Jodohku Seorang Presdir

Jodohku Seorang Presdir
Meniduri istri nya


__ADS_3

Zenap menemani Syifa mengobrol banyak hal apa lagi soal tokoh selama di tinggal Syifa semua baik tapi saat di tinggal Zahra mereka sedikit kesusahan apa lagi hanya ada Asma dan Aulia pasti mereka sedikit kesusahan dan kekurangan tenaga Syifa memikirkan mau bagaimana dengan tokoh nya itu.Syifa juga selain doyan makan dia gampang sekali tertidur seperti sekarang ini jam baru menunjukkan pukul 10 pagi tadi dia sudah mengantuk ingin tidur jadi Syifa meninggalkan Zenap sendiri .Zenap kebingungan harus melakukan apa lalu dia melihat lantai nya sedikit kotor Zenap berinisiatif mengepelnya


Maya menentang tas nya karna dia ada pertemuan penting dia melirik kamar Arkan dia berharap anak nya segera sembuh dan bahagia bersama Zenap tidak ingin ikut campur Maya berlalu menuruni tangga dan dia terkejut melihat Zenap mengepel


"Zenap"sentak Maya membuat Zenap menoleh


"Iya ma"ucap Zenap


"Kamu ngapain"ucap Maya datar


"Ngepel ma lantai nya tadi sedikit kotor"jelas Zenap tepat nya dia mencari kesibukan


"Kamu ini gimana sih suami tidak kerja itu di temani bukan malah kayak gini"kesal Maya dia benar kesal sekarang


"Maaf ma tadi aku nemani kak Syifa pak Arkan juga kata nya mau tidur aja"ujar Zenap menjelaskan dia sudah ketakutan melihat Maya


"Mana bagian kebersihan"teriak Maya marah tanggung jawab mengurus rumah Karten itu mendekat


"Ada apa nyonya"tanya nya


"Kenapa bisa lantai nya bisa kotor mereka kerja kan"murka Maya


"Maaf nyonya mungkin mereka lalai"ucap nya


"Ini yg terakhir jika sekali lagi mereka melakukan keselahan saya akan memecat mereka"tegas Maya


"Iya nyonya"ucap nya patuh Maya mengeluarkan ponselnya menghubungi Arkan dia benar kesal Arkan tidak mendengar kan ucapannya


"Maafkan aku ma ini salah ku lain kali tidak lagi"ucap Zenap menunduk dia takut pada Maya akan marah besar karna diri nya


"Ada apa ma"ucap Arkan datang dengan baju santai Maya memberi isyarat pada tangannya untuk pengurus rumah itu pergi


"Kamu tidak mendengar kan perkataan mama"ucap Maya lalu Arkan menoleh pada Zenap


"Kenapa hah"bentak Maya emosi


"Ma bisa lain waktu kan"ujar Arkan


"Terserah pada mu itu istri mu terserah kamu mau gauli apa tidak mama pusing mama hanya ingin kamu hidup normal Arkan"ucap Maya pusing lalu berlalu Arkan terdiam


"Pak Arkan maafkan aku karna aku bapak di marahi mama"ucap Zenap


"Tidak"ucap Arkan


"Ayo"ajak Arkan ke kamar Arkan benar gusar sekarang ini dia tidak ada kemauan sama sekali untuk meniduri Istri nya entahlah dia merasa dia sudah sembuh karna tertarik pada Zenap tidak mungkin dia Gay lagi Arkan benar gelisah


"Pak Arkan kenapa"tanya Zenap saat mereka sampai kamar


"Sini"ucap Arkan menepuk kasur di samping nya dengan cepat Zenap duduk di samping Arkan


"Kenapa pak"tanya Zenap menatap Arkan


"Tidak ada"ujar Arkan menatap mata Zenap dia ingin bercerita pada Zenap jika dirinya tidak lah normal tapi Arkan takut Zenap akan pergi dari nya Arkan tidak mau itu


"Pak ada apa"tanya Zenap lagi Arkan masih menatap wajah Zenap mendekat kan wajahnya membuat Zenap reflek memundurkan tubuhnya tapi Arkan menahan punggung Zenap dengan pelan lalu dia menindih Zenap dengan pelan Zenap sangat gugup dia menatap wajah Arkan yg akan mencium nya lalu Zenap menahan dada Arkan


"Jika tidak dari hati jangan lakukan pak "ucap Zenap menghentikan pergerakan Arkan


"Aku hanya seorang istri bukan maksud ku ingin menolak tapi tolong jangan lakukan dengan keterpaksaan tapi dengan hati "ucap Zenap serius Arkan terdiam apa Zenap bisa menafsirkan ekspresi nya saat ini jika tidak terpaksa


"Pak Arkan"ucap Zenap melihat Arkan bengong


"Pak Arkan tau kan maksud ku aku juga tau jika pak Arkan terpaksa jangan lakukan pak aku ingin bapak melakukan karna benar menginginkan aku hati bapak benar ingin memiliki ku"ucap Zenap tersenyum manis


"Temani aku"ucap Arkan tersenyum lalu berbaring di sebelah Zenap memeluk Zenap dari belakang membenamkan wajahnya di tengkuk Zenap membuat Zenap meremang Zenap menetralkan detak jantung nya dengan memejamkan mata nya tapi pelukan hangat itu membuat nya nyaman sampai dia tertidur


###


Tidak terasa kehamilan Syifa sudah menginjak 9 bulan membuat Arka semakin posesif karna Arka tidak mau Syifa mengalami hal yg tidak dia ingin kan apa lagi Syifa mengandung bayi kembar.Zenap dan Arkan juga seperti biasa Zenap membiarkan Arkan melakukan apa saja tidak menuntut Arkan meminta hak nya Zenap menyadari jika di paksa nanti nya tidak baik ke depannya dia harus banyak bersabar untuk di buka kan pikiran dan hati Arkan setiap malam juga Zenap selalu melakukan usaha untuk meningkatkan nafsu Arkan supaya Arkan bisa merasakan nya tapi percuma itu semua sia sia


"Syifa kamu jangan banyak bergerak"ucap Arka menahan Syifa ingin berdiri


"Mas ini gimana sih aku harus banyak bergerak biar lahirnya cepat"kesal Syifa Arka selalu khawatir pada nya


"Lihat lha perut mu sangat besar aku takut kenapa -napa"ucap Arka cemas


"Kan ada dua nyawa mas"ucap Syifa


"Pokoknya kamu di sini aja"ujar Arka lalu mengusap perut Syifa mengecup nya sayang


"Mas kan hari libur temani aku olahraga ya biar sehat begitupun lahiran nya lancar"ucap Syifa tersenyum


"Olahraga apa takut nya nanti kamu kecapekan"ucap Arka mengusap rambut Syifa


"Keliling komplek aja mas"ucap Syifa karna juga masih pagi dia harus rutin berolahraga biar lahiran nya lancar


"Ya udah tapi sarapan dulu ya"ujar Arka lembut


"Iya suami ku"ucap Syifa tersenyum

__ADS_1


"Ya udah tunggu sebentar aku ambilin jilbab kamu dulu"ucap Arka lalu beranjak memang Arka semenjak Syifa hamil besar dia memperlakukan Syifa seperti ratu.Setelah memakai jilbab Syifa di bantu Arka menuju meja makan dengan Arka memegang tangan Syifa dan pinggang Syifa menjaga istri nya dengan sangat baik


"Mau makan apa"tanya Arka tersenyum


"Sama kayak mas aja"ucap Syifa duduk dengan pelan lalu Arka mengambil makanan mereka


"Mama tuh sedih lihat adik kamu kayak gitu meski dia udah nikah tapi kenapa penyakit itu tidak mau menghilang mama juga kasihan pada Zenap harus punya suami seperti Arkan"ucap Maya menghembuskan nafasnya kasar


"Ma percaya aja Zenap iklas kok menghadapi Arkan"ucap Syifa menenangkan


"Iya mama tau cuman mama"ucap Maya pusing


"Mama tenang semua tetap baik baik saja percaya"ucap Arka menenangkan


"Ini soal kesabaran aja bukti nya Zenap sabar hidup bersama Arkan beberapa bulan ini"ucap Arka lagi


"Mama kasihan aja dan Zenap jika tiba-tiba dia selingkuh bagaimana adik mu terlalu kaku"ucap Maya cemas


"Tenang"ucap Arka lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya


"Mas mau meracuni siapa"ucap Syifa melihat Arka memasukkan sesuatu ke nasi goreng itu


"Zenap udah sarapan apa belum"tanya Arka


"Udah dia lagi nyiram tanaman"ucap Maya


"Pas banget aku masukin ini obat perang****"ucap Arka cekikikan


"Mas"ucap Syifa


"Dengar Arkan akan memakan ini dan kita nanti lihat bagaimana reaksinya siapa tau itu bisa berbuah manis"ucap Arka tersenyum


"Mas kasihan Arkan nya"ucap Syifa


"Udah tenang ini aman lagian dia udah punya istri"ucap Arka tersenyum


"Tuh Arkan udah bangun"ucap Maya melihat Arkan turun tangga


"Bik panggil Zenap bilang suami nya mau makan"ucap Maya pada pembantu


"Baik nyonya"ucap nya patuh


"Wih udah duluan aja makan nya"ujar Arkan lalu duduk


"Iya dong makan ala romantis sepiring berdua"ujar Arka tersenyum menyuapi istri nya


"Zenap mana"tanya Arkan


"Pak udah sarapan mau aku ambilin"ujar Zenap mendekat


"Ngak usah aku bisa makan sendiri ini udah cukup"ucap Arkan tersenyum Zenap hanya manggut-manggut lalu dia duduk menegak kan air putih


"Emm hari ini aku ketokoh lagi ya pak bosan di rumah tidak ada kerjaan"ucap Zenap izin


"Boleh"ucap Arkan santai


"Apa ngak kalian jalan aja ya kamu kan sangat sibuk Arkan"ucap Arka santai


"Istirahat aja kak aku sangat capek"ucap Arkan menghabiskan nasi nya lalu meneguk air putih


"Nanti kapan kapan aku ajak Zenap jalan"ujar Arkan


"Jika sibuk ngak papa pak "ucap Zenap tersenyum


"Kok aku merasa gerah ya"ucap Arkan meneguk air putih lagi melihat itu Maya pura pura memainkan ponselnya dan Arka pura pura sibuk dengan Syifa


"Mau aku ambilin air dingin"tawar Zenap


"Boleh"ucap Arkan , Zenap segera menuju kulkas untuk mengambil air dingin setelah itu kembali ke arah meja makan memberikan pada Arkan


"Makasih"ucap Arkan menegak kan minuman dingin tapi itu sia sia karena dia merasa panas sampai air satu botol itu habis


"Masih gerah"ucap Arkan gelisah


"Mandi jika gerah Arkan"ucap Maya santai


"Aku habis mandi ma"ujar Arkan dia jadi gusar


"Sangat panas pak "tanya Zenap dengan polos melihat Arkan gelisah


"Iya malah banget"ucap Arkan


"Perasaan biasa aja deh pak"ucap Zenap melihat sekitar Arkan benar merasa gerah dan panas dia bingung ada apa dengan nya


"Mau aku ambilin air lagi pak"ucap Zenap


"Boleh"ucap Arkan lalu Zenap mengambil botol air di tangan Arkan otomatis tangannya menyentuh jemari Arkan dan dia segera berlalu tiba tiba perasaan aneh merasuki Arkan dia menegang meneguk ludahnya dengan kasar melihat punggung Zenap tiba tiba punya nya menegang Arkan kembali minum melihat wajah Arkan merah Arka hanya tersenyum kecil


"Ini pak"ucap Zenap menyerah kan botol minum itu nafas Arkan memburu lalu tiba tiba dia memeluk punggung Zenap lalu mencium bibir Zenap melihat reaksi itu membuat semua tidak percaya

__ADS_1


Brak


Botol air yg di pegang Zenap terjatuh menatap Arkan yg mengusap bibirnya sendiri semua pura pura tidak melihat Zenap melihat sekitar tentu dia malu apa yg di perbuat Arkan yg tidak biasa nya tapi belum sempat dia bereaksi Arkan kembali lagi mencium bibir itu malah ini lebih Arkan mengerak kan bibirnya


"Hei jangan di lihat"bisik Arka memegang pipi Syifa


"Mas aku takut nanti Arkan melukai Zenap"bisik Syifa


"Aish pasti Arkan akan menusuk nusuk Zenap sampai Zenap tekulai lemas"ucap Arka tersenyum mengecup pipi istri nya yg cemberut menatap nya


"Pak"ucap Zenap pelan


"Maaf"ucap Arkan berdiri


"Ikut aku kekamar sekarang"ucap Arkan lalu menarik tangan Zenap


"Ya seperti nya berhasil"ucap Arka tersenyum lebar


"Mama ngak nyangka obat itu bisa perpengaruh"ucap Maya tersenyum bahagia


"Tapi setelah Arkan sadar dia ngak akan lagi memberi Zenap hak nya meski Arkan mencintai Zenap tapi kayak Zenap tidak pernah di cintai Arkan"ucap Syifa


"Iya benar juga jika Arkan sadar dia tidak akan melakukan nya lagi masak iya kita akan memberi obat itu terus"ucap Maya


"Urusan itu kita lihat nanti ma siapa tau jika Zenap hamil bisa merubah perilaku Arkan"ucap Arka


"Iya semoga aja"ucap Maya tersenyum


Saat sampai kamar Arkan benar tidak bisa menunda lama lama dia menatap Zenap yg menunduk malu Arkan juga bingung apa sebenarnya terjadi pada nya dia memeluk pinggang Zenap memegang wajah Zenap membuat Zenap benar gugup jantung nya terasa akan copot


"Pak Arkan"ucap Zenap gugup tentu gugup itu kali pertama Arkan melakukan itu


"Sstt aku suami mu bukan"ucap Arkan berat


"Izinkan aku melakukan semua nya"ucap Arkan lagi lalu mencium bibir Zenap sedikit agresif Zenap gugup tapi dia tidak bisa menolak Arkan sudah meminta izin pada nya Zenap tidak bisa berfikir dengan jernih mungkin ini saat nya dia menyerahkan diri pada suami gay nya paling ini juga terakhir kali .Arkan terus menjamah bibir istri nya lalu mengakat tubuh Zenap memeluk punggung itu dengan erat bibirnya terus menjamah dengan pelan Zenap mengankat tangannya lalu memeluk punggung Arkan merasakan itu membuat Arkan benar gila dia segera menuju kasur membaringkan Zenap dia seperti benar tidak bisa mengenali dirinya sendiri


"Astaghfirullah"ucap Arkan menahan dirinya biar tidak menyakiti Istri nya Zenap menatap Arkan


"Ya Allah apa yg terjadi"ucap Arkan dia benar frutasi apa lagi saat melihat Zenap


"Maafkan aku"ucap Arka lalu membuka baju nya menarik jilbab Zenap dia segera mencium bibir Zenap lagi awal nya Zenap menerima itu dia memeluk punggung Arkan tapi saat merasakan ciuman ganas Arkan Zenap menunjuk kan penolakan nya dia memukul punggung Arkan dengan pelan


"Apa ,ini sangat manis jangan menghalangi aku"ucap Arkan menatap wajah Zenap


"Sakit bapak mengigit bibir ku seperti kue


"keluh Zenap tapi Arkan tidak peduli dia memegang tangan Zenap diatas kepala Zenap melihat itu Zenap waspada dia jadi memberontak


"Please Zenap aku mencintaimu please"ucap Arkan berat


"Aku takut kamu seakan memaksa ku"ucap Zenap takut


"Aku mencintaimu aku mencintaimu"ucap Arkan memegang wajah Zenap menyatukan kening mereka melihat ketidak berdayaan Arkan membuat Zenap meluluh


"Aku takut"ucap Zenap memegang tangan Arkan


"Jangan takut aku di sini"ucap Arkan menatap mata Zenap membuat Zenap meluluh dengan tatapan itu melihat Zenap tenang Arkan kembali mencium bibir Zenap yg terasa berbeda rasanya Arkan ingin mengigit bibir itu dengan pelan Arkan melepaskan gamis Zenap merasakan kecupan Arkan membuat Zenap merasa nyaman


"Pak geli"lirih Zenap sedikit mengakat kepala nya saat Arkan menyentuh dadanya tapi Arkan sudah kabut dia memberi jejak di dada Zenap membuat Zenap melengkuh Arkan merasa terbang saat mendengar lengkuhan Zenap dia menyapu dada Zenap


"Pak"lengkuh Zenap mencengkram baju Arkan


"Ya Zenap"ucap Arkan tersenyum lalu memberi jejak lagi di leher Zenap


"Pak Arkan"lengkuh Zenap lagi dia benar gelisah di bawah sana sudah terasa basah


"l love you my wife"bisik Arkan mencium telinga Zenap membuat buluu kuduk Zenap meremang Zenap masih sempat tersipu malu lalu menatap wajah Arkan


"Imam ku"ucap Zenap tersenyum lebar mengulurkan tangannya dia malu sendiri memeluk Arkan wajah nya memerah tapi dia salah perkataan itu ternyata membuat Zenap bisa rileks sampai


"Aghh pak Arkan sakit"teriak Zenap memeluk Arkan dengan erat


"Ini hanya sebentar"ucap Arkan mencium bibir Zenap punggung nya mulai bergerak membuat Zenap memukul punggung Arkan sungguh rasanya sangat sakit Arkan memaksa masuk bahkan hentakan itu tidak lah lembut dia tidak sabaran


"Pak Aekan hentikan sakit"teriak Zenap saat ciuman itu lepas Arkan kembali mencium bibir Zenap membiarkan punya nya amblas tubuh mereka sudah menyatu sempurna


"Hiks hiks bapak tau ngak rasanya sakit banget"ucap Zenap tersedu


"Maafkan aku tapi tapi"ucap Arkan menyeka air mata Zenap


"Maafkan aku"lirih Arkan lagi lalu mulai mempercepat gerakannya Zenap bisa menerima apa lagi merasakan cumbuan Arkan Zenap hanya memeluk punggung Arkan bahkan saat dia lepas tidak lama rahim Zenap merasakan kehangatan membuat Zenap benar lemas sama hal dengan Arkan keringatnya mulia bercucuran Arkan mengatur nafasnya


"Pak capek"keluh Zenap pelan


"Sstt aku belum merasakan kepuasan"ucap Arkan


"Apa ,maksud bapak"ucap Zenap melotot tapi Arkan kembali mencumbu nya membuat Zenap tidak bisa bicara dan Arkan kembali memacu dengan cepat Zenap hanya mampu berteriak dengan suaminya gay nya


"Hah hah hah pak hentikan"lirih Zenap terengah-engah itu sudah dua rmede mereka lewat kan

__ADS_1


"Rasanya sungguh menakjubkan ini yg nama nya surga dunia"ucap Arkan menahan tubuhnya lalu kembali mencumbu Zenap mengulang nya lagi Zneao benar capek melayani suaminya gay nya yg tiada henti menggempur nya bahkan sesuatu yg tumpul itu semenjak masuk belumn sama sekali keluar dari punya Zenap sesuatu itu terus menyembur tiada henti bibir itu selalu membuat Zenap berteriak tidak karuan bahkan Arkan sangat tidak memikirkan diri nya terus memacu diri nya sampai Zenap mencapai 8 ronde akhirnya Zenap menyerah dan akhirnya pingsan tapi itu tidak membuat Arkan berhenti dia terus mengauli istri nya menemukan suatu keindahan tersendiri


__ADS_2