
...Happy Reading...
Di tempat rehabilitas Kinara menangis memeluk putranya, yang sudah bertahun-tahun hilang karena kesalahannya sendiri. kakek Arifin sudah memberitahu semuanya padanya mengenai dendam Citra padanya. di saat keadaan Kinara sudah mulai membaik kakek Arifin menanyakan padanya secara perlahan mengenai perbuatanya pada ke ponakannya.
"apa yang kamu lakukan pada Citra dulu?" tanya kakek Arifin.
"maaf kan aku ayah, aku telah menyakiti mental dan tubuhnya, karena aku iri pada kak Indra, yang ayah minta untuk mengantikan ayah memegang Pramana Corp" sahut Kinara lirih.
"apa hadiah yang aku berikan pada mu itu, kurang na?" tanya kakek Arifin.
"aku salah ayah, aku tidak tau jika ayah menghadiahkan perusahaan itu untuk ku" sahut Kinara menunduk.
"bagus jika kamu sadar kesalahan mu" kata kakek Arifin kecewa.
"tolong jangan pisahkan aku dengan anak ku lagi yah, aku sudah menderita kehilangannya, sudah cukup aku tersiksa, dia lebih berharga di bandingkan harta" kata Kinara menangis.
"Citra sudah menyadarkan kamu akan semuanya na, untung saja dia masih berbaik hati tidak gelap mata. aku tidak bisa bayangkan jika dulu Indra tau" ujur kakek Arifin menatap wajah putrinya.
"maaf kan aku, aku salah" kata Kinara lirih.
"minta maaf lah pada Citra" kata kakek Arifin.
"iya yah, aku menyesal" sahut Kinara penuh penyesalan, karena dia dapat merasakan betapa berharganya Kevin baginya di bandingkan harta.
"iya, satu lagi na, Vina anak mu sendiri sekarang memberontak karena diri mu, dia sakit hati pada mu karena kamu lebih menyayangi Kevin dari padanya, hanya karena dia menyelamatkan Citra" kata kakek Arifin yang membuat Kinara terdiam.
"dimana dia yah, aku sangat bersalah, aku menyayanginya, tolong cari dia" kata Kinara histeris.
"suami mu masih berusaha mencari anak mu" ujur kakek Arifin.
"bu, aku akan mencari Vina sampai ketemu, ibu cepat sembuh ya" kata Frans.
"iya sayang, maaf kan ibu, atas semua kesalahan ibu selama ini" ujur Kinara.
setelah menasehati anaknya supaya tidak salah jalan lagi, kakek Arifin pun pamit untuk mengurus perusahaan yang di serahkan Indra kembali pada nya.
begitu pun dengan Frans dia menepati janjinya pada Citra untuk tetap menjadi asisten pribadinya adik sepupunya yang sudah membuatnya lupa pada keluarganya. namun Frans juga tau kalau itu bukan kesalahan Citra, buktinya Citra sangat menyayanginya, bahkan dalam kesusahan pun Citra selau membantunya.
...****************...
Malam itu di kediaman Pramana, kedua suami istri yang tidak muda lagi, sepertinya akan melakukan pergumulan panas.
bibir dan tangan Indra sudah bergerak dengan lincah menelusuri bagian sensitif istrinya.
"ah,, ayah" desah Tania tak terbendung lagi.
mendengar desah istrinya membuat Indra mangkin semangat bermain di bagian bawah istrinya.
"huh,,ayah,, aku mau pipis,,aaahh,," teriak Tania saat sudah mendapatkan pelepasannya.
__ADS_1
Indra pun melanjutkan permainannya. Tania yang tadi melihat wajah murung Indra membuat nya mencari cara bagaimana supaya suaminya tidak murung lagi, ya dengan cara itu Indra bisa melupakan masalahnya dalam sekejap.
"sayang kamu sangat nikmath" kata Indra yang terus berpacu.
"lebih cepat lagi yah,,, aaah,," desah Tania.
Tania pun mulai merasakan gelombang kenikmatan di bawah sana yang tak bisa di bendung lagi.
"ayah,,, aku mau keluar,, aaah,,," desah Tania.
"sebentar sayang, ah,, kita keluarkan sama-sama" kata Indra mempercepat gerakannya.
tidak lama Tania mengerang hebat dan disusul oleh Indra yang menyemburkan laharnya di rahim istrinya. Indra membaringkan badannya di samping istrinya yang masih mengatur napas.
"apa ibu masih mau?" Indra menggoda istrinya.
"capek yah, apa ayah tidak capek, udah tua, tidak seperti dulu lagi" sahut Tania memejamkan matanya ia masih menikmati sisa-sisa percintaan mereka.
"tapi ******* ibu masih sama seperti dulu" sahut Indra memeluk Tania.
"apaan sih yah, aku kan jadi malu" ujur Tania menyembunyikan wajahnya.
Indra pun senyum mendengar jawaban istrinya.
"tidur atau lanjut ni?" tanya Indra.
"ya udah, besok pagi lagi lanjutnya" ujur Indra mencium kening Tania.
Tania tidak menjawab apa kata suaminya lagi, dia pun sudah kembali ke alam mimpi, Indra menatap wajah itu dengan lekat. ia kembali ingat pada mantan istrinya Nancy yang memilih berpisah dari nya tanpa ada sebabnya.
...****************...
Citra beranjak dari ranjangnya untuk mencari suaminya yang tidak kunjung datang ke kamar.
"di cari ternyata disini" kata Citra melihat suaminya dan yang lain pada main catur di taman belakang.
"kamu mencari ku sayang?" tanya Zio
"iya kirain kemana gitu" sahut Citra senyum.
"aku disini sayang tidak kemana mana" sahut Zio mengusap rambut Citra.
"ayah sama ibu mana?" tanya Citra melihat orang tuanya sudah hilang saat jam masih menunjukan pukul sembilan malam.
"udah tidur mungkin" sahut Alfa.
"tidur cepat bangat, biasanya masih bangun jam segini" kata Citra.
"biasa nya jika ayah dan ibu tidur cepat, itu artinya mereka mau bikin adik lagi buat kita" jawab Alfa membuat Citra melongo.
__ADS_1
"emang begitu?" tanya Citra polos.
"besok pagi kalau bangun tidur liat aja, leher ibu pasti pada merah" kata Alfa.
"atau tanya langsung pada ibu, semalam ngapain aja, pasti jawabnya membuat adik kalian" timpal Rama.
"kalian ya, aku kasi tau ibu besok" kata Citra.
"kasi tau aja kalau berani" tantang Alfa.
"siapa takut" sahut Citra.
malam pun mangkin larut, Zio dan Citra pun kembali ke kamarnya, tanpa melakukan aktivitas apa pun.
...****************...
di negeri yang jauh di sana Vina menatap kosong ke depan, ia pergi ke tempat dimana iya sering menyendiri disaat hatinya sedang tidak baik.
hidupnya seakan begitu hancur, tidak ada orang yang tau tentang kehidupan seorang Vina. ibunya depresi karena kakaknya hilang dan ayahnya sibuk mengurus segala perkerjaan nya.
ia mengambil ponselnya dan menelpon seseorang di seberang sana.
("hello ci, ini gue Vina") kata Vina.
("vin, kamu dimana?") tanya Citra yang sudah pergi menjauh dari Zio yang sudah terlelap.
("gue di Amerika ci,boleh minta tolong?") tanya Vina.
("ngapain kamu di Amerika, minta tolong apa?")tanya Citra.
("ada urusan penting yang harus gue selesaikan, tolong kamu bawa anak gue dari panti") kata Vina.
("anak kamu, tapi di panti ada aturannya vin, bagaimana cara aku mengambilnya?") tanya Citra.
("kita kan sepupu ci, tolong gue lah, gue tidak mau Alvares di ambil oleh keluarga Vito") ujur Vina.
("aku akan usahakan, untuk mengambil anak mu dari panti") sahut Citra.
("terima kasih banyak ci, tapi jangan kasi tau siapa pun, aku akan pulang satu bulan lagi") kata Vina.
("iya, jangan macam-macam kamu disana") ujur Citra.
("tidak") sahut Vina
setelah menutup telpon dari Vina, Citra pun kembali ke ranjangnya.
**Terima kasih sudah membaca.
jagan lupa like, vote dan komen ya**.
__ADS_1