Jodoh Untuk Ku

Jodoh Untuk Ku
Bertemu


__ADS_3

Karena permintaan Alek kemarin pagi ini, Alek dan Zio pergi untuk joging bersama. mengitari komplek kawasan mewah hingga sampai di taman.


"istirahat dulu, om capek" kata Alek mengatur nafasnya.


"iya om, aku beli air dulu" ujur Zio.


"iya" sahut Alek duduk di bangku taman.


Zio pun berjalan ke arah warung yang tidak jauh dari tempat Alek duduk, setelah membeli dua botol air mineral Zio memberikan pada Alek.


"kamu sering joging di sini?" tanya Alek.


"tidak juga om, baru dua kali sama hari ini" sahut Zio.


"oh, masih kuliah?" tanya Alek lagi.


"masih om, semester enam" sahut Zio.


"sama dengan anak om, kalau gitu" ujur Alek.


"iya, sama dengan Ryan" sahut Zio.


"iya, orang tua kamu disini?" tanya Alek yang memang ingin mengetahui identitas Zio.


"tidak om, mereka lagi di London sekarang, ngurus perusahaan di sana, lagi ada masalah" ucap Zio.


"oh, ya udah kita lanjut joging, sambil pulang" kata Alek.


"iya" sahut Zio.


...****************...


Di kediaman Pramana, Adit dan Zahra baru saja tiba di sana, mereka pun langsung di persilahkan masuk oleh pelayan.


sampai di ruang keluarga, Tania pun menyambut kedatangan besannya, yang tadi pagi sudah menghubunginya bahwa mereka akan datang langsung ke rumah Indra.


"kamu gemuk sekarang za" ujur Tania.


"iya ni, satu minggu di kurung di rumah, sama dia" sahut Zahra.


"kenapa emangnya?" tanya Tania.


"gara-gara, aku selalu sibuk, jadi lupa makan" ujur Zahra.


"oh, tambah cantik kamu kalau gendut" kata Tania mengiring kedua nya ke meja makan.


"silahkan duduk mas, za" kata Tania.


"iya, terima kasih tan, jadi merepotkan" ujur Zahra.


"tidak, eh, tu mantu mu" kata Tania.


"anak mama" kata Zahra membuat Citra menoleh ke arah Zahra.


"mama, aku kangen" ujur Citra memeluk mertuanya.


"papa" sapa Citra setelah melepaskan pelukannya.


"iya nak, gimana kandungannya sehat?" tanya Adit.


"sehat kok, pa" sahut Citra duduk di tempatnya.

__ADS_1


"kenapa papa sama mama tidak kasi tau mau pulang, kan bisa kita jemput" ujur Citra.


"tidak apa nak, Zio mana?" tanya Zahra.


"lagi joging sama om.." kata Citra terputus karena Zio dan Alek datang.


"mama, papa, kapan datang?" tanya Zio menyalami kedua orang tuanya.


"barusan, habis dari bandara langsung sini, kangen bangat sama kalian" ujur Zahra dan Adit hanya senyum.


meja makan pun penuh dengan tiga keluarga yang berkumpul di rumah mewah Indra.


namun saat itu juga netra Zahra bertemu dengan Alek yang merupakan mantan nya yang hilang dulu setelah membuatnya hamil Zio.


"kenapa sayang?, kok sarapan nya di main saja?" tanya Adit.


"tidak mas, aku sudah kenyang, kebanyakan ngambil sarapannya" kata Zahra senyum.


"tapi dari tadi, itu makanan nya tidak ku sentuh" ujur Adit lagi.


"iya mas, aku makan ni" sahut Zahra terpaksa memakan sarapannya.


"ibu, aku ke kamar dulu ya" kata Chelsea yang sudah menghabiskan makanan nya.


"iya nak" sahut Tania.


"chel, tante ikut ya, mau liat anak kamu" ujur Zahra sengaja menghindari Alek yang terus menatapnya.


"oh, iya tante" sahut Chelsea dan keduanya pun berjalan ke kamar bayi nya Chelsea.


"maaf kan aku Zahra" kata Alek dalam hatinya.


Setelah sarapan pagi, mereka pun berkumpul di ruang keluarga yang begitu besar. Citra turun dari dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi.


"kuliah ma" sahut Citra.


"kamu belum cuti?" tanya Zahra.


"belum ma, bulan nanti, baru cutinya" sahut Citra.


"tidak, mulai hari ini, kamu tidak usah ke kampus lagi" ujur Zahra.


"mama, ternyata lebih garang dari ibu dan mas Zio" sahut Citra.


"ini demi kamu, supaya tidak capek" ujur Zahra.


"tapi kan" kata Citra dipotong Zahra.


"tidak ada tapi" kata Zahra beranjak dari tempat duduknya.


"mama mau kemana?" tanya Citra.


"ke kampus kamu, minta ijin cuti" sahut Zahra.


"mam, biar mas Zio aja yang mengurusnya" sahut Citra pasrah.


Zahra pun menatap Zio yang sedang asik duduk bersama Alek, melihat kedekatan anaknya itu, ia pun mengurungkan niatnya untuk pergi, dan mengajak putranya untuk bicara di halaman belakang.


"ada apa ma?" tanya Zio.


"mama, hanya ingin kamu tidak terlalu dekat dengan ayah Ryan" kata Zahra.

__ADS_1


"kenapa emangnya ma?" tanya Zio curiga


"tidak, hanya saja mama tidak suka, kamu pada ayah mu saja tidak pernah seperti itu" ujur Zahra.


"iya mama, aku cuma ngobrol aja sama dia" sahut Zio yang mulai bertanya, ada apa dengan mamanya, karena sejak dulu mamanya tidak pernah melarangnya dekat dengan siapa pun itu.


"jangan larang dia, dekat dengan ku" kata suara dari belakang mereka.


"om, kenalkan ini mama saya" kata Zio ketika melihat ke arah Alek.


"iya, saya Alek, zi boleh tinggalkan om sama mama kamu sebentar, om mau bicara" ujur Alek.


"baik om" sahut Zio masuk kedalam.


"maaf, saya harus pergi, nanti ada yang melihat kita" kata Zahra beranjak dari duduknya.


"apa Zio itu adalah putra ku?" tanya Alek membuat jantung Zahra seakan berhenti berdetak.


"bukan, dia anak ku dengan mas Adit" sahut Zahra ketus.


"jangan berbohong, aku dapat merasakannya" ujur Alek.


"bukan urusan mu, dia anak ku, jauhi dia, jangan dekat dia lagi" kata Zahra tegas.


"baik lah, jika kamu tidak mau memberi tahu ku, aku akan cari keberannya" ujur Alek.


"silahkan saja" sahut Zahra.


"baik lah, tes DNA, akan aku laksanakan secepatnya" ancam Alek.


"jangan macam-macam kamu" kata Zahra takut.


Alek pergi meninggalkan Zahra yang kembali menangis di taman belakang, ia kembali mengingat masa lalunya yang suram.


"kenapa nangis za?" tanya Tania.


"tidak tan, mata ku perih" sahut Zahra mengusap air matanya.


"jangan bohong za, cerita lah, aku siap mendengarnya" ujur Tania.


"tan, aku hanya terharu saja, sebentar lagi, akan menjadi nenek" kata Zahra senyum.


"benar kamu hanya terharu, tidak ada masalah lain?" tanya Tania.


"tidak tan, ayo kedalam" ujur Zahra.


di ruang keluarga Zahra selalu mengepalkan tangannya, melihat Zio yang tertawa bersama dengan Alek. ingin rasanya ia memaki Alek sekarang juga, tapi ia tidak ingin semua orang tau tentang semuanya.


melihat tatapan tajam mamanya Zio pun menghampiri Citra, dan berjalan ke kamar mereka.


"sayang, nanti kamu urus cuti aku ya, mama udah melarang aku kuliah lagi" kata Citra.


"oh, ya udah besok aku urus semuanya" sahut Zio senyum.


"aku udah engak sabar ketemu dia" kata Citra mengusap perut buncitnya.


"iya sayang, mas juga pengen bangat gendong dia" ujur Zio.


"aku mencintai kamu" kata Citra mencium pipi suaminya.


"aku juga mencintai kamu" ujur Zio.

__ADS_1


Selamat membaca


__ADS_2