
...Happy Reading...
Tiga bulan kemudian, usia kandungan Citra sudah menginjak lima bulan. pagi ini, setelah Zio berangkat ke kantor, Citra pun akan berangkat ke kampus, karena bulan depan ia sudah mengambil cuti.
"pagi kak, yang lain udah pada berangkat?" tanya Citra melihat hanya kakaknya saja yang di meja makan.
"iya ci, baru saja berangkat, kamu ke kampus?" tanya Chelsea.
"iya kak, hanya satu jam saja" sahut Citra mengoleskan selai di roti panggangnya.
"hati-hati ya, bawa mobilnya" kata Chelsea.
"iya kak" sahut Citra sambil memakan rotinya dan meminum susu.
saat Citra hendak berangkat tiba saja Chelsea meringis kesakitan.
"aduh ci, perut kak sakit" kata Chelsea dan Citra pun langsung balik lagi ke meja makan.
"apa mau lahiran?" tanya Citra panik, karena di rumah sangat sepi, jika benar kakaknya akan melahirkan dia juga bakal bingung mau ngapain.
"tidak tau dek, rasanya mulas, dan kram" kata Chelsea lirih.
"pindah ke sofa ya kak" kata Citra mengiring Chelsea untuk duduk di sofa.
"ci, telpon ibu, rasanya sangat mulas ci" ujur Chelsea menahan rasa sakitnya.
"iya" jawab Citra langsung menghubungi ibunya tapi ponsel Tania tidak aktif.
"non kenapa?" tanya maid yang baru pulang belanja.
"perutnya sakit bibi, apa mau lahiran ya, kan udah bulan nya" sahut Citra.
"telpon mas Ryan, non Chelsea sepertinya mu melahirkan, bibi simpan belanjaan dulu, habis ini kita berangkat ke rumah sakit, kebetulan ada supir di depan" kata maid dan berjalan menuju dapur.
("halo ci, ada apa?") tanya Ryan heran.
("mas, kak Chelsea sepertinya mau melahirkan, aku bingung mau ngapain") sahut Citra panik.
("kamu bawa ke rumah sakit saja, mas akan segera ke sana") ujur Ryan.
("iya mas") sahut Citra menutup telponnya.
Citra pun mondar mandir di depan Chelsea yang meringis kesakitan, karena rasa mulas sering datang.
"non, kenapa mondar mandir, ayo kita berangkat sekarang" ujur maid pada Citra.
"iya bi, aku ambil perlengkapan kak Chelsea dulu" sahut Citra berjalan ke kamar Chelsea.
"non yang tenang ya" ujur maid mengusap punggung Chelsea.
"iya bi, aduh bi, sakit" kata Chelsea meremas tangan maid.
"iya sabar ya, kita ke rumah sakit sekarang" kata maid berusaha menenangkan.
Citra pun turun dengan tas di tangan nya, ia berjalan ke mobil terlebih dahulu, dan Chelsea pun di iring oleh maid ke dalam mobil. supir pribadi Citra pun melajukan mobilnya ke rumah sakit.
"pak bisa cepat sedikit" kata Citra melihat kak nya sudah kesakitan dengan keringat yang membasahi wajahnya.
"iya non, sabar ya, ini macet bangat, sebentar lagi sampai" kata supir berusaha tenang, namun dia juga takut kalau majikannya melahirkan di dalam mobil.
setelah tiga puluh menit di jalan yang lumayan macet, akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Chelsea pun langsung di bawa ke ruang periksa.
"ini sudah pembukaan ke enam ci" kata dr Sari.
"iya dok, apa mau melahirkan?" tanya Citra.
__ADS_1
"iya kakak mu mau melahirkan, coba kamu telpon Ryan lagi, dan keluarga kamu" kata dr Sari.
"iya dok" sahut Citra.
"aku siapkan ruang bersalin dulu, kamu tunggu disini" kata dr Sari lagi.
tidak lama kemudian Tania dan Indra pun datang ke rumah sakit, setelah mendapat kabar dari Ryan bahwa istrinya mau melahirkan, dan Ryan minta bantu mertuanya untuk menemani istrinya, karena jalan sangat macet hari ini.
"ibu, ayah, kak Chelsea baru saja di pindahkan ke ruang bersalin" kata Citra menghampiri ibu dan ayahnya.
"iya nak, kamu tunggu disini saja ya, sama bibi" ujur Tania tidak mengijinkan Citra untuk masuk keruangan Chelsea, karena dia tidak mau Citra melihat proses persalinan kakaknya, yang nantinya dapat membuat dia takut.
"iya bu, kasihan kak Chelsea bu, dia kesakitan" ujur Citra.
"ayah ke depan sebentar ya nak, titip Citra bibi" ujur Indra pada maid nya dan Citra.
"iya pak" sahut maid.
Tania pun masuk keruangan bersalin untuk menenangkan putrinya, ketika Ryan belum datang.
"ibu, chel mau melahirkan bu" ujur Chelsea menangis ketika rasa mulas itu sudah datang lagi.
"iya nak, kamu akan menjadi ibu nak, yang sabar ya, nanti kalau dia sudah lahir, sakitnya akan hilang," ujur Tania yang tidak tega melihat putrinya kesakitan.
"iya ibu, aduh, sepertinya aku mau pup bu, antar aku ke toilet" ujur Chelsea yang merasakan dorongan dari sana.
"kamu pup disini saja ya, sebentar dokter datang" ujur Tania memencet bel yang ada di ruangan itu.
tidak lama kemudian Ryan pun datang, dan langsung masuk ke ruangan bersalin, ketika Citra memintanya untuk masuk saja keruangan bersalin dimana kakak nya sedang merintih kesakitan.
ceklek
"sayang" kata Ryan menghampiri istrinya yang sedang meringis kesakitan.
"mas, aku kira kamu tidak datang" kata Chelsea yang takut jika Ryan tidak dapat menemaninya melahirkan.
"huh, sakit bangat mas" kata Chelsea lirih.
"sabar ya nak, sebentar dokter datang, ibu tunggu di luar" ujur Tania.
"iya bu" sahut Ryan.
tidak lama dokter Sari pun datang dan kembali mengecek bagian bawah Chelsea.
"sudah lengkap pembukaannya, air ketubannya juga sudah pecah, siap chel, sebentar lagi kamu akan bertemu dengan nya" kata dr Sari.
Chelsea hanya mengangguk, dr Sari pun mulai memberi aba aba pada Chelsea.
setelah berapa kali mengejan namun Chelsea belum juga bisa mengeluarkan bayi nya. Ryan pun sudah sangat kusut baju dan rambutnya sejak tadi ditarik oleh Chelsea sebagai pelampiasan rasa sakit.
"ayo chel, sekali lagi ya, kepala nya sudah kelihatan, semangat chel" kata dr Sari. memberi semangat karena Chelsea sudah sangat lelah.
"iya sayang, semangat, sebentar lagi kita ketemu dengan nya" ujur Ryan memberi semangat pada istrinya.
Chelsea pun mulai lelah hingga dia memejamkan matanya, yang seketika membuat dr Sari dan Ryan menjadi panik.
"chel, jangan tidur, ayo sekali lagi" ujur dr Sari pada Chelsea dan mengusap paha nya.
"bagaimana ini Sar, apa tidak ada cara lain?" tanya Ryan panik melihat istrinya sudah terpejam.
"ada, tapi ini, sebentar lagi juga lahir anak mu, jika istrimu masih kuat untuk mengejan, jika operasi makin lama jadinya, sayang sekali yan" kata dr Sari.
"sayang, apa kau tidak ingin bertemu dengan nya, apa kau tidak mau melihatnya" ujur Ryan mencoba supaya istrinya tidak tertidur
"ayo lah chel, jangan tidur, sebentar lagi ya, kamu yang kuat, pasti bisa" kata dr Sari melihat mata Chelsea kembali terbuka.
__ADS_1
"aku tidak kuat lagi" ujur Chelsea lirih.
"sayang, sedikit lagi, aku tau ini sakit, aku juga sakit sayang melihatmu seperti ini, aku menyayangi kalian sayang, bertahan lah, berjuang lah untuk nya" kata Ryan menangis.
Chelsea pun mengusap wajah Ryan yang basah dan mulai lagi untuk mengejan. tidak lama kemudian suara tangisan bayi menggema di ruangan itu.
"selamat yan anak mu laki-laki" ujur dr Sari menyerahkan bayi itu pada suster.
"kamu hebat sayang" kata Ryan mencium kening istrinya. Chelsea pun mulai kembali terpejam.
"sar, apa istri ku tidak kenapa napa?" tanya Ryan panik melihat istrinya sudah memejamkan matanya.
"dia hanya capek yan, biarkan saja dia tidur sebentar" ujur dr Sari.
"iya" sahut Ryan yang masih setia menemani istrinya.
setelah selesai di bersihkan Chelsea pun di pindahkan ke ruang rawat. dan suster pun membawa anak laki-laki yang baru saja ia lahir kan tadi untuk di susui pertama kali nya. Chelsea memeluk anaknya yang di letakan di dadanya, bayi itu pun mulai mencari sumber kehidupannya.
"sayang terima kasih ya, sudah berjuang untuk nya" kata Ryan mencium kembali istrinya dan putranya.
"iya sayang, terima kasih juga sudah menemani ku" sahut Chelsea meringis ketika putra nya sudah menemukan sumber kehidupannya.
"hebat anak papa" ujur Ryan pada putranya yang berhasil menemukan ****** Chelsea.
"enakan menyusui anak atau bapaknya?" tanya dr Sari.
Chelsea dan Ryan hanya tersenyum, tidak lama keluarga Pramana pun masuk keruangan rawat Chelsea.
"wah, gemasnya" kata Citra melihat keponakannya yang lagi menyusui.
"terima kasih dek, sudah membawa kakak kesini tadi, jujur panik bangat dah" ujur Chelsea.
"iya kak, untung lo aku belum berangkat tadi" kata Citra menatap keluarganya.
"maaf kan ibu ya, udah ninggalin kamu di rumah sendiri" ujur Tania pada Chelsea dia merasa bersalah meninggalkan anaknya sendirian di rumah.
"tidak apa bu, yang penting dia sudah lahir sekarang" kata Chelsea senyum.
"siapa nama nya kak?" tanya Citra.
Chelsea pun menatap Ryan yang ada di sampingnya.
"kamu saja yang cari kan namanya" ujur Ryan pada Citra.
"kok aku?" tanya Citra masih sibuk menatap keponakanya.
"karena kamu yang membawa Chelsea kesini" ujur Ryan.
Citra pun mulai berfikir untuk mencari nama anak kakaknya.
"Alfarizi Yabes Pratama" kata Citra.
"bagus, bagaimana sayang?" tanya Ryan pada Chelsea.
"iya boleh juga" sahut Chelsea.
"bukan nama anak mu kan?" tanya Tania pada Citra.
"ya bukan lah, kalau itu urusan mas Zio" sahut Citra.
"ya udah itu saja, bagus kok" ujur nenek Rita yang juga ada di situ.
"oke deh aku setuju" kata Ryan.
setelah menemani Chelsea di rumah sakit, sorenya Citra pun pulang ke rumah karena Zio telah menjemputnya. dan di rumah sakit hanya tinggal Tania dan Indra yang menemani Ryan dan Chelsea di sana.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca, like, vote, dan komen.