
Happy Reading
"kamu dimana sayang" ujur Zio lirih.
hingga sore ini Zio belum juga ada kabar mengenai Citra yang entah ada dimana. ia pun kembali ke rumah mertuanya dan berharap istrinya sudah pulang.
"gimana zi, Citra ketemu?" tanya Tania yang sudah menunggu kedatangan Zio.
"belum bu, ponselnya juga tidak aktif" sahut Zio lirih.
"jawab dengan jujur, siapa wanita yang bersama mu tadi?" tanya Tania.
"dia mantan ku bu saat SMP, dan merupakan sahabat ku, sampai aku kembali ke Indonesia lagi" ucap Zio.
"apa Citra tau semuanya?" tanya Tania lagi.
"tidak bu" sahut Zio pasrah jika mertuanya marah.
"zi, Citra jika marah dia pasti selalu pergi, mungkin dia melihat mu bersama nya tadi, dan kamu melupakan keinginan nya yang ingin memakan bubur ayam" ujur Tania.
"terus aku cari dia kemana lagi bu" kata Zio yang lelah mengelilingi Jakarta.
"ibu juga tidak tau, tadi Rama dan Alfa sudah ibu suruh bantu kamu" kata Tania.
tiba saja terlintas di benak Zio tempat yang sangat rahasia bagi Citra yaitu pulau, apa mungkin dia di sana.
"Vina iya Vina" kata Zio yang kedengaran oleh Tania, dan pergi menuju kamarnya.
"Vina apa hubungannya dengan Vina" ujur Tania bicara sendiri.
sampai di kamar Zio langsung menelpon Vina sepupu Citra.
("halo zi, tumben nelpon?") tanya Vina di sana.
("vin, Citra ada di pulau?") tanya Zio langsung.
("engak ada, emang Citra pergi") ujur Vina yang tau siapa sepupunya itu.
("iya vin, ponselnya tidak aktif lagi, pusing gue") keluh Zio.
("kok dia bisa pergi?, kamu apa kan dia?") tanya Vina.
("tadi pagi aku di mintanya untuk membeli bubur ayam, terus di sana aku ketemu dengan mantanku, dan dia ngajak aku makan bubur bersama, hingga aku lupa pada nya, dan kata orang rumah dia menyusulku") ujur Zio.
__ADS_1
("rasain, makanya jangan suka ketemu sama mantan, hingga lupa pada istri yang lagi ngidam, susah sendiri kan") omel Vina.
("iya aku salah") sahut Zio.
("udah cari Citra sampai ketemu, awas saja kamu") ancam Vina.
("iya") sahut Zio melemparkan ponselnya di ranjang.
...****************...
Di villa Citra, duduk di sofa sambil melamun, ia kembali ingat dengan suaminya yang begitu akrab dengan wanita lain, yang ia lihat di taman sambil makan bubur bersama hingga suaminya melupakan dia yang lagi ngidam bubur ayam itu juga.
"siapa wanita itu, kenapa mas Zio begitu bahagia bersamanya, selama aku menikah dengan nya belem pernah aku melihat mas Zio seperti itu" kata Citra yang menatap ponselnya.
Citra yang cemburu melihat suaminya yang begitu manis pada wanita lain memilih pergi untuk mencari tau siapa wanita itu.
namun dari pagi dia mengurung diri nya dan tidak menyentuh apa pun itu, termasuk bubur ayam yang di beli oleh supir pribadinya, hingga tubuhnya begitu lemah.
"non, makan dulu ini bibi buatkan sup" kata pelayan.
"masih kenyang bi" sahut Citra.
"dari pagi kan non tidak makan, entar sakit, sebentar lagi pak Damar kembali membawa berita yang non minta" ujur pelayan.
"nanti aja bi, masih kenyang" sahut Citra yang memang tidak ***** makan saat melihat orang yang dia cinta bersama wanita lain.
tidak lama kemudian pak Damar pun datang dan langsung menemui Citra.
"maaf non lama" ujur pak Damar.
"siapa dia pak?" tanya Citra tidak sabar.
"nama nya Rianti, asisten pribadi pak Frans Nelson, dan mantan den Zio" ujur pak Damar membuat Citra kaget.
"silahkan pergi pak" ucap Citra. dan pak Damar pun pergi.
"non, mungkin mereka tidak sengaja bertemu, di sana" ucap pelayan supaya Citra tidak berpikir macam-macam.
"kalau tidak sengaja bertemu, kenapa lama sekali bik, ngobrolnya hingga Zio melupakan aku yang pengen makan bubur ayam" ujur Citra mulai menangis.
"non, sekarang non pulang ya, minta penjelasan pada den Zio" ujur pelayan.
"tidak mau, siapa suruh dia mengabaikan ku" sahut Citra beranjak keranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
pelayan pun meninggalkan Citra dan menelpon orang rumah Citra jika dia ada di villa yang sering di kunjungi oleh Nancy bunda nya.
mendengar istrinya ada di sana, Zio pun langsung pergi ke villa keluarga Citra, untuk menjemput istrinya dan meminta maaf atas kesalahannya tadi pagi.
tidak begitu lama Zio pun sampai di villa dan langsung menuju kamar Citra bersama pelayan yang berkerja di villa itu.
"sayang" ujur Zio mengusap lembut rambut.
Citra membuka matanya saat ada yang menyentuhnya.
"ngapain kamu kesini, pergi sana sama mantan kamu" Citra mengusir Zio.
"sayang, tadi aku tidak sengaja bertemu dia, dan dia ngajak aku makan bubur bersama, aku minta maaf ya, karena aku asik ngobrol dengan nya hingga melupakan mu yang lagi pengen bubur" kata Zio menjelaskan.
"tidak apa kok, pergi sana" usir Citra lagi.
"sayang maaf kan aku, janji tidak akan mengulanginya lagi" bujuk Zio.
"aku bilang pergi, aku tidak mau ketemu kamu" ujur Citra.
"sayang jangan begini dong, mas minta maaf, mas tau mas salah" ujur Zio lirih.
"lagian dia juga cantik kok, dari aku yang gendut ini" sahut Citra.
"ci, kamu lebih cantik darinya, dia hanya masa lalu mas" ujur Zio berusaha supaya Citra mau memaafkannya.
"masa lalu, tapi malah mengelap bibir nya yang berlepotan dengan mesra" sindir Citra.
"a aku hanya membantunya saja sayang" kata Zio gugup.
"udah lah mas, pergi sana, aku mau sendiri" ujur Citra menarik selimutnya.
"sayang, mas mohon pulang ya, jangan di sini, mas akan kasih kamu waktu untuk sendiri di rumah" kata Zio yang takut pada ibu mertuanya.
"malas" sahut Citra.
Zio pun tidak ingin kalah ia langsung menarik selimut Citra dan berniat mengendong istrinya, dan membawa paksa Citra pulang. namun Zio berhenti saat merasakan suhu tubuh istrinya begitu panas.
"sayang kamu demam, kita ke rumah sakit ya" bujuk Zio.
"tidak mau, kamu pulang sana" kata Citra masih dipendiriannya.
"tidak, kali ini mas tidak akan menuruti kemauan mu" ujur Zio langsung mengendong Citra dan membawanya ke dalam mobil.
__ADS_1
Citra yang tubuhnya memang lemas karena tidak makan dari pagi pun hanya pasrah, dan mengikuti kemauan suaminya.
cemburu membuatnya tidak dapat berpikir dengan baik, niat ingin memberi pelajaran pada suaminya yang telah melupakannya karena lagi asik ngobrol dengan mantan, tapi malah dia sendiri yang sakit karena terus kepikiran dengan suaminya yang dengan mesra mengelap bibir mantannya.