
Asma tinggal di Apartemen tidak jauh dari rumah sakit Gio itu memudahkan nya untuk pulang dan pergi .Karna memikirkan ucapan Bara kemarin membuat Asma stres memikirkan jika nanti Bara mengambil anak nya secara Bara cukup berkuasa sedangkan Asma hanya orang biasa Asma tidak bisa jauh dari Leon apa lagi harus berpisah Asma tidak mau itu.Seperti biasa Leon sudah terbiasa bersiap sendiri berangkat sekolah itu juga Asma mengajarkan nya untuk hidup mandiri setelah rapi memakai baju sekolah Leon menuju kamar mama nya yg di sebelah karna kamar mereka terpisah karna Leon yg meminta dia malu sama Nur jika harus tidur dengan mama nya karna Nur pun sudah tidur terpisah dengan orang tua nya.Leon membuka pintu kamar Asma ingin mengagetkan Asma tapi Leon memperhatikan raut wajah mama nya yg masih terlelap dengan air mata wajahnya nampak gelisah di saat Asma tertidur Leon menyentuh kening mama nya
"Mama sakit"ucap Leon memeluk mama nya
"Sayang udah siap"ujar Asma pelan
"Leon ngak mau lihat mama sakit badan mama sakit Leon akan telpon papa untuk pulang kerja untuk merawat mama"ujar Leon dengan raut sedih Leon sudah di jelaskan Asma saat Leon bertanya kenapa Gio tidak pernah tinggal bersama nya seperti orang tua teman nya Asma menjelaskan jika Gio sibuk kerja di rumah sakit untuk menolong orang
"Ngak usah sayang"ucap Asma pelan
"Mau telpon papa"ujar Leon memeluk leher Asma
"Mau telpon papa ma jika ngak Leon ngak mau berangkat sekolah"ujar Leon merengek jadi dengan terpaksa Asma mengambil ponselnya menghubungi Gio
"Assalamualaikum papa"ujar Leon
"Waalaikum salam"ujar Gio di telpon
"Papa pulang lah mama sakit badan nya panas Leon ngak mau lihat mama sakit"ujar Leon
"Mama sakit oke tenang tampan papa akan segera pulang"ujar Gio lalu sambungan telponnya terputus
"Pasti kepikiran sama ucapan Bara kemarin"ucap Gio menatap telepon nya
"Leon"ujar nyonya Altaf
"Iya ma kemarin itu Bara mendatangi Asma bilang mau menanyakan anak nya dulu mama tau kan Asma seperti apa dia ngak mau bilang jadi Bara mengancam jika Leon terbukti anak nya Bara akan mengambil Leon"jelas Gio
"Mending kamu ajak lagi Asma nikah siapa tau dia mau dengan keadaan terdesak ini"ujar nya
"Ma aku ngak mau mengambil kesempatan ini aku mau menikahi Asma itu memang dari keputusan hati nya "ujar Gio
"Ya sudah cepat berangkat periksa Asma"ucap mama nya lagi
"Siap ma"ujar Gio tersenyum lalu beranjak pergi nyonya Altaf memang merestui Asma tapi Asma yg tidak mau menerima lamaran Gio yg mengajak nya menikah karna Asma masih sedikit trauma karna pernikahan nya yg dulu
"Leon tunggu di depan gih papa mau periksa mama dulu"ujar Gio mendekati Asma
"Ya pa"ujar Leon keluar dari kamar Gio mulai memeriksa Asma
"Cemas mikirin apa"ucap Gio menatap Asma tapi Asma hanya diam menatap wajah Gio
"Asma aku tau khawatiran mu tapi tenang kamu tidak sendiri kamu punya keluarga Karten dan kamu punya aku"ujar Gio serius
"Mari kita menikah"ucap Asma serius dan seketika Gio tertawa
"Kamu di kejar mimpi aku lamar ya"ujar Gio tertawa
"Aku serius"ujar Asma lalu duduk
"Aku ngak mau jika Bara tau Leon anak nya dia akan mengambil Leon jika kita menikah dia tidak akan mampu lagi mengambil Leon"ujar Asma
"Aku mohon aku ngak mau kehilangan Leon"ujar Asma terisak
"Asma"ujar Gio megengam tangan Asma
"Meski kita tidak menikah Leon akan tetap bersama mu aku ngak mau menikahi mu karna kamu terdesak aku mau kamu menerima aku dari hati "ujar Gio
"Kamu istirahat saja nanti ada orang mengantar kan obat untuk mu aku yg akan mengurus Leon kamu istirahat saja"ujar Gio lalu beranjak pergi Asma hanya mampu menahan Isak tangis nya
"Leon mari papa antar mama masih istirahat"ujar Gio
"Mama baik kan pa"ujar Leon cemas
"Iya sayang ayo biarkan mama istirahat nanti kamu telat"ujar Gio tersenyum lalu mengandeng Leon untuk berangkat ke sekolah
####
Syifa menuju sekolah anak anaknya untuk menjemput anak anak tapi jalan sedikit macet membuat Syifa cemas karna pasti anak anak nya akan menunggu dengan lama.Di sekolah Nur Arsyif dan Leon menunggu jemputan lalu ada Bara mendekati mereka
"Hai Leon"ujar Bara dengan tersenyum
"Assalamualaikum om"ujar ketiganya membuat Bara malu sendiri
"Leon nunggu jemputan ya"tanya Bara mengelus kepala Leon
"Iya om bentar lagi bunda akan jemput sama kayak papa nya Leon"ujar Arsyif sopan tapi mata nya meneliti gerakan Bara
__ADS_1
"Aww om sakit"keluh Leon mengelus kepalanya karna bara mengambil rambut Leon
"Ohh maaf ya Leon"ujar Bara tersenyum
"Gimana biar om aja yg antar kamu pulang"ujar Bara
"Tidak"ucap Arsyif
"Ohh maaf om maksud Arsyif tidak boleh karna nanti jika om Gio jemput tidak ada Leon dia akan cemas kasihan om Gio nya"ujar Arsyif dengan tersenyum ramah
"Tapi om ini kenal kok sama papa"ujar Leon berbisik
"Leon kata bunda kita tidak boleh ikut orang sembarangan lagian emang ngak kasihan sama om Gio nanti cariin Leon"ujar Nur
"Tapi Leon pingin cepat pulang mama Leon sakit"ujar Leon sedih
"Nur Arysif Leon"panggil Syifa segera mendekati anak anak
"Bara kamu ngapain"ujar Syifa
"Hanya menjemput Leon"ujar Bara santai
"Leon siapa nya kamu ingin menjemput nya nanti ada papa nya yg akan menjemput nya"ujar Syifa
"Justru itu aku mau nolong Gio untuk meringankan beban nya hanya ingin mengantar Leon pulang"ujar Bara
"Om kenapa bohong sih Arysif tadi lihat om ambil rambut Leon sampai Leon kesakitan bundaa bilang ngak boleh bohong nanti dosa "ujar Arsyif
"Bara kamu jangan macam-macam ya"ujar Syifa
"Aku hanya ingin memastiksn Syifa"ujar Bara
"Semua sudah terlambat Bara kamu tidak akan bisa menemukan kebahagiaan mu"ujar Syifa serius
"Leon ikut aunty pulang aja ya nanti aunty telepon deh papa Leon bukan kah bentar lagi Leon mau nganji bareng Nur dan yg lain"ujar Syifa tersenyum
"Iya aunty"ujar Leon lalu mereka pergi
"Bunda om itu ambil rambut nya Leon buat apa sih kok Arysif penasaran aja"ujar Arsyif saat mereka sampai di dalam mobil
"Arysif mau cepat dewasa deh biar semua nya tau bosan jika nanya apa apa pasti nunggu dewasa kayak Arysif nanya sama ayah mencium leher bunda kenapa Arysif ngak boleh"ujar Arysif serius Syifa mengaruk kepalanya Arsyif ini sangat beda dengan Nur Arysif terlalu banyak bertanya dan saat di jawab harus ada alasannya berbeda dengan Nur saat Syifa menjelaskan Nur akan menerima nya tidakk kayak Arysif
"Arysif banyak tanya ayah bilang ada saat nya kita ngak boleh tau masalah orang dewasa"ujar Nur cemberut
"Arysif hanya ingin tau kok"ujar Arsyif
"Aunty Leon mau cepat pulang mau lihat mama yg sakit"ujar Leon
"Hah Asma sakit kenapa dia"gumam Syifa
"Oke oke tapi aunty kirim pesan sama papa Leon dulu ya biar papa Leon ngak jemput setelah itu kita meluncur"ujar Syifa tersenyum setelah dia memberi tau Gio jika dia yg menjemput Leon Syifa segera meluncur ke alamat Asma
Syifa menatap wajah Asma yg bercerita soal masalah nya dengan membuat makan siang untuk mereka Syifa terus memperhatikan Asma dengan sesekali meneguk teh yg Asma buatkan sedang kan anak anak mereka lagi belajar di kamar Leon
"Kamu masih mencintai Bara"ujar Syifa santai meneguk teh nya
"Maksud mu"ujar Asma menatap Syifa
"Aku ini sahabat kamu Asma kita sudah lama berteman aku bisa melihat ekspresi mu jika kamu masih mencintai Bara"ujar Syifa tersenyum kecil
"Kayak nya aku sudah mendapatkan jawaban kenapa kamu selalu menolak Gio itu karna kamu masih mengharapkan Bara"ujar Syifa lagi membuat Asma terdiam dia kembali melanjutkan membuat telur ceplok mengisi piring dengan nasi
"Ingat Asma emang kamu mau menjadi duri di rumah tangga Bara kamu tau kan hukum nya apa Bara itu sudah punya Istri dan aku jamin Shopi tidak mudah bercerai dengan Bara"jelas Syifa
"Apa yg kamu tunggu Asma Gio pria yg baik aku yakin dia bisa menjadi imam untuk mu"ujar Syifa lagi
"Tapi aku ingin Leon merasakan kasih sayang dari ayah kandung nya"lirih Asma meletakkan piring di depan Syifa
"Tidak itu bukan lah demi Leon tapi untuk mu sendiri Asma Gio juga menyayangi Leon seperti anak nya sendiri"ujar Syifa
"Bujang lebih baik dari pada suami orang"kekeh Syifa
"Ya memang aku masih mencintai Bara"ujar Asma pelan
"Dulu aku setiap bertemu Gio bisa melihat cinta nya di mata saat menatap ku tapi ekarang tidak dia begitu mencintai mu setiap dia menatap mu percaya itu"ujar Syifa
"Coba lah menerima Gio Bara sudah punya istri"ujar Syifa
__ADS_1
"Tapi jika Bara mengambil Leon bagaimana yg ada Leon akan sulit menerima punya 4 orang tua"ujar Asma
"Asma Leon itu butuh kamu dan Gio bukan keluarga Adirata paling jika Bara menyayangi Leon belum tentu Bara bisa merawat Leon karna dia sibuk bekerja dan jika Shopi aku tidak yakin begitu pun nyonya Adirata"jelas Syifa lalu menepuk tangan Asma
"Pikirkan lagi ucapan ku Asma kamu butuh Gio dan hati mu butuh menata nama Gio bukan Bara hapus nama Bara"ujar Syifa tersenyum lalu berlalu untuk memanggil anak anak mau untuk makan
"Assalamualaikum"ujar Gio duduk di depan Asma
"Waalaikum salam"ujar Asma
"Sehat"ujar Gio menuangkan air putih
"Alhamdulillah"ujar Asma singkat
"Ohh ya mama mau ajak Leon ke rumah hari ini setelah dia pulang mengaji nanti dan setelah selesai aku akan mengantar nya pulang"ucap Gio
"Iya"ucap Asma singkat
"Papa"panggil Leon berlari dan memeluk Gio dengan senang
"Udah belajar"ucap Gio tersenyum mengecup wajah Leon
"Udah dong"ucap Leon tersenyum
"Papa tadi Leon ketemu lagi sama om yg kemarin bersama mama Leon kesakitan tapi kata Arysif itu karna om itu mengambil rambut Leon "ucap Leon memeluk leher Gio
"Ohh ya"ujar Gio tersenyum mengusap kepala Leon lalu menduduk kan di pangkuan nya
"Leon makan dulu ya biar cepat tumbuh sehat"ujar Gio menarik piring nya
"Jangan lupa baca doa"ujar Asma menatap anak nya Leon segera mengakat tangan nya untuk berdoa di ikuti Nur dan Arysif ikut makan
"Seperti nya Bara sudah mulai melakukan tes DNA apa yg harus aku lakukan untuk mempertahankan Asma dan Leon"batin Gio mengecupi kepala Leon
"Asma lihat kan Gio itu menyayangi kalian berdua itu dengan setulus hati "bisik Syifa
"Aku tidak tau"gumam Asma menunduk
"Om Gio tadi bu guru tanya cita cita kami semua kan tapi Leon bilang mau jadi kayak om Gio jadi seperti om Gio yg jadi dokter nolong orang"ujar Nur semangat
"Bagus itu Nur dan Arsyif cita cita nya apa"tanya Gio dengan tersenyum
"Bunda jadi kayak ayah itu enak ngak sih kan ayah sering tuh perintah perintah pasti menyenangkan semua permintaan di lakukan jadi Nur mau jadi kayak apa tapi apa nama nya"ucap Nur bertanya
"Sayang ayah itu seorang Presdir perusahaan meski dia memerintah banyak tanggung jawab harus ayah ambil ayah kan pemimpin jadi harus adil dalam memimpin perusahaan semua itu karna kerja sama ayah dan om Arkan mereka kan saudara saling melengkapi jadi Nur dan Arysif juga harus kayak gitu saling melengkapi sebagai suadara"jelas Syifa tersenyum mengusap kepala Nur
"Arysif ngak mau jadi kayak ayah"ucap Arysif menyelesaikan makan nya
"Kenapa"ucap Syifa heran
"Arysif ngak mau jadi seperti ayah Arysif hanya ingin hidup apa yg Arysif ingin kan di jalan kebenaran jika Arsyif jadi seperti ayah maka Arsyif akan terikat"ujar Arsyif dengan menunduk
"Arysif sebagai manusia kita harus memiliki hati yg mulia dan selalu ada di jalan yg benar Arsyif boleh kok jadi apa saja yg penting Arsyif berada yg jalan yg benar"ucap Syifa merangkul anak nya
"Ayah bilang Arsyif harus jadi seperti ayah menganti kan ayah Arysif tidak suka"ujar Arsyif menatap Syifa
"Ngak kok bunda akan bilang nanti sama ayah ya"ucap Syifa memeluk anak nya
"Semua nya boleh bercita cita tapi yg bagus ya yg bermanfaat untuk manusia "ucap Gio tersenyum
"Kayak papa ,bu guru bilang dokter orang yg mulia"ujar Leon menatap Gio
"Bukan orang mulia tapi pekerjaan nya yg mulia papa hanya manusia banyak dosa"ucap Gio tersenyum
"Cepat habis kan makanan nenek sudah menunggu"ucap Gio mencubit pipi Leon
"Ketemu sama nenek"ujar Leon kegirangan
"Iya kayak nya nenek sudah sangat merindukan bermain sama Leon jadi Leon ngaji dulu setelah itu papa jemput ketemu sama nenek"ujar Gio
"Ye ketemu sama nenek"ucap Leon bersorak
"Mama ngak ikut ya kan mau istirahat"ujar Asma
"Iya ma"ujar Leon dengan tersenyum senang
"Kita juga harus cepat pulang biar ngak telat ngaji nya"ucap Syifa tersenyum pada anak anak nya
__ADS_1