Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 99


__ADS_3

"Nona?!"


Abel yang awalnya berjalan mengendap-endap, akhirnya menelan kegagalannya. Berharap tidak ada yang melihatnya, malah sekarang Emely memergokinya. Abel dengan perlahan membalikkan badannya dan menyembunyikan tangannya dibelakang tubuhnya.


"Hai Emely, kenapa masih disini?" sapa Abel dengan senyumnya. Kalau dilihat, ini juga sudah malam untuk Emely berkeliling mansion. Yap, benar malam. Karena tadi sebelum kerumah, Abel menyempatkan diri untuk menikmati gelato di kedai langganannya.


"Saya kan menunggu nona." jawab Emely. Abel tau kalau tugas Emely adalah membantunya, tapi tentu saja itu dengan izin Acarl seorang. Entahlah, laki-laki itu terasa seperti ibu untuk Abel. Cerewet juga protektif, tapi Abel cinta.


Abel mengangguk-angguk mengiyakan jawaban Emely. "Baiklah, karena aku sudah pulang jadi kembalilah. Aku akan bersih-bersih." ujar Abel yang tanpa sengaja mengayunkan tangannya yang terbalut perban.


"ASTAGA NONA!!! Tangan nona kenapa?" pekik Emely yang langsung meraih tangan Abel. Melihat tangan yang terbalut perban itu dan mengamatinya sembari menunggu jawaban dari Abel. Abel menggigit bibir bawahnya, merutuki kebodohannya yang bisa sampai ketahuan begini.


Abel menyengir dan memposisikan jari telunjuknya dibibir, menyuruh Emely untuk diam. "Aku bisa ceritakan ini dikamar," ujar Abel yang lalu menarik Emely kedalam kamarnya.


Didalam kamar milik Abel, Abel mendudukkan Emely di tepi ranjang miliknya. Sedangkan Abel mondar-mandir didepan Emely. "Emely," panggil Abel saat dirinya menghentikan kakinya yang mondar-mandir sejak tadi. Kini tatapan Abel langsung menjurus tajam pada Emely, membuat Emely tak sanggup menatap mata Abel.


"I-iya Nona?" jawab Emely dengan ragu. Bahkan Emely sendiri bingung, kenapa dia dibawa ke kamar Abel.


Bruk...


"Aaaaaa Emely, aku mohon jangan beritahu Acarl atau siapapun itu kalau tanganku terluka. Kalau kamu mau aku bisa nanti dua hari tidak akan main-main lagi seperti yang kamu mau. Oh atau aku akan sekolah memasak lebih giat lagi. Tapi aku mohon jangan beritahu siapapun tentang tanganku!!!!" cerocos Abel dengan wajah memelasnya, oh iya jangan lupa tangannya yang dia satukan didepan dada. Juga jangan lupa posisi Abel yang berjongkok didepan Emely.


Emely melongo melihat gadis yang juga bisa dikatakan majikannya itu memohon padanya. Bahkan terlihat lucu dan menggemaskan dengan puppy eyes nya. "No-nona? Pftt.... HAHAHAHA!!!! Aduh aduh, Nona?" tawa Emely seketika pecah saat itu juga. Berbeda dengan Abel yang menundukkan kepalanya malu.


"Hah~h. Nona, anda benar-benar lucu sekali. Saya kira Nona ada masalah yang berat, sampai-sampai menarik saya kesini." ujar Emely dengan senyumnya.


"Nona, Nona adalah nona saya. Nona yang memilih saya menjadi pelayan pribadi untuk Nona. Walaupun Tuan Acarl yang menggaji saya, tapi keinginan Nona lebih penting daripada itu. Saya sangat bersyukur bisa bersama Nona yang baik dan cantik seperti ini." lanjut Emely sembari menarik Abel agar duduk disampingnya.


Abel mendongakkan kepalanya, wajahnya memerah karena malu setelah mengeluarkan kata-kata permohonan untuk Emely tadi. Dan akibatnya, dia sampai ditertawakan oleh Emely. "Tapikan, bisa saja aku akan pergi dari sini. Tetap saja setelah itu Emely akan menjadi pelayan biasa lagi, atau lebih parahnya akan dipecat." cicit Abel yang masih merasa canggung dengan suasana ini.


"Apa Nona akan pergi?" tanya Emely membuat Abel kebingungan sendiri. Kalau Abel pikir-pikir, bersama Acarl memanglah menyenangkan. Tapi kalau mengingat jalannya ia ke pelukan Acarl, itu semua karena masalah yang ia sendiri lakukan. Menaklukkan Acarl, Abel bisa. Tapi menaklukkan hati tuan besar Xelone?


"Tidak, Iya. Huh! Aku bingung tapi aku harus memilih." jawab Abel membuat Emely tersenyum lembut layaknya seorang kakak untuk Abel.

__ADS_1


Emely menggenggam tangan Abel, membawanya merasakan kehangatan seseorang yang bisa dipercaya. " Kalau nona yakin dengan tuan, saya rasa semua akan berjalan dengan baik." ujar Emely membuat Abel ternganga. Ada benarnya juga dengan apa yang Emely katakan, Acarl percaya padanya begitu juga dengannya yang percaya pada Acarl. Semua masalah pasti selesai dengan benar jika kepercayaan itu masih ada.


"Apa aku bisa memanggilmu kakak?" tanya Abel pada Emely dengan wajah yang masih seperti tadi.


Emely tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aduh nona, saya berharap juga begitu. Tapi, mungkin dikehidupan ini kita ditakdirkan seperti ini."jawab Emely membuat Abel berdecih kesal.


"Huh, aku juga tidak mau menjadikan mu kakak. Aku hanya mau kamu tidak memberitahukan lukaku pada orang lain. Itu saja!" ujar Abel membuat Emely menahan tawanya. Nona nya yang lucu ini, tidak pernah terbayangkan olehnya kalau suatu hari nanti dia yang akan melayaninya.


"Nona adalah majikan saya, tentu akan saya turuti. Tapi sekarang, luka nona harus dibersihkan dan diganti perbannya." ujar Emely.


_________________


Dipagi hari yang sangat amat cerah. Minggu pagi yang memancarkan sinar sedikit demi sedikit. Bukan berarti itu belum membangunkan orang-orang yang ingin menikmati hari Minggu ya! Karena sekarang, Abel dengan topi dan outfit olahraga miliknya sudah siap untuk berlari.


Rencananya, Abel ingin berlari sampai ke taman dekat mansion ini. Rasanya otot Abel harus dilemaskan, karena sudah lama tidak ia bawa bergerak lagi. "Perfect!" puji Abel saat melihat pantulan dirinya di cermin.


Abel keluar dari mansion setelah menyapa para satpam yang bertugas menjaga mansion. Berlari-lari kecil, Abel menikmati udara pagi yang masih segar. Merasakan betapa luasnya dunia yang ia dambakan sejal dulu. "Aku datang kebebasan!" gumam Abel disela larinya.


Tak disangka, sejak tadi Abel sudah diikuti sebuah mobil berwarna hitam yang berada tak jauh dibelakangnya. Mobil itu menancap gas lebih cepat dan....


"Arghh!" pekik Abel yang langsung menghentikan larinya. Abel berbalik kebelakang, kini dua mobil sudah melaju kearahnya. Dan jangan lupa tembakan-tembakan yang terjadi antara dua mobil itu.


"AMANKAN NONA!!" suara teriakan dari mobil yang paling belakang. Abel yang mematung, hanya bisa diam dengan lutut yang bergetar. Telinganya penuh dengan suara tembakan yang terjadi didepannya.


Mobil yang awalnya ada dibelakang, kini mobil itu sudah berada berdampingan dengan mobil yang didepan. Tapi...


Brukk....


"NONA!!" pekikan itu, disertai dengan ditahannya tubuh Abel. Dua orang berpakaian hitam, menahan pergerakan Abel. Bahkan pistol kecil sudah berada tepat didada tempat jantung Abel berdetak.


"Kalau mendekat, Nona kalian yang akan mati." ujar orang yang mengarahkan pistol ke dada Abel. Entah kenapa, rasanya dada Abel tertusuk sesuatu benda kecil. Darah sedikit menetes melalui kaos putih yang Abel kenakan, padahal Abel yakin kalau yang diarahkan itu adalah pistol.


Para orang yang sama berpakaian hitam, mendadak mundur. Semua orang disini berpakaian hitam, kecuali Abel. Tapi yang mundur itu, salah satunya ada yang Abel kenal. Seseorang yang pernah sekali ia lihat saat Acarl mendaratkan helikopter di mansion saat itu.

__ADS_1


Entah kenapa, untuk bicara saja Abel tidak ada tenaga. Dalam hati Abel, kini dipenuhi panggilan untuk Acarl. "Bagus, dengan begitu kami akan mudah untuk membawa nona kalian ini." ujar seseorang yang tadi membawa pistol. Pistol itu kini sudah ia cabut, dan terlihatlah sekarang. Pistol itu memiliki mulut yang tajam dengan lumuran darah yang sudah pasti milik Abel.


"Untuk apa kalian membawa Nona Abel?" tanya orang yang Abel kenal itu pada para preman yang menahan Abel.


"Untuk apa? Tentu saja untuk uang." jawab preman itu dengan gamblangnya.


Orang yang Abel sebut bodyguard Acarl, terlihat geram dengan jawaban orang yang menahan Abel. Bahkan pistol ditangan Bodyguard Acarl, kini sudah ia arahkan lagi ke arah orang yang menyandera Abel. Tak kalah cepat, pria berpistol itu mengarahkan pistol ke dada Abel lagi. Darah kembali mengalir membuat Abel meringis.


"Sudah ku bilang, nona mu bisa mati sekarang kalau kau tidak memberiku jalan untuk membawanya." ujar pria itu. Terlihat bodyguard Acarl menurunkan pistolnya, wajahnya masih berkabut amarah.


Pria berpistol itu menurunkan pistolnya juga tapi dengan tangan yang seolah mengisyaratkan sesuatu. Tiba-tiba, seseorang berlari melemparkan granat dan...


BOOMMMM!!!


Mobil yang bodyguard Acarl dan rekannya kendarai hancur. Dan saat mobil itu hampir meledak, Abel sudah dibawa kedalam mobil preman dan melaju meninggalkan bodyguard Acarldan rekannya. Kini Abel tidak yakin dengan apa yang akan terjadi padanya nanti.


.


.


.


.


.


Hai semua 😭


Aku comeback 🥺


Jangan lupa like, komen dan vote ya 😂


Dukung wajib 😂

__ADS_1


See you next part:)


__ADS_2