
Semua keluarga berkunjung melihat keadaan Arysif yg sudah sadar semua keluarga berbondong bondong melihat Arysif yg masih terbaring lemah, Keluarga Karten juga menyelidiki soal tabrakan itu mereka tidak akan meloloskan siapapun yg sudah menabrak pewaris Karten itu
"Arysif apa sudah baikan"tanya Maya mengusap kepala Arysif
"Oma Arsyif sudah sembuh cuman badan Arysif masih ngilu susah di gerakkan"ujar Arysif pelan
"Cucu tampan kakek jadi terluka"ujar Fikram sedih
"Kakek Arysif suka dengan luka karna dengan sakit Allah akan mengugurkan dosa Arysif"ujar Arysif
"Benar tuh kita sebagai manusia harus banyak bersyukur soal kesehatan dan rasa sakit"ujar Fatma tersenyum mengecup kening Arysif yg terbalut perban
"Arysif cepat sembuh Aina sedih Arysif sakit"ujar Aina sedih
"Iya ngak enak ngak ada Arysif"ujar Nur cemberut
"Arysif udah sembuh tapi aunty dokter belum izinin Arysif pulang masih harus banyak di periksa"ujar Arysif dia bosan jika harus terus berbaring
"Arysif kan masih sakit jangan banyak bicara"ujar Syifa yg berdiri di ujung kaki Arysif
"Aunty jangan sedih papa Leon akan merawat Arysif biar cepat sembuh"ujar Leon
"Iya "ujar Syifa tersenyum mengusap kepala Leon
Cklek
"Aduh opa sedih lihat cucu opa sakit"ujar ayah nya Arka masuk dan mendekat semua menatap pria tua itu tapi tidak bisa berkata
"Ma jangan membuat keributan"bisik Arka menenangkan mama nya
"Gimana keadaan cucu opa"tanya Reno tapi Arsyif hanya diam memandang pria tua itu dengan serius
"Udah baik yah"ujar Arka
"Kok bisa terluka"tanya Reno cemas
"Iya yah ada yg mau nabrak kak Syifa tapi Arysif yg nolongin"jelas Arkan bicara
"Om jadi mobil itu sengaja mau nabrak bunda ya"tanya Arysif pelan
"Iya cuman masih dugaan juga karna kan bunda mu berdiri di pinggir jalan tapi kenapa mobil itu mau menabrak nya jika tidak sengaja ingin menabrak bunda mu"jelas Arkan
"Arysif jangan banyak pikiran istirahat ya"ujar Syifa mengelus tangan Arysif
"Iya bun"ujar Arysif dengan tersenyum manis
"Semua Arysif istirahat dulu biar Arysif di bolehin aunty dokter pulang"ucap Arysif membuat semua tersenyum lalu pamit untuk pulang karna memang Arysif masih harus banyak istirahat
####
Karna keadaan Arysif sudah membaik Syifa bisa bernafas dengan lega bisa meninggalkan Arysif beristirahat dengan baik di kamar sendiri apa lagi dia sempat meninggalkan Nur jadi Syifa pulang untuk menemani Nur belajar Arka juga menyelidiki kasus tabrak itu apa di sengaja apa tidak.Arysif yg beristirahat di kamar inap nya bisa mendengar kan derap langkah seseorang yg mendekati nya Arysif engan membuka mata nya karna harus beristirahat dengan baik
"Gara gara bocah ini aku gagal membunuh Syifa"kesal nya seketika Arysif membuka mata
"Hei bocah awas jika kamu memberi tau orang orang jika opa yg menabrak mu awas kamu"ancam Reno
"Arysif tau opa yg mau menabrak bunda tapi opa bunda kan sangat baik kenapa opa mau melukai bunda"tanya Arysif menatap pria tua itu
"Karna bunda mu adalah inspirasi ayah mu dia selalu menghalangi kesuksesan opa jadi opa harus membunuh bunda mu biar ayah mu hancur kehilangan wanita yg sangat dia cintai"ujar nya
"Astaghfirullah opa ngak boleh kayak gitu membunuh itu dosa"ujar Arysif
"Nih bocah malah nasehati opa mau memastikan saja jika kamu tidak membocorkan itu semua jaga diri mu bersiap kehilangan bunda mu"ujar Reno lalu tertawa dan berlalu
"Ya Allah lindungi bunda Arysif"doa Arysif sebenarnya pada saat Arysif terpental dan akan terjatuh mata nya dan mata Reno bertemu itu kenapa Arysif tau siapa yg ingin menabrak bunda nya tapi Arsyif diam tidak ingin memberi tau kebenaran nya
####
Setelah seminggu di rawat Arysif di perbolehkan pulang dari dokter tapi dia harus tetap istirahat karna tubuhnya masih ada beberapa luka apa lagi bagian kepala jadi dia harus beristirahat total
"Pelan pelan sayang turun nya"ujar Syifa mengengam tangan Arysif turun dari kasur
"Iya bunda Arysif hati hati"ucap Arysif
"Ayo ayah udah nungguin"ucap Syifa mereka keluar dari kamar menuju Arka yg membayar admistrasi
"Ayah apa udah Arysif pusing lama berdiri"ucap Arysif menatap Arka
__ADS_1
"Ya bentar ya"ucap Arka lalu mengedong Arysif
"Terimakasih tuan Arka semoga tuan muda lekas sembuh"ucap nya tersenyum memberi kan pembuktian pembayaran admistrasi nya
"Makasih"ucap Arka lalu memeluk pinggang Syifa mereka segera berlalu Arysif memeluk leher Arka memejamkan matanya
"Masih pusing sayang"ujar Syifa mengelus punggung Arysif
"Kita segera sampai rumah"ucap Arka membuka pintu mobil lalu memasukkan Arysif dengan pelan dan ikut masuk bersama Syifa mobil segera melaju
"Ayah"ucap Arysif membuka mata nya menatap Arka
"Kenapa"ujar Arka tersenyum
"Bunda baik baik saja kan"tanya Arysif
"Arysif lihat sendiri kan bunda sehat"ucap Arka tersenyum
"Kenapa"ucap Syifa memeluk bahu Arysif
"Bunda sebenarnya yg nabrak Arysif itu opa Reno opa mau nabrak bunda"ujar Aryif menatap Syifa
"Opa bilang Arysif ngak boleh bilang sama siapa siapa tapi Arysif takut bunda terluka Arysif ngak mau lihat bunda terluka"ucap Arysif memeluk Syifa cemas
"Bunda baik baik saja sayang kan ada Allah yg jagain bunda"ucap Syifa mengelus punggung Arysif dengan menatap Arka
"Arysif apa Arysif yakin opa yg ada di mobil itu"tanya Arka dengan lembut
"Iya yah Arysif sebelum jatuh itu melihat opa di dalam mobil waktu Arysif di rumah sakit juga opa bilang jika opa mau bunuh bunda"jelas Arysif cemas
"Ngak kan bunda ada Allah yg jagian dan juga ayah selalu ada di samping bunda iya kan ayah"ucap Syifa tersenyum
"Iya ayah kan cinta sama bunda jadi ayah akan selalu buat bunda ada di pelukan ayah"ujar Arka tersenyum Syifa mencibir Arka mengatakan itu
"Makasih ayah"ucap Arysif memeluk Arka Arysif lega jika bunda nya aman
Arka tidak habis pikir apa mau ayah nya ingin menabrak Syifa padahal selama ini Syifa baik pada nya meski Reno sering membuat kesalahan terhadap Arka dan Arkan tapi tetap Syifa menghormati Reno sebagai mertuanya tapi tetap Reno juga memusuhi Syifa ,Arka tidak terima kelakuan ayah nya yg mau mencelakai Syifa sampai korban nya Arysif anak sekecil Arysif harus menerima kesakitan,Arka mengajak Reno bertemu di tempat sepi Arka ingin pembicaraan mereka tidak akan di rekam dan di sebarkan Arka masih ingin menjaga nama baik ayah nya
"Ada apa mau ketemu di tempat seperti ini"ucap Reno masuk melihat Arka bersender di pohon mereka bertemu di tempat terpencil
"Ingin bicara hal serius"ujar Arka memasukkan tangannya di saku celana lalu mendekati ayah nya
"Maksud kamu"ujar Reno serius
"Ayah kan yg ingin menabrak Syifa"ujar Arka datar
"Kamu menuduh ayah"ujar nya santai
"Tidak aku tidak menuduh hanya bertanya "ujar Arka
"Iya memang benar ayah yg ingin menabrak Syifa tapi malah jadi korbannya Arysif"ucap nya tangan Arka terkepal kuat
"Kenapa takut Syifa celaka"ucap nya berdiri di depan Arka
"Jangan khawatir ayah tidak akan membuat Syifa sakit tapi ayah akan langsung membunuh nya"ucap nya santai
"Apa sebenarnya tujuan ayah"ucap Arka berusaha menahan amarahnya
"Teman dan keluarga ayah itu hanya uang dulu ayah mengambil semua aset Karten sampai jatuh tapi semenjak kamu dan Arkan membangun semuanya kembali normal jadi kali ini perusahaan Karten harus ada di genggaman ayah setidaknya tidak ada yg berkuasa selain ayah kamu ngerti Syifa adalah sumber kekuatan mu jadi ayah akan hancurkan supaya kamu ikut hancur bersiap menerima kehancuran mu"ucap nya tersenyum Devil menepuk bahu Arka lalu berlalu pergi
"Tidak akan ku biarkan Syifa terluka sedikit pun"ucap Arka datar lalu berlalu pergi
Arka masuk ke kamarnya lalu mengunci nya di tatap Arka wajah Syifa yg sudah terlelap mungkin lelah mengurus kedua anak nya dan Arka tentu peran Syifa tidak lah mudah tapi meski begitu masih sempat nya Syifa ingin memasak untuk keluarga kecil nya.Arka mendekati Syifa di kecup nya lembut kening Syifa membuat Syifa merasakan kehadiran suaminya
"Mas udah pulang"ujar Syifa menggucek mata nya
"Iya"ucap Arka datar Syifa duduk di gengam nya tangan Arka
"Mas cemas ya mikiran perkataan Arysif tadi siang"ucap Syifa lembut
"Mas mungkin Arysif salah mas jangan khawatir kecelakaan itu hanya tabrak lari"ucap Syifa menenangkan suaminya
"Aku tadi ketemu sama ayah"ujar Arka pelan
"Bertanya soal kecelakaan itu mas ini gimana sih jika ayah tersinggung gimana"ujar Syifa tersenyum lembut
"Semua nya benar dia yg lakukan dia itu mengicar kamu dia ingin membunuh kamu Syifa"ujar Arka serius Syifa meletakkan dagu di bahu Arka lalu tangannya melingkar di leher Arka mengusap dada Arka dengan lembut
__ADS_1
"Ada Allah yg selalu jagain Syifa mas jangan khawatir"bisik Syifa lembut
"Hah tetap hati ku gelisah"ujar Arka
"Hei sejak kapan tuan Arka Karten gelisah kecuali merindukan Istri nya"ucap Syifa tersenyum lalu memegang wajah Arka di kecup nya kening Arka dengan lembut
"Aku akan jaga diri sebaik mungkin karna aku ingin selalu merasakan bahagia bersama kalian "ujar Syifa tersenyum
"Iya aku berusaha menyakinkan diri jika kamu akan selalu baik baik saja"ucap Arka tersenyum
"Nah gitu dong"ujar Syifa tersenyum mata mereka bertemu dengan tersenyum Arka mengusap tangan Syifa lembut sungguh Arka sangat beruntung memiliki Istri seperti Syifa,Arka perlahan mencium bibir Syifa dengan penuh kelembutan Syifa tidak pernah menolak keinginan suaminya Syifa mengusap punggung Arka yg perlahan menindih nya Arka tersenyum menatap Syifa tanpa berkata lalu mencium leher Syifa yg merespon baik Syifa menoleh ke samping memeluk kepala Arka dia tersenyum bahagia meski ayah mertua nya mengicar nya tapi Syifa merasakan sangat bahagia memiliki Arka dan anak anak nya
####
☀️☀️☀️
Tok tok tok
Arka yg mendengar kan ketukan pintu membuka matanya melirik Syifa yg masih terlelap memeluk nya bahkan mereka belum sempat membersihkan tubuh semalam karna lelah nya Arka melepaskan pelukan Syifa lalu meraih celananya dan baju nya membuka pintu
"Zenap"ujar Arka kaget tumben sekali Zenap mengetuk pintu sepagi ini bahkan matahari belum muncul
"Maaf kak mengganggu kakak tapi aku mau minta bantuan semalam mas Arkan belum pulang"ujar Zenap serius
"Belum pulang"ujar Arka kaget
"Iya aku telpon juga tidak di jawab"ucap Zenap pelan
"Baik lah aku akan mencari nya"ujar Arka serius
"Iya kak makasih"ujar Zenap lalu Arka menutup pintu
"Syifa"panggil Arka dengan mengelus pipi Syifa
"Syifa aku pergi sebentar ya mau cari Arkan"ujar Arka mengecup pipi Syifa
"Mas"ujar Syifa lalu memeluk lengan suaminya
"Ngak mau sholat dulu"ujar Syifa
"Harus cepat Syifa aku ngak bisa melihat Arkan berbuat macam macam"ujar Arka
"Ya"ujar Syifa tidak semangat lalu dia mencium pipi Arka yg sudah berdiri
"Aku pergi"ujar Arka tersenyum lalu dia ke kamar mandi membenarkan penampilan nya setelah itu dia pergi mencari Arkan
Arka mengendarai mobilnya tadi dia bertanya dengan asisten nya kemana Arkan tapi asisten nya mengatakan jika dia tidak tau jadi Arka melihat arah letak mobil Arkan di mana karna mobil nya ada alat pelacak Arka mengikuti arah mobil Arkan
"Ini mobil nya"gumam Arka lalu turun dari mobil dia melihat tidak jauh dari sana ada masjid
"Apa Arkan di sana"gumam Arka lalu melangkah menuju masjid dan masuk dan ternyata benar Arkan ada di sana tengah duduk
"Kamu tidak amnesia kan jika punya istri"ucap Arka duduk di samping Arkan
"Hei aku bicara pada mu"kesal Arka tidak melihat respon Arkan
"Aku melakukan kesalahan"ucap Arkan menuduk
"Apa yg kamu perbuat sampai tidak mau pulang Zenap menunggu mu cemas"ujar Arka menatap adiknya
"Aku malu bertemu dengan nya"lirih Arkan pelan
"Malu kenapa"ujar Arka serius
"Aku malu pada nya aku melakukan kesalahan aku tidak tau harus apa"ujar Arkan raut wajahnya putus asa
"Katakan jangan membuat aku penasaran"kesal Arka tidak sabaran
"Aku tidak tau kenapa bisa aku tidur dengan Ari"ujar Arkan frutasi
"Apa kamu tidur dengan nya lagi"ucap Arka melotot
"Aku tidak tau kak"ujar Arkan frutasi
"Ya ampun Arkan kamu tidak memikirkan Zenap kamu tidak memikirkan Aina kenapa bisa kamu melakukan itu lagi apa istri mu tidak lah hot lagi di mata mu"ujar Arka tidak percaya
"Aku tau aku salah itu kenapa aku tidak mau pulang aku malu"lirih Arkan
__ADS_1
"Harus pulang Arkan biar Zenap tidak cemas lain kali kamu harus pokus dengan istri mu aku ngak mau kamu kembali lagi seperti dulu"ujar Arka menepuk bahu adik nya yg kembali kehilangan arah
"Ayo kita pulang"ucap Arka berdiri Arkan mengikuti kakak nya untuk pulang dia menyesal atas apa yg dia lakukan semalam dia malu ketemu dengan Zenap