
Happy Reading
Matahari pagi mulai meninggi tapi Zio masih setia di atas kasurnya. Citra yang pergi ke dapur untuk membuat sarapan pun telah selesai. iya masuk ke kamarnya dan melihat suaminya masih terlelap.
"mas bangun, kamu tidak ke kantor apa?" tanya Citra seraya mengguncang bahu Zio.
"sebentar lagi sayang" ujur nya dengan suara serak
"udah bangun, Erik sudah menunggumu" ucap Citra menyibak selimut yang menutupi tubuh suaminya.
"lima menit lagi ya" ucap Zio malas.
"tidak bangun sekarang" ucap Citra tegas.
tidak menjawab apa yang Citra suruh Zio malah menarik istrinya dalam pelukanya.
"ih apa sih mas" ucap Citra kesal
"cium dulu" ujur Zio nyengir
"tidak aku sudah mandi, kamu itu masih bau" kata Citra
"ya udah aku tunggangi ya, kalau begitu" ucap Zio senyum
"mas, Erik sudah menunggu kamu malah mesum si" ujur Citra memukul dada Zio
"cium dulu" Zio merengek.
Citra pun mencium bibir suaminya, setelah puas Zio pun beranjak ke kamar mandi dengan tubuh polosnya.
"mas, kamu ya, pakai handuk nya, engak malu apa" ujur Citra kesal dengan tingkah Zio
"untuk apa malu, kamu sudah sering melihatnya" jawab Zio nyengir.
"dasar mesum" teriak Citra. Zio pun berlalu ke kamar mandi tanpa memperdulikan kata Citra
Citra beranjak dari ranjang setelah tadi Zio menarik, iya merapikan tempat tidur mereka dan pergi ke walk in closet untuk mengganti bajunya dan mengambil kan pakaian kerja untuk Zio. Zio keluar dari kamar mandi dan tersenyum melihat pakaian nya sudah di siapkan istrinya. iya bergegas turun untuk menemui Erik yang sudah lama menunggunya.
"sorry Rik gue telat bangun" ujur Zio
"ke enakan lo" ucap Erik kesal hampir satu jam iya menunggu.
"maaf, soalnya enak" kata Zio nyengir.
"ah, udah ayo berangkat?" ajak Erik.
"mas sarapan dulu" teriak Citra yang melihat suaminya sudah berjalan menuju pintu depan.
"tidak usah sayang, mas sarapan di kantor aja" ucap Zio karena hari iya ada meeting penting.
"ya sudah ini bekal untuk mu" ujur Citra yang sudah tau Zio pasti sarapan.
__ADS_1
"terima kasih sayang" ucap Zio sambil mencium bibi Citra.
"eh ada orang disini" kata Erik menyadarkan ke dua pasangan muda ini.
"up maaf kak" ucap Citra setelah mencium tangan suaminya dan berlari ke dalam.
Erik hanya menghela napas kasar melihat tingkah sahabatnya dan istrinya itu.
Citra berangkat ke kampus mengunakan mobilnya, hari ini iya bisa bebas kemana aja karena supir pribadinya meminta ijin untuk pulang kampung.
sampai di kampus iya langsung menuju kelas, sebelum nantinya mereka bertiga akan makan siang bersama. Citra keluar dari kelas hampir saja iya menabrak perempuan yang lagi hamil.
"maaf mbak, aku tidak liat" kata Citra. perempuan itu membalikan badannya membuat Citra terpaku.
"hai ci, apa kabar?" sapa Chelsea.
"kak Chelsea, ngapain disini?" tanya Citra kaget bercampur takut kakak nya menyeretnya pulang.
Citra memang tidak dapat menolak jika sudah berurusan dengan Chelsea, Chelsea adalah orang yang pandai merayu dan membujuk adik nya itu, dia punya seribu macam cara yang membuat adik nya menangis dan sedih hingga iya menuruti kakak nya.
"kakak mau menjemputmu" ujur Chelsea senyum.
"aku tidak mau pulang" jawab Citra dingin.
"tidak pulang kok, kita ke rumah sakit" jawab Chelsea
"untuk apa ke rumah sakit, siapa yang sakit?" tanya Citra penasaran.
datang.
"ci tunggu" teriak Alena
"ah gue mau pergi dulu ada urusan, lo berdua makan aja sendiri." kata Citra
"kak Chelsea" sapa Angel.
"iya, gue bawa Citra dulu" jawab Chelsea
"ke tangkap juga lo ci" kata Alena
"gue mau ke rumah dulu, ogah gue pulang" ujur Citra
"siapa yang sakit?" tanya Angel
"kalian mau ikut?" tanya Chelsea
"kita ikut" jawab Alena cepat
"ayo tidak usah banyak tanya" jawab Chelsea ketus
mereka pun pergi ke rumah sakit di jalan Citra tidak banyak bicara, justru iya marah kepada Alena karena nyerocos dari tadi. sampai di sana Citra masuk keruang rawat itu dan melihat semua keluarganya ada disana. setelah iya melihat siapa yang sedang dirawat iya pun menjadi marah melihat orang yang sedang terbaring lemah itu.
__ADS_1
"kak, untuk apa kakak membawa ku melihatnya" kata Citra setengah teriak dan mundur beberapa langkah.
sontak membuat orang yang di sana melihat ke arahnya.
"kenapa? kamu tidak mau melihat kondisi bibi" tanya Chelsea
"kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya siapa yang di rawat, dia tidak penting bagi ku" ucap Citra
mau lari tapi dengan sigap Tania meraih tangan nya.
"dia bibi mu ci, apa salah dia" ujur Chelsea heran.
"aku membencinya, aku sangat membencinya, dia jahat kak jahat" ujur Citra histeris.
"iya apa salah dia sehingga kau mbencinya" kata Chelsea.
"dia sudah menyakiti ku, dia hampir membunuh ku, dia menyiksa ku" teriak Citra mengingat apa yang di lakukan Kinara ke padanya dulu. yang membuat semua yang ada di situ terdiam.
"ci tenang" ucap Angel
"bagaimana aku mu tenang dia sudah melukai ku" jawab Citra lemah.
"bawa aku pergi dari hadapan nya" ucap Citra lirih
"iya kita pulang sekarang" kata Alena melihat Citra gemetaran.
"ah sakit al" ujur Citra kemudian iya memegang dadanya dan napas nya sudah tidak teratur lagi.
"bagaimana ini gel" kata Alena panik.
"aku benci kamu Kinara, aku ingin kamu mati" ucap Citra menghampiri ranjang bibinya.
"ci jangan lakukan itu" teriak Angel sambil memegang tangan sahabatnya.
Chelsea termenung ternyata dengan membawa Citra untuk bertemu dengan keluarga nya justru membuat Citra ingin membunuh bibinya.
"apa yang terjadi pada nya?" kata nenek Rita menghampiri Citra.
"sayang kamu kenapa, apa kamu sangat terluka atas apa yang ayah mu lakukan dulu" ucap Tania memeluk putri sambungnya.
"mama sakit ma" ucap Citra lemah. iya terkena serangan panik akibat ketakutan yang berlebihan.
"maaf kan aku ci, jika membawa mu untuk ketemu dengan kita membuatmu menjadi sakit" ucap Chelsea merasa bersalah.
"sayang kemari lah" ucap Indra pada putrinya
"ayah, adik mu mau membunuhku yah, ayah jangan pernah menitipkan aku pada nya" ucap Citra sambil menangis
"apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Indra pada kedua sahabat Citra.
"biarkan Citra saja yang memberi tahu kan semuanya" ujur Angel yang tidak mau ikut campur urusan pribadi Citra.
__ADS_1
Citra masih menangis di pelukan ayah nya iya merasa kan dilema yang cukup besar apa mereka akan marah jika tau iya yang menyebabkan bibinya berbaring di rumah sakit saat ini.