Jodoh Untuk Ku

Jodoh Untuk Ku
Pertemuan di rumah sakit


__ADS_3

Happy Reading


Sampai di rumah sakit, Citra langsung di periksa oleh dokter, walau ia terlihat biasa saja, namun Zio sangat khawatir.


"bagaimana istri saya dok?" tanya Zio.


"hanya demam biasa dan asam lambungnya naik, karena dari pagi tidak makan" ujur dokter.


"boleh saya masuk?" tanya Zio karena Citra sakit itu karena dia.


"boleh pak, silahkan masuk" kata dokter pamit.


Zio masuk dan melihat Citra membelakanggi nya, tanpa melihat nya sama sekali.


"sayang, maaf ya" ujur Zio lirih dan membalikan tubuh istrinya.


"mas, aku lapar, jangan minta maaf terus" ujur Citra.


"maaf, mau makan apa?, mas beliin" tanya Zio menatap istrinya.


"nasi goreng" sahut Citra tanpa melihat ke arah suaminya.


"tunggu sebentar ya" sahut Zio.


"iya, tapi jangan ngobrol lagi dengan mantan hingga lupa sama aku" sindir Citra.


"maaf" kata Zio.


"cepat aku lapar, jangan bicara lagi" kata Citra dengan mode garang.


Zio langsung menuju kantin, dan membeli nasi goreng untuk istrinya, dan benar saja dia bertemu lagi dengan Rianti di sana.


"mas, kok ada di sini?" tanya Rianti.


"oh, beli nasi untuk istri, dia lagi sakit, kamu kenapa di sini" kata Zio.


"lagi ngantar Tante cek kandungan" sahut Rianti.


"oh, aku duluan ya, istri ku udah nunggu" ujur Zio.


"boleh aku ikut?" tanya Rianti.


"jangan" sahut Zio langsung membuat Rianti bengong.


"maaf, maksudnya jangan sekarang" ujur Zio.


"apa dia marah karena tadi?" tanya Rianti.


"iya, dia salah paham dan marah pada ku, karena melihat kita berdua di taman" ujur Zio ingin pergi.


"aku ikut ya, sekalian mau minta maaf, gara aku jadi mas lama pulang, dan membuat istri mas marah" kata Rianti.


"iya" sahut Zio mendahului Rianti.


sampai di ruangan Citra, Zio langsung masuk dan mengambil piring yang ada di sana dan memindahkan nasi goreng ke dalam piring. dan Rianti pun masuk membuat Citra menoleh ke arah wanita yang membuat nya cemburu tadi sampai sekarang.


"ini sayang makan dulu" ujur Zio tidak memperdulikan Rianti.


"iya, terima kasih" sahut Citra mengambil nasi itu dan mulai memakan nya walau hati nya sangat jengkel pada suaminya yang mengajak mantan ke kamar rawat nya.


tidak lama pintu terbuka dan Frans pun masuk untuk meminta tanda tangan nya.


"kamu di sini?" tanya Frans menatap asistennya.


"iya pak, kebetulan lagi nunggu Tante yang lagi periksa kandungan, lama bangat antri nya dan tidak sengaja ketemu mas Zio di sini" sahut Rianti dan Frans hanya mengangguk.


"oh ya ci, ini ada yang harus kamu tanda tangani, baca dulu" kata Frans.


"iya kakak" sahut Citra menerima berkas yang di bawa Frans dan membacanya.


"makanya jaga kesehatan, kan sakit jadinya" ujur Frans menatap Citra.


"iya kak, ini" sahut Citra menyerahkan kembali berkas nya.


"aku permisi ya, Rianti jangan lupa besok kamu meeting mengantikan aku" ujur Frans.


"baik pak" sahut Rianti hormat.


setelah Frans pergi tidak ada yang mulai bicara sama sekali termasuk Rianti yang baru tau jika wanita yang lagi ada di dekatnya sekarang adalah bos nya.


"Ri, Tante mu mana, apa dia tidak mencari mu?" tanya Zio memulai pembicaraan.

__ADS_1


"tadi aku udah minta dia kesini mas, kalau udah selesai" sahut Rianti.


"bicara lah, kata nya mau bicara" ujur Zio.


"oh iya lupa" sahut Rianti.


Rianti mendekat keranjang Citra dengan senyum.


"maaf mbak untuk tadi pagi, aku yang ngajak mas Zio ngobrol dan makan bersama karena kita baru bertemu lagi, hingga kita lupa kalau mbak lagi ngidam bubur dan nunggu di rumah. aku dan mas Zio tidak ada apa-apa kok, hanya sahabat walau dulu kita sempat pacaran, namun hati mas Zio bukan untuk ku lagi, setelah bersama mendiang mbak Selina" kata Rianti menunduk.


"tidak mengapa, aku memaafkan mu, kerena kamu telah jujur dan mengatakan yang sebenarnya" sahut Citra.


"terima kasih mbak telah memaafkan saya" ujur Rianti lega.


"bagaimana kantor?, kerjaan ku pasti numpuk sekarang?" tanya Citra.


"semua pekerjaan mbak udah di kerjakan oleh Sinta" sahut Rianti.


"oh iya aku lupa, ada Sinta" ujur Citra.


dan pintu kamar pun terbuka dan masuk dua wanita yang masih terlihat muda itu dengan satu yang perutnya buncit nya.


"bunda" ucap Citra kaget.


"Citra, anak bunda" ujur Nancy yang juga kaget melihat anaknya.


"bunda, ini aku Citra bunda, aku kangen sekali sama bunda" kata Citra yang sudah menangis.


Nancy langsung memeluk putrinya dengan erat, dia tidak menyangka bisa ketemu dengan Citra secepat ini.


"maaf kan bunda nak" ujur Nancy terinsak. Citra tidak menjawab dia hanya sibuk menangis dan mengenggam tangan bundanya.


Zio yang melihat nya pun mendekat dan mulai bicara pada mertuanya.


"bunda" kata Zio mencium tangan Nancy membuat Nancy kembali menangis.


"Tama, terima kasih sudah kembali pada putri ku, dan sudah menjaga Citra dengan baik" kata Nancy mengusap lembut rambut Zio.


"aku yang berterima kasih bun, karena bunda yang sudah dari dulu menjadikanku jodoh untuk Citra, hingga nenek yang mewujudkan nya, aku mencintai Citra bun" ucap Zio.


Rianti pun hanya diam mematung di sofa tempat ia duduk dan menatap keluarga yang ada di depannya yang tampak bahagia. hingga air mata itu menetes.


"kenapa kamu menangis nak?" tanya Nancy lembut.


"aku hanya kangen ibu Tante" sahut Rianti lirih.


"ini ibu kamu, sini ibu peluk" kata Nancy memeluk Rianti yang sudah menjadi putri sambungnya, namun Rianti tidak mau memanggilnya ibu.


"jadi dia saudara ku juga Tante?" tanya Rianti.


"iya dia putri ibu nak" sahut Nancy senyum.


saat mereka asik ngobrol di ruangan rawat Citra, walau hari sudah malam, tiba saja Tania, Indra dan Alfa datang bersamaan. dan membuat suasana di ruangan itu menjadi haru, bagaimana tidak Rianti adalah anak kandung Tania yang di asuh oleh ayah kandungnya.


"bagaimana keadaan mu nak?" tanya Indra sengaja tidak mau melihat pertemuan itu. Indra adalah laki laki beruntung dia menikahi wanita yang sangat menyayangi anak, baik itu anak kandung mau pun anak angkat, seperti yang dilakukan oleh Tania dan Nancy yang tidak mau membedakan seorang anak.


"udah mendingan yah, udah bisa pulang sebenarnya, tapi kalau drama nya belum selesai bagaimana mau pulang" ujur Citra menatap bunda dan ibu nya yang lagi menangis di depan anaknya.


"emang sinetron, pakai drama segala" kata Indra senyum.


"ayah tidak menginginkan bunda lagi kan?" tanya Citra polos.


"tidak lah sayang, itu masa lalu, lagian ibu kalian juga sama seperti bunda" kata Indra.


"iya yah, ayah beruntung loh, menikahi dua wanita yang sangat baik" ujur Citra.


"iya sayang, kamu juga anak baik" kata Indra.


melihat Indra dan Citra yang tertawa membuat ke empat orang yang di sana menoleh ke arah mereka.


"mas, terima kasih sudah jaga Citra dan Alfa dengan baik, kamu sangat beruntung menikah dengan Tania wanita super baik" kata Nancy senyum.


"jangan berterima kasih nan, aku tidak bisa menjadi ayah" kata Indra menatap Citra.


"sudahlah jangan di ingat, itu sudah lalu" ujur Nancy yang sudah tau.


"mbak kapan datang ke sini?" tanya Tania.


"dua minggu lalu, Rianti kerja di sini, jadi kita harus pindah demi cita-cita anak" sahut Nancy.


"oh, lain kali main ke rumah ya mbak, ajak mas Jonas aku hanya ingin mempertemukan dia dengan Chelsea" ujur Tania.

__ADS_1


"nanti kita cari waktu luang" sahut Nancy.


"iya mbak, aku tunggu, kok bisa ada di rumah sakit?" tanya Tania.


"tadi habis ngantar adik nya mas Jonas periksa kandungannya, tapi dia sudah pulang" sahut Nancy dan Tania pun mengangguk.


Tania pun berjalan menuju ranjang Citra.


"bagaimana kamu bisa sakit, malah pergi segala dari rumah, ibu udah panik bangat sama kamu" ujur Tania pada Citra.


"maaf bu, semua gara-gara itu, ngeselin bangat" sahut Citra yang masih kesal.


"maaf sayang, dia kan saudara kamu juga, adik nya Chelsea" sahut Zio.


"kenapa dengan kalian?" tanya Nancy pada Rianti.


"itu Tante, tadi pagi mas Zio diminta Citra untuk beli bubur, dan kita bertemu di sana, setelah membeli bubur aku ngajak mas Zio makan dan ngobrol jadi lupa deh sama Citra yang lagi ngidam bubur" ujur Rianti.


"jadi kamu yang tadi pagi sama Zio" ucap Tania.


"iya ibu, maaf" sahut Rianti.


"kamu udah lama kenal sama Tama?" tanya Nancy.


"udah, dia mantan aku yang sekarang jadi sahabat aku Tante" sahut Rianti jujur.


"Tama" kata Indra yang bingung.


"iya, Tama, menantu kamu" sahut Nancy.


"dia kan Zio bukan Tama" kata Indra.


"sama ayah, Tama dan Zio orang yang sama" ujur Citra.


"jadi dia Tama yang udah di jodohkan dengan Citra waktu masih kecil" kata Indra.


"iya, aku Tama ayah" sahut Zio.


"ah, kenapa nama mu di ubah, aku kira Tama itu anak Adit yang satunya lagi, selain Zico" ujur Indra.


"mereka yang mengubah nama panggilan ku yah, jadi Zio" sahut Zio.


"terus saudara kamu yang satunya kemana, kenapa ayah tidak pernah lihat?" tanya Indra karena anak Adit ada tiga.


"Dimas dia udah meninggal ayah" sahut Citra.


"meninggal karena apa, kenapa kami tidak pernah tau?" tanya Indra lagi.


"kami juga tidak tau ayah, dia menderita kangker darah" sahut Zio menunduk.


"apa papa mu tidak tau?" tanya Indra.


"iya, sebenarnya hari ini aku mau bicara sama papa" kata Zio.


"besok ayah temani kamu ke sana, dimana makan Dimas" ujur Indra.


"di taman kenangan ayah" sahut Zio.


"taman kenagan?" tanya Alfa yang hanya mendengar saja tadi.


"nanti aku ajak kita ke sana, untuk melihat makam Dimas" sahut Citra.


"taman kenangan, aku tidak pernah dengar" ujur Tania menatap Nancy.


"iya, selama aku di sini, aku tidak pernah tau dimana taman kenangan" ucap Nancy.


"iya lah, tidak tau karena tempatnya hanya di gunakan untuk menenangkan hati yang sedih" kata Citra.


"iya persembunyian yang sekarang sudah aku ketahui" ujur Zio.


"kalau aku tidak ngidam, mana mau aku ajak kamu kesana" sahut Citra.


"kamu sering ke sana ci, dimana sih taman itu?" tanya Tania penasaran.


"besok aja ya bu, kita ke sana, setelah ayah dan mas Zio memberi tahu papa dan mama. sebenarnya Dimas itu sahabat aku, orang yang selalu menghiburku saat aku sedih" kata Citra mengingat pada kenangan nya pada Dimas lagi.


Setelah larut malam semuanya pun pulang setelah pembicaraan dan pertemuan mereka di rumah sakit.


**terima kasih


Like, vote, dan komen**

__ADS_1


__ADS_2