
Happy Reading
Sepulang dari kampus Citra masih mendapatkan Zio dikamar, Zio masih enteng dengan ponselnya, sehingga tidak mengetahui istrinya pulang. iya menoleh dan melihat Citra termenggu di depan pintu. melihat Zio menatapnya sangat dingin Citra menunduk kan kepalanya, iya berlalu ke kamar mandi tanpa melirik ke arah Zio.
"huh, kenapa aku harus menikah dengan singa dingin ya" ujur nya sambil berendam di dalam bath up.
Zio yang hendak ingin masuk ke walk in closet itu pun mendengar apa yang Citra katakan, dan kebetulan pintu walk in closet berada di samping kamar mandi, dan pintu kamar mandi pun tidak di tutup rapat oleh Citra. Zio yang tidak suka ada orang yang mengumpat nya pun langsung masuk ke kamar mandi.
"kamu bilang apa tadi?" tanya Zio dengan wajah yang menakutkan.
"eh mas, engak ada kok mas" ujur Citra takut
"engak usah mengumpat saya dari belakang, kalau kamu tidak suka menikah dengan saya, mengapa kamu mau menerima perjodohan ini, dan jangan sama kan sikap saya dengan binatang" kata sambil membanting pintu.
yang seketika membuat Citra terkejut, iya pun menangis iya kembali mengingat kekerasan berapa tahun lalu, walau yang dilakukan Zio tidak menyakiti tubuhnya tapi sangat membuat nya menjadi takut.
"salah lagi, mengapa nenek harus menjodohkan ku" ucap nya lirih
satu bulan berlalu, setelah kejadian waktu itu Citra selalu menghindari Zio, iya akan bicara jika iya akan pergi keluar, karena iya tidak mau membuat kesalahan lagi, sehingga Zio yang menjadi korban amukan mertuanya saat iya tiba-tiba menghilang.
saat di meja makan Citra selalu menunduk kan kepalanya, dan hari ini Zio sarapan bersamanya, karena sebelum nya Zio tidak pernah sarapan atau makan bersama dengan nya. Citra tidak berani menatap wajah Zio, apalagi akhir-akhir ini Zio sering sekali marah tidak jelas kepadanya.
"mau kemana?" kata Zio sontak membuat Citra kaget.
"eh, a...aku mau kuliah mas" ujur Citra gugup
"kamu kenapa?" tanya Zio lagi
"tidak aku baik-baik saja" ucapnya mau pergi
"kenapa kamu selalu menghindari ku?" tanya Zio, yang memberhentikan langkah Citra
"tidak, aku tidak menghindari mu mas" ujur Citra lagi
"jangan pernah menghindari aku, ya sudah sana kuliah habis itu langsung pulang" ujur Zio sambil melanjutkan kembali sarapan nya
"iya mas, kamu tidak kuliah" Citra memberanikan diri bertanya
"nanti siang" ucap Zio cuek
"iya aku berangkat" ujur Citra pamit
Citra masuk kedalam mobil seperti biasanya iya selalu diantar oleh supir nya itu, sehingga iya tidak dapat berkutik seperti dulu lagi, apa lagi kabur seperti dulu lagi. Tiba di kampus Citra langsung menuju kelasnya, karena Alena dan Angel akan kuliah siang hari ini, jadi dia malas bergabung dengan yang lain yang kerjaan hanya tukang gosip.
...****************...
Selesai kuliah Citra berniat langsung pulang, namun tiba di depan pintu ada sosok laki-laki yang sedang menunggunya. Ryan menarik Citra sampai di sebuah lorong yang jarang di gunakan, tempat itu biasanya di jadikan tempat menyendiri para mahasiswa dan mahasiswi.
__ADS_1
"lepasin gue" teriak Citra
"tidak sebelum aku membawa mu pulang" ujur nya
"lepaskan aku tidak mau pulang, kamu pulang aja sendiri" kata Citra dengan wajah yang sudah merah menahan amarah.
"sebelumnya terima kasi sudah mewujudkan ke inginan istriku" ujur nya tersenyum
"tidak perlu berterima kasih, lepaskan aku" teriak Citra lagi
"tidak ayah merindukan mu mari kita pulang" kata nya tidak mau kalah
Citra berusaha melepaskan tangannya, namun saat iya hendak memberontak Ryan menarik terlalu kencang hingga mereka terjatuh, dan Citra menimpa Ryan sehingga hidung mereka bersentuhan.
Di lorong itu juga ada dua pemuda yang berjalan ke arah itu, dan melihat apa yang kejadian itu, seketika iya pun sangat marah, karena akhir-akhir ini lelaki itu sering mengikuti istrinya. iya pemuda itu Erik dan Zio.
"apa yang kalian lakukan disini" teriak nya dengan rahang yang sudah mengeras.
Seketika Citra pun bangun dan berdiri.
"mas jangan salah paham dulu, dia menarik ku hingga terjatuh" ujur Citra berusaha menjelaskan.
tidak menjawab apa kata Citra, justru Zio memukul Ryan berkali kali.
Bruk....
Bruk....
Bruk....
"sudah zi, kasihan dia" ujur Erik memegang bahu Zio dan menarik Zio dari tempat itu
"jangan pernah ganggu istri saya lagi" teriak nya penuh penekanan meninggalkan Ryan yang terpaku mendengar apa yang iya ucapkan dan menarik tangan Citra.
Di mobil Zio melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi iya tidak peduli dengan apa yang Citra bicarakan. Sampai di Penthouse, iya keluar dari mobil dan mengendong Citra menuju kamarnya, iya melemparkan Citra keranjang dan menindih istrinya. Citra yang merasa takut pun berusaha menolak nya dan memberontak.
Zio mencium bibir istrinya, dan tangannya sudah berkeliaran ke semua bagian sensitif Citra. Saat Zio ingin merobek baju istrinya, Citra teriak dan menangis histeris, yang membuat Zio menghentikan aktivitasnya.
Zio pun turun dari atas tubuh Citra dan mendekapnya, Citra teriak dan menangis histeris sambil memanggil bundanya, Zio yang mendengarnya pun menjadi bersalah iya berusaha menenangkan nya
"maaf, maaf kan aku ci, aku tidak bermaksud menyakiti mu" kata Zio seraya memegang pipi Citra dengan tangan nya
"kamu jahat" ucap nya sambil terinsak
"iya aku jahat ci, aku jahat yang sudah membiarkan kamu di peluk orang lain, kamu milik ku, aku tidak rela kamu di pegang olehnya, apalagi aku sering melihatnya mengikuti mu" ujur Zio merasa bersalah
"dia kakak ipar ku mas" ucap Citra lirih
__ADS_1
"kakak ipar mu?" tanya Zio kaget karena iya tidak mengenal suami dari Chelsea itu
"iya dia mau memaksa ku pulang"ucap Citra sambil mengelap hidungnya dengan baju Zio
"tapi mengapa kalian sampai berciuman seperti tadi" tanya Zio, seraya menatap Citra yang masih terinsak.
"dia menari tangan ku terlalu kencang sehingga aku menabrak tubuhnya, dan dia tidak kuat menahan tubuh ku hingga aku terjatuh menimpanya, tanpa sengaja hidung kita bertemu" Citra menjelaskan
"maaf kan ci aku sudah salah paham pada mu, walau di hati kita belum ada cinta tapi setidaknya kita pasangan suami istri yang sah" ujur Zio sambil mengusap kepala Citra.
"iya mas, lain kali dengarkan dulu penjelasan ku jangan main pukul aja, aku takut liatnya" ujur Citra lirih
"iya maaf ci, sudah sekarang kamu tidur ya, mas akan disini di samping mu, nanti mas antar ke psiakiater kamu jangan takut mas tidak menyakitimu, maaf"kata Zio seraya membaringkan Citra dan mendekapnya,
Karena saat ini Citra masih terasa gemetaran dan takut, sehingga Zio tidak berani melepaskannya, iya merasa takut jika Citra akan menjauhinya dan meninggalkan nya, karena prinsip nya iya hanya ingin menikah hanya satu kali saja dan sekarang Citra miliknya sampai iya tiada. Masalah cinta itu bisa datang dengan sendirinya.
mereka pun tidur dengan Citra masih di dekapan suaminya, sehingga Zio melupakan hasrat nya.
...****************...
Ryan turun dari mobilnya, iya berpikir sejenak mencari alasan yang tepat mengenai luka lebam di wajahnya itu.
Di teras Indra duduk sambil membaca koran, menatap aneh kenapa Ryan tidak langsung keluar dari mobilnya.
"selamat siang yah" sapa Ryan sambil mencium tangan mertuanya.
"siang yan, kenapa wajah kamu?" tanya Indra yang melihat wajah menantunya penuh luka lebam.
"tadi habis membantu orang kejar maling, terus maling malah memukul Ryan yah" ujur Ryan bohong.
"tapi kamu tidak apa-apa kan" tanya Indra khawatir
"tidak yah hanya luka lebam biasa" ucap Ryan tersenyum
"maaf yah Ryan harus bohong, sebenarnya mah ini kena bogem mentah menantu ayah yang menikahi putri ayah secara diam-diam" ujur Ryan dalam hati
"oh ya yan, gimana dengan Citra" tanya nya
"Citra tidak masuk lagi yah" ucap Ryan bohong lagi
"oh ya udah yan, biarin aja dulu, nanti tunggu dia lengah baru kamu bawa dia kesini" ujur Indra yang memang ingin Citra pulang
"iya yah, nanti Ryan bantu bujuk Citra" kata Ryan yang merasa kasihan dengan mertuanya
"terima kasih ya yan" ujur Indra senyum.
**terima kasih sudah membaca
__ADS_1
😊**