
Sepulang dari Mall Zio berhadapan lagi dengan kakak nya, yang sudah menunggu di kamar milik mereka.
"mas Ryan, kenapa disini?" tanya Citra pada kakak iparnya.
"nunggu suami kamu" sahut Ryan yang duduk di sofa kamar Citra.
"aku mandi dulu ya" ujur Citra pergi ke kamar mandi dan meninggalkan kedua kakak beradik beda ibu itu.
"ada apa?" tanya Zio duduk di samping kakak nya.
"aku mau bilang jika perusahaan ayah jatuh ke tangan kamu" ujur Ryan pada Zio.
"tidak bisa begitu, aku tidak setuju dengan keputusan ini" sahut Zio yang tidak mau terbebani oleh kerjaan.
"itu derita kamu, aku udah bilang tadi kita akan ketemu dengan ayah membahas mengenai ahli waris perusahaan miliknya" kata Ryan.
"iya aku tau, tapi aku tidak mau menjadi ahli waris perusahaan" sahut Zio.
"baiklah kamu bilang sendiri sama ayah, lagian Damar tidak mungkin menjadi ahli waris perusahaan ayah, dengan tingkah laku nya saja, ayah sudah marah" ujur Ryan mengenai adik mereka yang sekarang ada di Amerika.
Damar tidak pernah peduli dengan perusahaan, ia merupakan orang yang tidak suka dengan bisnis dan lainya, kerjaan nya hanyalah mabuk dan bermain dengan wanita.
"ayah masih muda, kenapa secepat ini ia menyerahkan perusahaan pada anaknya, kita tidak tau apa yang terjadi ke depan nya, siapa tau suatu saat nanti Damar akan berubah" ujur Zio kemudian.
"bukan menyerahkan perusahaan secepat ini, tapi setelah ayah sudah tua nanti dan tidak bisa mengurus perusahaan nya lagi, itu artinya perusahaan ini kamu yang meneruskan nya" sahut Ryan.
"aku tau itu, tapi kenapa harus aku?" tanya Zio.
"itu permintaan mami" sahut Ryan.
"permintaan mami?" tanya Zio bingung.
"iya, mami merasa bersalah atas kejadian di masa lalu orang tua kita, dia merasa jika ayah tidak adil pada anaknya dan ia meminta jika perusahaan milik kakek yang di wariskan pada mami dan yang sekarang di pegang oleh ayah, akan menjadi milik kamu" kata Ryan menjelaskan.
"aku tidak merasa susah waktu kecil, kasih sayang papa Adit sangat besar pada ku" ujur Zio.
"apa kakek mengijinkan jika perusahaan itu di terus kan oleh ku, karena aku bukan keturunan nya" sambung Zio lagi.
"kakek bukan orang jahat Zi, dia sudah menyerahkan semuanya pada mami dan ayah, apa keputusan mami sudah di ia kan oleh kakek, dan kakek tidak mau perusahaan itu di terus kan oleh Damar" kata Ryan.
__ADS_1
"apa sejelek itu Damar bagi kalian?" tanya Zio penasaran dengan adiknya itu.
"bukan jelek, tapi Damar tidak pernah mau untuk belajar tentang bisnis kerjaan hanya main wanita saja, dan kakek tidak suka itu" kata Ryan.
"Minggu depan aku dan Citra ke Amerika untuk ketemu dengan kakek" sahut Zio mengalah.
untung saja Zico sudah bisa membantu papa nya di perusahaan sekarang, mengingat Dimas sudah meninggal hanya Zico lah penerus dari perusahaan papa nya, dan itu sudah bisa membuat Zio lega.
karena dia juga sudah memiliki perusahaan cabang milik papa nya yang sekarang sudah berkembang menjadi perusahaan pusat.
"kalau begitu, aku dan Chelsea, akan menemani kalian ke sana, karena kakek tidak bisa lama di Indonesia, jadi tadi kakek hanya menitipkan ini pada Zia" ujur Ryan pada kotak kado yang ada di samping sofa.
"sampai kan terima kasih ku pada kakek, maaf tadi ku tidak bisa datang" sahut Zio karena dia memang tidak mau menjadi ahli waris perusahaan ayah nya itu, dan bagian nya satu perusahaan sudah cukup.
keluarga Zio dan Citra memang keluarga yang memiliki banyak perusahaan, dan bisnis yang lain hingga mau tidak mau mereka harus menjadi penerus dari bisnis tersebut.
"apa itu mas?" tanya Citra melihat Zio hendak membuka kado pemberian kakek untuk Zia.
"ini dari kakek yang ada di Amerika, untuk Zia" sahut Zio pada Citra.
"oh, mau dibuka mas?" tanya Citra.
"iya" sahut Zio.
ia pun mengendong Zia yang lagi sedang bermain di kamar nya, bayi berusia delapan bulan itu pun sudah mulai tidak bisa diam lagi.
"kita buka kado dari kakek ya sayang" ujur Citra mendudukkan Zia di samping nya.
"ayo pi, buka kado nya" ujur Citra pada Zio.
Zio pun membuka kado itu yang berisikan mobil mainan aki untuk Zia.
"ini mah buat Alvares, mana bisa dia main yang begini" ujur Zio pada istrinya.
"kan bisa di simpan dulu mas" sahut Citra.
"wah ini ada baju ternyata" kata Zio pada satu kotak lagi yang ada di dalam mobil itu.
"kalau ini baru bisa langsung di pakai" ujur Citra pada baju yang sangat pas dengan anaknya.
__ADS_1
"maklum lah, kakek tidak tau ukuran baju Zia, jadi di belikan apa adanya" sahut Zio.
Malam nya mereka pun makan bersama di rumah Indra, Alfa dan Alena pun menginap di rumah Indra karena, Nancy dan Jonas harus ke Belanda hari ini untuk mengurus perusahaan yang di sana.
"yah, Minggu depan kami akan ke Amerika, boleh tidak?" tanya Zio
pada mertuanya.
"untuk apa ke sana Zi?" tanya Tania.
"aku mau ketemu dengan kakek yang ada di Amerika, sekali mau ketemu juga dengan adik ku" ujur Zio.
"boleh, Citra ikut?" tanya Indra.
"iya, aku ikut yah, sama mas Ryan dan kak Chelsea juga" ujur Citra.
"iya boleh, tapi biarkan adik kamu pulang ya" ujur Indra yang kasihan pada Rianti.
"besok dia sudah sampai di Jakarta yah" sahut Citra.
"terima kasih ya nak" ujur Tania.
"iya" sahut Citra ketus.
"jangan ketus begitu jelek" kata Alfa pada adik nya.
"lagian mereka itu nyusahin aku aja" kata Citra.
"udah habis kan makanan nya" kata Indra.
"oh ya Zi, nanti di sana kamu jangan ladenin Damar ya, biarkan saja dia" kata Ryan mengingatkan adiknya.
"baik lah" sahut Zio senyum ia pun sudah tau cerita Damar dari Ryan.
Malam itu setelah bicara di ruang keluarga, mereka pun kembali ke kamar mereka masing-masing, begitu juga dengan Zio dan Citra yang sudah baring di kasur mereka setelah bicara dengan Lala tadi.
mereka berniat untuk mengajak Lala ke Amerika, sekalian supaya bisa membantu Citra mengurus Zia di sana nanti.
baru saja ingin memejamkan mata nya tangan kekar Zio pun menyusup di baju tipis Citra hingga, kedua nya pun kembali melakukan ritual nya di kamar hingga berjam-jam lamanya.
__ADS_1
teriakan Citra pun mengakhiri hubungan panas mereka.
Happy reading