
"Belepotan sayang"ucap Arkan tersenyum sampai Zenap tersipu di buat nya
"Makasih mas"ujar Zenap tersenyum lalu lanjut makan tapi mereka tidak menyadari dari tadi ada yg memperhatikan mereka siapa lagi jika bukan Ari yg tidak sengaja melihat kehadiran mereka tadi pada saat makan
"Ehhm boleh duduk"ujar Ari mendekat mereka menatap Ari
"Boleh silahkan"ujar Zenap tersenyum ramah Arkan menarik sedikit baju Zenap dan menatap Zenap seolah bertanya kenapa dia izinkan Zenap hanya merespon dengan tersenyum
"Sendiri makan nya"tanya Zenap
"Iya"ujar Ari singkat
"Ohh ya Ari kenapa kamu belum juga menikah"tanya Zenap santai
"Orang yg aku cinta terhalang oleh hubungan terlarang sesama jenis"ujar Ari menatap Arkan
"Maksud nya"ucap Zenap mengerti pembicaraan Ari cuman Zenap pura pura tidak mengerti
"Ahh tidak maksud ku cinta ku terlarang tidak di restui"ujar Ari tersenyum
"Mas harus bantuin dong Ari nya masak melihat teman kesusahan hanya diam"ujar Zenap tersenyum
"Kamu jangan macam-macam aku hajar kamu nanti"bisik Arkan pelan
"Apa"ucap Zenap tersenyum lucu Arkan jadi kesal dengan suaminya ini
"Berhenti bersandiwara atau kamu tau apa yg akan aku lakukan"bisik Arkan penuh peringatan
"Ari maaf ya mas Arkan memang kayak gitu"ujar Zenap tertawa renyah menepuk pundak Arkan lembut
"Silahkan Ari mari makan"ujar Zenap menikmati kembali makan nya
"Ohh ya Zenap bagaimana kisah cinta kalian"tanya Ari penasaran
"Tidak semudah yg di bayang kan Ari mas Arkan ini cinta mati sama aku biasa la ngak ada yg mau sama dia selain aku"ujar Zenap lalu tertawa
"Ngomong kayak gitu seakan kamu tidak mencintai ku"kesal Arkan tidak terima Zenap hanya tersenyum meletakkan dagu nya di bahu Arkan
"Emang aku tidak mencintai mas Arkan pada saat awal pernikahan aku hanya menyukai mas Arkan yg tampan baik dan"ujar Zenap tersenyum menggantung kan kalimat nya
"Dan"ujar Arkan penasaran
"Dan imam yg baik"ujar Zenap tersenyum
"Apa kamu tau Ari dulu itu mas Arkan mau di jodohkan oleh mama dia ngak mau mengatakan jika mencintai wanita lain dia hanya diam bersyukur calonnya itu orang yg berani ngak kayak dia"jelas Zenap
"Dia hanya menerima di jodohkan sedangkan hati nya hanya untuk ku"ujar Zenap tersenyum
"Iya dulu itu aku pernah ingin di jodohkan tapi Allah mentakdirkan kami sehingga bisa bersama dan aku juga bahagia bisa bersama wanita ini"ujar Arkan tersenyum mencium pipi Zenap
"Mas macam-macam ngak aku kasih jatah"bisik Zenap kesal Arkan hanya tersenyum
"Coba saja jika bisa"bisik Arkan penuh makna
"Iss apaan sih"kesal Zenap cemberut
"Maaf ya Ari mas Arkan ini memang suka sekali membuat aku kesal"ujar Zenap meneguk air putih nya
"Aku ke toilet dulu"ujar Zenap tersenyum lalu beranjak
"Arkan"ujar Ari serius
"Aku permisi juga"ujar Arkan berdiri lalu mengikuti istri nya.Arkan mengikuti Zenap ke toilet wanita Arkan ingin masuk ada beberapa wanita
"Maaf ya bu saya mau membujuk istri saya yg lagi ngambek jadi bisa pergi sebentar"ujar Arkan pelan
"Wah pak Arkan ini masak bujuk istri di toilet tapi tidak apa kami juga sudah selesai"ujar nya lalu pergi
"Lihat Zenap apa yg akan ku lakukan"ujar Arkan tersenyum penuh misteri lalu dia menunggu di depan toilet nya pada saat Zenap membuka pintu itu Arkan segera membekap mulutnya dan masuk kembali
"Mas apa sih"ujar Zenap melepaskan tangan Arkan dari mulut nya
"Kamu ngak dengar peringatan ku kan"ujar Arkan tersenyum lalu mengunci pintu itu
"Apa sih mas aku hanya menunjuk kan pada Ari jika kita itu bahagia dan saling mencintai dan emang benar kok kita saling mencintai"ujar Zenap
"Tapi aku ngak suka jika kamu ketemu sama dia"ujar Arkan sebal
"Kenapa cemburu"ujar Zenap
"Iya la aku cemburu"ujar Arkan cepat
"Mas kok cemburu sih Ari itu pria masak mas cemburui aku itu salah"ujar Zenap sebal
"Ya ampun mulai lagi istri ku bodoh"ujar Arkan menepuk jidat nya
"Aku ngak suka kamu terlalu dekat dengan nya aku cemburu kamu dekat dengan pria lain ngerti ngak sih"kesal Arkan
__ADS_1
"Mas Arkan ini"ujar Zenap mengulum senyum nya ini kali pertama Arkan cemburu
"Apa, kamu harus ngerti ya jika aku hanya mencintai mu"ujar Arkan
"Ya ya aku tau ayo kita kembali"ujar Zenap tersenyum
"Ngak mau"ujar Arkan
"Apa"ujar Zenap
"Mas kok ngak mau sih"ujar Zenap heran
"Aku akan memberi mu sedikit pembelajaran karna tidak mau dengarin aku"ucap Arkan tersenyum jahat
"Mas mau apa"ujar Zenap menatap Arkan lalu Arkan memeluk pinggang Zenap
"Melakukan ini"ujar Arkan lalu mencium Zenap dengan rakus Zenap tidak bisa bicara sampai dia terduduk Zenap berusaha menghentikan Arkan tapi tenaga Arkan sangat kuat
"Mmfff mas ja...mmnggg"ujar Zenap dengan bibir mereka masih menyatu
"Ssttt kecil kan suara mu jika tidak mau aku sakiti"bisik Arkan tersenyum Zenap dengan polos nya menggangguk Arkan kembali mencium Zenap menarik sedikit jilbab Zenap mencium leher Zenap
"Ehh kok mas malah mengancam"ujar Zenap baru tersadar
"Ini hukuman"ujar Arkan
"Mas ngak mau aku laporin mas Arkan pada mama jika mas berani melakukan di sini"ujar Zenap sudah mengerti apa yg akan Arkan lakukan
"Mama tidak akan peduli"ujar Arkan lalu duduk dengan menghadap Zenap
"Mas jangan di sini mas aku laporin sama kak Arka mas jangan aku katakan sama Syifa"ujar Zenap berusaha nolak
"Mereka tidak akan peduli sayang karna kamu Istri ku ini hal yg wajar bersiap lah sayang"ujar Arkan tersenyum mesum lalu menekan tengkuk Zenap mencium nya lagi
"Mas"teriak Zenap
Ari yg tadi juga menguping mereka hanya berdiri tidak jauh dari sana mendengar pembicaraan mereka dia tetap mendengar suara Zenap yg tertahan dan suara Zenap yg seperti di paksa Arkan dan suara Arkan yg berpadu dengan Zenap suara yg bikin bulu kuduk meremang suara yg membuat tubuh terasa panas
"Hah aku tidak bisa menggapai"gumam Ari menghembuskan nafasnya kasar
"Aku benar kesal"ujar Zenap terkulai dengan penampilan acak acakan
"Ini pengalaman pertama bersama istri di toilet"ujar Arkan tersenyum lalu merapikan celananya
"Mas Arkan"geram Zenap merapat kan gigi nya karna kesal
"Aghh kesal sama mas Arkan"sebal Zenap
"Ala kamu kan ngak bisa marah sama aku"ujar Arkan tersenyum
"Ihhh mas Arkan mah kesal deh"ujar Zenap memicingkan matanya
"Sayang"ujar Arkan mengengam tangan Zenap
"Aku mencintaimu"ujar Arkan mencium tangan Zenap lalu mendaratkan kecupan mesra di kening istrinya
"Cepat berberes "ujar Arkan lembut Zenap benar kesal dengan tingkah suaminya dia membenarkan penampilan nya lalu membersihkan penampilan nya setelah selesai Arkan keluar di ikuti Zenap
"Mas sebentar"ujar Zenap menarik pelan tangan Arkan lalu Zenap mengancing kan kemeja Arkan dengan benar dan merapikan nya
"Ayo mas"ucap Zenap memeluk lengan Arkan
"Mas jika di toilet ada cctv bagaimana"ujar Zenap takut
"Aku akan beres kan sayang"ujar Arkan tersenyum mencium kepala Zenap
"Ari kami pulang dulu ya"ujar Zenap mengambil tas nya
"Emm Arkan bisa bicara sebentar dengan istri mu"ujar Ari serius
"Tidak"ujar Arkan cepat memeluk pinggang Zenap
"Mas hanya sebentar"ujar Zenap tersenyum
"Ngak Sayang dia itu pandai merayu aku ngak mau ya kamu malah berpaling dari ku"ujar Arkan cepat Zenap tersenyum
"Mas ngak percaya sama aku "ujar Zenap tersenyum
"Nyatanya hati ku sudah di miliki sepenuhnya oleh mas Arkan"bisik Zenap
"Hanya sebentar ya"ujar Arkan lalu mengecup pipi Zenap dan dia sedikit menjauh
"Emm Zenap aku mau minta maaf"ujar Ari serius
"Maafkan aku menggangu dan meresahkan hubungan kalian"ujar Ari serius
"Ari aku tau semua nya aku dan mas Arkan sangat mencintai kamu juga harus begitu Ari yg kalian lakukan ini semua salah dan penyakit aku berharap kamu bisa sembuh dan mendapatkan kebahagiaan"ujar Zenap
__ADS_1
"Iya terima kasih Zenap sampai kan juga permintaan maaf ku pada Arkan aku pergi tidak akan menggangu kalian lagi"ujar Ari lalu berlalu
"Alhamdulillah ya Allah masalah ku selesai juga"ujar Zenap lega
"Sayang ayo udah kan"ujar Arkan mendekat
"Iya mas ayo pulang mau mandi"ujar Zenap tersenyum
"Idih seneng banget melakukan di toilet"ujar Arkan tersenyum
"Ihhh mas Arkan aku masih kesal"ucap Zenap sebal Arkan hanya tertawa kecil mencium kepala Zenap
"Mas udah bayar kan"tanya Zenap
"Iya udah aku juga tanya tadi sama pelayan nya dia bilang di toilet tidak ada cctv dia bisa menjamin nya"jelas Arkan
"Alhamdulillah jika begitu"ujar Zenap lalu masuk mobil di ikuti Arkan dan melirik Zenap menyender kan tubuh nya Arka tersenyum lalu mencium kening Zenap
"Apa sangat lelah"tanya Arkan mengelus pipi Zenap
"Sedikit"ujar Zenap menatap Arkan
"Mas jujur deh sama aku apa mas benar mencintai ku atau menyayangi ku apa mas mencintai Ari mas jujur saja aku bisa mengerti kok mas"ujar Zenap serius
"Zenap apa kamu tidak percaya dengan cinta ku mungkin malam itu aku khilaf Zenap dia sangat pandai merayu ku sampai aku melupakan diri mu tapi percayalah aku hanya mencintai mu"ujar Arkan serius
"Maaf mas tidak percaya"ujar Zenap memeluk Arkan dengan erat
"Dia tadi juga meminta maaf pada ku dan juga sama mas Arkan"ujar Zenap melepaskan pelukannya
"Udah lega sekarang kita nikmati lagi masa bahagia kita kayak dulu"ujar Arkan tersenyum lebar
"Iya tapi mas kurangin mesum nya"ujar Zenap sedikit ketus Arkan tertawa dan mengengam tangan Zenap
"Sayang aku ini lelaki yg sudah menjadi normal wajar dong jika aku ingin kamu setiap saat"ujar Arkan tertawa dan melaju kan mobilnya
"Iss mas Arkan nyebelin"ujar Zenap cemberut sebal Arkan tersenyum tipis menfokuskan mengendarai mobilnya Zenap mengukir senyum nya yg indah
"Mas cepat udah gerah dan lengket badan ku"ujar Zenap memang benar badan Zenap rasanya tidak nyaman itu semua ulah suaminya
"Iya sayang sabar"ujar Arkan tersenyum
"Mas mau peluk dekapan mas Arkan hangat"ujar Zenap menyengir Arkan tersenyum menoleh pada istri nya dengan cepat Zenap memeluk lengan suaminya memeluk pinggang Arkan dia sangat bahagia saat berada di pekukan suaminya
####
Syifa masuk ke kamar melihat Arka membuka tablet nya menatap serius Syifa meletakkan jilbab nya dan mererai rambut nya dan duduk di samping suaminya Syifa menatap Arka yg membaca email
"Mas Arka"ujar Syifa dengan lembut Arka menoleh pada istri nya
"Bisa letak kan sebentar aku mau ngomong"ujar Syifa serius Arka meletakkan tablet nya lalu mengenser tubuhnya memeluk Syifa
"Ada apa Istri ku"ujar Arka mengelus bahu Syifa
"Mas menurut mas Arka apa Arysif dan Nur ngak di pindahkan saja sekolah nya"ujar Syifa nyaman di dada suaminya
"Kenapa"tanya Arka heran
"Aku merasa Arysif tidak aman berada di lingkungan dengan usianya mas tau tadi di sekolah dia berkelahi dengan orang hanya sekedar dia melihat pria itu memukul wanita dan melecehkan wanita aku tau yg di lakukan Arysif itu benar aku bangga jika dia peduli tapi mas anak seusia Arysif belum cukup ilmu membela semua nya dia butuh ilmu yg cukup"jelas Syifa dengan lembut
"Jadi maksud kamu Arysif dan Nur mau kamu di pindahkan ke pesantren"ujar Arka memegang bahu Syifa
"Iya aku tau berat bagi ku tapi aku ngak mau melihat Arysif kenapa-kenapa mas"ujar Syifa raut wajah sedih
"Istriku apa pun keputusan mu aku akan mendukung tapi kamu cari dulu pesantren yg bagus nanti aku lihat apa itu cocok untuk kedua nya apa tidak "ujar Arka tersenyum
"Benar mas setuju"ujar Syifa
"Iya "ujar Arka tersenyum
"Aku mau pindah kan Arysif dan Nur sama kayak Aina aku dengar Zenap cari pesantren untuk Aina"ujar Syifa
"Iya nanti kamu lihat dulu"ujar Arka
"Makasih mas"ujar Syifa memeluk Arka
"Itu juga untuk kebaikan mereka"ujar Arka tersenyum mencium mata Syifa
"Syifa pijitin aku kenapa aku sering sakit pinggang"ujar Arka menyentuh pinggang nya
"Usia tua mas"ucap Syifa tersenyum
"Mas juga jika meniduri ku itu sabar jangan bernafsu"ujar Syifa mulai memijat Arka
"Syifa itu kebutuhan ku aku senang jika kamu memenuhi tugas mu sebagai istri"ujar Arka menikmati sentuhan lembut Istri nya
"Iya mas aku akan berusaha jadi istri yg baik"ujar Syifa tersenyum lalu mencium pelipis Arka membuat Arka tersenyum lebar setiap Syifa mencium nya Arka sangat bahagia Syifa penuh kehangatan dan kelembutan Arka sangat bersyukur memiliki Syifa yg sangat sempurna menjadi istri Arka
__ADS_1