Jodoh Untuk Ku

Jodoh Untuk Ku
Di panggil Tama


__ADS_3

Saat Citra keluar dari IGD, semua yang ada di situ melihat ke arahnya.


"apa kata Ryan, sayang?" tanya Zio penasaran karena Ryan minta Citra yang menemuinya.


"dia hanya ingin meminta ku untuk memberikan ini pada kak Chelsea" sahut Citra menyerahkan kotak dan surat yang Ryan beri pada nya.


Chelsea langsung membuka surat itu, surat yang di tulis Ryan hampir delapan tahun yang lalu, yang ia tulis untuk Citra.


Chelsea menatap Citra, seakan ia kembali ingat saat mereka hendak masuk SMP, dimana Citra marah padanya karena Ryan yang lebih memilih dia dari pada Citra.


yang kemudian berujung dengan pertengkaran hebat dan perginya Citra dari rumah.


"kak, mas Ryan menunggu kakak di sana" ujur Citra membuyarkan lamunan Chelsea.


"iya, aku buka kotak ini dulu" sahut Chelsea.


Chelsea dan Citra sama-sama bengong saat melihat sebuah cincin yang dulu di beli oleh Ryan kecil, untuk diberikan pada orang yang sangat ia cintai.


Chelsea memegang kotak itu dengan gemetar dan masuk ke dalam IGD untuk menemui suaminya.


Ryan tersenyum melihat wajah cantik Chelsea yang masuk dengan derai air mata.


"kenapa menagis?" tanya Ryan menghapus air mata Chelsea.


"mas, maafkan aku" sahut Chelsea.


"maaf kenapa?" tanya Ryan menatap istrinya.


"maaf, aku sudah mengusir mas, hingga mas kecelakaan" ujur Chelsea menyesal.


"kamu tidak salah sayang, aku yang minta maaf" ujur Ryan.


"terima kasih sudah menjadikan ku cinta sejati mu mas, aku mencintai mu, jangan tinggalkan aku" kata Chelsea.


"tidak akan sayang, mana Yabes?" tanya Ryan.


"di rumah mas, dia sangat rewel, mungkin ingin ketemu sama kamu" sahut Chelsea.


"mas ingin cepat pulang sayang" ujur Ryan.


"iya, mas istirahat ya, nanti mau di pindahkan ke ruang rawat" kata Chelsea.


malam itu Zio, Citra dan Tania pun pulang ke rumah karena Zia dan Yabes nangis mencari orang tuanya, sedangkan Chelsea masih harus di rumah sakit untuk menjaga Ryan, karena Indra dan Alek harus mengurus masalah kecelakaan yang menimpa Ryan di kantor polisi, dan Tiara yang tadi siang harus pergi ke luar negeri karena perusahaan ayahnya yang di kelolanya ada masalah dan ia harus menyelesaikan nya, walau dengan berat hati pergi meninggalkan putranya yang lagi koma.


"zi, mampir dulu ke minimarket" ujur Tania.


"baik bu" sahut Zio saat melihat minimarket.


Zio memarkirkan mobilnya dan turun mengikuti istri dan mertuanya ke dalam.


setelah memilih barang yang di perlukan mereka pun menuju kasir untuk membayarnya.


"kok ibu beli susu menyusui banyak bangat?" tanya Citra.


"kan untuk kamu dan Chelsea" sahut Tania.


"tapi kan, di rumah masih ada" kata Citra.

__ADS_1


"masih ada, tidak lihat apa udah hampir abis" kata Tania.


"emang iya" ujur Citra pada Zio.


"maaf sayang mas lupa beli" sahut Zio nyengir.


"sudah, ibu bayar dulu" kata Tania.


"biar aku saja yang bayar bu" ujur Zio tidak enak.


"tidak apa zi" sahut Tania berjalan ke arah kasir.


Zio dan Citra pun menunggu mobil sambil berbicara yang tidak penting.


"sayang nanti singah dulu ya rumah makan seafood" kata Zio di tengah obrolan mereka.


"mas ingin makan seafood?" tanya Citra menatap suaminya.


"bukan, supaya ibu tidak masak lagi nanti" sahut Zio.


"oh" ucap Citra.


Tania pun keluar dari minimarket setelah antrian untuk membayar, Zio yang melihat mertuanya membawa banyak belanjaan pun menghampirinya dan membawa belanjaan itu ke dalam mobil.


seperti yang ia katakan tadi pada istri nya, Zio pun menghentikan mobilnya dan membeli makanan dengan menu seafood untuk makan malam mereka.


sampai di rumah, Tania langsung menata makanan yang di beli oleh Zio. setelah selesai ia pun memanggil semua anaknya yang baru saja pulang kerja.


"malam" sapa Rama.


"iya, mas tumben pulang ke rumah?"tanya Citra.


"oh ya, gimana mau tidak Vina pegang kembali perusahaan?" tanya Citra.


"tidak pasti, selalu saja di serahkan pada aku" sahut Rama.


"kamu bantu saja nak, lagian om Davin juga gaji kamu" kata Tania.


"tapi kan, aku kadang sibuk di rumah sakit bu" ujur Rama.


"iya ibu tau, belajar mengelola bisnis, walau itu bukan kesukaan kamu" kata Tania.


"iya betul itu, benarkan mas Tama" ujur Citra.


"Tama, emang ada Tama disini?" tanya Alfa.


"mas Alfa memang selalu seperti itu, jika ada yang aneh saja langsung ngerespon" ujur Citra menatap kakaknya.


"kan kenyataan seperti itu" ucap Alfa tidak mau kalah.


"ada lah, ni suami aku" sahut Citra mencium pipi Zio.


"menghayal, itu Zio bukan Tama" ujur Alfa.


"sama saja, mau Zio atau Tama wajahnya dan semaunya tetap sama" sahut Citra membuat Alfa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"kenapa fa?" tanya Tania.

__ADS_1


"tidak, sejak kapan Zio jadi Tama?" tanya Alfa.


"sejak lahir, sampai sekarang" jawab Rama.


"kan Zio, memang Tama fa, kamu tidak tau ceritanya?" tanya Tania.


"tidak" sahut Alfa.


"makanya jangan sibuk kerja" ujur Rama, Zio dan Citra bersamaan.


Tania pun langsung tertawa, melihat Rama, Zio dan Citra saling tatap karena mereka menjawab Alfa kompak.


"udah ah, aku mau kerja dulu" kata Alfa saat mereka selesai makan.


Zio dan Citra pun pergi ke kamar mereka untuk melihat Zia yang lagi ada di kamar bersama Yabes.


"la, kamu udah makan?" tanya Citra.


"belum bu" sahut Lala.


"kenapa tidak makan, udah makan sana, dimeja makan ada makanan yang belum di sentuh kamu habiskan" perintah Citra, kadang Citra kesal pada Lala yang selalu harus di perintah jika itu berurusan dengan perut.


tidak lama Tania datang ke kamar Citra untuk bermain bersama cucunya yang terbangun dan belum tertidur lagi.


"tumben ini bocah belum tidur lagi" ujur Tania mencium dua bayi tampan itu.


"mungkin udah puas tadi bu, makanya melek terus" kata Citra.


"Yabes tidur sama Lala?" tanya Tania pada Citra.


"iya bu" sahut Citra.


"apa Lala, tidak repot nanti" ujur Tania.


"ibu tanya si Lala saja" kata Citra.


Lala pun masuk ke kamar majikan nya dan membawa susu untuk Yabes.


"maaf bu, aku tidak mampu menghabiskan makanan yang ibu minta" kata Lala.


"tidak mampu, alasan kamu saja itu" ujur Citra.


"tapi saya, sangat kenyang bu, tadi mbak Nina yang saya minta untuk menghabiskan nya, dan sekarang dia tidak mampu gerak di meja makan" kata Lala.


"benaran?" tanya Citra.


"iya bu" sahut Lala memberikan Yabes susu.


"pasti kamu bilang, saya yang minta kan, kalau tidak saya akan marah" ujur Citra menatap Lala.


"hehe, benar sekali bu" sahut Lala nyengir.


"kamu ya, jangan salahkan saya jika besok Nina membalas" kata Citra yang sangat tau tingkah Lala dan Nina yang memang jahil dan suka mengerjai teman nya. walau Lala merupakan anak kuliah.


"tidak mengapa, anggap saja itu balas dendam saya bu, karena dia memasukan banyak sambal di bakso saya tadi pagi, hingga saya mulas sampai sekarang" ujur Lala.


"iya iya, sudah kamu tidur sana, Yabes sama ibu saja" kata Citra menyerahkan Zia pada Lala.

__ADS_1


Like, komen, dan Vote ya


__ADS_2