
Citra terbangun dari tidurnya saat mendengar suara Zio memangilnya. Citra merasa sangat jengkel dengan tingkah suaminya.
"eh bangun, sudah pagi, katanya istri tapi suaminya tidak di urus" teriak Zio sambil menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya.
"bukan kah kau tidak membutuhkan ku, jika aku ingin membantumu kamu malah mengusir ku, dasar stres" ujur Citra kesal.
"ah, cepat ambilkan aku baju, cewek halu, yang suka mengaku ngaku" omel Zio.
"menyebalkan sekali, kamu kan punya tangan bisa ambil sendiri" ucap Citra sambil berjalan menuju walk in closet.
Zio tersenyum licik, ia merasa bahagia dapat menjahili istrinya. dengan mulut yang tidak berhentinya menggerutu Citra mengambil pakaian kerja Zio. sudah dua minggu Zio pulang dari rumah sakit.
tapi tingkah Zio selalu membuatnya pusing, dan setiap kemauan Zio harus di turuti, jika tidak perdebatan mereka bisa sampai satu hari. dan kadang Zio juga tidak mau jika Citra yang mengurus nya.
"ini baju mu" kata Citra memberikan pakaian pada Zio.
"pakai kan aku" perintah Zio.
"pakai saja sendiri, kau kan punya tangan" ujur Citra malas dan duduk di tepi ranjang.
"kau membantah ku, atau kau mau di hukum, sehingga kau mendesah sepanjang hari" ancam Zio membuat Citra menurutinya.
"ah kau selalu mengancam ku" kata Citra pasrah. karena Citra pernah tidak mengunakan sehelai benang pun, hanya karena tidak mau mengikuti keinginan Zio.
"ya terserah kamu, kalau tidak mau kita main kedut kedutan" jawab Zio sambil senyum melihat Citra mengambil pakaiannya.
"ini cd mu pasang sendiri" ujur Citra sambil menyerahkan cd dengan gambar Doraemon itu.
"apa kau menyuruhku mengunakan cd anak-anak" kata Zio yang melihat gambar cd nya.
"cd anak-anak, ini cd mu, aku dapatkan di lemari mu" kata Citra tidak mau di bantah.
"sejak kapan aku membeli cd denan gambar doraemon" ujur Zio yang sontak membuat Citra ingin tertawa.
"mana aku tau, kan selera mu memang Doraemon" ujur Citra mengejek.
"cepat pakai kan" perintah Zio.
"apa cd saja aku yang pakai kan" kata Citra kesal.
"iya cepat sudah telah ini, atau kita wik wik saja" kata Zio senyum.
"baik lah" ujur Citra malas dengan mata terpejan iya memasangkan cd Zio.
"engak usah di tutup matanya, kau sudah puas melihatnya, apa lagi memegangnya." kata Zio yang seketika membuat Citra malu.
setelah selesai dengan pakaian Zio, Citra beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. ia pun sangat kesal kepada Zio, karena seluruh tubuhnya penuh dengan tanda kepemilikan di sana. pergulatan panas mereka sepanjang hari kemarin dan berakhir sore membuat Citra sangat lelah. hingga hari ini iya tidak ke kampus karena telat bangun tidur.
"dasar stres, habis tubuhku merah semua, mana telat lagi ke kampus" ucap Citra menggerutu.
Zio duduk di meja makan bersama kedua orang tuanya, yang sudah menunggu sejak tadi. hingga sampai jam setangah sembilan. Citra datang dari kamarnya dengan membawa tas kerjanya. iya tidak ke kantor hari ini. karena sudah telatsatu setengah jam.
__ADS_1
"pagi ci, tumben telat" ujur Zahra meledek.
"pagi mama, Citra capek bangat ma, makanya telat bangun" ujur Citra swnyum.
"ya sudah kalian berdua sarapan sekarang ini sudah siang, mama sama papa sudah sarapan, hanya menemani kalian saja" kata Zahra tersenyum melihat anak dan menantunya yang membuat rumah ini menjadi tempat ribut mereka sepanjang hari.
"suapin" kata Zio menyodorkan roti panggang nya pada Citra.
"ih mas , kamu kan bisa makan sendiri, aku sudah tidak ada waktu lagi" kata Citra cemberut.
bukan malah mengerti dengan keadaan Citra, Zio malah membuka mulutnya menunggu Citra menyuapinya. Citra pun mengambil roti itu dan menyuapi Zio.
"kenapa dimasuki semua rotinya" kata Zio dengan mulut penuh, Citra tersenyum melihat pipi suaminya menggelembung.
"lagian kamu sih, udah tau orang mau pergi lagi sempat minta itu, minta ini, kalau tangan mu tidak bisa di gunakan potong aja" ujur Citra kesal dan meraih gelas susunya dan meminumnya lalu pergi.
"eh halu tunggu" teriak Zio dan langsung mendapatkan gelengan kepala dari Adit.
"bising bangat yang kamu zi, dah berangkat sana" Zahra menegur anaknya.
"oke, dah aku pergi dulu" kata Zio sambil menyalami kedua orang tuanya.
"ah akhirnya adem ni rumah, walau cuma sebentar" ujur Zahra lega sedari tadi iya hanya mendengar teriakan putranya membangunkan Citra dan suara Citra yang tidak berhenti menggerutu.
"emangnya tadi kacau?"tanya Adit mengejek.
"ah, papa emang papa tidak pusing apa dengar mereka berdebat" ujur Zahra
"jadi papa senang gitu dengar mereka ribut terus setiap hari" ujur Zahra kesal.
"bukan begitu ma, nanti kalau Zio udah sembuh mana mau iya berdebat dengan istrinya, apalagi mengerjai Citra seperti ini" ujur Adit ketawa saat melihat tingkah Citra yang kalang kabut saat di perintahkan Zio.
"kasihan tau pa Citra, udah di suruh suruh, di tiduri lagi" jawab Zahra memukul lengan suaminya.
"jangan salah ma, kalau Zio meniduri Citra kemungkinan untuk mendapatkan cucu bisa terwujud" ucap Adit
"iya juga si pa, mama baru ingat mau belikan Citra susu supaya cepat hamil" kata Zahra.
"ya udah, papa mau pergi juga ni ke minimarket, mau ikut" ucap Adit yang sudah meraih kunci mobilnya.
"tunggu sebentar pa, aku ambil tas dulu" ujur Zahra berjalan menuju lift.
di jalan mulut Citra tidak berhenti menggerutu dengan sikap Zio yang semangkin hari menyebalkan. hingga iya lupa untuk mencari cara supaya Zio bisa ingat kembali padanya. sampai di kantor Citra langsung menuju ruangannya. saat tiba di dalam iya kaget melihat Zio sudah ada di kantornya.
"hei jelangkung, bukan kah kau tadi masih dirumah" kata Citra heran.
"iya kamu saja yang lambat, nyetir saja kaya siput" ledek Zio.
"mau apa kesini?" tanya Citra ketus.
"mau menidurkan ular kecilku" jawab Zio tersenyum.
__ADS_1
"aku tidak ada waktu, nanti malam saja" ujur Citra yang sudah membuka berkas di mejanya.
Zio pun menghampiri Citra dan menggendongnya menuju kamar istirahat Citra. Citra memberontak dalam gendongan Zio, hingga membuat Zio tambah semangat.
dan pagi itu hingga menjelang sore mereka berpacu dengan bermandikan keringat. *******, jeritan, lenguhan, dan racau Citra menggema di ruangan itu, ia malah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi dan bahkan yang semulanya menolak malah menjadi sangat agresif.
"aaaaakh"
keduanya terhempas untuk kesekian kalinya, Zio pun menyemburkan laharnya di rahim istrinya, Citra terbelalak merasakan sejuta kenikmatan yang Zio berikan.
"kau lelah, tidurlah" ujur Zio memeluk istrinya.
"sangat lelah, kau membuat tubuh sangat remuk" ucap Citra yang sudah terpejam.
Zio tersenyum, iya menatap wajah Citra yang begitu cantik didekapnya. wajah yang sangat familiar itu, yang setiap malam menciumnya, membelai rambutnya, dan mengatakan cinta.
Citra terbangun tidurnya dan iya baru ingat bahwa iya ada di kantor. iya melihat ke arah jam dinding dan menunjukan pukul pukul enam sore. Citra beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan sisa bercinta mereka tadi.
"hai teman berantem ku, teman ribut ku," kata Citra sambil menyelimuti tubuh polos suaminya. dan keluar ruangannya dan mencari Sinta sekertaris nya.
"sin, apa ada yang harus aku kerjakan, maaf tadi aku ketiduran" ujur Citra
"tidak ada bu, semua sudah saya hendel, ibu tinggal tanda tangan saja berkas yang ada di meja ibu" jawab Sinta yang tau apa yang di lakukan bos nya itu
"terima kasih si, nanti aku teraktir kamu" ucap Citra senang.
pukul tujuh malam Zio dan Citra baru saja datang kerumahnya, sepanjang jalan Citra marah pada Zio, hingga sampai di rumah. hingga Zahra menghela nafas berat melihat pertengkaran keduanya.
"sabar ma" ujur Adit yang melihat istrinya menutup kuping.
"tegur mereka lah pa, masa diam terus" ucap Zahra kesal dengan suaminya.
"eh mau kemana ci?" tanya Zahra yang melihat menantunya membawa bantal dari kamar.
"tidur dikamar tamu ma, aku capek bangat ma, badan ku rasanya mau remuk semua" ujur Citra melangkah ke kamar tamu.
"makan dulu ci, nanti sakit" ucap Zahra.
"masih kenyang ma, tadi habis makan sama Sinta" ujur Citra menutup kamar tamu.
Zio keluar dari kamarnya dan menghampiri orang tuanya di meja makan.
"Citra mana ma?" tanya Zio yang tidak melihat istrinya di meja makan.
"tidur di kamar tamu" jawab Zahra.
"mau kemana?" tanya Zahra melihat Zio ingin beranjak.
"bangunin Citra lah" jawabnya
"tidak usah, bibi sudah antar kan makanan untuk nya, lagian kamu si main sosor terus, jadi capek dia nya" ujur Zahra. hingga Zio duduk kembali.
__ADS_1