Jodoh Untuk Ku

Jodoh Untuk Ku
Jangan tinggalkan aku


__ADS_3

Happy Reading


Zio terbangun dari tidurnya saat ponselnya berdering, iya berusaha meraih ponsel itu, tapi Citra malah menjadikan tangan Zio sebagai bantalnya. Zio menatap wajah itu dengan senyum, satu bulan lebih iya tinggal bersama dengannya, rasa kesal yang dulu mulai hilang dengan sendirinya, entah mengapa iya bisa marah melihat Citra bersama teman laki lakinya.


Citra mengangkat kepalanya saat iya merasakan gerakan dari tangan Zio, melihat Citra bergerak Zio mengurungkan niatnya untuk mengambil ponselnya itu.


"kenapa tidak di angkat telponnya mas?" tanya Citra dengan suara seraknya.


"maaf jadi ganggu tidur kamu" kata Zio senyum.


"tidak mas, aku juga mau bangun" ucapnya sambil melihat wajah Zio yang hampir menyentuh wajahnya.


"mas angkat telpon dulu, kamu mandi, masih ada waktu untuk pergi ke psiakiater" ujur Zio lembut


"iya mas" ucap nya sambil beranjak ke kamar mandi.


Zio berjalan ke arah balkon untuk mengangkat telponnya.


("hello rik, ada apa?") tanya Zio


("lo engak apa apain Citra kan") tanya Erik


("hampir saja aku membawanya ke nirwana rik") ujur Zio


("kenapa tidak jadi") tanya Erik yang mengerti maksud Zio


("eh tiba-tiba dia menangis rik") ujur Zio


("ah payah lo, nikah udah hampir dua bulan belum pernah lo sentuh") kata Erik


("bukan begitu rik, harus ada sepakatan dulu, nanti yang ada malah masalah") ujur Zio lagi


("benar sih lo") ucap Erik


("eh maaf rik gue mau ngantar Citra dulu") ujur Zio kemudian saat melihat Citra sudah siap.


("oke bro") ucap Erik seraya menutup telpon nya.


Zio masuk kedalam kamarnya, iya menemui Citra yang sedang mengecek email nya.


"sudah siap?" tanya Zio.


"eh mas, sudah mas" jawab Citra seraya menyimpan ponselnya.


"kenapa disimpan, balas dulu email nya" ujur Zio


"tidak penting mas" Citra berusaha menutupi siapa dirinya.


"kenapa kamu tidak memimpin perusahaan kamu, tapi malah asisten kamu yang menjadi pemimpinya?" tanya Zio


"dari mana mas tau, aku punya perusahaan" tanya Citra heran


"dari Angga" jawab Zio santai


"kamu kenal Angga mas?" tanya Citra bengong


"tidak, siapa suruh main pergi aja, ya aku cari tau lah siapa kamu sebenarnya" Zio memberitahu Citra


"kita berangkat mas, keburu sore" ujur Citra mengalihkan pembicaraan.


"iya kita berangkat sekarang" ucap Zio

__ADS_1


Zio melajukan mobilnya ke rumah sakit khusus penanganan masalah yang menyangkut ke jiwaan itu. di perjalanan Citra merasa heran dengan tingkah Zio tidak biasanya iya selalu senyum. karena biasanya Zio itu selalu menampilkan wajah datarnya. ya karena memang Zio mulai menyukai Citra.


mereka pun masuk ke rumah sakit, selang beberapa menit nama Citra dipanggil. Zio pun selalu menemani istrinya, iya pun sekarang mendengarkan secara langsung penyebab Citra bisa sangat takut akan hal baru itu. selesai konsultasi sebenarnya Zio ingin bertanya kepada istrinya kenapa bibinya sampai tega menyiksa dirinya.


"kita makan dulu ya" ajak Zio


"iya mas" jawab Citra cuek


"mau makan dimana?" tanya Zio seraya melihat Citra


"terserah kamu mas" ucap Citra lagi


"ya udah di restoran yang di depan itu aja ya" ujur Zio


"iya" ucap Citra cuek lagi


emang sih Citra tidak bisa ngomong yang lain apa selain iya.


mereka pun makan malam bersama dan ini pertama kalinya Zio dan Citra makan di luar setelah hampir dua bulan pernikahan mereka.


...****************...


pagi ini Alena dan Angel sudah datang ke rumah Citra, hari ini mereka berdua ingin menemani Citra untuk bertemu dengan manerjemen restoran yang sudah lima bulan berjalan, restoran ini di bangun Citra untuk membantu anak jalanan yang iya temui saat mereka hampir di tangkap oleh petugas. karena merasa kasihan iya pun membuat restoran itu untuk anak memberi mereka perkerjaan tanpa harus meminta minta. restoran ini pun menyajikan berbagai macam makan asia.


"hai, maaf ya lama nunggu" ujur Citra pada kedua sahabatnya.


" tidak apa ci, berangkat sekarang?" tanya Angel sambil berdiri


"iya, tapi kalian sudah sarapan?" tanya Citra balik


"udah kok ci" jawab Alena


"ya kalau udah, kita berangkat sekarang" ucap Citra


"udah kok" jawab Citra singkat iya tidak suka ngomong panjang lebar.


mereka pun meninggalkan kawasan yang banyak di huni oleh orang berada itu. Setelah satu jam perjalanan mereka pun sampai di restoran yang menghidangkan makanan Asia itu.


...****************...


Setelah kepergian Citra, Zio pun melajukan mobilnya ke kampus tempat iya menimpa ilmunya. namun saat dijalan iya melihat ada kerumunan orang-orang, Zio turun dari mobilnya dan menghampiri kerumunan itu iya melihat ada seorang yang bajunya iya kenal menjadi korban kecelakaan itu. seketika Zio pun panik, iya segera menelpon ambulan dan membawa wanita itu ke rumah sakit.


sampai di rumah sakit Zio mondar mandir seperti seterika iya belum tenang jika bel melihat siapa wanita itu.


"bagaimana dok?" tanya Zio panik saat melihat dokter itu keluar


"apa anda keluarganya?" tana dokter


"iya saya suaminya" jawab Zio sepontan tanpa berpikir panjang lagi.


"baik lah, istri anda kritis dan sekarang kami ingin melakukan pengoperasian pada bagian kepalanya karena ada pembekuan darah di kepalanya" ujur doter seraya memerintahkan untuk menyiapkan ruang operasi.


"lakukan yang terbaik dok, apa saya bisa melihatnya" ucap Zio lirih dia berharap itu bukan Citra.


"silahkan" ucap dokter.


Zio masuk dengan jantung yang berdetak kencang. setelah melihatnya iya merasa lega saat tau itu bukan istrinya. iya memberi tahu dokter bahwa wanita itu bukan istrinya, iya pun menghubungi keluarga wanita itu dan membayar semua biaya rumah sakit.


Zio pun melajukan mobilnya menuju kampus sungguh hatinya terasa lega.


"Citra, hampir saja aku meraung di rumah sakit tadi, maaf kan aku ci, aku akan menjaga mu dan melindungi mu mulai saat ini sampai selamanya" ujur Zio sambil tersenyum lega.

__ADS_1


di jalan Zio terus saja tersenyum tanpa arti iya memang telah jatuh cinta kepada Citra, walau Citra belum mencintainya.


"aku ingin hanya kamu yang menemaniku, membuka pagi hingga melepas senja. menenangkan malam dan membagi cerita." ujur Zio dalam hati sambil melamun akan hidupnya bersama Citra.


setelah kuliah selesai Zio langsung pulang kerumahnya, iya berharap Citra telah kembali. tiba di rumah namun Citra belum juga pulang, iya menunggu nya sambil mengerjakan perkerjaan kantor.


Citra pun tiba di rumah nya setelah mengikuti meeting dengan berapa staf restorannya tadi. iya masuk ke kamr dan melihat Zio sedang mengerjakan sesuatu di laptop nya itu.


"mas" paggil Citra


"iya, kamu sudah pulang" ujur Zio sambil memeluk Citra dan menciumnya. sehingga membuat Citra menjadi heran dengan sikap Zio


"aku takut kehilangan mu sayang, aku mencintai mu, ku mohon jangan tinggalkan aku" ujur Zio sambil terus mencium seluruh wajah Citra.


"aku disini mas, siapa yang akan meninggakan mu. sudah jangan cium aku terus becek ni wajah aku" ucap Citra heran serta kesal karena Zio tidak berhenti menciuminya.


"maaf sayang, apa kamu mencintai ku, aku sangat mencintaimu ci" ujur Zio seraya menangkup kan tangannya di wajah Citra.


"secepat itu kah kamu mencintaiku" ujur Citra dalam hati.


"iya aku juga mencintaimu" ujur Citra lirih iya kembali ingat dengan sosok pangeran kecilnya dulu.


"terima kasih sayang" ucap Zio seraya memeluk Citra kembali.


mereka masih saja berpelukan, tanpa mereka sadari bahwa ada seseorang yang mengamati rumah mereka. Ryan masih saja setia mengamati rumah itu.


"ah apa memang benar kamu sudah menikah Citra, tapi kenapa? kenapa kamu tidak memberi tahu ayah ci, apa ayah sudah tidak ada gunanya bagi kamu" ucap Ryan


sebenci itu kah Citra pada keluarganya?,


apa keputusan Ryan memilih Chelsea itu salah?, tidak Citra tidak sebenci itu pada keluarganya, tidak seperti iya membenci bibinya.


Ryan pun bertanya pada sapam yang berjalan menuju pos nya.


"maaf pak mau nanya?" tanya Ryan


"iya mas, silahkan" ujur sapam


"apa benar Citra tinggal disini?" tanya Ryan yang memang ingin mengetahui tentang adik iparnya itu.


"iya mas, mbak Citra tinggal disini" ujur sapam


"oh, sama siapa ya pak?" tanya Ryan lagi


"sama suaminya nya mas" ucap sapam


"apa dia sudah menikah?" tanya Ryan lagi


"iya mas" jawab sapam


"sejak kapan?" tanya Ryan. banyak tanya sih Ryan nya.


"sudah hampir dua bulan ini mas" ujur sapam itu


"oh terima kasih pak, untuk infonya" ucap Ryan senyum


"iya mas, saya permisi dulu" ucap sapam dan di balas dengan anggukan Ryan.


Ryan pergi meninggalkan rumah itu setelah mengorek informasi dari sapam komplek itu, dan sekarang iya percaya Citra memang sudah menikah, sehingga membuatnya bingung dengan permintaan mertuanya mengenai rencana membawa Citra pulang ke rumah utama keluarga Pramana.


**terima kasih sudah membaca

__ADS_1


jangan lupa vote, like, dan komen ya


😊😊😊😊😊😊**


__ADS_2