
Pagi ini Citra bangun sangat cepat dari sebelumnya, ia takut jika ibunya akan datang lagi ke kamar mereka, ia berjalan ke kamar mandi dan berendam di bathtub.
sekitar tiga puluh menit membersihkan dirinya, ia pun berjalan menuju kamar Zia. Zia pun masih terlelap dalam tidurnya.
Zio pun bangun merasakan jika ia sendiri di kamar, ia menatap ke arah balkon kamar yang masih tampak gelap karena matahari belum menunjukan sinar.
"kemana Citra, jam segini biasanya dia masih tidur" kata Zio mengedarkan pandangannya.
ia pun berjalan ke kamar mandi dan melihat kamar mandi yang basah, menandakan jika baru saja di gunakan.
"sayang kamu di mana" teriak Zio karena Citra belum juga kembali ke kamar bahkan saat ia sudah selesai mandi.
karena tidak mendapat kan jawaban Zio pun turun ke bawah untuk mencari istri nya, namun semua ruangan sudah ia lihat tidak ada Citra di sana.
"ngapain kamu pagi-pagi buta sudah ngopi?" tanya Alfa heran.
"aku kebangun, terus cari Citra ke sini, tapi tidak ada" sahut Zio.
"kemana dia?" tanya Alfa duduk di dekat Zio.
"tidak tau juga ke mana" sahut Zio yang sudah lelah mutar satu rumah.
"di kamar Zia mungkin" ujur Alfa.
"mungkin, main catur yuk" ajak Zio bosan, karena pagi begini sebenarnya mereka masih tidur, tapi tidak bagi Alfa, dia selalu bangun duluan dan bahkan jam masih menunjukkan pukul dua pagi.
"oke, lagian tidak ada meeting penting hari ini" sahut Alfa yang gila kerja.
mereka berdua pun memutuskan untuk main catur sambil menunggu matahari muncul.
sedangkan Citra, malah asik melukis wajah Lala dengan alat makeup yang ada di kamar itu, dan aneh nya Lala tidak terganggu sama sekali.
matahari pun mulai bersinar, Citra sudah memandikan Zia yang bangun karena di ganggu oleh nya tadi.
ia pun mengajak putranya nya ke taman belakang dimana Alfa dan Zio masih bermain catur.
"mas udah bangun?" tanya Citra saat melihat suaminya lagi sedang main catur.
"ia, kamu kemana saja tadi?" tanya Zio balik.
"di kamar Zia mas" sahut Citra.
Zio pun main catur sambil memangku Zia yang tangan nya sudah tidak bisa diam lagi. sedangkan Citra mulai membuat kan Zia bubur dan sarapan pagi untuk semua orang yang di rumah itu.
saat semua orang sudah bangun, Lala pun turun dari kamar nya untuk mencari Zia yang tidak ada di kamar.
pagi itu para pelayan yang bertugas untuk membersihkan rumah pun langsung tertawa melihat wajah Lala yang penuh dengan coretan dan tulisan.
__ADS_1
"kamu ngapain begitu?" tanya Indra yang baru turun dari kamar nya.
"begitu bagaimana pak?" tanya Lala bingung karena semua pada ke tawa saat melihat nya.
"tidak ada, lupakan saja" kata Indra senyum.
"mana kopi ayah, pasti kerjaan kamu ya" ujur Indra berbisik pada Citra.
"bukan, minta bikin kan pelayanan saja yah, aku lagi sama sibuk" sahut Citra sambil tersenyum.
"jahil banget kamu" kata Indra menjewer telinga Citra dan berjalan ke arah pelayan minta di bikin kopi.
"sakit yah" teriak Citra kesal karena telinga nya tiba saja panas.
Tania pun turun, sampai di dapur ia melihat semua pelayannya pada cekikikan tidak jelas, Tania langsung menutup mulutnya saat melihat wajah Lala yang seperti kertas yang di coret.
"la, kamu mandi sana, bersihkan wajah nya" ujur Tania tidak tega.
"ibu nyonya" sahut Lala yang belum juga sadar.
Tania pun menatap para pelayan nya satu persatu.
"siapa yang punya ulah?" tanya Tania pada mereka.
"tidak tau nyonya" sahut mereka bersama.
"ada-ada saja, lelucon di pagi hari" kata Tania berlalu.
"pasti itu yang punya ulah" ujur Tania pada Nina.
"mungkin lah nyonya, non Citra kan kadang suka jahil pada kita, lagi tidur malah di bikin cemong" sahut Nina.
"iya, keturunan Nancy memang begitu, walaupun di takuti orang tapi jahilnya minta ampun" kata Tania berjalan ke arah Citra.
"hai anak nakal, lagi apa?" tanya Tania.
"kok aku di bilang nakal sih" sahut Citra cemberut.
"pasti kamu ya yang bikin lelucon di pagi hari?" tanya Tania.
"bukan, orang aku lagi masak" sahut Citra.
"iya bukan" kata Tania kemudian.
Lala pun turun dengan wajah kesal, saat tau dirinya lah yang jadi bahan ketawa oleh orang di rumah ini.
"mbak Citra, awas ya aku balas nanti" teriak Lala kesal.
__ADS_1
"berani kamu sama aku?" tanya Citra menatap baby sitter anaknya.
"berani, ngapain sih mbak melukis di wajah aku, kan ada buku" sahut Lala sebal.
"bukan aku yang melukis di wajah kamu" ujur Citra.
"siapa lagi, jika bukan mbak" sahut Lala.
"udah tau nanya kamu" kata Chelsea dari belakang.
"kakak nuduh aku?" tanya Citra pada Chelsea.
"kan kamu yang aneh, sering banget ngerjain orang" kata Chelsea.
"ah sudah lah, mandi sana kamu" perintah Citra pada Lala yang cemberut dan kesal.
Lala pun langsung pergi untuk membersihkan wajahnya yang penuh dengan alat makeup itu.
mendengar perdebatan anaknya Indra pun beranjak dan menjewer telinga keduanya, sedangkan Tania sibuk membantu pelayan menata makanan di atas meja.
"sakit ayah" teriak Citra dan Chelsea bersamaan.
"makanya, pagi begini jangan ribut, pusing ayah dengan nya" kata Indra.
"Citra yang dulu mulai" ujur Chelsea.
"kan kakak yang mengusik kesenangan ku" sahut Citra.
"masih mau di jewar?" tanya Indra.
"tidak" sahut keduanya bersamaan.
pagi itu perdebatan Chelsea dan Citra pun berlangsung sampai sarapan mereka selesai, Zio dan Ryan pun hanya diam saat ayah mertuanya mencubit istri mereka.
"nakal banget sih kamu yang" ujur Zio saat di mobil.
"aku tidak nakal, tapi kak Chelsea itu yang suka ikut campur urusan ku" kata Citra kesal.
"lagian kan kamu yang duluan jahil sama kak Chelsea" ujur Zio.
"iya, karena di ngeselin" sahut Citra.
Zio melajukan mobilnya menuju kampus, dan kebetulan hari ini Citra tidak membawa mobilnya yang tiba saja tidak bisa hidup.
hingga Zio lah yang nanti akan mengantarkan jemput istri nakal nya itu. bukan hanya sekali ia melihat Citra menjahili orang lain, tapi sering sekali ia melihat tingkah jahil istrinya itu.
walaupun begitu Citra sangat di takuti oleh adiknya Rianti, yang tidak berani sekali pun membantah apa yang dia suruh.
__ADS_1
namun itu lah pribadi Citra sebenarnya, ia mandiri dan sangat baik pada siapa pun, tapi kejahilan nya kadang membuat orang lain jadi kesal pada nya
happy reading