bu?" tanya Indra.
"dia tidak bisa tidak sarapan nanti asam lambung nya kambuh lagi" sambung Indra lagi.
"udah yah, kalau kita sering ke kamarnya yang ada kamarnya di kunci lagi" ujur Tania.
"apa dia merah ya?" tanya Ryan.
"tidak mas aneh saja, nantinya biar Zio saja yang mengurusinya" kata Chelsea.
...****************...
waktu pun beranjak sore, di saat hari libur seperti ini biasanya keluarga Pramana selalu mengisi waktu itu dengan bersepeda sore.
"raf, panggilkan kakak mu, suruh dia. bangun ikut kita sepedaan biar segar tidak layu, dari tadi di kamar mulu" omel Indra.
"baik yah" jawab Rafael.
Rafael meletakan sepedanya ia berjalan menaiki tangga karena lift rumah nya lagi rusak. ia masuk ke kamar kakak nya yang gelap.
"kakak" panggil Rafael.
Citra mengadahkan kepalanya dan beringsut menggeserkan posisi tidurnya yang di tutupi selimut tebal. melihat Citra tidak menjawab Rafael malah teriak.
"kakak" teriak Rafael.
"hemm" kata Citra malas.
"di panggil ayah suruh ikut sepedaan, buruan ayah dan ibu sudah menunggu" kata Rafael menatap tubuh kakaknya.
"kakak mau tidur Raf, tubuh kakak lemas" kata Citra merengangkan sendinya.
"ayo lah kak masa tidur mulu" kata Rafael menyibak gorden kamar Citra.
membuat cahaya matahari masuk ke dalam kamar. Citra memicingkan matanya menerima banyak cahaya yang di terima netranya.
__ADS_1
"ayo kak"
"buruan kak" desak Rafael.
"iya"sahut Citra. ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. entah mengapa menyentuh air saja rasanya sangat dingin. Citra hanya menggosok giginya dan mencuci mukanya.
"kak, cepat ayah dan ibu dan yang lainya sudah menunggu" teriak Rafael.
tidak mengubis apa kata adiknya, Citra bergegas mengambil sepatunya dan memakainya. ia berjalan sambil menyisir rambutnya dan mengikat kuncir. menyambut mentari yang bersinar terik di sore hari. membuat wajah Citra semangkin cantik. Citra memicingkan matanya ia mengangkat tangannya untuk menutupi wajahnya dari sinar matahari.
namun tiba saja pandanganya menjadi hitam, memegangi daun pintu, Citra bersusah payah menegakan tubuhnya dan merasakan pusing di kepalanya.
di lapangan melihat Citra bersusah payah menegakan tubuhnya Tania melepaskan sepedanya dan berlari ke arah anaknya.
"Citra" teriak Tania panik.
dengan setengah berlari Indra pun menghampiri putrinya yang hampir saja pingsan.
"nak kamu kenapa?" tanya Indra panik.
"kita ke rumah sakit saja yah, fa siap kan mobil" kata Tania panik sambil memapah Citra duduk di sofa.
Alfa berlari ke garasi dan mengambil mobilnya.
"bu, mobilnya sudah siap" kata Alfa teriak dari halaman.
"ya, ayo sayang kita ke rumah sakit" kata Tania menatap wajah pucat Citra.
"tidak usah bu, cuma pusing" ujur Citra lemah.
"ke rumah sakit saja ci" kata Chelsea yang baru saja turun mendengar keributan di luar.
"tidak perlu sebentar lagi baikan kok" Citra tersenyum.
"tidak kak, mungkin karena kebanyakan tidur kalik" ujur Citra.
"ya sudah kalau tidak mau, bik tolong ambilkan minyak angin ya" kata Tania pada maidnya.
"baik bu" jawab maid.
"kalau tidak jadi ke rumah sakit ayah dan yang lain melanjutkan sepedaan ni" kata Indra.
"iya yah aku tidak kenapa napa, berangkat saja" kata Citra.
"nanti kalau Citra sakit lagi telpon saja ayah" kata Indra pada istrinya.
"ini bu" ujur maid menyerahkan minyak angin.
"terima kasih bik" kata Tania dan di anggukin oleh maid.
"makanya jangan kebanyakan tidur ci" ujur Tania mulai memijit kepala Citra.
"iya bu" ujur Citra menikmati sentuhan tangan ibu nya.
"begini lah kalau tinggal di rumah yang banyak pelayannya, jadi malas untuk beraktivitas" kata Tania citra pun hanya senyum.
"apa disini sudah ada dia?" tanya Tania mengusap perut rata Citra.
"ah tidak tau bu" kata Citra membuka matanya.
__ADS_1
Citra pun tertidur lagi di pangkuan ibunya, saat Citra baru saja memejamkan matanya Zio datang dengan mendorong kopernya.
"ibu" kata Zio menyalami mertuanya.
"duduk zi, nanti biar maid yang bereskan baju mu" kata Tania senyum.
"Citra kenapa bu, kok bisa hampir pingsan?" tanya Zio.
"ibu tidak tau, kamu sudah beli yang ibu suruh?" tanya Tania menatap netra Zio.
"ada bu ini" ucap Zio.
"simpan saja dulu, jangan sampai Citra tau, besok pagi suruh dia gunakan, jik. positif besok ibu antar kan kalian berdua ke dokter kandungan" Tania menjelaskan.
"iya bu, kalau begitu Zio mau bersih-bersih dulu" kata Zio.
"iya zi" sahut Tania sambil terus mengusap rambut Citra.
Citra terbangun dari tidurnya saat merasa ada yang memainkan wajah nya. ia tersenyum melihat ibunya sedang membelai rambutnya.
"maaf sayang kamu terganggu gara-gara ibu" kata Tania senyum
"tidak bu" kata Citra duduk dan menyandarkan kepalanya di bahu ibunya.
Citra sangat bersyukur memiliki dua ibu yang sangat menyayanginya. Zio turun dari lantai dua dan tersenyum melihat betapa sayangnya mertuanya kepada putri sambungnya. ia pun menghampiri keduanya.
"mas" kata Citra melihat suaminya ada di rumah ayahnya.
"iya sayang" jawab Zio.
"kapan datang?" tanya Citra menciumi tangan suaminya.
"waktu kamu lagi tidur" ujur Zio senyum.
"mau jemput aku ya?" tanya Citra.
"oh tidak, kita akan tinggal disini dua atau tiga bulan gitu, mama dan papa lagi ke London, jadi mereka tidak mengijinkan kita kembali lagi ke Penthouse." kata Zio.
"oh kok aku tidak tau ya?" kata Citra.
"bagaimana mau tau ponsel kamu saja mati" kata Zio mencubit hidung Citra.
"hehe, maaf mas" jawab Citra senyum.
"apa masih pusing?" tanya Zio mencium rambut Citra.
"tidak, kan sudah di pijit sama ibu" jawab Citra senyum ke arah Tania membuat Tania ingin memakannya.
"bagus lah kalau begitu, tapi jangan manja lagi sama ibu" kata Zio
"tidak zi, ibu sangat menyayanginya" ujur Tania, dari awal ia menikah dengan Indra Tania sangat menyukai Citra gadis itu sangat menarik perhatiannya hingga ia tidak bisa melepaskan Citra dengan mudah.
"terima kasih bu, aku sayang bangat sama ibu" ujur Citra memeluk ibu nya.
"ya sudah kamu mandi dulu, nanti ibu masakan makanan kesukaan kamu dan Chelsea" ujur Tania beranjak ke dapur mempersiapkan makan malam.
"oke, mas gendong" kata Citra merentangkan tangannya. dan disambut oleh Zio.
Tania hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan manja Citra pada Zio.
__ADS_1
**Happy Reading
terima kasih untuk vote, like,dan komennya**.