
...Happy Reading...
Semalaman Zio tidak bisa tidur, mengingat tentang saudaranya yang sudah tiada, namun hatinya terus berkata Dimas masih hidup. Zio terus membuka matanya sambil menunggu pagi, namun saat hari sudah mulai pagi dia baru saja terlelap.
"mas, maaf kan aku yang tidak bisa memaksa Dimas untuk berobat, padahal peluangnya untuk sembuh sangat besar" ujur Citra yang berkali kali bangun dan melihat Zio belum juga tidur.
Citra beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi. setelah berendam dengan air panas selama tiga puluh menit, Citra pun menganti bajunya. dan berjalan menuju taman kenangan, Citra menyusuri taman itu dan menatap kesebuh bangku yang sering di gunakan oleh Dimas duduk di pagi hari.
setelah menikmati pagi di bangku itu, ia pun berjalan menuju rumah kayu yang begitu sederhana namun mewah, dan rapi. Citra membuka pintu dan menatap ke seluruh ruangan yang nampak bersih dan rapi, karena setiap hari bik Ina selalu membersihkan rumah itu.
Citra pun kembali ke villa setelah membuka pintu rumah kayu yang di tinggali oleh Dimas selagi dia masih hidup. sampai di villa dia melihat semua telah berkumpul di meja makan untuk sarapan.
"dari mana saja yang?" tanya Zio.
"habis jalan-jalan di depan" sahut Citra.
"sarapan dulu ci, habis ini kita ke makam Dimas dulu, terus balik ke jakarta" kata Vina.
"iya" sahut Citra.
mereka pun menghabiskan sarapan dengan tergesa, karena hari ini Zio ada meeting pagi dan dia juga mau ke makam adik nya, sebelum pulang.
"ini makam nya mas" kata Citra menunjukan makan yang begitu bersih dan terawat itu.
"Dimas, kenapa kamu pergi tidak memberitahu kami" ujur Zio mendekat.
"apa benar dia Dimas adik mu zi?" tanya Vina.
"iya vin, dia Dimas adik ku" sahut Zio
Zio pun mengungkapkan semuanya di makam itu sebelum ia melihat isi rumah milik adiknya.
"ci, apa ada data Dimas di disini?, aku belum percaya dia sudah meninggal" ujur Vina.
"ada vin, semuanya ada disini, termasuk perusahaan nya yang ada di Bali, yang sekarang di pegang oleh suaminya Sena" sahut Citra.
"kita kedalam dulu zi, kata nya kamu. ada meeting hari ini" ujur Vito.
"iya" sahut Zio beranjak dari makam adik nya.
mereka pun masuk dan berjalan menuju sebuah ruangan kerja Dimas, di sana mereka menemukan seluruh identitas Dimas yang memang putra pertama Adit dan Zahra.
"boleh kah aku mengambil foto ini sayang?" tanya Zio karena rumah itu milik istrinya sekarang, dan tidak sembarangan orang yang boleh masuk kecuali bik Ina.
"ambil saja mas, oh ya satu lagi, Dimas punya perusahaan di Bali, dan perusahaan itu dia serahkan pada Sena dan suaminya" ujur Citra.
"iya, aku tidak akan mengambil apa yang udah menjadi bagian nya, tapi bagaimana cara kita memberi tahu mama dan papa" kata Zio lirih.
__ADS_1
"iya ci, om Adit harus tau, jika putranya sudah tiada" ucap Vina.
"iya sayang, aku ingin minta ijin untuk membawa mama dan papa ke sini" ujur Zio menatap istrinya.
"boleh kok mas, tidak masalah" sahut Citra.
"benar, tapi kan tempat ini tidak boleh sembarang orang yang kesini" kata Zio.
"tempat ini memang tidak bisa di masuki sembarang orang mas, kecuali orang yang sudah pernah aku bawa kesini, kalau untuk mama dan papa aku ijinkan kok" sahut Citra.
"terima kasih sayang" kata Zio.
"ya mas, nanti aku minta kak Frans, untuk mengantar mereka ke sini" sahut Citra.
"mas Frans, sudah pernah kesini?" tanya Vina.
"iya vin, kak Frans, kamu, Vito, al, Sena dan suaminya lah yang pernah ke sini" kata Citra.
"ya sudah kita kembali ke villa" ujur Zio masih menatap tempat itu.
tidak lama kemudian bik Ina pun datang untuk membersihkan rumah itu.
"nah, bik Ina ini lah yang mengurus Dimas selama sakit mas" kata Citra.
"bik, aku mau berterima kasih sudah merawat adik ku dengan baik, sebagai ucapan terima kasih bibi terima ini ya" kata Zio menyerahkan kartunya.
"tapi bik" kata Zio.
"den, ada yang mau bibi bicarakan pada mu" ujur bik Ina.
"apa bik" sahut Zio.
"kita ke kamar, den Dimas" ucap bik Ina.
Zio mengikuti bik Ina ke kamar Dimas di sana dia melihat ada sebuah map yang tidak tau isinya apa.
Zio menerima map itu, dan membacanya, air mata Zio menetes saat membaca isi dari map itu. ia tidak menyangka kalau Dimas sudah dari kecil mengalami sakit itu.
"den, aku hanya ingin memberikan ini pada den, ini dari den Dimas untuk Citra, dari dulu aku ingin memberikan pada nya, tapi tidak berani" kata bik Ina.
"apa isinya bik?" tanya Zio.
"tidak tau" sahut bik Ina.
Zio membuka kotak itu dan melihat isinya.
"cincin, maksudnya apa?" kata Zio tidak mengerti.
__ADS_1
"den Dimas sudah lama melamar non Citra untuk den" sahut bik Ina.
"Dimas melamar Citra untuk ku" ujur Zio.
"iya den, tapi aku tidak berani memberikan ini pada non Citra" sahut bik Ina.
"jodoh tidak kemana" kata Zio pergi.
Citra dan Zio pun sudah siap untuk pulang ke Jakarta lagi, sampai di bawah mereka melihat Vina sedang membujuk Al supaya mau pulang.
"Al, mama kan harus kerja sayang" kata Vina.
"engak Al mau disini saja" sahut Al cemberut.
"mas, bantu bujuk dong" kata Vina kesal sama Vito.
"kalian tinggal di sini saja dulu" ujur Citra.
"tidak ci, terima kasih" sahut Vina.
"vin, kak Frans tidak akan kesini kok" ujur Citra.
"tapi ci" kata Vina ragu.
"aku sudah bilang sama Billy, untuk memberitahu kamu jika dia ke sini" sahut Citra.
"ya udah, satu minggu saja ya disini" ucap Vina pada putranya.
"terima kasih mama" kata Al senang.
"kita pulang dulu ya" ujur Citra pamit.
"terima kasih ci" sahut Vito.
"iya oke, laksanakan misinya" sahut Citra membuat Vina heran.
"misi apa?" tanya Vina.
"tidak ada" sahut Citra.
"Tante, nanti kesini lagi ya" ujur Al.
"iya sayang, nanti Tante kesini lagi" sahut Citra mencium Al
Zio dan Citra pun kembali ke Jakarta, dan satu fakta terbongkar lagi, setelah ia mengetahui siapa ayah kandungnya, sekarang adiknya yang selalu di cari oleh nya sudah tidak ada lagi.
Dan ia juga tidak menyangka jika Dimas telah melamar Citra untuk nya, jauh sebelum mereka di jodohkan oleh nenek.
__ADS_1
Zio tersenyum menatap Citra yang duduk di sampingnya, dia tidak menyangkan kalau gadis kecil yang dulu selalu ada di dekatnya waktu mereka masih kecil adalah jodohnya. karena dari dulu Nancy sudah menyiapkan jodoh untuk anaknya itu.