Jodohku Seorang Presdir

Jodohku Seorang Presdir
Kebahagiaan dan kesedihan


__ADS_3

Persiapan pernikahan tetap di lanjutkan tapi Arkan akan menikah dengan Zenap bukan dengan Lily karna Maya tidak mempermasalahkan siapa Zenap yg penting anak nya bahagia soal ibu Zenap juga sudah di pindahkan di rumah sakit di rawat di sana karna akhir akhir ini keadaan ibu Zenap memburuk jadi harus di rawat inap keluarga Wiston juga masih di sana untuk menghadiri acara nya keluarga Karten mereka tetap saling menghargai meski tidak jadi keluarga


Di samping kebahagiaan Arkan dan Zenap ternyata ada hati yg terluka yaitu Aulia sebenarnya Aulia juga mencintai Arkan karna memang Arkan sering datang ke tokoh bicara dengan Aulia hubungan mereka cukup dekat tapi Aulia tidak tau jika Arkan dan Zenap saling mencintai karna memang mereka jarang sekali bicara malah kebanyakan Arkan sering bicara para Aulia.Aulia mendekati Arkan yg ke dapur dia berdiri di samping Arkan


"Pak Arkan bisa bicara"ucap Aulia ragu


"Iya kenapa"ucap Arkan tersenyum lalu menghadap Aulia


"Bapak benar mencintai Zenap dan mau menikah dengan nya"tanya Aulia serius


"Iya benar"ucap Arkan tersenyum


"Bapak kenapa lakukan lalu apa yg terjadi pada ku pak"ucap Aulia sendu


"Bapak membuat saya jatuh cinta tapi ternyata bapak mendekati aku hanya untuk dekat dengan Zenap bapak memberi aku perhatian lebih membuat rasa ku muncul rasa cinta aku kira saat bapak mau melamar seseorang saat itu adalah aku ternyata aku salah bapak mau melamar Zenap"ucap Aulia menatap Arkan dengan meneteskan air mata Arkan terdiam dia tidak menyangka jika Aulia menyimpan perasaan pada nya


"Aulia maafkan aku jika sudah membuat mu jatuh cinta pada ku aku tidak bermaksud menyakiti mu kamu ku anggap sebagai sahabat ku tidak lebih"ucap Arkan tidak enak


"Aku mengerti pak"lirih Aulia menyeka air mata nya


"Maafkan aku semoga bapak bahagia bersama Zenap"ucap Aulia lalu pergi dari hadapan Arkan


"Hah kok jadi seperti ini"gumam Arkan menghembuskan nafasnya kasar lalu mengambil minuman dingin yg tadi ingin dia ambil segera dia berlalu


"Zenap"pangil Arkan pada Zenap yg lagi bicara dengan Syifa dan Arka


"Iya pak"ucap Zenap menoleh


"Untuk mu kamu keringatan bantuin persiapan"ucap Arkan memberi kan minuman itu mengelap lembut keringat di kening Zenap


"Ehm ehm kok aku gerah ya"goda Syifa mengibas kan tangannya ke wajah


"Syifa"ucap Zenap mengerucut kan bibirnya Syifa hanya tertawa


"Awal pernikahan emang kayak gitu sering di goda apa lagi saat mau malam pertama"goda Syifa lagi


"Apaan sih"ucap Zenap menepuk bahu Syifa pelan Arka hanya tersenyum kecil pada Zenap seakan Arka mengatakan sesuatu pada Zenap melalui mata nya


"Terimakasih pak"ucap Zenap tersenyum lalu menegang kan minuman itu sampai habis


"Boleh aku bicara"ucap Arkan duduk di samping Zenap


"Apa"ucap Zenap mengelap bibirnya yg basah


"Aku mendekati mu juga sebenarnya punya hubungan baik dengan Aulia tapi kedekatan itu di salah artikan oleh nya perlakuan ku selama ini membuat dia mencintai ku"ucap Arkan serius membuat ketiga orang itu kaget


"Maksud pak Arkan ,Aulia mencintai bapak"ucap Zenap


"Iya tadi dia mengatakan itu"ucap Arkan


"Wah sekalian aja nikahin juga sekaligus 2 wanita itu"celetuk Arka santai


"Mas Arka ini apaan sih ngak boleh"ucap Syifa cemberut


"Hanya kecanda istri ku"ucap Arka tersenyum mencium pipi Syifa


"Awal pernikahan memang ada godaan Arkan"ucap Arka memeluk bahu Syifa


"Emm aku ngak tau harus apa"ucap Zenap bingung


"Kenapa harus ribet kita akan tetap melangsungkan pernikahan ini"ucap Arkan


"Tapi bagaimana dengan Aulia"ucap Zenap tidak enak dia sudah lama bersahabat dengan Aulia tentu ada rasa tidak enak di hati Zenap


"Aku mencintaimu aku ingin kamu menjadi pendamping hidup ku jadi jangan merasa tidak enak seperti itu"ucap Arkan serius


"Sebentar pak aku mau bicara sama Aulia"ucap Zenap berdiri lalu melangkah


"Hei Zenap tunggu"ucap Arkan berdiri


"Arkan biarkan saja"ucap Syifa


"Mereka berdua bersahabat biarkan saja mereka bicara biar hubungan kedua nya tetap baik baik saja"ucap Syifa


"Iya kak"ucap Arkan kembali duduk


Zenap mencari keberadaan Aulia sampai keluar museum Karten Zenap melihat Aulia ingin menaiki motor dengan cepat Zenap berlari menghampiri Aulia


"Udah mau pulang"ucap Zenap menepuk bahu Aulia


"Iya kasihan Asma sendiri di tokoh lagian aku udah bantuin siapa tau Asma juga mau bantu jadi gantian jaga tokohnya"jelas Aulia tersenyum


"Ohh"ucap Zenap


"Emm bisa bicara sebentar"ucap Zenap tersenyum


"Ayo lah kelamaan mikir"ucap Zenap merangkul bahu Aulia


"Bentar dulu masak aku ikut kamu dengan pakai helm kayak gini"ucap Aulia tersenyum lalu melepaskan helm nya

__ADS_1


"Yuk duduk di sana"ajak Zenap menuju bangku di depan rumah mereka segera duduk


"Emm kamu benar mencintai pak Arkan"ucap Zenap serius


"Pak Arkan sudah cerita"ucap Aulia terkekeh Zenap menatap wajah Aulia kenapa tidak ada rasa bersalah sedikitpun atau pun ada rasa penyesalan apa di depan nya ini benar sahabatnya Aulia


"Aulia kita udah lama bersahabat bahkan sebelum ada Syifa di persahabatan kita"ucap Zenap serius


"Aku ngak mau hanya sekedar pria membuat persahabatan kita pecah"ucap Zenap lagi


"Zenap benar apa yg kamu katakan itu"ucap Aulia menatap mata Zenap


"Aku memang mencintai pak Arkan dia pria yg sangat baik beruntung kamu di pilih oleh nya"ucap Aulia memegang bahu Zenap


"Tapi aku sadar aku tidak bisa memaksa takdir pria yg aku cinta memilih sahabat yg seperti keluarga ku jadi aku akan mengubur rasa ini aku juga tidak ingin menjadi sahabat yg egois aku tidak ingin menjadi wanita hina yg mencintai pria beristri aku juga menyayangi mu sama seperti aku menyayangi yg lain"ucap Aulia serius


"Bagi ku pengorbanan ini sangat indah aku berikan pada mu"ucap Aulia lagi memegang wajah Zenap


"Jangan pernah menjauh setelah ini kita tetap sahabat selamanya"ucap Aulia lalu memeluk Zenap dengan erat


"Maafkan aku Zenap maaf meski hati ini sangat perih tapi aku akan lakukan kamu dan pak Arkan adalah orang terpenting dalam hidup ku aku tidak boleh egois hanya sekedar kebahagiaan ku"batin Aulia


"Maafkan aku"ucap Aulia


"Tidak kamu tidak salah aku beruntung memiliki sahabat seperti mu"ucap Zenap lagi tersenyum kembali memeluk Aulia


###


Akad nikah Arkan dan Zenap di adakan di rumah sakit tempat nya di kamar inap ibu nya Zenap itu juga kemauan ibu nya karna tidak bisa menghadiri pernikahan Zenap jadi Maya menyarankan akad nikahnya di kamar inap ibu nya Zenap saja.Maya dan yg lain sudah duduk di samping ibu nya Zenap mereka mengobrol bersama penghulu yg lain karna tidak ada saudara ayah dari Zenap jadi wali dari Zenap di wakil kan


"Pak sebelum akan nikah di mulai boleh saya bicara sebentar pada ibu saya"izin Zenap


"Silahkan"ucap penghulu itu lalu Zenap duduk di samping kasur ibu nya mengengam tangan ibu nya


"Bu aku mau menikah apa ibu merestui ku setulus hati"bisik Zenap mengelus lembut kepala ibu nya.Ibu Zenap menatap Zenap dengan mengerjab kan mata tangannya bergerak menulis di tangan Zenap ."Zenap kamu adalah anak yg berbakti merawat ibu selama ini kamu merawat ibu dengan sangat baik tanpa ada keluhan sama sekali bisa saja kamu menitipkan ibu di panti jompo tapi tidak kamu lakukan karna kamu anak yg berbakti insyaallah kebahagiaan mu selalu menyertai mu nak dan doa ibu selalu bersama mu"begitulah tulisan ibu Zenap


"Bu jangan menangis"ucap Zenap mengusap pipi ibu nya yg mengeluarkan air mata bibir ibu nya bergerak seakan ingin mengatakan sesuatu


"Bu kata dokter jangan di paksa"ucap Zenap mencondongkan tubuhnya lalu mengecup lembut kening ibu nya


"Ibu sangat bahagia memiliki mu nak"tulis ibu nya lagi


"Bisa di mulai pak"ucap Zenap duduk lalu Arkan duduk di samping Zenap mereka mulai proses akad nikahnya Maya tersenyum menatap Arkan lalu melirik Arka yg mengengam tangan Syifa sekarang perjuangan Maya tidak sia sia merawat anak anak nya tidak jadi seperti ayah mereka yg breksek hanya memikirkan diri sendiri dan harta


Akhirnya akad nikah nya selesai Arkan dan Zenap telah sah menjadi suami istri semua sangat bahagia melihat kedua nya meraka masih melakukan proses menerima berkas pernikahan nya


"Selamat ya pak Arkan atas pernikahan nya"ucap RT


"Selamat ya Zenap telah menjadi nyonya muda Karten"ucap Syifa tersenyum


"Terimakasih Syifa ehh kakak ipar"ucap Zenap menyengir


"Kamu ya"ucap Syifa mencubit pipi Zenap


"Jika begitu kami pergi dulu ya pak"ucap petugas


"Iya pak makasih nanti berkas yg lain kirim di rumah aja"ucap Arkan lalu mereka pergi


"Bu kita sudah menjadi besan"ucap Maya tersenyum pada ibu Zenap


"Bu"ucap Zenap tersenyum mengengam tangan ibu nya


"Bu Bu"ucap Zenap panik saat merasakan tangan ibu nya dingin


"Ibu kenapa ibu"ucap Zenap cemas mengerakkan tubuh ibu nya


"Sebentar"ucap Arka memeriksa nafas ibunya bahkan mereka tidak menyadari kapan ibu Zenap menutup mata nya


"Innalilahi wainailaihi rojik'un"ucap Arka menatap Zenap


"Ibu bangun hiks hiks ibu"ucapp Zenap menangis di dada ibu nya


"Jangan tinggalkan aku bu aku sama siapa"ucap Zenap tangisnya pecah sejadi jadi nya Maya segera memanggil dokter


"Mas ibu Zenap meninggal"tanya Syifa


"Iya"ucap Arka memeluk istrinya


"Ibu bangin"ucap Zenap menangis


"Zenap sabar ini sudah takdir"ucap Arkan memeluk Zenap


"Hanya ibu ku yg ku punya pak"ucap Zenap memeluk Arkan dengan erat


"Saya periksa sebentar"ucap dokter mulai memeriksa ibu Zenap


"Bagini nyonya sebenarnya saat di bawah ke sini keadaan pasien sudah sangat memburuk tidak hanya mengalami struk pasien juga punya penyakit gagal ginjal "ucap dokter


"Dan sekarang pasien sudah tenang"ucap dokter lagi

__ADS_1


"Ibu saya benar meninggal dok"ucap Zenap dengan air mata berlinang


"Iya kami turut berdukacita "ucap dokter


"Ibu hiks hiks"Zenap kembali menangis memeluk ibu nya sudah terbujur kaku


"Arka kamu ajak Syifa pulang kamu ubah persiapan resepsi pernikahan kita akan membawa jenazah ke rumah kita"bisik Maya pada Arka


"Iya ma"ucap Arka lalu mengajak Syifa pergi


"Kenapa ibu meninggal aku bu "tangis Zenap sesegukan


"Zenap"ucap Arkan memegang kedua pipi Zenap


"Iklas kan ibu kamu jangan menolak takdir ini sudah waktunya ibu pergi kita perlu mendoakan nya"ucap Arkan menenangkan istri nya


"Hiks hiks hanya ibu yg ku punya"lirih Zenap memeluk Arkan dengan erat


"Iya aku mengerti tapi sekarang keluarga Karten akan menjadi keluarga mu"bisik Arkan mengusap punggung Zenap dengan lembut


####


Mata Zenap sedikit bengkak karna bersedih kehilangan ibu nya yg sangat dia sayangi hanya ibu nya harta berharga nya sekarang di hari membahagiakan nya dia harus bersedih atas kehilangan ibu nya . Mereka baru selesai dari pemakaman ibu nya Zenap rumah yg tadi ingin di adakan tempat resepsi harus di ganti dengan tempat pengajian untuk mendoakan ibu nya Zenap


"Arkan ajak istri mu istirahat dari akad nikah dia belum istirahat ini udah hampir magrib biar mama dan yg lain mengurus pengajian kasihan dia capek"ucap Maya masuk ke rumah Karten


"Iya ma"ucap Arkan lalu mendekati Zenap yg mencari buku Yasin untuk di siapkan pengajian ibu nya


"Zenap yuk istirahat biar yg lain mengurus ini semua lihat hidung dan pipi mu memerah karna terus menangis"ucap Arkan


"Iya pak"ucap Zenap patuh lalu pergi bersama Arkan


"Mas masak Zenap masih panggil Arkan pak"ucap Syifa memeluk suaminya yg baru pulang tadi dia tidak ikut ke pemakaman karna Maya melarang nya tidak mau wanita hamil berkeliaran di sore hari apa lagi menjelang magrib


"Biarkan saja Zenap butuh waktu lagian sekarang ini dia lagi berduga pelan pelan saja nanti dia akan mengubah cara memanggil suaminya"ucap Arka tersenyum mencium kening Syifa


"Aku mandi dulu nanti mau siap bantuin yg lain"ujar Arka


"Ikut"ucap Syifa merenta kan tangannya


"Iya"ucap Arka lalu merangkul bahu Istrinya mereka segera menuju kamar


"Pak aku mandi dulu"ucap Zenap terhenti lalu menoleh pada Arkan yg menutup pintu kamar


"Iya tau kan arah kamar mandi"ucap Arkan santai meletakkan ponselnya lalu dia menoleh tidak mendengar suara Zenap


"Kenapa"ucap Arkan menatap Zenap yg menatapnya


"Maaf pak aku tau ini kamar bapak tapi bisakah bapak keluarga sebentar"ucap Zenap gugup mengigit bibirnya karna sekana dia lancang


"Kenapa takut aurat nya di lihat aku kan suami kamu"ucap Arkan tersenyum mengelus kepala Zenap


"Mau sholat magrib kan"tanya Arkan dengan tersenyum lembut


"Iya"ucap Zenap menggakuk


"Yuk kita mandi sama sama nanti aku yg akan menjadi imam nya"ucap Arkan tersenyum menarik tangan Zenap seperti nya Arkan akan modus


"Kok malah bengong"ucap Arkan menutup pintu kamar mandi


"Pak Arkan aku ini tidak biasa di liat aurat nya pada lelaki apa lagi mau mandi bareng sama lelaki pak Aekan modus"ucap Zenap menunduk


"Ngak siapa juga yg modus ayo cepat"ucap Arkan lalu melepaskan baju nya meletekkan di keranjang baju kotor dai segera mengisi bathub dengan air


"Kok masih bengong"kekeh Arkan dengan mengeleng


"Pak Arkan ini giaman sih aku ini wanita istri nya pula jika dia khilaf gimana kan nanti ada acara "gumam Zenap cemas


"Aku bantu"ucap Arkan lalu melepaskan hijab Zenap sampai rambut itu terurai


"Kamui cantik"ucap Arkan mengelus wajah Zenap


"Pak"ucap Zenap pipi nya bersemu merah dengan pelan Arkan menjatuhkan baju yg di pakai Zenap tentu membuat dada Zenap bergemuruh hebat dengan pelan Arkan mengendong Zenap meletekkan nya di bathtub


"Aku bisa sendiri pak"ujar Zenap pelan Arkan hanya tersenyum lalu dia memasukkan tangannya di bathtub membuat Zenap menahan nafasnya pikiran nya sudah tentu Arkan akan menerayangi tubuhnya tapi dia salah Arkan hanya mengobok-obok air nya supaya menimbulkan busa


"Mandi lah aku mau bersihin badan juga"ucap Arkan mengusap kepala Zenap lalu ia berdiri menuju shower


"Huh lega nya"ucap Zenap lalu mengosok tubuh nya Arkan juga sibuk membersihkan tubuhnya setelah selesai dia mendekati Zenap yg asik membilas tubuh nya


"Pak Arkan"pekik Zenap menutup wajahnya saat Arkan mendekati nya dengan tubuh polos hanya bagian pribadi nya yg tertutup dan itu ketat


"Kenapa sih"kekeh Arkan


"Sini aku bantu"ucap Arkan lalu mengosok tubuh Zenap


"Pak aku bisa sendiri"ujar Zenap menolak


"Aku bantu"ucap Arkan tersenyum lalu mengedong Zenap tentu Zenap terpekik apa lagi dia sangat polos dia kira tadi Arkan akan duluan keluar namun dia salah

__ADS_1


"Bilas di sini enak"ucap Arkan meletekkan Zenap di bawah Shower menggosok badan Zenap dengan santai Zenap berdegup dia tidak karuan menatap wajah Arkan yg hanya santai menggosok tubuhnya yg polos Zenap tidak bisa bicara lalu pikirannya terlintas sebelum dia menikah dengan Arkan dia pernah mengobrol dengan Syifa dan Zahra mereka bercerita soal adegan ranjang mereka jika para suami mereka sangat membuat mereka lelah apa lagi Syifa bercerita jangan pernah memberi Arkan celah jika tidak Zenap tidak akan bisa berjalan secara Arkan dan Arka itu adik kakak tentu sifat mereka tidak berbeda jauh tapi melihat ekspresi Arkan yg santai mengosok tubuhnya membuat Zenap termenung apa Arkan tidak tertarik dengan tubuh polosnya apa Arkan suka dengan tubuh montok tidak seperti dirinya yg kerempeng atau


"Pak Arkan normal kan"ucapan itu membuat Zenap menyesali perkataan nya karena sudah lancang berkata seperti itu Arkan menjadi menatap Zenap serius membuat Zenap jadi gugup setengah mati


__ADS_2