
"al, kenapa lo post foto Citra dan Zio di mensos" kata Angel geram.
"kenapa emang nya?" tanya Alena
"lo tau kan, kalau pernikahan mereka belum di ketahui oleh orang tua Citra" ujur Angel menatap Alena.
"ya ampun, gue lupa bagaimana ini" ucap Alena panik, ia meraih ponselnya dan menghapus postingan itu.
"makanya jangan teledor kamu" kata Angel kesal.
"udah gue hapus sih, tapi mungkin udah nyebar" ujur Alena gelisah.
ia pun langsung menghubungi Citra dan meminta maaf.
("ci, gue minta maaf") ujur Alena takut.
("maaf kenapa?") tanya Citra.
("maaf atas keteledoran saya, tadi tanpa sengaja gue post foto kalian berdua di mensos") kata Alena takut Citra marah.
("udah lah al, tidak mengapa nantinya mereka juga tau") ujur Citra tidak mau mempermasalahkan karena suara Alena sudah bergetar di telepon.
("tapi kan ci, secara tidak langsung gue bilang kesemua orang mengenai pernikahan lo") kata Alena merasa bersalah.
("iya gue tau itu salah lo, lagian ngapain sih pakai lupa segala. sekarang engak usah bahas itu lagi, besok gue sama Zio ke rumah ayah") ujur Citra.
("maaf ya ci, lo jadi repot gara-gara gue") kata Alena lirih.
("udah engak apa, santai aja, hehe") ujur Citra ketawa supaya Alena tidak merasa bersalah lagi.
("ya, benaran tidak apa, kalau gitu aku tutup telponya") kata Alena.
("mau kemana si, buru-buru amat nyudahi telponnya mau kemana? ") tanya Citra.
("engak, ni gue sama Angel lagi di cafe, mau pulang") kata Alena.
("oh ya, dah") ucap Citra.
setelah telponan dengan Alena Citra mencari postingan itu. namun postingan itu sudah di hapus oleh Alena. Citra terus mengotak atik ponselnya hingga iya melihat postingan ayahnya.
kenapa? kenapa dengan mu?
apakah salah ku begitu besar?
hingga tak ada lagi maaf untuk ku
sehingga kamu juga tak membutuhkan ku lagi
tolong maaf kan orang jahat ini
aku menghiklaskan mu nak
harapan ku ternya salah
kau tak pernah bahagia dengan pilihan ku
jika itu yang terbaik aku bahagia
__ADS_1
bahagia melihatmu bahagia
walau tak bersama ku.
kata-kata itu sontak membuat Citra manangis, ia memang salah. tapi ia tidak bisa menolak apa yang neneknya katakan. saat itu ia belum siapa untuk kembali lagi kerumahnya ayahnya, hidup sendiri membuat nya enggan untuk pulang. Citra merasa nyaman dengan kesendiriannya, tidak ada yang menggangu, memanggil, memerintahkan, dan sangat tenang.
ancaman ayahnya pun tidak sempat ia ketahui. satu minggu setelah kepulangan ia dan Zio dari Bali, ia ada di pulai pribadi miliknya. dan itu semua adalah pilihan, di antara memilih pulang kembali dan memilih menikah dengan Angga membuat Citra tidak bisa berkutik. hingga mau tidak mau ia harus menikah dengan jodoh yang neneknya pilih.
...****************...
pagi itu Citra sudah siap menunggu suami dan mertuanya di ruang keluarga. ia harus siap mendengar kata kecewa dari ayahnya nanti.
"sudah siap ci. kamu tenang aja kakek dan nenek mu sudah jalan kesini, menemani kita ke rumah ayah mu" kata Zahra.
"iya ma" jawab Citra menunduk.
setelah kedatangan kakek dan neneknya mereka pun pergi ke rumah Pramana. selang beberapa menit mobilnya pun sudah sampai di depan rumah.Citra dan Zio masih di dalam mobil karena Citra masih takut pada ayahnya.
"permisi pak, ada nyonya dan tuan datang bersama pak Adit dan keluarganya." kata sapam
"suruh saja mereka masuk" ujur Indra masih fokos pada laptopnya.
"baik pak" ucap sapam menunduk.
mereka pun masuk ke dalam ruang pribadi Indra. Indra menatap heran pada mereka karena ayah dan bundanya bisa datang bersama.
"bun,, yah,, Adit,, Zahra silahkan duduk" kata Indra setelah menyalami orang tuanya.
"terima kasik" ujur Adit
"ada apa kalian datang ke sini?" tanya Zio.
"untuk apa, aku tidak peduli lagi, itu bukan urusan ku, kalian bilang atau tidak terserah." Jawab Indra ketus.
"in, kamu tidak mau tau kenapa Citra tidak mau pulang dan menikah tanpa kamu ketahui" tanya nenek Rita.
"tidak" jawab Indra dingin.
"kamu sama putrimu sangat sama" ujur kakek Arifin.
"sudahlah aku mau kerja" kata Indra dengan ego nya.
nenek Rita pun akhirnya menceritakan bagaimana bisa ia menikahkan Citra dan mengapa Citra tidak mau pulang ke rumah sesuai dengan cerita cucunya Vina yang saat ini masih di cari keberadaannya.
"kenapa bunda tidak bilang dari dulu perbuatan Kinara?" tanya Indra marah.
"bunda juga baru tau, Vina yang memberitahu bunda sebelum ia pergi, karena dia juga ada di sana waktu itu" ujur nenek Rita.
"ayah juga tidak menyangka, Kinara bisa melakukan itu semua karena harta. padahal warisannya lebih banyak dari mu" kata kakek Arifin.
"terus kenapa bunda menjodohkan anak ku dengan putra Adit?" tanya Indra
"kamu mau anak kamu seperti Angga?" nenek Rita menanya balik. karena tanpa sepengetahuan Indra putrinya dulu juga pernah menghabiskan sisa waktunya untuk mabukan.
"ya tidak, tapi kan bunda bisa bilang pada ku, tapi setidaknya Citra harus meminta restu ku bun" ujur Indra kecewa.
"kamu bicara saja sama Citra" ujur nenek Rita.
__ADS_1
Citra dan Zio pun masuk kedalam bersama Chelsea yang memintanya untuk keluar dari mobil.
"ayah maaf kan aku" kata Citra berlutut di hadapan Indra.
"sudah lah ci, ayah tidak mengapa. walau kamu tidak meminta restu ayah tapi setidaknya kamu harus bilang yang sebenarnya, bukan seharusnya ayah tau dari media sosial" ujur Indra dengan wajah kecewa tidak bisa menyaksikan pernikahan putrinya.
"maaf yah, Citra sudah meminta restu ayah dan ayah merestui pernikahan Citra" ujur Citra menatap wajah sendu ayahnya.
"jadi benar itu kamu, kenapa tidak telpon ayah saja ci, kalau kamu tidak bisa datang. ayah akan menuruti kemauan kamu ci apa pun itu. ayah kecewa pada diri ayah yang tak bisa melihat hari bahagia anaknya." ucap Indra meninggalkan ruangnya.
melihat ayah nya pergi Citra menundukkan kepalanya di lutut Tania.
"sayang sudah lah, yang penting itu pilihan mu, ibu bahagia nak" kata Tania mengusap rambut putri sambungnya.
"tapi ayah bu, dia kecewa sama Citra" ujur Citra menangis
"ibu tau, ayah juga bahagia ci, dengar berita pernikahan mu, tapi dia merasa kecewa karena dia tidak bisa melihat diri mu menikah" kata Tania lembut.
"bagaimana cara supaya ayah tidak kecewa lagi sama Citra?" tanya Citra lirih.
"tinggal lah disini untuk sementara ci, supaya kamu bisa punya waktu untuk bicara pada ayah" kata Tania.
Citra menatap pada mertuanya dan nenek kakeknya sedangkan Zio mengikuti kemana mertuanya jalan.
"iya nak, kamu tinggal disini untuk sementara, ayah mu juga sangat merindukan mu tinggal bersama nya lagi" ujur Zahra senyum.
"iya ma, terima kasih" kata Citra.
di taman belakang Zio dan Indra duduk saling berhadapan.
"kenapa kamu mengikuti ku?" tanya Indra resah di ikuti Zio dari tadi.
"maaf kan aku dan Citra ayah, kami hanya ingin mencari waktu yang tepat untuk memberi tahu ayah" kata Zio menampilkan gigi putihnya.
"sudah lah, ayah sudah tau, jaga putri ayah, jangan sakiti dia" kata Indra dingin
"pasti ayah, ayah mau memaafkan kami?" tanya Zio.
"apa aku kelihatan tidak memaafkan kalian?" tanya Indra balik.
"iya, terima kasih ayah" ujur Zio
senang.
"eh, jangan senang dulu, sebagai hukuman nya, karena kalian berdua merahasiakan pernikahan kalian. maka saya minta putri ku untuk tinggal di sini selama satu minggu" kata Indra senyum.
"apa aku juga tinggal disini?" tanya Zio
"tidak kau pulang ke rumah mu, aku sangat merindukan putri ku, nanti yang ada putri ku tidak memperhatikan ku dan lebih mementingkan mu" ujur Indra.
"tidak bisa ayah, junior ku belum masuk dalam sarang nya" kata Zio cepat.
"what junior?" tanya Indra tidak mengerti.
"ini ayah" ucap Zio sambil menunjukan bagian bawahnya. yang membuat Indra tertawa.
"hahaha, main solo saja, terima saja hukuman nya" kata Indra meninggalkan menantu mesumnya.
__ADS_1
Adit pun pamit kepada Indra setelah menyelesaikan semuanya. walau Indra tidak begitu marah tapi iya juga merasa bersalah melihat wajah kecewa sepupunya.