Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 120


__ADS_3

Tiga hari untuk menyelesaikan ujian akhir sekolah, dan kini Abel dan juga Falida berdiri didepan mading sekolah. Mata mereka sama-sama membulat saat melihat nama yang membuat jantung dan perasaan mereka berlomba sampai berdetak kencang.


Nama yang menandakan akhir dari kerja keras dalam 2 tahun lebih ini. Dan disinilah Falida dan Abel, menatap tak percaya akan nama mereka berdua yang tercantum dalam tanda lulus. Kedua tangan yang saling berpegangan, saling menyakinkan bahwa yang ada didepan merek bukanlah suatu mimpi. Tapi sudah menjadi kenyataan.


"Apa benar ini? Apa aku tidak salah lihat?" ujar Abel saking terkejutnya melihat namanya di daftar pertama yang menandakan nilai yang unggul dari yang lain.


Falida yang mengerti dengan keterkejutan Abel, menepuk pundak gadis itu dan menganggukkan kepalanya berulang kali. Nilai sempurna yang membuat Abel merasa lega dengan perjuangannya. Ingatannya kembali pada bullyan yang ia terima ketika kelas satu dan dua berjalan, dan semua terbayarkan dengan lima bulan perjuangan yang menjadi akhir dari segala kepedihannya.


Lamunan Abel terbuyarkan dengan teriakan para gadis yang memenuhi gendang telinganya. Seketika, Abel berbalik untuk melihat apa yang sedang terjadi pada orang-orang yang berteriak ini. Dan netra Abel kembali membulat saat seorang pria dengan buket berisi bunga anyelir yang indah dan sungguh membuat siapapun akan terpana dengan perpaduan warna yang soft itu.


"Apakah ini gadisku yang pintar dan cantik?" tanya pria itu pada asistennya yang berada di sampingnya. Sedangkan Abel mendongak untuk menatap pria itu lebih dalam, karena pria itu berada dekat didepannya dengan senyum yang menawan.


"Menurut saya, benar inilah gadis yang sangat anda sayangi ,Tuan. Dan terlihat amat cocok bersanding dengan anda." jawab asisten pria itu dengan santainya tanpa memperdulikan hati Abel yang kini makin jedag jedug seperti sedang disko.


"Apakah itu benar nona Abelrta Gourich Guston? Benarkan kamu gadisku yang sangat aku sayangi dan aku cintai sampai semua orang melihat kita sebagai saksi?" tanya pria itu pada Abel dengan pesonanya. Dan itu, sungguh membuat Abel langsung terhipnotis dan menganggukkan kepalanya berulang kali dengan senyumnya.


"IYA!!!"pekik Abel sembari masuk ke pelukan pria itu yang tak lain adalah Acarl. Sungguh tontonan manis yang mampu membuat semua orang terbaper-baper. Tapi tak banyak juga yang iri sampai menyimpulkan kalau Abel dan Acarl ada sesuatu yang tidak hanya sekedar pasangan biasa, tapi lebih intim daripada itu. (Biasalah orang iri:v)


Acarl memeluk erat tubuh mungil itu, dan menutup telinganya dari bisikan-bisikan yang tidak benar. Tapi tak lama kemudian, semua bisikan itu terhenti tepat saat perempuan dengan rambut bergelombang diujungnya itu berteriak dengan antusiasnya.


"KAKAK IPAR!!!!"


Hafal dengan suara itu, Abel melepaskan pelukannya dari Acarl dan melihat seorang gadis yang berlari di lorong dan semakin lama semakin mendekat padanya. "Kak Clara? Ada apa kemari? Mau ucapin selamat ke aku ya?" tanya Abel pada gadis yang berdiri di depannya dengan nama Clarayta Xelone.


Clara menggeleng dan langsung mengalihkan pandangannya pada orang-orang yang sirik dengan Abel dan Acarl yang menunjukkan romantisnya mereka di sekolah. "Tentu saja tidak! Aku disini untuk menghapus omongan-omongan sirik yang bertebaran sampai oksigenku tercemar." sindir Clara yang membuat Abel tertawa kecil.


"Kau bereskan tempat ini, karna aku akan menghabiskan waktuku bersama gadisku yang akhirnya lulus sekolah." ujar Acarl pada Clara yang kini cemberut karena kakaknya yang tidak berperikemanusiaan padanya.


"Dadah!! Aku percayakan padamu adikku tersayang!!" lanjut Acarl seraya menggiring Abel menjauh dari tempat itu. Sedangkan Clara menghela napasnya kesal pada kakaknya yang terlalu dimabuk cinta itu.

__ADS_1


"Sabar Clara, walaupun tampang dosanya tidak diakui , dia tetap kakakmu!" batin Clara.


Para siswi yang tadi saling berbisik membicarakan Abel, kini berganti menbicarakan dirinya. Karena yang mereka tau, Clara dan Abel tidak pernah bisa bersama. Dan bisa jadi kemunduran Clara itu, karena Acarl ada dipihak Abel. Padahal kenyataannya, itu semua salah karena Abel yang sebenarnya adalah orang yang menariknya dari rangkulan hitam teman-temannya yang hanya memanfaatkan dirinya.


"Kak Clara, sabar ya kak. Memang berat harus menerima kenyataan kalau kakak kalah tempat dengan si Abel itu. Padahal kakak adalah adiknya tuan Acarl. Pasti Abel menggoda tuan Acarl dengan tampang sok cantiknya itu." ujar salah satu siswi yang Clara kenal. Pila, gadis yang seangkatan Abel namun suka bergabung dengan geng nya dulu.


Clara mengeluarkan smirknya, seakan mengumpat bodoh pada Pila yang sok tau dan tidak berpikir secara matang kalau dirinya juga telah membuangnya saat tau Clara kalah dengan Abel saat itu. "Kau benar, Abel cantik dan aku adalah adik dari Acarl Xelone. Tapi bukan berarti kecantikan Abel itu menggoda tuan Acarl Xelone sampai bisa membuatku jadi begini. Benarkan itu, Pila yang sudah membuangku saat aku sudah dititik terbawah?" sindir Clara membuat Pila membulatkan matanya.


"A-Apa yang kakak maksud? A-Aku ti-tidak pernah membuang kakak!" sangkal Pila membuat Clara tertawa kecil.


"Kalau bukan membuang, berarti lo nggak punya prinsip sampe ikut-ikutan aja ya?" bukan Clara yang menjawab, tapi Falida yang juga ada ditempat itu sejak tadi. Falida yang juga muak dengan drama sekolah, tidak sabar untuk membasmi para penggibah ini.


Walaupun seangkatan, tapi Falida tidak canggung akan itu. Dan karena Falida yang menjawab, membuat Pila melirik kesal pada Falida. "Lo nggak ada sangkutan apa-apa ya! Nggak usah sok ceramahin gue! Nggak butuh!" kesal Pila yang meluap-luap pada Falida. Dan itu malah membuat Falida lebih bersemangat lagi untuk meladeninya.


"Mulut lo unik deh, cepet banget ganti logatnya! Tadi lembut, sekarang amit-amit." ujar Falida membuat tangan Pila kini ikut melayang untuk menampar pipi Falida, sampai akhirnya tangan itu berhenti sebelum mengenai pipi Falida.


"Kalo mau latihan silat, jangan pakek pipi pacarku untuk jadi bahan percobaan." ujar pria bertangan kekar yang menahan tangan Pila yang hendak menampar Falida. Berbeda dengan Falida dan Clara yang mendengar itu, langsung saja tatapan tak percaya langsung memenuhi wajah keduanya.


"Inget itu!" lanjut pria itu yang amat familiar dan dia adalah Rian. Adrian Ariens.


 


...----------------...


"Mau kemana~a?" tanya Abel dengan manja pada Acarl yang mendekapnya sembari menikmati pemandangan luar mobil yang hijau segar.


"Mau ambil hadiah. Nanti juga tau kalau udah sampai," jawab Acarl membuat Abel mengembungkan pipinya.


"Y"

__ADS_1


.


.


.


.


.


Hola🐼


Rindu kah?


Kangen kan?


Iyalah!!!


Hehehe sorry ya sering menghilang😭


Jadi gini, sekarang tuh aku udah masuk sekolah 😭


Jadi yang gini deh😭


Jangan lupa like, komen dan vote ya 🤭


Dukung wajib 👌


See you next part:)

__ADS_1


__ADS_2