Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 77


__ADS_3

Hembusan angin laut dan suara ombak yang menepi ke pulau, menambah kesan indah dan memanjakan mata selama menunggu makanan matang. Tidak diragukan lagi, sekarang memang benar hanya ada Abel dan Acarl di villa ini. Setelah Cheiz selesai mengantarkan barang untuk Abel dan Acarl, sekarang pria itu sudah tidak terlihat lagi.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Acarl sembari memeluk pinggang Abel dari belakang. Abel sedikit terkejut saat tiba-tiba tangan kekar melingkar diperutnya, namun tak lama dia tersenyum.


"Tidak ada, sebentar lagi juga akan matang soup nya." jawab Abel seraya melirik soupnya yang hampir matang itu.


"Hah, padahal tadi aku bilang kalau kamu akan jadi ratu dan aku pelayanmu." ujar Acarl yang menaruh dagunya dibahu Abel dengan nyaman.


Abel tersenyum mendengar gerutuan Acarl, mau bagaimana pun tidak mungkin seorang Acarl cocok untuk memasak. Yah walaupun dirinya sendiri juga tidak bisa memasak, tapi akan lebih baik kalau perempuan yang memasak bukan?


Berbekal mesin pencarian diponselnya, Abel mengikuti instruksi yang tertera untuk memasak soup daging dengan sempurna. "Maaf kalau nanti tidak enak," lirih Abel yang merasa insecure saat mengingat lasagna enak buatan Acarl kemarin.


Bukannya menjawab, Acarl malah meraih tangan Abel dan mengambil jari gadis itu. Abel terkejut saat merasakan jarinya hangat dengan sapuan-sapuan yang membuatnya geli . Dilihatnya Acarl yang sedang memasukan jarinya kedalam mulut pria itu, seakan dirinya bayi yang sedang haus .


"Aaaa Acarl geli!" pekik Abel membuat Acarl langsung melepaskan jari Abel dari mulutnya.


"Jarimu manis, sudah pasti masakan yang kamu masak juga seenak jarimu." ujar Acarl membuat Abel tersipu.


"Tuan Acarl Xelone, jika mau memujiku tolong jangan sampai membuat jantungku hampir lepas!"batin Abel.


Masih dalam pikirannya, Abel tersentak saat tutup panci melayang menandakan soup yang dimasak sudah matang sekarang. Karena tidak hati-hati, tangan Abel malah langsung mengambil panci itu yang faktanya baru dari kompor yang panas.


"Aawww!!" pekik Abel lalu melepaskan kompor yang hampir dia angkat tadi. Sedangkan Acarl yang masih bertengger dibelakang gadis itu langsung ikut panik dan meraih kedua tangan gadis itu untuk dibawanya ke washtafel.


"Tahan sebentar!" perintah Acarl yang lalu membuat pria itu berlari tergesa-gesa.


Tak lama Acarl kembali dengan wadah berisi lidah buaya asli. Mengupasnya lalu mengoleskannya pada luka bakar Abel. Melihat raut khawatir Acarl, membuat Abel ingin tau sebenarnya seberapa besar Acarl menyukainya, oh atau lebih tepatnya mencintainya. Hubungan yang berawal dari konflik keluarga, mengapa menjadi seperti ini?


Merasa sedang ditatap, Acarl mendongakkan kepalanya dan mendapati Abel yang menatapnya dalam diam. Raut wajah yang tidak terbaca itu membuat Acarl penasaran dengan apa yang dipikirkan gadis itu.


"Lain kali hati-hati," ujar Acarl kembali fokus pada tangan Abel yang mulai memerah.


"Tidak parah kok, cuma kaget aja tadi." jawab Abel mencoba menenangkan Acarl yang masih terlihat panik.

__ADS_1


Acarl meniup-niup kecil tangan Abel yang memerah. Walau tidak sampai melepuh, tapi rasanya sangat sakit bagi Acarl. "Acarl," satu panggilan mampu membuat Acarl mendongak pada si pemanggil. Lima detik kemudian Acarl terperangah karena bibirnya terasa hangat saat Abel menempelkan bibirnya dibibir Acarl.


"Makasih," ujar Abel setelah menjauhkan wajahnya dari Acarl, namun matanya masih setiap menatap mata biru emerald itu.


"Baiklah, karena tangan kamu sakit jadi aku akan menyuapi mu. Tidak ada penolakan!" perintah Acarl membuat Abel tertawa geli.


Acarl menggendong Abel menuju meja makan dan mendudukannya di salah satu kursi disitu. Sementara Abel, dirinya sibuk melihat Acarl yang mengambil soup untuknya.


"Aaaaa," Acarl membuka mulutnya menyuruh Abel untuk mengikutinya.


Abel membuka mulutnya dan yupp, satu suapan masuk kedalam mulut Abel. "Jangan perlakukan aku seperti anak kecil!" kesal Abel disela makannya.


"Diam dan nikmati saja ratuku," jawab Acarl seraya menyedokan soup untuk dirinya sendiri. Satu mangkuk untuk berdua, siapa pikir kalau Acarl akan melakukan itu? tapi nyatanya hanya bersama Abel pasti Acarl terlihat luluh.


...----------------...


Senja terlihat memancar indah di pantai, sejenak membuat dua orang yang sedang menikmatinya merasa terdukung akan suasana indah didepannya.


"Senjanya cantik," puji Abel yang melihat senja dengan Acarl yang setia memeluknya dari belakang. Berdiri dibalkon kamar, Acarl dan Abel melihat senja yang mulai menghilang dibalik lautan yang luas dan membiru.


"Kalo kamu suka, kita bisa disini sampai kamu bosan." lanjut Acarl membuat binar dimata Abel langsung terpancar sementara senja sudah meredup.


"Benarkah?"tanya Abel memastikan. Merasakan gesekan di lehernya, Abel tau jika itu anggukan dari Acarl.


Karena semakin malam semakin dingin, membuat Abel dan Acarl segera masuk dan menutup pintu dan jendela villa. Kamar mandi dalam villa hanya satu, dengan begitu membuat Abel dan Acarl harus bergantian untuk mandi. Didalam villa yang hanya ditinggali mereka berdua, membuat Abel tidak canggung untuk berteriak ataupun bernyanyi sesuka hatinya.


Berteriak.. berteriak...Teriak, " APA!!!!?? KITA TIDUR BERDUA?"


Walau pernah tidur berdua, tapi rasanya kalau disengaja begini membuat bulu kuduk Abel berdiri. Tidak ada sofa panjang, kamar hanya satu, lantai dingin. Setelah melihat Acarl membaringkan diri di tempat tidur, membuat Abel bertanya pada Acarl dimana letak kamar Abel tapi jawaban Acarl membuat Abel langsung terkejut.


"Ini villa pribadi, aku membuatnya hanya untukku jadi hanya ada satu kamar saja." ujar Acarl menjelaskan .


"Aha, aku bisa tidur di..." ujar Abel ragu sembari melihat sekeliling untuk dijadikan tempat tidur untuknya.

__ADS_1


"Tidurlah, kita juga sudah sering melakukannya." perintah Acarl membuat Abel menelan ludahnya memikirkan harus tidur dengan Acarl untuk kedepannya. Dan apa kata Acarl? sudah sering melakukannya??


Karena melihat sekeliling tidak ada tempat yang pas untuk dia tidur, dengan langkah ragu Abel mendekati tempat tidur dan membaringkan tubuhnya ke tepi yang memang sangat-sangat tepi. Menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang sama digunakan Acarl. Menatap langit-langit kamar, sembari melirik Acarl yang sudah menutup matanya.


"Acarl!!" panggil Abel dengan berbisik. Tidak mendapat respon dari Acarl, membuat Abel mengira kalau Acarl sudah tidur.


Dengan mata tertutup, sebenarnya dalam diri Acarl ingin tertawa melihat Abel dengan segala kecanggungannya. Bagaimana bisa gadis itu masih malu-malu padahal sudah sering mereka ditempat tidur yang sama. Acarl hanya diam sambil melirik Abel yang masih membuka matanya sembari melihat langit-langit kamar.


Tak tahan dengan Abel yang tidak tidur-tidur, Acarl langsung memeluk gadis itu dan bersikap seolah tidak sengaja. Abel tentu saja kaget dengan tangan dan kaki Acarl yang menindih tubuhnya. Melihat wajah Acarl, Abel mengira jika Acarl tidak sengaja melakukannya. Walau begitu, Abel hanya mendiamkan saja tangan dan kaki Acarl karena tidak mau mengganggu lelaki itu dan sampai membangunkannya.


Dalam diemnya, Abel berpikir akankah dirinya dengan Acarl akan seperti ini sampai entah kapan mereka berpisah? Walau belum ada hubungan pasti saja sudah membuat Abel khawatir, apalagi jika dia sudah mengutarakan perasaannya yang sebenarnya, Abel hanya takut kalau tiba-tiba semua berubah saat Abel sudah yakin untuk mengutarakannya.


"Tuhan, jaga kami tetap seperti ini." batin Abel sebelum dirinya menutup matanya.


"Tidurlah yang nyenyak.. cupp," bisik Acarl setelah memastikan gadisnya benar-benar tidur, dengan sedikit kecupan selamat tidur untuk Abel sebelum menyusul Abel di alam mimpi.


.


.


.


.


.


Hay semua ❤️


Aku comeback 😅


Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙


Dukung wajib 😁

__ADS_1


See you next part:)


__ADS_2