
Kejadian semalam tidak membuat Citra merasa takut. ia masuk ke kamarnya setelah memberikan asi untuk Zia, dan sama seperti semalam Tania berniat untuk tidur bersama Citra kembali.
menjelang pukul sebelas, Citra terjaga saat mendengar suara dari balkon kamarnya, ia menatap sekilas ke arah itu, namun tidak ada siapa-siapa. tidak lama pintu balkon pun dibuka oleh seseorang yang mengenakan masker dan masuk ke dalam kamar.
Citra masih dalam pura-pura tidurnya, saat orang itu masuk ke walk in closet, ia mulai beraksi dan menutup pintu itu dan menguncinya dari luar secara perlahan, hingga manusia bermasker tidak menyadari nya, karena walk in closet milik Citra tidak mempunyai jendela, pastinya si manusia nekat itu terjebak di dalam.
Citra membangunkan ibunya, setelah mengunci pintu balkon dengan kunci ganda.
"ada apa nak?" tanya Tania membuka matanya.
"kita keluar dari kamar ini dulu bu, jangan berisik" ujur Citra.
Tania pun mengikuti Citra tanpa banyak tanya, namun Tania merasa aneh saat anaknya mengunci pintu kamarnya dan mengajak masuk ke kamar Zia.
"ada orang di kamar Citra bu" ujur Citra pada Tania saat sampai di ranjang Zia yang masih terlelap.
mendengar suara orang Lala pun bangun.
"orang bagaimana?" tanya Tania bingung.
"ya orang, dia berhasil membuka pintu balkon kamar aku bu, sepertinya pintu itu sudah di pasang kunci lain, tadi dia aku kurung di walk in closet" sahut Citra.
"kenapa tidak bilang dari tadi, ibu telon ayah dulu" kata Tania namun ponselnya tertinggal di kamar Citra.
"tenang bu, aku sudah menelpon Billy untuk menjaga di sekitar luar kamar aku, dan pagar" ujur Citra menatap Tania.
"iya, terus itu orang kamu biarkan di walk in closet?" tanya Tania pada Citra.
"tidak, kita tunggu saja" sahut Citra.
tidak lama, Tania mendengar suara orang masuk ke rumahnya.
"siapa itu Citra?" tanya Tania takut.
"itu, orang yang akan menangkap, manusia bodoh itu" sahut Citra keluar kamar.
Billy yang di temani oleh pihak ke polisian itu pun masuk ke kamar Citra, mereka masuk tanpa bersuara, hingga tidak mencurigakan sama sekali.
__ADS_1
polisi pun membuka pintu walk in closet dan langsung menyergap manusia yang bermasker itu. karena tidak siap dia pun berhasil di tangkap dan langsung di bawa ke ruang tamu, atas perintah Billy karena mereka bukan hanya satu dan saat ini ada orang yang mencurigakan juga sedang mengamati hotel tempat Zio menginap.
"siapa yang menyuruh kamu, masuk dan menyusup ke rumah ini?" tanya Billy tegas.
"tidak ada, itu kemauan ku sendiri" ujur orang itu takut.
"jawab, atau keluarga mu akan mati malam ini juga" ancam Billy dan menunjukan ponselnya dimana ada beberapa orang yang siap membakar rumah itu.
"jangan bunuh mereka, saya akan beri tahu kalian siapa yang menyuruh saya" sahut orang itu ketakutan.
"siapa?" tanya polisi.
"Daniel Perwira, dan sekarang dia juga sedang membuntuti Zio suami mbak Citra" sahut orang itu.
"Daniel Perwira, ada masalah apa dia dengan saudara Citra dan Zio?" tanya polisi lagi.
"dia ingin membalaskan dendam ayahnya pada mas Zio dan mbak Citra, dengan cara menghancurkan perusahaan dan bisnis mereka" ujur orang itu dan memberanikan dirinya untuk menatap polisi dan Billy.
"dendam karena apa?" tanya polisi lagi.
"karena dulu, mas Dimas membunuh ayahnya yang ingin memperkosa ibu Zahra, dan Daniel tau kalau Dimas mencintai mbak Citra dan mas Zio adalah kakaknya" sahut orang yang disuruh Daniel.
"maaf kan saya mas" ujur orang itu takut.
"sekarang dimana posisi, anak buah Daniel yang lain?" tanya Billy.
orang itu yang bernama Rudi pun memberitahu Billy dimana titik mereka berada, dan benar saja ternyata, mereka dalang masalah yang menimpa proyek yang akan Citra dan Vito bangun itu.
...****************...
Pagi itu, Zio langsung pulang ke Jakarta setelah mendapat laporan dari Billy orang kepercayaan Citra selama ini jika, semalam keluarganya di teror dan sekarang Zico hilang entah kemana.
walau pihak polisi berhasil mengamankan anak buah Daniel dan membawa mereka ke kantor polisi.
"kamu yang tenang za" ujur Tania yang juga panik.
"Zico, bagaimana jika terjadi sesuatu pada nya" kata Zahra lirih.
__ADS_1
"iya, kita berdoa saja, supaya Zico baik-baik saja" ujur Tania.
Indra pun datang, setelah kemarin sore pergi ke luar kota untuk urusan kantor, namun semua itu gagal karena terjadi kekacauan yang di buat oleh orang yang sama yaitu Daniel.
"kalian tidak apa-apa kan?" tanya Indra panik.
"kami baik-baik saja yah, tapi rumah Adit di serang semalam, ada dua maid dan satu penjaga di bawa ke rumah sakit" kata Tania ingin menangis.
"ayah dan bunda, gimana?" tanya Indra yang teringat pada kedua orang tuanya.
"tadi, ayah telpon mereka baik-baik saja, cuma Frans dan Vina, tidak bisa dihubungi" sahut Tania.
"Ajis Perwira, sudah tidak ada di dunia, tapi masih saja meneror orang lain" ujur Indra geram.
Semua orang pun berkumpul di rumah Indra, karena hanya di rumah itu yang penjagaannya saat ini sangat ketat, sesuai permintaan Indra, semua keluarganya pun datang, karena setiap rumah dan apartemen keluarganya semalam semuanya di intai oleh orang.
"mama" panggil Zio pada mamanya.
"akhirnya kamu pulang nak" sahut Zahra memeluk putranya.
"maafkan Zio ma" ujur Zio lirih.
"bukan salah kamu zi" sahut Tania.
"aku yang Daniel incar bu" sahut Zio.
"ayahnya memang penjahat, dia tidak berhak balas dendam dengan Dimas, lagian Dimas membunuh ayahnya karena menyelamatkan ibu mu" kata Alek yang baru saja masuk.
"tapi kan Dimas" ujur Zio lirih.
"Dimas tidak salah, Ajis kabur dari penjara, dan melecehkan ibu mu, dia sering keluar masuk penjara zi, Daniel hanya merasa kasihan pada ibu nya saja, karena ibunya stres di tinggal pergi oleh Ajis, hingga dia ingin membalaskan dendam pada keluarga yang membunuh Ajis, walau ia sangat membenci Ajis" ujur Alek.
Mendengar kata Alek, Zio pun tidak lagi menyalahkan dirinya atas dendam Daniel pada nya.
Dan siang itu polisi sudah berhasil menemukan Daniel dan menyeretnya ke kantor polisi, bersamaan dengan Zico yang datang dengan wajah lebam.
Zahra dan Adit pun lega, saat putranya pulang walau wajahnya penuh dengan luka lebam, karena bertengkar dengan Daniel.
__ADS_1
Namun masalah belum juga usai karena anak buah Daniel juga berhasil menjebak Frans dan Vina, di suatu tempat hingga kedua kakak beradik masih di sekap.