Jodoh Untuk Ku

Jodoh Untuk Ku
Ketahuan berdua dengan wanita lain


__ADS_3

...Happy Reading...


Pagi-pagi sekali Citra membangunkan Zio yang masih saja terlelap. merasakan tidurnya terganggu Zio pun membuka matanya dan melihat senyum Citra.


"ada apa sayang?" tanya Zio membalas senyum istrinya.


"aku mau bubur ayam mas, yang ada di depan komplek Penthouse kamu" sahut Citra.


"iya, mas mandi dulu ya, habis ini mas beli" kata Zio beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.


sementara Zio mandi Citra merapikan kamar mereka dan menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Zio keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian yang sudah istrinya siapkan.


"mas, ini teh nya di minum dulu, habis itu baru pergi" ujur Citra.


"terima kasih sayang" sahut Zio duduk di sofa kamar nya.


"mas, tidak ke kantor hari ini?" tanya Citra.


"tidak, mas hanya ke kampus, di kantor sudah ada Erik yang bisa di handal kan" kata Zio.


"oh ya sayang, habis dari kampus mas ke rumah papa dan mama, mau bicara mengenai Dimas" lanjut Zio.


"iya mas, ngomong nya hati-hati ya" ujur Citra.


"siap, mas berangkat dulu beli bubur" ucap Zio.


"jangan lama" sahut Citra.


"tidak akan lama, tunggu ya" sahut Zio pergi.


Zio pun melajukan mobilnya menuju komplek rumahnya yang lumayan jauh dari rumah mertuanya. sampai di sana ia turun, namun kekesalan pun terjadi, karena dia harus ngantri demi memenuhi ngidam istrinya.


Zio duduk di kursi dekat gerobak milik penjual bubur ayam.


"mas mau beli bubur juga?" tanya penjual bubur ayam.


"iya bang, apa aku boleh duluan?" tanya Zio balik.


"maaf mas, nanti yang lain pada ngamuk lagi" ujur Somat penjual bubur ayam itu.


"ya udah deh bang, aku ngantri, nama no nya?" tanya Zio.


"ini mas" kata Somat.


Zio begitu kesal karena no antrian nya begitu jauh, walau hanya satu jam dia disini untuk ngantri. namun dia tidak lupa memberitahu istrinya.


lima belas menit berlalu, Zio memainkan ponselnya untuk mengusir rasa bosan, namun tiba saja ada yang memanggilnya.


"mas Tama" sapa wanita itu.


"Riana" kata Zio kaget.

__ADS_1


"apa kabar mas?" tanya Riana sahabat Zio atau mantan pacarnya sejak SMP.


"baik, kamu apa kabar?" tanya Zio basa basi.


"baik mas, aku tidak nyangka kamu disini, lagi ngantri juga" ujur Rania.


"iya, istri ku lagi ngidam pengen bubur ayam" sahut Zio fokus pada ponselnya.


"haha, rasain di kerjain anak sama istrinya" ujur Rania tertawa.


"jangan ketawa, aku udah bosan bangat disini, kamu ngapain di Indo?" tanya Zio.


"aku ada kerjaan di sini mas" sahut Rania.


"oh, kerja apa?" tanya Zio untuk mengusir rasa bosan menunggu.


"sebagai asisten pribadi Frans Nelson" sahut Rania.


"oh" ucap Zio mengangguk.


tidak lama Somat pun memanggil no Rania.


"iya bang, pesan satu ya" ujur Rania.


"baik mbak" sahut Somat.


"eh mas, mau sekalian, kasihan istrinya nunggu" tawar Rania.


"boleh" sahut Zio senang.


"kamu kan bisa makan sendiri" sahut Zio.


"sekali ini saja mas, lagian aku bukan pelakor kok" sahut Rania.


"iya, tapi jangan lama" ujur Zio.


"bang, dua lagi ya, satu di bungkus" kata Rania pada Somat.


Zio pun menuruti apa kata Rania, mereka berjalan ke taman depan dan makan bubur ayam bersama di sana sambil bercerita tentang masa sekolah dulu, hingga Zio lupa kalau tujuan dia kesini untuk membeli bubur ayam, atas perintah istrinya.


Di rumah Citra sudah tidak tahan lagi ingin memakan bubur ayam itu, namun sudah satu jam lebih Zio belum juga datang, hingga dia berniat untuk menyusul Zio.


sampai di tempat itu Citra mencari suaminya dari dalam mobil, dia mengedarkan pandanganya ke semua tempat, dan melihat mobil Zio tidak jauh di sana. setelah melihat ke sana ke mari, akhirnya Citra melihat suaminya yang sedang asik makan bubur bersama wanita lain.


"pantas saja lama, ternyata lagi berduaan dengan orang lain, sampai melupakan aku yang begitu menginginkan bubur itu" ujur Citra kesal bercampur marah melihat suaminya dengan mesra mengelap bibir Rania yang berlepotan dengan tisu.


"pak, tolong belikan aku bubur itu, cepat ya, ini uangnya" kata Citra masih melihat ke arah suaminya.


"baik non" sahut supir pribadi Citra.


tidak lama bubur Citra pun datang, dan mereka langsung pergi dari lokasi itu menuju tempat lain.

__ADS_1


"kita kemana non?" tanya supir.


"puncak, villa yang sering di gunakan bunda untuk berlibur" sahut Citra.


"tapi, bagaimana nanti jika mas Zio dan yang lain mencari non?"tanya supir takut.


"aku akan kasi pelajaran untuk Zio, yang sudah mengabaikan ku demi wanita lain" ujur Citra.


"baik lah non, kalau begitu sore nanti kita pulang" sahut supir.


"jangan kasi tau siapa pun aku dimana, kalau bapak masih mau kerja sama saya" ancam Citra.


"ba..baiklah non" sahut supir takut.


Zio pun mulai sadar jika dia sudah lama bicara dengan Rania di taman dan melupakan istrinya yang lagi ngidam itu.


"ya ampun Ran, bubur istri gue" kata Zio takut.


"maaf mas, gara-gara asik bercerita, jadi kita lupa waktu, sekarang kamu pulang" ujur Rania.


"aku duluan ya" sahut Zio tergesa.


"maaf ya mas, jadi engak enak aku nya" ujur Rania merasa bersalah.


"ah, tidak apa" sahut Zio.


Zio melajukan mobilnya menuju rumah, dan lima belas menit dia sudah sampai dan langsung menuju dapur untuk memindahkan bubur yang sudah dingin ke mangkok.


"kamu kemana aja zi?" tanya Tania.


"habis beli bubur bu" sahut Zio.


"kenapa lama?, ini bubur juga udah dingin" ujur Tania.


"maaf bu, aku tadi ketemu sama sahabat aku, jadi kita ngobrol sebentar, jadi lupa deh sama bubur nya" ucap Zio.


"tadi Citra keluar cari kamu, sama supir" ujur Tania.


"apa, terus udah pulang bu?" tanya Zio panik dia takut istrinya melihatnya bersama Rania, dan salah paham padanya.


"belum, udah hampir satu jam yang lalu" sahut Tania.


"maaf bu, aku cari Citra dulu" kata Zio pergi tanpa salam.


"Zio Zio, nongkrong terus sampai lupa sama istri yang lagi ngidam, puas tu dia cari Citra, siapa suruh berduaan dengan wanita lain, sampai lupa waktu" kata Tania melihat menantunya berlari lagi ke luar.


Zio yang panik pada istrinya pun melajukan mobilnya menuju komplek rumahnya, untuk mencari Citra yang mungkin dia kira masih di sana.


sampai di sana ia menanyakan pada orang sekitar mengenai istrinya, namun mereka tidak ada yang melihatnya. Zio menelpon orang rumah menanyakan tentang istrinya sudah pulang atau belum.


karena panik ia pun melajukan mobil nya tanpa tentu arah dan tujuannya.

__ADS_1


Terima kasih,


Like, vote, dan komen ya.


__ADS_2