
"pagi bu" sapa Citra pada ibu nya.
"iya pagi, mau sarapan nak?" tanya Tania.
"ibu bikin apa?" tanya Citra.
"nasi goreng nak, kamu mau sarapan apa?" tanya Tania lagi.
"itu aja bu, yang lain mana, kenapa masih sepi" ujur Citra melihat meja makan pada tidak ada orang.
"lagi pada di kamar, entar juga turun" sahut Tania.
"bu, ibu tidak apa kan kalau bunda nikah sama bapak?" tanya Citra.
"iya tidak apa ci, lagian bunda kamu bisa mengubah bapak menjadi lebih baik lagi nak" kata Tania senyum.
"kok ibu senyum sendiri?" tanya Citra menatap ibunya.
"jodoh yang tertukar" kata Tania masih dalam senyum nya.
"bu, jodoh yang tertukar" ujur Citra mendekat.
"eh, kenapa nak?" tanya Tania.
"ibu yang kenapa, siapa jodoh yang tertukar?" tanya Citra penasaran.
"ya, orang tua kamu lah" sahut Tania.
"iya juga sih" ucap Citra berpikir.
obrolan kedua nya pun berhenti saat semua anggota keluarga berkumpul untuk sarapan pagi.
"bu, Rianti disini?" tanya Chelsea menatap ibunya.
"iya dia, tinggal sama bunda dan bapak di sini" sahut Tania.
"aku mau ketemu dia bu, kangen" ujur Chelsea.
"nanti ya, ibu udah bilang sama bunda Nancy untuk ajak bapak dan adik mu ke sini" kata Tania.
"bunda Nancy?" tanya Chelsea yang tidak tau kalau bapak nya menikah dengan bunda Citra dan Alfa.
"iya nak, bunda nya Citra menikah dengan bapak kamu nak" sahut Tania.
"benar, ternyata dunia itu sempit ya" ujur Chelsea menggeleng mengingat semuanya.
"sempit gimana, orang dunia luas begitu" ujur Alfa.
"iya lah sempit, coba pikir ibu menikah dengan ayah, dan bunda menikah dengan bapak, sedangkan ibu adalah mantan istri bapak dan bunda mantan istri ayah, apa coba kalau tidak sempit" ucap Chelsea dengan gaya nya.
"iya juga sih, kok bisa ya" kata Alfa melihat kedua orang tuanya.
"itu lah jodoh, yang sebenarnya" sahut Indra.
"jadi ayah sama bunda tidak jodoh?" tanya Citra.
"iya nak, tidak jodoh, karena kita berpisah" sahut Indra.
"habiskan sarapan nya, ayah sama Zio mau ke rumah Adit, nanti keburu siang lagi kita ke taman" kata Tania.
"oh iya jadi lupa" kata Zio mulai menghabiskan sarapannya.
selesai sarapan Zio sudah siapa dan mau berangkat, tapi Citra terus saja minta ingin ikut.
"sayang tinggal saja dulu ya, nanti kan kamu mau ajak kita ke pulau kamu, entar capek lagi" ujur Zio mengusap rambut istrinya.
"aku mau ikut mas" kata Citra terus merengek.
"tapi sayang, kandungan kamu udah besar, mas takut kenapa napa" ucap Zio.
"udah lah pergi sana" usir Citra.
"jangan gitu dong sayang" kata Zio menatap wajah cemberut Citra.
__ADS_1
"iya pergi sana, cepat ayah udah nunggu" kata Citra.
Zio pun turun dari kamarnya menuju ruang keluarga.
"kenapa lama zi?" tanya Indra.
"citra mau ikut yah, tapi aku larang, kan nanti mau ke makan Dimas" sahut Zio.
"ya udah kita berangkat sekarang, ada ibu yang bujuk dia" ucap Indra.
"iya yah, kita berangkat bu" pamit Zio.
"iya nak, salam buat mama dan papa ya" sahut Tania lirih mengingat cerita Citra mengenai Dimas yang sudah meninggal hampir tiga tahun ini.
"iya bu" sahut Zio.
mobil Zio pun melaju menuju kediaman papa ya. saat ingin pergi ke kantor Adit pun heran melihat putra nya dan sepupunya datang ke rumahnya.
"wah, tumben datang ke sini, pagi-pagi" ujur Adit senyum.
"papa, zi kangen" ujur Zio mencium tangan papanya dan memeluknya.
"kamu kenapa nak?" tanya Adit yang sudah tau jika Zio memeluknya pasti ada yang sesuatu.
"kita bicara di dalam dit, ada yang ingin aku dan anak mu beritahu" kata Indra.
"oh silahkan" ujur Adit mempersilahkan mereka masuk.
Adit membawa keduanya menuju ruang tengah untuk bicara.
"ada apa, kok mukanya seperti itu?" tanya Adit penasaran.
"istri kamu mana?, dia juga harus tau sekarang?" tanya Indra.
"sebentar aku panggilkan" kata Adit beranjak ke dapur dan memanggil istrinya.
"ada apa sih pa?" tanya Zahra ketika mereka sudah duduk.
"ayo zi, silahkan kamu saja yang bicara, karena kamu yang tau semuanya" kata Indra pada menantunya.
"pa, ma, kedatangan aku ke sini ingin memberitahu tentang berita duku" kata Zio membuat Zahra kaget.
"duka siapa yang meninggal?" tanya Zahra panik.
"mama yang kuat ya, Dimas ma, Dimas sudah meninggal tiga tahun yang lalu, karena kanker darah" ujur Zio membuat tubuh Zahra lemas dan Adit menatap lekat wajah putranya.
"tidak mungkin, kamu bohong kan nak" sahut Zahra tidak percaya.
"ma, aku tidak bohong, aku baru tau satu minggu yang lalu, jika Citra tidak mengajak ku ke sana aku sampai kapan pun kita tidak akan tau" ujur Zio.
"pa, Dimas pa, kenapa dia pergi tidak pamit pada kita" kata Zahra menangis.
"sabar ma, maaf kan papa yang tidak bisa menemukan Dimas" sahut Adit mencoba tegar.
"kita ke sana hari ini dit, tadi aku sudah bilang bunda dan ayah untuk ikut" kata Indra.
"iya, kita berangkat sekarang, zi bawa mama masuk ke mobil nak, papa telpon Zico dulu" ujur Adit.
mereka pun berkumpul di rumah Indra sebelum pergi ke pulau pribadi Citra, dan tidak lupa Citra mengajak bibinya untuk ke sana.
saat tiba di kantor Citra dan berjalan ke landasan pesawat mereka pun sangat heran dan ingin bertanya, namun tidak ada satu pun yang ingin mulai bertanya pada kedua orang yang membawa mereka ke sana.
sekitar tiga puluh menit di udara pesawat pun mendarat di sebuah pulau yang kecil dan indah itu.
"ini dimana ci?" tanya Tania.
"ini pulau pribadi aku bu, di sana taman kenangan nya, makam Dimas ada di belakang rumah kayu yang di dekat taman itu." kata Citra menunjukan ke arah timur pulau nya.
"kamu yang memiliki ini nak" ujur Indra tidak percaya.
"iya yah, ini dulu punya suami sahabat aku yah, dia jual dan aku yang membelinya" kata Citra.
"kenapa makam Dimas ada disini nak?" tanya Zahra lirih.
__ADS_1
"dia sahabat aku ma, dan dia minta ijin tinggal di sini, hingga suatu hari bik Ina memberitahu ku tentang penyakitnya, dan aku minta dia untuk berobat namun dia tidak mau" sahut Citra.
"aku sangat merindukan nya, dan berharap bisa memeluknya, tapi ini hanya makam nya lah yang bisa aku lihat, bukan tubuhnya" ujur Zahra kembali menangis.
"maaf kan aku ma, aku tidak tau siapa keluarga Dimas, dia tidak pernah mengijinkan aku masuk ke kamarnya kecuali bik Ina" kata Citra tidak tega mendengar kata mertuanya.
"kita ke sana sekarang" ujur Adit.
"masuk dulu pa, ini udah siang, kita makan siang dulu" ujur Zio pada papanya.
"oke deh, kalau begitu" sahut Adit merangkul istrinya.
"ci, jangan bilang ini tempat persembunyianmu" kata Chelsea.
"iya, ini tempat aku bersembunyi dan menyendiri empat tahun lalu, yang selalu di temani Dimas" sahut Citra senyum.
"kamu" kata Chelsea terputus.
"kita hanya sahabatan, tidak ada hubungan yang lebih" ujur Citra yang sudah tau pertanyaan kakaknya.
"dasar anak nakal" sambung Alfa.
"aku tidak nakal, kamu yang nakal" sahut Citra pada Alfa.
"jangan ribut" kata Tania mendengar anaknya yang mulai ingin berdebat.
bik Ina pun menyambut keluarga besar Citra dengan hormat. dan di lantai dua Vina turun bersama Vito yang mengendong putranya untuk menyambut kedatangan keluarga istri nya.
Kinara yang di ajak paksa oleh keponakanya untuk datang ke tempat ini, pun langsung menangis melihat putrinya yang tidak terlalu ia perhatikan dulu.
"sayang putri ku, kamu baik-baik saja kan?" tanya Kinara melihat seluruh tubuh putrinya.
"aku baik-baik saja mi" sahut Vina.
mata Kinara menatap wajah menantunya yang sudah memperlakukan putrinya dengan tidak hormat itu.
"maaf kan aku mi" Vito berlutut di kaki mertuanya.
"berdiri lah, jangan begini"kata Kinara melihat Vito hendak mencium kakinya.
"maafkan aku mi, atas dosa ku pada anak dan cucu mami" kata Vito menangis dan baru kali ini Vina melihat air mata seorang Vito.
"mami memaafkan mu nak" sahut Kinara tidak tega, karena dulu dia ingin menghukum menantunya dengan cara pura-pura marah pada nya, namun melihat air mata Kinara sangat takut hingga ia pun luluh seketika.
"terima kasih mi" sahut Vito memeluk mertuanya, membuat Vina ikut menangis.
"iya nak, cucu ku" kata Kinara melepaskan pelukan Vito dan beralih pada balita yang sangat lucu duduk di atas tangga.
"siapa?" tanya Al heran.
"dia nenek mu, Al" sahut Citra yang menghampiri mereka.
"Tante datang lagi, bawakan nenek untuk ku?" tanya Al.
"iya, nenek untuk Al" sahut Citra senyum.
Indra pun bernafas lega melihat adiknya yang kini telah berubah.
siang itu pun mereka makan bersama, dan setelah itu mereka pergi ke makam Dimas, dan di sana sudah ada Citra yang duduk di sebuah kursi sambil memainkan gitar.
"mama, papa" panggil Citra.
"ini makam Dimas" ujur Citra
Zahra pun langsung menangis melihat makam anaknya yang telah menyelamatkan dirinya dari penjahat waktu yang telah lalu.
mereka pun berdoa di makam itu, setelah puas mereka pun masuk ke dalam rumah kayu yang mungil namun mewah, atas seijin Citra yang merupakan orang yang telah memegang janji pada Dimas selagi dia hidup dulu.
"terima kasih nak, telah merawat dan menjaga makam Dimas dengan baik" ujur Zahra pada menantunya.
"iya ma, tapi bik Ina lah yang selalu merawat peninggalan Dimas ma, dan dia lah yang selalu membersihkan makam Dimas, sudah tiga tahun ini aku tidak pernah ke taman kenangan ini lagi ma, karena terlalu sakit untuk mengingatnya" sahut Citra menunduk.
"kenapa sayang?" tanya Zahra.
__ADS_1
"Dia orang baik, banyak kenangan indah aku bersama dia ma" sahut Citra.
hari pun telah sore mereka pun bersiap untuk kembali ke Jakarta lagi, setelah tadi Citra mengajak mereka berjalan di sekitar pulaunya.