
Di jalan wajah Kinara tampak sekali khawatir kepada putrinya yang tidak tau entah dimana sekarang dia berada, apa lagi mereka sudah tau masalah yang menimpa Vina selama ini.
"mami, tidak usah khawatir, Vina baik-baik aja" kata David.
"iya pi" sahut Kinara.
"mi, minggu depan jika aku sudah mengetahui dimana Vina dan keluarganya tinggal, kita akan kesana" ujur David.
"benar pi, jujur mami sangat menghawatirkan Vina" sahut Kinara.
"iya benar, sekarang kita lihat bayi lucu yang baru beberapa hari" kata. David yang memang menyukai anak kecil.
"iya" kata Kinara.
David pun memarkirkan mobilnya di depan rumah Indra. dan mereka berjalan masuk ke rumah, dengan di sambut oleh cucu mereka yang lagi di gendong oleh Citra.
"wah, disambut oleh si ganteng ni" kata David mencium gemas Yabes.
"iya lah, kakek, kan aku tau kakek akan datang" kata Citra meniru suara anak kecil.
"haha, papi udah jadi kakek" ujur Kinara tertawa.
"jangan panggil kakek, dong, panggil opa aja" sahut David.
"kan udah tua, ya wajar di panggil kakek" ujur Citra.
"iya, ayah mu yang cocok di panggil kakek" sahut David sambil melirik ke arah Indra.
"sama aja, kamu juga udah jadi kakek" kata Indra pada adik iparnya.
"iya aku memang sudah jadi kakek, tapi manggilnya jangan kakek dong, opa aja" kata David.
"ah, terserah kamu saja, ribet bangat sih" sahut Indra tidak ingin pusing soal panggilan.
"bibi gendong ci" kata Kinara.
"tidak bisa, nanti saja, aku belum puas" sahut Citra.
"pelit amat sih, dasar anak Nancy" kata Kinara sebal.
"biarin aja mi, entar juga dia kasi sama kamu" kata David menyodorkan bakso pada Citra.
"buat aku man?" tanya Citra pada David dan langsung menyerahkan Yabes pada bibi nya.
Tania yang ada disitu pun bengong melihat ke tiga orang itu, dimana dengan mudahnya Citra menyerahkan keponakanya pada bibi nya hanya karena bakso.
"iya, buat kamu" kata David senyum, karena dia bisa mengendong cucu nya sekarang.
"haha, papi pintar deh" ujur Kinara tertawa.
"papi gitu lo" sahut David karena dari dulu, Citra memang seperti itu, sejak kecil saat Vina main kerumahnya, saat ingin pulang dia tidak mengijinkan Vina untuk pulang, dan supaya Vina bisa pulang, David selalu membelikan dia bakso, karena hanya bakso lah yang bisa membuat dia luluh.
"kamu ya, masih ingat aja" kata Indra.
"siapa yang tidak ingat, tingkah anak mu mas" sahut David.
Mereka pun berkumpul di rumah Indra, dan tidak lama kemudian nenek Rita dan kakek Arifin datang.
"wah ramai" kata kakek Arifin.
__ADS_1
"duduk yah, bun" ujur Tania dan keduanya pun duduk di dekat Kinara yang mengendong cicitnya.
"lucu sekali dia, sebentar lagi ada temannya" kata nenek Rita.
"hah, iya betul itu, pasti tambah ramai" kata David.
"seandainya aku bisa melihat cucu ku, dan mengendong nya seperti ini" ujur Kinara teringat pada anak Vina.
"ini kamu sudah mengendong nya" kata kakek Arifin.
"bukan yang ini yah, tapi" kata Kinara tertahan.
"tapi apa?" tanya nenek Rita.
"tidak, aku hanya merindukan Vina" sahut Kinara menyerahkan Yabes pada bundanya.
setelah cukup lama berkumpul diruang keluarga, akhirnya para laki-laki, pindah ke halaman depan untuk bermain catur.
...****************...
Suara mobil kembali masuk ke kediaman Pramana. dan kedua pasangan paruh baya itu pun berjalan memasuki rumah itu.
"mbak Tiara" kata Tania menyambut kedatangan besannya.
"apa kabar Nia, mana cucu ku?" tanya Tiara.
"tu di kamar, baru saja tidur" sahut Tania.
"bun, apa kabar?, sehat" tanya Tiara pada mertua besannya.
"baik ra, kapan sampai di indo" kata nenek Rita.
"tadi pagi bun" sahut Tiara.
"terima kasih bun, tapi aku mu liat cucu ku dulu" sahut Tiara.
"mas, aku liat cucu kita dulu ya" kata Tiara lagi.
"mas, juga mau liat" sahut Alek datar.
"kita ke kamar Ryan, dulu ya bun" kata Tiara.
setelah melihat cucunya Alek pun berjalan ke halaman depan untuk bergabung bersama yang lainnya, sedangkan para wanita sibuk mempersiapkan makan siang di dapur.
"ibu" sapa Zio ketika ingin mengambil air di kulkas.
"udah pulang zi?" tanya Tania pada menantunya.
"udah bu, dosen tidak datang" sahut Zio.
"oh, ya udah sana ganti baju dulu" kata Tania.
"oke, Citra mana bu?" tanya Zio sebelum ia berjalan ke kamarnya.
"ada di kamar, lagi mengerjakan tugas kampus" sahut Tania.
"aku ke kamar dulu bu" kata Zio.
melihat Tania berbicara dengan Zio, Tiara pun menghampiri Tania yang lagi sibuk membersihkan daging.
__ADS_1
"siapa itu tadi?" tanya Tiara.
"itu, suaminya Citra ra" sahut Tania.
"Citra udah nikah?" tanya Tiara yang tidak tau.
"iya, udah, sekarang tinggal di sini lagi, sama suaminya" sahut Tania.
"oh, aku kira itu putra mu" ujur Tiara senyum.
"bukan dia menantu ku" sahut Tania.
sampai dikamar Zio melihat istrinya masih sibuk dengan tugas kampus, ia pun menghampiri Citra.
"masih sibuk sayang?" tanya Zio.
"iya mas, kan tidak lama lagi, cuti" sahut Citra.
"oh, kalau gitu mas, ke halaman belakang dulu ya" kata Zio setelah mengganti bajunya.
"iya mas" sahut Citra.
Zio turun ke bawah dan berjalan ke halaman belakang untuk bergabung bersama mertua dan yang lainya.
seketika mata Alek pun menatap lekat wajah Zio yang begitu mirip padanya, hingga Alfa pun menatap keduanya bergantian.
"siapa ini in?" tanya Alek pada Indra.
"ini menantu ku juga lek, suami Citra" sahut Indra.
"anak gadis mu ternyata sudah menikah semua, tapi kenapa dengan yang laki-lakinya, pada asik sendiri, apa" kata Alek menatap Alfa.
"belum ketemu jodoh om" sahut Alfa.
"di cari lah, masa kalah sama adik mu" ujur Alek.
"iya om, masih dalam proses" sahut Alfa senyum.
"oke, jangan lupa mengundang om ya" kata Alek senyum.
"asiap" sahut Alfa.
"nama kamu siapa nak?" tanya Alek.
"Zio, om" sahut Zio.
"mau tidak, temani om, jalan besok?" tanya Alek karena dia penasaran dengan Zio yang begitu mirip padanya saat masih muda.
"boleh sekali om" sahut Zio.
"dia selalu bisa, jika di ajak kemana pun lek, walau sibuk" ujur Indra melihat ke menantunya.
"kan lagi tidak sibuk ya" sahut Zio.
"dia ini, anak Adit dan Zahra" ujur Indra.
"Adit, Zahra" kata Alek mengingat.
"iya Aditiya Wijaya sepupu ku, dia menikah dengan Zahra Kusuma" kata Indra membuat Alek kembali ingat pada mantannya Zahra yang namanya juga sama dengan yang Indra sebutkan.
__ADS_1
Alek terus menatap wajah Zio dengan lekat, kini iya kembali ingat pada peristiwa di hotel karena pengaruh obat perangsang, dan dia pergi meninggalkan indonesia setelah kejadian itu.
Happy Reading