
Hari pun sudah larut malam, Zio melajukan mobilnya menuju Penthous untuk menjemput anaknya yang ia titipkan pada Andini.
"Zia nya udah tidur, jangan di ganggu, nanti bangun lagi" kata Dini pada Zio yang hendak mengangkat putranya.
"kita harus pulang Din" sahur Zio.
"tinggal kan di sini saja, besok sore kakak dan istri kakak jemput ke sini" ujur Dini.
"kita kan tidak bawakan baju ganti untuk Zia, dan asi juga kurang, entar nangis lagi" kata Zio bingung, karena Zia tidur sangat nyenyak.
"kan ada baju Yos, untuk asi bisa di peras" ujur Dini yang memang ingin Zia menginap di Penthous nya, karena sejak tadi Yosafat sangat senang dengan kedatangan Zia di rumah nya.
"ya udah, aku kasi tau Citra dulu" sahut Zio keluar dari kamar Andini.
"Zia mana mas?" tanya Citra karena suaminya keluar sendiri.
"Zia udah tidur sayang, nyenyak bangat lagi, kasihan kalau di pindah lagi, nanti pasti bangun, kita tinggal kan di sini saja, besok pulang dari kantor kita jemput" kata Zio pada istrinya.
"entar nagis mas" sahut Citra.
"tidak, tapi sepertinya Yos yang nangis besok jika Zia pulang, ibunya ingin Zia bermalam di sini" ujur Zio.
"ya udah lah, besok kita jemput, lagian si Lala juga pulang kampung besok" kata Citra.
kedua nya pun pulang ke rumah tanpa membawa Zia, dan Zio juga percaya jika Andini bisa menjaga putranya.
...****************...
Pagi itu, Tania pun langsung mencari cucunya yang tidak ada di kamar, ia langsung masuk ke kamar anaknya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Mata Tania langsung melotot saat melihat kedua anaknya lagi tidur dengan pulas nya, tanpa busana sama sekali.
"sayang bangun" kata Tania menepuk pipi Citra yang ada di dekapan Zio.
merasa ada yang menepuk pipi nya Citra pun bangun, ia pun kaget saat melihat ibunya hanya senyum menatap nya.
"kenapa ibu masuk?" tanya Citra menarik selimut sampai leher nya.
"ibu cari Zia, dimana dia?" tanya Tania tanpa merasa bersalah.
"Zia nginap di rumah Andini, bu" sahut Citra malu.
"oh, udah bangun sekarang, kita sarapan bersama" kata Tania yang tidak sempat menanyakan siapa Andini, karena melihat kedua anaknya yang polos itu.
"iya, tapi ibu keluar dulu, aku mau mandi" sahur Citra risih.
"kenapa harus keluar, ibu tunggu di sofa, cepat mandi dan bangunkan suami mu" kata Tania berjalan ke sofa kamar Citra.
Citra hanya bengong dan melihat dengan jengkel ke arah ibunya, tiba saja hari ini dia masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu atau teriak dari luar untuk membangunkannya.
__ADS_1
tapi hari ini Tania masuk begitu saja ke dalam kamar dan malah menunggu mereka di kamar untuk turun bersama ke dapur.
"kenapa bengong, bangun kan Zio, dan mandi sekarang" kata Tania menatap Citra yang masih setia di tempat tidur.
"ibu keluar dulu ya, gimana aku mau bangun kan mas Zio dan mandi jika ibu masih di sini" usir Citra.
"emang kenapa ibu harus pergi dari sini?" tanya Tania.
"ibu mau liat tubuh polos mas Zio apa?" tanya Citra kesal.
"ibu tidak melihat nya, kamu tenaga saja" sahut Tania.
"tapi aku yang malu Bu, keluar dulu dari sini" kata Citra.
"kenapa harus malu, ibu pernah melihat nya" sahut Tania senyum.
"ibu" teriak Citra yang membuat Zio terbangun.
"ada apa sayang?" tanya Zio setengah sadar.
"itu ibu, nungguin kita di kamar, aku masih polos mas, masa dia liat kita telanjang" sahut Citra kesal.
"mas, sih udah pakai ****** ***** ini" kata Zio yang semalam sempat memakai celana nya setelah bercinta.
"apa kalian mau sarapan begitu saja" ujur Tania kemudian.
"sini mas gendong" ujur Zio mengangkat tubuh polos Citra tanpa penutup apa pun.
Citra pun menyembunyikan wajahnya di dada suaminya, karena malu di lapangan di lihat ibunya sendiri.
Tania senyum penuh kemenangan sudah berhasil membuat anaknya kesel pagi ini, dia begitu senang melihat wajah Citra yang sudah merah karena malu.
Citra keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi, dan ingin membersihkan tempat tidur mereka.
"ibu yang rapikan tempat tidur nya?" tanya Citra pada wanita yang masih duduk di sofa.
"iya" sahut Tania.
"tapi kan di situ ada bekas cair aku dan mas Zio bu" ujur Citra degan wajah merah.
"ibu juga sudah lihat, bekas pipis kamu itu sampai lumer di situ, pada basah semua itu tempat tidur" kata Tania jujur.
"ibu, kenapa hari ini ngeselin banget sih" kata Citra duduk di pangkuan ibunya dan menyembunyikan wajahnya di dada ibunya.
"kamu malu?" tanya Tania mengusap rambut anaknya.
"iya" sahut Citra.
"hahaha, apa setelah malam kalian begitu?" tanya Tania.
__ADS_1
"iya, kecuali lagi ada tamu" sahut Citra jujur.
"hati-hati nanti kebobolan" ujur Tania senyum.
"tidak, kan Citra KB bu" sahut Citra.
Zio pun datang dan duduk di samping kedua nya, Citra masih tidak ingin beranjak dari pangkuan ibunya, dan malah menyembunyikan wajahnya.
"ayo sarapan" kata Tania mengangkat tubuh Citra.
"tidak mau" sahut Citra.
"kenapa, ayo ayah sudah nunggu itu" kata Tania berusaha mengangkat tubuh Citra.
"aku malu" sahut Citra yang membuat Tania tertawa.
karena Citra tidak mau pindah dari pangkuan ibunya, Zio pun mengangkat istrinya. dan mengajak sarapan, sedang Tania keluar duluan.
"aku tidak mau mas, malu" kata Citra.
"kenapa harus malu?" tanya Zio.
"tadi ibu rapikan tempat tidur kita, dan dia lihat bekas pipis nya aku mas, dan kamu tau kan setelah kita bercinta aku pipis sangat banyak" sahut Citra cemberut.
"terus kamu sarapan bagaimana?" tanya Zio.
"di kampus saja" sahut Citra malu pada ibunya.
"tapi nanti ibu marah lagi" kata Zio membujuk istrinya, dan dia juga tau kalau Citra sangat malu.
"tidak, siapa suruh dia mengerjai kita" sahut Citra.
Zio pun ke meja makan dengan sendiri, setelah tadi Citra pergi ke kampus karena malu pada ibunya yang melihat mereka berdua tidur dengan tubuh polos.
"Citra mana?" tanya Tania pada Zio.
"udah pergi ke kampus bu" sahut Zio.
"tidak sarapan?" tanya Tania.
"dia malu sama ibu, gara-gara ibu liat itu bekas pipis nya di kasur" sahut Zio.
"hahaha, jadi ibu hilang karena di kamar Citra" kata Chelsea tertawa.
"iya, tadi ibu cari Zia, ibu kira dia di kamar Citra, eh ternyata mereka berdua malah lagi tidur dengan pulas, mana tidak pakai baju lagi, dan ibu iseng mengerjai Citra" sahut Tania nyengir.
"gara-gara ibu ini, Citra tidak mau sarapan" kata Indra bersuara.
Happy reading
__ADS_1