
Pulang dari kampus Citra, melajukan mobil menuju Penthous Andini, dimana putranya masih ada di sana.
setelah kejadian pagi tadi, Citra merasa begitu malu sudah kepergok oleh ibunya tidur tanpa mengunakan busana.
sampai di Penthous, ia langsung masuk dan di ruangan keluarga, Andini lagi sedang memberi makan Zia yang duduk dengan tenang, sambil bermain boneka jerapah.
"hai, lagi makan ya" kata Citra mencium wajah Zia.
"ia" sahut Dini meniru suara anak kecil.
"kita pergi jalan-jalan hari ini yuk" ajak Citra pada Dini.
"boleh, tadi Yos juga minta jalan-jalan" sahut Dini.
"kalau begitu, kalian bersiap dulu, biar aku yang kasi Zia makan" kata Citra.
Dini pun memberikan mangkok bubur Zia ke pada Citra, Zia pun sangat senang memakan makanan nya, ia menghabiskan makanan nya sebelum Dini dan Yos keluar dari kamar nya.
Setelah semuanya siap Citra mengajak mereka belanja, dan kembali melajukan mobilnya menuju kantor nya. tapi mereka tidak ke kantor dan Citra mengajak Andini dan Yos pergi ke pulau pribadi milik nya.
Billy seorang bodyguard yang selalu bersiap kapan pun Citra meminta nya untuk datang pun sudah menunggu di pesawat pribadi.
hanya tiga puluh menit di udara, mereka pun sampai di sebuah pulau yang begitu indah dan banyak taman nya itu.
"ayah aku datang" teriak Yos saat keluar dari pesawat.
mendengar teriakannya Yos Citra hanya melongo, sejak kapan Yos tau jika ayahnya ada di sini.
"kita sudah pernah ke sini kak, tapi tidak dari udara, kami berdua kesini pun hanya lewat air saja, dan pulang" kata Dini bercerita.
"jadi, kamu pernah pergi ke pulau ini" ujur Citra.
"iya hanya di rumah kayu saja, dan tidak pernah masuk lebih dalam ke pulau" sahut Dini.
"mulai sekarang kamu boleh pergi ke tempat ini kapan pun, dan menikmati semua keindahan pulau ini" kata Citra senyum.
"terima kasih kak, dulu saat aku berkunjung ke sini waktu mas Dimas masih hidup, ia tidak pernah mengijinkan aku untuk menjelajahi pulau ini" sahur Dini.
"sekarang udah bisa kok, nikmat lah" kata Citra meninggalkan Andini yang masih menikmati sejuknya udara di siang hari.
__ADS_1
dulu, Citra juga pernah melihat Dimas bersama wanita lain di taman kenangan, selain dia dan Sena, wanita itu lah yang sering menemaninya di saat Citra tidak ada.
dan sekarang Citra tau jika itu adalah istri Dimas, wanita yang ia sayangi dan Citra juga tau sekarang kenapa dulu, Dimas hanya menganggap dirinya sebagai adiknya saja.
Citra menidurkan Zia di kamarnya, dan turun ke dapur untuk mengambil air minum, di dapur bik Ina lagi sedang membuat berapa kue untuk mereka.
"buat apa bik?" tanya Citra mendekat.
"buat kue non" sahut bik Ina senyum.
"oh, aku titip Zia sebentar ya, kalau dia bangun bibi panggilkan aku saja" kata Citra.
"iya, nanti bibi dengar dari dapur" kata bik Ina.
Citra pun mencari ibu dan anak yang lagi di luar dari tadi, ia melihat Dini sedang duduk di kursi yang selalu di duduki oleh Dimas. dan di rumah kayu Yos sedang bermain di dekat makam ayah nya.
"Yos senang di sini?" tanya Citra senyum.
"senang Tante, Yos bisa ketemu ayah" sahut Yos dengan senyum bahagia nya.
"udah berapa lama Yos tidak kesini?" tanya Citra lagi.
"kita masuk yuk, ada mainan di dalam mungkin Yos suka" ujur Citra pada bok yang ada di kamar Dimas.
Citra menemani Yos main di kamar Dimas, dan anak itu sangat senang dan bahagia bahkan ia melompat lompat di atas kasur yang empuk.
"hati-hati Yos, nanti jatuh" tegur Citra takut jika Yos terpeleset dari kasur.
"iya Tante" sahut Yos menghentikan kegiatan nya.
Citra tersenyum melihat tingkah Yos yang begitu lucu, dan anak laki itu pun keluar dengan membawa mobil mainan nya itu ke makam ayah nya.
"ayah, aku ingin main sama ayah" kata Yos memainkan mobil di dekat makam.
Citra menatap ke arah Dini yang menangis saat mendengar suara anak nya yang mengajarkan ayah nya bermain.
sejak tadi Dini hanya duduk di kursi, dan menatap anaknya dari kejauhan ia tampak sangat sedih mengingat kembali kenangan bersama suaminya.
"kenapa?" tanya Citra menghampiri Dini.
__ADS_1
"aku hanya sedih mengingat semuanya, mas Dimas memutuskan tinggal di sini setelah kanker itu bersarang di tubuhnya dan tidak mau untuk berobat, dan dia juga tidak mau di temani di sini, karena penyakitnya itu" ujur Dini mengusap air matanya.
"tidak usah di ingat lagi" kata Citra pada Dini.
"ini alasan nya kenapa aku memilih tinggal di luar negeri, tempat ini jadi kenangan saat terakhirnya mas Dimas, dan aku sulit melupakan nya" ujur Dini.
"iya, Dimas itu sangat baik, dan taman kenangan ini akan tetap seperti ini sampai kapan pun" sahut Citra senyum.
"maksudnya?" tanya Dini tidak mengerti.
"pulau ini milik aku, dan aku lah wanita yang sering menemani Dimas di sini" kata Citra.
"kenapa aku tidak pernah melihat nya bersama kakak" ujur Dini.
"karena aku akan pergi, jika ada wanita lain di samping nya, dan. aku sering lihat kamu bersamanya di sini" kata Citra.
"maaf ya kak, aku tidak pernah ijin masuk ke pulau ini" kata Dini yang melanggar aturan masuk pulau.
"tidak apa, banyak orang juga yang berkunjung ke sini, tapi hanya di taman kenangan saja" sahut Citra.
"tersenyum lah, Dimas sudah bahagia, kamu harus bisa memulai hidup baru kamu sekarang" kata Citra.
"iya, dia pasti bahagia" sahut Dini lirih.
"kapan mau ketemu sama mama dan papa?" tanya Citra.
"aku tidak berani ketemu mereka" sahut Dini.
"kenapa?" tanya Citra heran.
"aku takut mereka marah, karena sudah menikah tanpa ijin dan restu" sahut Dini.
Citra pun mengajak keduanya masuk ke villa milik nya, untuk menikmati udara sore dengan secangkir teh hangat dan kue yang di buat kan oleh bik Ina tadi.
Malam nya Citra mengajak mereka pulang. setelah mengantar kan Dini ke Penthous ia mengajukan mobilnya menuju rumah, sedangkan Zia sudah tertidur pulas di dalam pangkuan Tia.
dan tadi sore Tia datang ke pulau untuk mengantarkan kan makanan untuk ibu dan ayahnya, dan para bodyguard yang bertugas di sana. tanpa perintah dari Citra Tia sudah tau tugasnya.
dan dia sangat bersyukur karena Citra yang selalu baik pada keluarga nya, hingga sekarang ia bisa melanjutkan pendidikan nya dan mencapai cita-cita nya.
__ADS_1
happy reading