
Berita kehamilan Alena pun sampai pada Indra dan Jonas, kedua pengusaha itu pun langsung pulang, saat istrinya memberikan tahu bahwa, malam nanti akan ada acara lamaran Alfa dan Alena.
tiba di rumah, Indra langsung masuk ke kamar anaknya dan menanyakan kebenaran itu. amarah Indra tidak lagi terbendung saat tau perbuatan anaknya itu, bukan hanya Indra yang marah tapi Jonas juga datang dan memarahi Alfa.
"maaf pak, yah aku salah aku" ujur Alfa sendu.
"ayah kecewa sama kamu fa, ayah tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbuat seperti itu, walaupun Alena itu calon kamu" kata Indra menatap tajam ke arah putranya.
"jangan kamu pikir jika dia calon kamu, kamu seenaknya meniduri dia, itu dosa Alfa, kalian belum menikah" ujur Jonas.
"iya, aku mengakui semuanya, aku salah, aku minta maaf ayah, bapak, maaf kan aku" sahut Alfa takut.
"mas sudah, jangan di marah lagi Alfa nya, lagian udah terlanjur tidak bisa di kembalikan lagi" tegur Nancy pada Indra dan Jonas.
"maaf kan aku, aku gagal mendidik putra kita" sahut Indra pergi.
Jonas pun beranjak dari kamar Alfa, meninggalkan kan Nancy dan Alfa sendiri.
"makanya dengarkan kata orang tua fa, jangan berbuat yang di luar batas, ayah kamu bukan tidak senang dengan berita kehamilan Alena, tapi ini di luar nikah, bisa saja ini jadi berita bagi orang yang tidak baik" ujur Nancy pada putranya.
"salah ya Bun, aku melakukan itu pada Alena, yang sebentar lagi jadi istri ku?". tanya Alfa.
"ya, jelas salah lah nak, kalian belum ada ikatan pernikahan" sahut Nancy.
"maaf ya Bun, jika suatu saat nanti ini akan jadi perbincangan orang lain" ujur Alfa lirih.
"sudahlah, sekarang turun dulu, kita makan bersama" kata Nancy.
melalui telpon Samy meminta Indra dan Jonas supaya tidak memarahi Alfa, Karena bagaimana pun itu terjadi karena Alena yang selalu menolak Alfa, dan itu salah satu usaha Alfa untuk mendapatkan Alena, walau itu sangat salah.
"udah mukanya jangan galak begitu" bisik Tania pada suaminya.
"Rama, Rafael, jangan pernah ikut perilaku Alfa yang seperti itu, jika sampai itu terjadi, ayah tendang kalian berdua" kata Indra tajam.
"iya" sahut keduanya menunduk takut.
"yah, jangan begitulah, lagian mereka juga mau menikah, apa salahnya" ujur Tania.
"ya jelas salah lah Bu, mereka melakukan nya di luar pernikahan, bukan sesudah nikah, yang aku inginkan mereka menikah dulu baru kawin" kata Indra kesal.
"sebelum menikah jangan pernah kamu jenguk anak kamu, jika tidak mau bapak potong burung nya" kata Jonas pada Alfa.
"iya" sahut Alfa mengaduk makanan nya.
"sudah, tidak selera aku makan" ucap Nancy pergi meninggalkan makanan nya.
"yah, adek ngambek" ujur Indra menatap kepergian mantan istrinya.
"Bun habiskan makan nya" teriak Jonas.
__ADS_1
"mas aja yang makan" sahut Nancy pergi ke kamar cucunya.
"adek, Tante Nancy adik ayah ya?" tanya Rafael menatap heran ayahnya.
"iya, Tante Nancy adik nya ayah" sahut Indra.
"adik, mantan istri kali, awas saja kalau kamu berani macam-macam sama istri ku" kata Jonas kesal.
"siapa yang macam-macam, aku udah anggap dia adik ku, walau dia ibu dari kedua anak ku" sahut Indra.
"iya terserah kamu, iya kan adek tan" kata Jonas melirik Tania.
"ngapain kamu, ngikut kata aku aja, cari yang lain" ujur Indra.
"biar kompak, mantan istri jadi adik" sahut Jonas nyengir.
perdebatan di antara Indra dan Jonas pun terjadi, hanya gara-gara masalah panggil untuk mantan istri.
"kenyang aku nya makan debat" kata Tania pergi mengikuti Nancy.
"yah, pergi juga dia" ujur Jonas.
Citra, Chelsea, Ryan, Zio, Rama, Alfa dan Rafael hanya bengong melihat tingkah orang tua mereka. setelah kedua bapak-bapak mereka pergi, mereka pun tertawa.
setelah makan siang itu, Nancy dan Tania pun menghindari suami mereka, dengan sibuk oleh urusan lamaran malam nanti, keduanya itu pun sangat kesal dengan tingkah kedua orang yang satu pernah menjadi milik mereka.
"sayang, aku mau bicara boleh?" tanya Citra yang duduk di pangkuan Zio.
"bunda mau adakan resepsi pernikahan kita mas" ujur Citra.
"oh ya, kapan?" tanya Zio.
"bersamaan dengan resepsi pernikahan Alena dan mas Alfa, satu bulan lagi" sahut Citra menatap wajah Zio.
"terserah kamu saja, mas ikut kamu" sahut Zio senyum.
"kok terserah aku sih" ujur Citra.
"terus gimana maunya?" tanya Zio mengusap rambut istri nya.
"mama dan papa gimana, masa kita resepsi pernikahan tidak ada mereka" ujur Citra.
"kan mereka bisa pulang" sahut Zio.
"iya, sebenarnya aku malas mas, adakan resepsi, lagian pernikahan kita udah lama juga" kata Citra memainkan tangan suaminya.
"ya terserah kamu saja sayang, jika tidak mau juga tidak apa, lagian kamu baru sembuh juga" ujur Zio.
"tidak enak, bunda membuat pernikahan mas Alfa dan Alena satu bulan lagi karena aku juga mas, dia tidak ingin aku sakit lagi karena lelah, dan rencana resepsi pernikahan kita juga bukan hanya bunda yang mau tapi ibu juga" kata Citra.
__ADS_1
"ya sudah kita adakan saja, tapi kamu kuat tidak jika bulan depan?" tanya Zio.
"sekarang saja sudah kuat mas" sahut Citra.
"ya sudah kamu bilang saja sama bunda, supaya sekaligus, dan mereka tidak harus dua kali duduk bersama kita di pelaminan" kata Zio.
"kamu ya mas, eh tapi sepertinya ayah dan bunda menemani mas Alfa saat pernikahan dan resepsi nya di temani ibu dan bapak" ujur Citra.
"iya, itu pasti, karena mereka akan temani kita sayang" sahut Zio.
"iya, aku berharap begitu" ujur Citra dengan tangan yang sudah merayap nakal.
"sayang tangan nya nakal" ujur Zio menahan pergerakan tangan Citra di adiknya.
"berdiri mas" kata Citra senyum.
"tuntaskan" ujur Zio penuh hasrat.
kedua nya pun sama polos, tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh nya. Zio pun meminta Citra duduk di depan bibir, Citra pun hanya mengikuti apa kata suami nya.
desah Citra pun tidak terbendung lagi saat bibir Zio memainkan bagian bawah tubuh nya dengan lihainya.
"ah,, sudah mas mau pipis, aaahh" teriak Citra karena sudah mencapai pelepasan nya.
"siap, kita bergoyang" ujur Zio yang sudah di atas tubuh istrinya.
"iya" sahut Citra yang sudah bergairah.
Zio pun dengan penuh semangat bergoyang di atas tubuh istrinya, karena setelah sekian lama dia tidak bermain, dengan istrinya itu, karena Citra yang mengalami kecelakaan dua bulan yang lalu.
"sayang, aku mau keluar, aaahh" ucap Citra yang sudah tidak kuat lagi menahan gelombang kenikmatan di tubuh nya.
"tahan sayang, kita keluar sama-sama" sahut Zio mempercepat gerakan pinggulnya nya.
sesuatu yang hangat pun menyemburkan di bawah sana, bersamaan dengan erangan kedua nya.
"terima kasih sayang, ini luar biasa" ujur Zio dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
"iya sayang, terima kasih untuk goyang nya hari ini" sahut Citra mencium bibir suaminya.
"i love you" ucap Zio.
"i love you to"sahut Citra yang sudah terpejam.
kedua nya pun tidur sambil berpelukan.
**Happy reading.
like, vote, dan komen
__ADS_1
terima kasih**