Jodohku Seorang Presdir

Jodohku Seorang Presdir
Buta selama nya


__ADS_3

Arka pulang ke rumahnya untuk membersihkan badan nya setelah itu Arka melihat pekerjaan nya yg dia tinggalkan kemarin, setelah itu Arka membuka laci bagian bawah melihat kontak merah itu cincin pernikahan nya yg sengaja tidak dia pakai di jari nya Arka menatap seksama cincin itu dia sudah bertekad akan memulai dari awal hubungan nya dengan Syifa meski dia mencintai Nara dia akan mencoba menerima Syifa dan melupakan Nara


"Sekarang hanya Syifa"gumam Arka melepaskan cincin nya dengan Nara dan memakai cincin kawinnya, setelah itu Arka memasukkan cincin Nara ke kotak merah dan membawa nya dan pergi.Tujuan Arka adalah Apartemen setelah menekan password pintu Arka masuk melihat tidak ada keberadaan Nara


"Nara"panggil Arka melihat sekitar


"Hap emm Arka aku merindukan mu"ucap Nara memeluk Arka dari belakang


"Aku mau bicara hal serius"ucap Arka serius


"Bicara saja"ucap Nara tersenyum bergelayut di leher Arka


"Bisa lepas"ucap Arka melepaskan lengan Nara dari leher nya


"Nih"ucap Arka memberikan kotak merah itu


"Aku kembali kan cincin kita"ucap Arka


"Maksud kamu"ucap Nara mengambil dan membuka kotak merah itu


"Aku sudah sering menyakiti Syifa memukul nya membentak nya bahkan aku mengorbankan nya untuk keselamatan mu dia juga mengorbankan dirinya untuk ku "ucap Arka terjeda


"Aku ingin memulai hidup baru bersama nya aku ingin menerima nya apa ada nya meski dia buta sakali pun"ujar Arka melanjutkan ucapannya


"Ohh Syifa buta jadi kamu hanya ingin menebus kesalahan mu karna dia sudah menyelamatkan mu dan kita masih bisa berhubungan"ucap Nara


"Tidak aku ingin mengakhiri hubungan kita aku ingin menerima Syifa segenap hati ku"ucap Arka


Plak


"Apa maksudmu"ucap Nara menampar Arka


"Aku ingin memutuskan semua hubungan kita"ujar Arka menahan pipinya


"Dasar brengsek lalu kenapa kamu memberi aku janji manis mu jika kamu mau meninggalkan aku hah"teriak Nara mencengkram baju Arka menggoyang kan tubuh Arka


"Mungkin kita emang bukan di takdir kan untuk bersama Nara dua kali kita mencoba mau menikah tapi gagal"ucap Arka


"Aku harap kamu bisa menerima keputusan aku Nara "ucap Arka lagi


"Tidak Arka kamu hanya boleh bersama ku"teriak Nara tidak terima


"Maafkan aku Nara hubungan kita sudah selesai "ucap Arka lalu meninggalkan Nara yg terus memanggil nama nya Arka benar serius kali ini menerima Syifa seutuhnya


Arka menuju rumah sakit pekerjaan nya dia serahkan pada Arkan.Arka berharap Syifa akan segera sadar karna keadaan Syifa sudah membaik masa kritisnya sudah lewat Arka membuka pintu kamar Syifa dan menemukan ada Bara duduk di samping Syifa yg masih belum sadar ada juga Devil dan yg lain


"Kamu ngapain ke sini"ujar Devil berdiri saat melihat Arka


"Mau jenguk Syifa"ucap Arka mendekat


"Buat apa hak kamu atas Syifa sudah tidak ada lagian ayah udah urus perceraian kamu"ujar Fikram


"Pergi sana tidak ada yg mengharapkan mu di sini"ujar Maya sinis Arka hanya diam dia ingin meraih tangan Syifa


"Udah di bilang jangan dekat anak saya"ujar Fikram mendorong Arka


"Dia istri ku"kesal Arka dia mulai kesal dengan Fikram yg selalu menghalangi nya


"Istri hah kamu tidak pantas di sebut sebagai suami nya Syifa"cibir Devil


"Sadar diri Arka "ujar Maya sinis


"Aku hanya ingin menjenguk Syifa"ujar Arka mendekati Syifa tapi lagi lagi Fikram mendorong nya


"Sampai kapanpun saya tidak akan mengizinkan kamu bersama Syifa lagi"ujar Fikram tegas


"Sabar Arka sabar"gumam Arka emosi nya mulai naik dengan kesal Arka pergi


"Om apa benar om melakukan proses perceraian Arka dan Syifa"tanya Bara


"Bukan urusan mu"ketus Maya tidak suka


"Ya ada dong tan jika mereka bercerai maka aku akan segera menikah dengan Syifa"ucap Bara tersenyum senang


"Jangan harap itu terjadi"ketus Maya meski begitu Bara mempunyai harapan dia akan berjuang mendapatkan Syifa lagi


Setelah merasa semua sudah pulang Arka kembali ke kamar inap Syifa mengendap seperti orang ingin mencuri Arka menutup pelan pintunya lalu Arka duduk di samping Syifa menatap wajah Syifa yg belum juga sadar Arka berharap Syifa akan segera sadar meski dia belum juga di maafkan


"Syifa kamu harus bangun"ucap Arka meraih tangan Syifa tidak ada kata kata terucap Arka hanya memeluk tangan Syifa dengan mengusap kepala Syifa dengan lembut


"Bangun lah aku memanggil mu"ucap Arka mengecup tangan Syifa


Cklek


"Kamu ngapain di sini"ucap Arka menoleh melihat Nara yg masuk

__ADS_1


"Kamu apaan sih megang tangan Syifa"ucap Nara menepis tangan Arka


"Aku tanya kamu ngapain ke sini"ucap Arka berdiri


"Aku mencari mu ternyata benar kamu di sini aku tidak mau kehilangan mu Arka"ucap Nara memeluk Arka


"Sudah ku katakan aku mau mengakhiri hubungan ini"tegas Arka


"Kenapa karna Syifa berani kamu meninggalkan aku demi Syifa aku akan membunuh Syifa"ancam Nara serius


"Jangan gila kamu Nara"ucap Arka


"Kamu kira aku becanda"ujar Nara lalu melepaskan oksigen Syifa memutuskan alat yg menempel di badan Syifa


"Apa apaan kamu Nara"ucap Arka lalu mendorong Nara


"Syifa"ucap Arka memasang dengan lembut oksigen itu dan alat yg di lepas Nara


"Jangan khawatir aku akan melindungi mu dan selalu di samping mu"ucap Arka mengecup tangan Syifa


"Aku tidak terima Arka ini tidak adil setelah apa yg aku korban kan kamu malah meninggal kan aku begitu saja"kesal Nara


"Emang apa yg kamu korban kan"ujar Arka jadi kesal


"Pokoknya aku tidak terima kamu meninggalkan aku"teriak Nara emosi


"Stop Nara kamu membahayakan keadaan istri ku"kesal Arka lalu menyeret Nara keluar dari kamar inap Syifa


###


3 hari ini Syifa belum sadarkan diri padahal dokter bilang keadaan Syifa baik baik saja Bara juga selalu mengunjungi Syifa tapi tidak dengan Arka dia di halangi Fikram untuk menemui Syifa jadi Arka menjenguk Syifa saat tidak ada orang


"Mumpung tidak ada orang"gumam Arka berjalan mendekati Syifa melihat keadaan Syifa


"Ternyata belum sadar "gumam Arka lalu mengelus tangan Syifa


"Cepat sadar kita akan memulai dari awal"ucap Arka dan mengecup kening Syifa yg masih di perban setelah melirik jam di pergelangan tangannya Arka segera pergi karna dia akan telat bekerja setelah kepergian Arka perlahan tangan Syifa bergerak dengan pelan bibir itu bergerak dengan pelan dan terucap lirih


"Aghh s. sakit"lirih Syifa memegang kepalanya yg terasa sakit


"Mas Arka"lirih Syifa bergerak gerak merasakan mata nya tertutup


Bruk


"Aghh"ucap Syifa saat dia terjatuh Syifa memegang kepalanya yg terasa sakit apa lagi keadaan gelap membuat Syifa takut Syifa meraba kasur mencari tombol otomatis


Cklek


"Saya tidak bisa melihat apa apa tolong genggam tangan saya"ucap Syifa mengulur kan tangan nya sungguh saat ini dia benar takut


"Tidak apa nona"ucap nya mengengam tangan Syifa dan membantu Syifa kembali ke kasur


"Nona harus rileks jangan tegang biar kepala anda tidak terjadi sesuatu yg tidak di inginkan biar gimanapun anda baru selesai operasi bagian kepala"jelas suster itu


"Hu hu sus tolong lepaskan menutup mata ini saya saya sangat takut dengan gelap"ucap Syifa menghembuskan nafas kasar menghilangkan gelisah nya


"Ya bentar nona dokter akan segera datang"ucap suster itu cemas lalu tidak lama dokter wanita itu datang


"Nona Syifa sudah sadar"ucap nya masuk


"Iya dok"ujar Syifa masih mengengam tangan suster itu


"Bersyukur anda masih di beri kesempatan hidup nona anda terkena peluru bagian kepala jadi katakan keluhan anda"ucap dokter dia tidak bisa berekspresi karna Syifa tidak bisa juga melihat nya


"Iya benar kepala saya masih terasa sakit tapi saya bisa menahan nya tapi saya mohon lepas kan penutup mata ini saya sangat takut dengan kegelapan"ucap Syifa dokter itu sekarang mengerti apa ucapan keluarga Syifa jika mereka harus selalu ada di samping Syifa karna memang Syifa sangat takut dengan gelap


"Baik lah karna ini juga sudah 3 hari saya akan membuka nya"ucap dokter lalu bersiap membuka perban mata Syifa karna keluarga nya masih ada di perjalanan perlahan dokter itu membuka sampai selesai


"Buka perlahan nona"ucap dokter Syifa dengan pelan membuka mata nya


"D...dok kenapa saya masih tidak bisa melihat apa apa kenapa dengan mata saya"ucap Syifa panik dokter itu melambai kan tangan nya di depan Syifa


"Seperti yg saya jelaskan pada keluarga anda nona bahwa ada serpihan kaca merusak mata anda jadi anda akan mengalami kebutaan"ucap dokter itu menjelaskan


"Apa"ucap Syifa kaget seakan tidak percaya


"Saya sangat takut gelap tapi mata saya masih bisa di operasi kan dok"ucap Syifa panik


"Maaf nona anda buta permanen meski di operasi anda akan tetap tidak bisa melihat"jelas dokter tanpa sadar air mata Syifa menetes


"T.... tidak ini tidak bisa terjadi saya ngak mau buta dokter"ucap Syifa melepaskan pegangan tangannya


"Aku ngak mau buta hiks hiks"Syifa menangis histeris sampai kepalanya kembali pusing melihat hidung Syifa mimisan dokter itu menyiapkan obat bius untuk menenangkan Syifa


"Aku ngak mau buta aku takut gelap "gumam Syifa perlahan kembali pingsan

__ADS_1


####


Syifa sudah kembali sadar tapi tatapannya nya kosong karna apa yg harus Syifa tatap sekarang ini hanya gelap yg bisa dia rasakan sungguh Syifa sangat takut tangan nya tidak lepas dari genggaman suster yg menemaninya Syifa hanya diam seribu bahasa


"Syifa"ucap Fatma lega melihat Syifa sudah sadar


"Ma"ucap Syifa mencari sumber suara mempertajam pendengaran nya


"Aku ngak bisa melihat"lirih Syifa berlinang air mata mengulurkan tangannya Fatma menahan tangisnya


"Tidak apa sayang"ucap Fatma mengulur kan tangan memeluk Syifa dengan erat


"Karna keluarga nona Syifa sudah datang saya permisi"ucap suster itu lalu pergi ,Syifa memeluk erat mama nya


"Aku ngak mau buta aku takut"ucap Syifa membenamkan wajahnya ke bahu mama nya


"Kamu harus sabar dan ikhlas sayang"ucap Fatma mencium kening Syifa


"Aku tau itu tapi aku sangat takut dengan gelap ma"ucap Syifa pilu


"Sayang"ucap Fikram mengengam tangan Syifa mencium nya


"Kamu harus terbiasa jangan pernah takut putri ayah wanita pemberani"ucap Fikram tapi Syifa menggeleng


"Aku buta seumur hidup lalu bagaimana aku bisa mengahadapi rasa takut ku ini bahkan aku merasakan pegangan ayah adalah sesuatu yg menakutkan"ucap Syifa menangis Fikram memeluk anak nya membuat Syifa semakin menangis Fatma tidak kuat menahan Isak tangis nya lagi sampai dia menangis sesenggukan mendengar suara Fatma menangis sesenggukan Syifa terdiam


"Ma"ucap Syifa meraba mama nya


"I...iya sayang"ucap Fatma gemetar Syifa meraba wajah mama nya menghapus air mata mama nya


"Aku tidak apa apa"ucap Syifa tersenyum menyakitkan


"Iya sayang mama tau kamu anak yg kuat"ucap Fatma mengusap ujung mata Syifa yg berair Syifa mencium tangan mama nya lalu dia teringat dengan Arka


"Mas Arka mana"tanya Syifa memeluk lengan mama nya


"Kamu tidak usah memikirkan suami tidak tau diri itu ya "ucap Fikram sebal Syifa hanya terdiam saja lalu dia berbaring memeluk lengan mama nya


"Jangan banyak yg di pikir kan sayang"ucap Fatma mengelus kepala Syifa


"Hanya merindukan mas Arka ma"lirih Syifa memejamkan mata tapi air mata nya mengalir meratapi kehidupan nya yg akan penuh kegelapan orang tua nya mengerti perasaan Syifa bahkan tau bagaimana rasa takut Syifa pada gelap karna saat kecil dulu Syifa sudah di ajak ke psikiater untuk menghilangkan rasa takut nya tapi itu semua sia sia


Devil masuk keruangan itu bersama Bara melihat Syifa yg sendiri dan hanya menatap keluar karna hembusan angin Syifa memegang ranjang nya entah apa yg dia pikirkan Devil melihat merasa hati nya sakit begitu sakit melihat adik kecil nya sangat rapuh


"Sstt berhenti menangis sayang"ucap Devil meraih tangan Syifa


"Aku tidak menangis tapi berusaha melawan rasa takut"ucap Syifa meraba tubuh Devil untuk dia peluk


"Lihat lah mata mu sembab udah hampir satu meter jelek tau"ucap Devil mengusap air mata Syifa


"Kak aku lagi sedih "ujar Syifa kesal memukul dada Devil


"Maafkan aku ya karna aku kamu takut gelap"ucap Devil duduk di brandar Syifa


"Sadar juga ngak papa"ucap Syifa menurun kan kaki nya


"Kak aku mau sholat"ucap Syifa sudah memegang hijab nya mau dia lepas Devil melirik Bara dan memegang tangan Syifa


"Ehh jangan di buka aurat mu ada Bara"ucap Devil


"Bara"ujar Syifa


"Hai"sapa Bara berjalan ke samping Syifa


"Apa kabar"ucap Bara tersenyum tapi sayang senyum itu tidak bisa di lihat Syifa lagi


"Kamu bisa lihat sendiri"ucap Syifa


"Aku buta"ujar Syifa lagi


"Ngak papa kok aku masih cinta"ujar Bara tersenyum


"Aku udah punya suami jangan menggoda ku lagi lagian kamu ngapain ke sini kurang kerjaan saja"ketus Syifa memalingkan wajahnya


"Ini kesempatan untuk ku kenapa aku harus melewatkan nya ayah mu mengurus perceraian mu dengan Arka jadi kesempatan bagus seperti ini kapan lagi"ucap Bara menatap wajah Syifa


"Kak kenapa ayah lakukan itu"ucap Syifa merasa sedih kembali


"Apa mas Arka ngak mau punya istri buta makan nya mau cerai kan aku dan menikah dengan Nara"ucap Syifa lagi dengan tidak semangat


"Jangan seperti itu sayang yg di lakukan ayah itu udah benar Arka tidak pantas untuk mu jadi buat apa kamu menjadi istri nya"ucap Devil mengusap kepala Syifa


"Iss ngak pantas gimana sih mas Arka itu suami terbaik untuk ku dan aku ngak mau kak pisah sama mas Arka aku mencintai nya dia itu cinta terakhir aku"tegas Syifa


"Pertanyaan nya apa Arka bisa menerima kamu"ucap Bara membuat Syifa terdiam kenyataan itu membuat hati Syifa semakin sakit

__ADS_1


"Sekarang jangan pikirkan soal Arka lagi ya aku aja sebal mendengar nama nya"ucap Devil mengengam tangan Syifa untuk ke kamar mandi karna Syifa sudah sembuh tinggal pemeriksaan kepalanya saja Devil memberi isyarat untuk Bara keluar karna Syifa mau sholat Bara mematuhi itu karna itu juga keinginan Syifa dia segera pergi


__ADS_2