
Sore hari Zico duduk di taman belakang rumah Indra, dengan ditemani oleh secangkir kopi, dan malam ini terpaksa mereka harus nginap di rumah Indra, di karenakan rumah mereka masih dalam tahap penyelidikan dan renovasi karena banyak kaca dan tembok yang retak.
sedangkan Penthouse milik Zio sudah di jual, dan Villa mereka sangat jauh, sehingga tidak memungkinkan untuk pergi ke sana.
Ryan yang merasa bosan di kamar memutuskan ke taman belakang untuk menenangkan pikirannya dari segala masalah yang menimpa mereka saat ini, walau masalah itu sudah beres, namun Indra tetap melarang anak dan menantunya untuk beraktivitas di luar rumah.
"lagi ngapain dek, disini?" tanya Ryan pada Zico.
"lagi ngopi kak" sahut Zico bergeser supaya Ryan bisa duduk.
"kok bisa, Daniel membawa kamu pergi?" tanya Ryan penasaran.
"aku juga tidak tau kak, tiba saja ada orang yang membius aku, saat aku tidur" kata Zico.
"terus kenapa kamu bisa, berantam sama dia" ujur Ryan.
"tali untuk mengikat aku lepas kak, aku tonjok sekalian itu orang" sahut Zico.
"hebat, tidak sekalian kamu habisi dia" ujur Ryan.
"biar saja dulu, nanti jika dia tidak juga tobat, gue sikat tu orang" sahut Zico.
Saat tengah asik bicara Zio datang ke taman belakang untuk bersantai, tapi ternyata taman belakang ada dua saudaranya tengah asik bicara.
"ngapain di sini?" tanya Zio pada Ryan.
"lagi, duduk tidak lihat apa" sahut Ryan.
"iya, gue juga liat, bahas apa sih" ujur Zio kemudian.
"bahas game baru" sahut Zico.
"oh, mabar yok" ajak Zio pada kedua saudaranya.
"ayo, bosan ni, di rumah terus, lagian sore gini enakan nya nongkrong, tapi om Indra malah ngelarang" ujur
Zico.
"nanti ibu marah lagi, jika tau" ucap Ryan takut dan menengok ke arah dapur.
"tidak akan, masa kamu takut sama ibu" kata Zio pada kakaknya.
"emang kamu mau, di suruh pungut sampah lagi?" tanya Ryan menatap adiknya.
"ya engak lah" sahut Zio santai.
"kita main catur saja, siapa kalah di coret pakai lipstik" ujur Zico kemudian.
__ADS_1
"boleh juga tu" kata Ryan yang beranjak mengambil catur yang ada di atas meja dekat tempat mereka duduk.
mereka pun main catur dengan bergantian, dan sudah dua kali Zio menang dan mencoret wajah kedua saudaranya itu. hingga tiba saatnya ia kembali bertarung bersama Ryan dan sekali lagi Ryan pun kalah.
"udah ah, kalah terus, habis ni muka nanti" kata Ryan hendak pergi.
Tapi dengan sigap Zio mengambil tanah liat yang akan di gunakan mertuanya itu untuk membuat asbak, dan di oleskan ke wajah Ryan.
Ryan pun tidak mau kalah, karena Zio yang memulainya akhirnya mereka pun berbalas bermain tanah liat, hingga kejar kejaran.
melihat kelakuan kakaknya Zico pun langsung pergi, sebelum ia diminta oleh Tania untuk ikut membersihkan halaman yang kotor karena tanah liat itu.
"kenapa wajah kamu merah dek?" tanya Citra yang lagi membuatkan susu untuk dirinya.
"itu, tadi kita main catur siapa kalah akan di coret" sahut Zico.
"oh, ya udah mandi sana, bersihin mukanya" kata Citra.
mendengar suara ribut di belakang Citra pun berjalan ke sana dan melihat suami dan kakak iparnya lagi kejar kejaran seperti anak kecil saja.
"tunggu pembalasan ku ya" ujur Ryan saat tanah itu dilempar Zio tepat di dahinya.
"haha, wajah kamu sama seperti babi yang mandi lumpur" Zio tertawa melihat wajah kakaknya sudah penuh dengan tanah liat.
Ryan berjalan ke arah karung tempat penyimpanan tanah liat dan mengambil tanah itu dan mulai melemparnya ke arah Zio.
lama keduanya bermain lempar di kolam renang, hingga Chelsea datang ke taman belakang untuk mencari suaminya.
"ngapain di sini dek?" tanya Chelsea melihat adiknya hanya berdiri di depan pintu.
"itu" tunjuk Citra pada Zio dan Ryan.
"ya ampun ini kenapa, taman penuh dengan tanah liat, bisa marah ini ayah nanti" ujur Chelsea melihat halaman belakang dan taman penuh dengan tanah liat.
"biarin saja, entar mereka berdua yang di minta untuk bersihin" kata Citra.
Chelsea berjalan ke arah kolam renang yang sudah berubah warna airnya itu.
"sudah, kalian seperti anak kecil saja" kata Chelsea pada keduanya.
"ini semua ulah Zio, sayang" ucap Ryan yang masih melemparkan tanah pada adiknya.
"Zio, alasan kamu saja, naik tidak" kata Chelsea seperti ibu yang memerintah anaknya.
keduanya pun naik keatas dengan baju yang basah dan wajah yang kotor. Chelsea langsung menjewer telinga kakak beradik itu.
"ampun kak, lepaskan" ujur Zio berusaha melepaskan jepitan tangan Chelsea.
__ADS_1
"sakit sayang" ucap Ryan yang sama mendapatkan jepitan dari istrinya.
"lagian, kalian berdua udah tua lagi juga seperti anak kecil, liat itu halaman dan taman karena ulah kalian" ujur Chelsea.
"bukan ulah aku, ini Zio punya pasal" ucap Ryan.
"enak saja, kan kamu yang mau ikut ikutan" Zio tidak mau kalah.
"sudah, cepatan bereskan halaman dan taman sekarang" perintah Chelsea pada keduanya.
"tidak mau, aku capek" sahut Zio.
"aku juga" ujur Ryan.
Citra pun datang setelah melihat kakaknya memarahi keduanya.
"ya ampun mas, kotor bangat sih kamu" ujur Citra.
"mas mau mandi dulu" ucap Zio.
"jangan mandi di kamar" kata Citra menatap suaminya.
"terus mandi dimana?" tanya Zio.
"itu" tunjuk Citra dan Chelsea bersamaan pada selang yang ada di taman.
"oke kita mandi dulu" ujur keduanya.
bukan mandi tapi Zio dan Ryan justru bermain semprotan air. karena mendengar suara anak dan menantunya di taman Tania pun berjalan ke sana, ia menutup mulutnya saat melihat kondisi halaman belakang dan taman berserta kolam renang sangat kotor.
"siapa yang punya ulah ini" ujur Tania pada kedua putrinya.
"itu, lagi main air" Tania membulatkan matanya melihat kelakuan menantunya itu.
karena tidak berhenti main air, akhirnya Tania meminta Zahra ke halaman belakang untuk melihat tingkah laku anaknya. Zahra menjewer keduanya seperti anak kecil, hingga akhirnya Zio dan Ryan pun mandi yang sebenarnya.
"ampun deh, ini bocah, habis sudah tanah liat ku" ujur Indra menepuk dahinya.
"sabar yah, kan ayah masih bisa cari lagi" kata Tania ingin tertawa.
"cari lagi, emang enak cari tanah liat yang bagus seperti ini" kata Indra kesal.
"tanah ya tanah yah, sama semua" ujur Tania.
"iya, tapi ini mau ayah buat malam ini, malah berceceran dimana mana" ujur Indra mengecek karung tanah liatnya.
"benar-benar ini anak, mau aku goreng ya" kata Indra kembali kesal karena tanah liatnya habis tak bersisa.
__ADS_1
Zio dan Ryan pun kabur ke kamar mereka dengan membawa makanan untuk mengisi perut nya, dan membebankan tugas untuk membersihkan taman belakang pada satpam dan supir mereka.