
Tania pun menghentikan sarapannya dan mengejar Chelsea yang terlihat sangat kacau. melihat putri majikanya seperti itu, penjaga gerbang pun mengunci gerbang dan tidak membiarkan Chelsea untuk keluar.
"mau kemana?" tanya Tania meraih tangan Chelsea.
"lepaskan bu, aku mau pergi" sahut Chelsea memberontak.
"Nina, tolong pegang dia" perintah Tania yang sudah kewalahan memegang Chelsea.
"iya buk" sahut Nina.
"lepaskan, aku mau pergi" kata Chelsea.
"mau pergi kemana dulu?, kamu tenang" ujur Tania.
"ke rumah sakit, aku mohon lepaskan" ujur Chelsea lemah.
"pak, siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang" ujur Tania pada supir nya.
Tania pun terpaksa ikut menemani Chelsea ke rumah sakit, karena baru kali ini Tania mendengar teriakan Chelsea yang mengatakan suaminya jahat.
sampai di sana Chelsea langsung menuju IGD tempat suaminya di rawat.
"Chel, masih ada dokter nak, nanti ya" ujur Indra pada Chelsea.
"tidak, aku mau masuk sekarang" kata Chelsea hendak membuka pintu.
"jangan" teriak Indra memegang tangan Chelsea.
"kenapa dia, menyakiti ku yah, kenapa?" tanya Chelsea lirih.
"sabar nak" ujur Alek tidak tega pada menantunya.
"mas Ryan jahat, kemarin dia menghamili Dita, sekarang dia terbaring disini" kata Chelsea lirih.
Dengan berbagai cara Tania membujuk anaknya supaya tidak marah pada Ryan yang lagi koma, jika ia ingin menemui nya.
Chelsea pun mulai bisa mengontrol emosinya yang bercampur aduk, antara benci dan sakit melihat Ryan yang terbaring tak berdaya.
__ADS_1
"mas, bangun Yabes mencari mu, maafkan aku yang mengusir mu semalam, aku cuma benci mas kenapa kamu harus menghamili Dita, walau itu bukan kesalahan kamu" ujur Chelsea bicara dengan Ryan masih terbaring koma.
"itu cuma akal Romi saja mas, untuk mendapatkan keturunan, dia itu mandul, coba kamu lihat Alena berapa kali mereka melakukanya tapi Alena tidak pernah hamil" ujur Chelsea menjelaskan jebakan dan motif dari Romi sebenarnya.
hari pun siang Chelsea terpaksa meninggalkan rumah sakit, karena tadi dia pergi meninggalkan Yabes sendiri dengan Lala yang juga mengurus Zia keponakanya.
...****************...
Di rumah, Citra berjalan menuju lemari yang ada di walk in closet, lemari itu menyimpan buku dan benda kesayangannya. ia ingin membaca novel yang sudah lama ia tinggalkan, karena dulu Citra sangat gemar membaca novel.
ia membongkar isi lemari itu, dan memisahkan buku-buku yang tidak layak di simpan lagi dari lemari itu.
saat memasukan buku ke dalam kardus Citra melihat ada sebuah amplop yang tidak tau apa isinya.
ia membuka amplop itu dan melihat sepucuk surat yang di tulis oleh Ryan untuk nya.
"Hai Citra ku, apa kabar?, aku tau kamu tidak bisa membaca surat ini. tapi aku yakin suatu saat nanti kamu pasti menemukan surat ini, jangan marah sama Chelsea dia tidak salah, aku yang salah.
Citra sebenarnya aku tidak mencintai mu, aku hanya sayang sama kamu sebagai adik ku, aku hanya ingin kamu menjadi adik ku ci, kamu itu cantik, baik, lucu aku suka itu. semua karena aku, aku jadi tidak bisa melihat kamu lagi. jujur aku jatuh cinta pada kakak mu, dan itu sangat beda sekali rasanya. aku memang masih kecil tapi aku tau apa itu cinta.
Dan aku juga tau ci, sebenarnya siapa yang ada di hati kamu, kamu juga punya janji kan pada pangeran kecil kamu, karena dia pergi meninggalkan kamu jadi kamu mulai ingin melupakannya dan berusaha mencintaiku. tapi aku tau itu, aku tidak ingin merebut mu dari dia.
sekali lagi maaf kan aku Citra ku, semoga cepat pulang, aku merindukan mu adik
*Ryan Putra Pratama*"
Citra menyimpan kembali surat itu, dan sekarang dia tau kenapa Ryan memilih Chelsea dari pada nya, dan semua memang nyata, ia menikah dengan pangeran kecil nya.
Sore itu Citra dan Zio, pun ke rumah sakit untuk melihat kondisi Ryan, dan meninggalkan Zia dan Yabes pada Lala dan semua pelayan di rumah itu.
sampai di sana Citra meminta suaminya untuk menyusul keluarga mereka di kantin rumah sakit, sebenarnya Citra hanya ingin bicara sendiri dengan Ryan.
saat di ruang tunggu sudah mulai sepi, Citra pun masuk dengan mengunakan pakaian khusus, ia berjalan menuju ranjang Ryan.
"mas bangun, aku sudah baca surat kamu, dan aku tau sekarang apa alasan kamu meninggalkan ku. jika kamu cinta pada kakak Chelsea maka bangun lah, aku sudah merelakan kalian bersama. dan terima kasih sudah merelakan ku dan memilih kakak Chelsea, dan benar mas pangeran kecil ku lah jodoh ku mas" ujur Citra pada Ryan.
"mas, apa kamu tidak kangen sama Yabes, dia mencari mu, dan kakak Chelsea terus menangis melihatmu seperti ini, dia menunggu mu mas, dia janji akan memaafkan kesalahan mu dan melupakan masalah kalian sekarang" Citra terus bicara pada Ryan.
__ADS_1
sebelum keluar ia meletakan sebuah amplop balasan untuk surat Ryan yang sudah ia baca tadi.
setelah Citra keluar, tiba saja monitor berbunyi dan para dokter dan suster berlari ke ruang IGD, Citra pun sangat panik ia takut, jika ucapannya tadi membuat Ryan seperti ini.
"kenapa sayang?" tanya Zio yang baru datang dari kantin.
"mas Ryan" sahut Citra.
"tenang semua akan baik-baik saja" ujur Zio.
tidak lama dokter pun keluar.
"ibu Citra, yang mana ya?"tanya dokter.
"saya dok, ada apa?" tanya Citra panik.
"pak Ryan, ingin bicara" sahut dokter.
"mas Ryan sudah sadar?" tanya Chelsea.
"iya, dan sekarang ia ingin bicara sama ibu Citra" sahut dokter.
Citra pun masuk dan mendekat pada Ryan.
"mas kenapa?" tanya Citra.
"terima kasih, susah membaca surat ku, aku ingin kamu berikan Kotak ini pada Chelsea dan tunjukan surat itu pada nya" kata Ryan. yang mendengar kata Citra tadi saat ia belum sadar.
"mas, baik-baik saja kan?" tanya Citra panik.
"iya, mas cuma ingin dia tau, kalau mas mencintainya, sebelum ia menemui mas" sahut Ryan.
"baik lah mas" sahut Citra dan pergi namun Ryan meraih tangan nya.
"ada apa lagi mas?" tanya Citra menatap Ryan.
"terima kasih sudah membangunkan ku, jika kamu tidak menyebut Yabes mungkin aku akan pergi jauh" ujur Ryan senyum.
__ADS_1
"iya mas, mas istirahat dulu, aku berikan ini pada kak Chelsea" kata Citra.