
Ujian akhir yang menyebalkan akhirnya tiba juga. Dimana, sekarang para siswa kelas kilat akan mempertaruhkan pembelajarannya selama kurang lebih lima bulan ini untuk menuju kelulusan. Dan itu berlaku pada Falida dan juga Abel, yang dimana mereka di satu kelas yang sama tapi berbeda mata pelajaran.
Memang dalam ujian kali ini jurusan apapun dijadikan satu kelas, karena dengan begitu tidak ada jalan untuk mereka saling memberi jawaban. Yah, karena perbedaan jurusan juga beda materi dan soal ujian. Tapi Falida dan Abel bersyukur karena dijadikan satu kelas, setidaknya akhirnya mereka bisa merasakan menjadi teman sekelas.
Hampir dua jam berlalu, dan kini sudah saatnya bagi Abel dan Falida untuk menghela napas lega sejenak setelah mengisi lembar jawaban yang entah benar atau tidak itu. Dan kini, Falida juga Abel memilih menuju kantin untuk mengisi perut mereka sejenak, sebelum akhirnya kembali mengerjakan lembar jawaban yang lainnya.
"Otak gue mau pecah!" gumam Abel seraya menempelkan gelas minumannya yang dingin di kepalanya.
Falida mengangguk setuju dengan apa yang Abel katakan. Apalagi dia yang notabene mengambil jurusan IPA! Segala rumus harus berada diluar kepalanya saat itu juga. Tapi tetap saja jurusan Abel dan Falida sama-sama susahnya.
"Eh iya, gue masih penasaran sama lo dan Rian waktu itu." ujar Abel membuat Falida yang sedang minum terbatuk karena terkejut.
"Uhuk uhuk..." batuk Falida yang tak berhenti-henti. Sementara Abel mengeluarkan smirknya, tau bahwa sahabatnya ini benar-benar ada sesuatu dengan Rian. Terlihat sangat jelas dari rona pipi Falida yang memerah.
Falida yang bengong sendiri, kini merasa kesal karena digoda Abel dengan gadis itu menoel-noel pipinya terus menerus. "Aaa, gue nggak tanya lagi deh! Gue akan tunggu kabar baiknya aja." ujar Abel mencoba mengakhiri aksi mengusili sahabatnya ini.
Yah, kalau sesuai dugaan Abel ini benar-benar terjadi. Setidaknya Falida bersama seseorang yang Abel kenal dan sudah tau bagaimana sifatnya. Falida adalah sahabatnya, bagaimana mungkin Abel akan membiarkan Falida bersama dengan sembarang lelaki yang akhirnya akan melukai Falida!
"Bel?" panggil Falida membuat Abel yang tadinya terdiam didepan minumannya, menjadi menolehkan kepalanya menghadap sahabatnya yang terlihat menunduk sembari mengaduk-aduk minuman yang sahabatnya pesan itu.
"Ya?" balas Abel yang sudah siap mendengarkan apa yang akan sahabatnya ini katakan.
Falida terlihat menghela napasnya, sebelum akhirnya mulai membicarakan apa yang ingin ia katakan. "Sebenarnya, gue dan Rian tidak ada apa-apa." ujar Falida membuat Abel tersenyum. Dilihat darimanapun, itu bukanlah sepenuhnya kebenaran. Tapi Abel tidak mempermasalahkan sahabatnya ini mau cerita atau tidak, karena setiap orang memiliki rahasia sendiri.
"Lo nggak usah bicara gitu, gue nggak maksa lo buat ceritain yang sebenarnya. Yang pasti, setiap keputusan yang lo ambil pasti akan ada gue dibelakang lo." balas Abel sembari mendaratkan tangannya dipunggung tangan Falida yang ada di atas meja.
Falida yang mendengar jawaban Abel, sungguh merasa sangat beruntung untuk menjadi sahabat Abel. Inilah pertemanan yang membuat mereka merasa bebas tanpa terkekang, karena privasi tetaplah privasi. Karena bagi Abel maupun Falida, pertemanan bukanlah hubungan yang mengharuskan kita terkekang.
Tak terasa, jam untuk mengahadapi ujian kembali datang. Abel dan Falida yang satu kelas, akhirnya berjalan beriringan menuju kelas mereka. Hampir sampai kelas, langkah mereka terhenti saat sosok pria didepan mereka ini menghalangi jalan.
"Mau minggir, apa gue tendang?" tawar Abel membuat pria itu meringis. Namun tatapan pria itu dengan cepat beralih pada Falida yang tertunduk malu sekarang.
__ADS_1
"Gue mau bicara, nanti gue tunggu di depan." ujar pria itu yang tak lain adalah Rian. Pria itu dengan terang-terangan mengucapakan itu tanpa memperdulikan Abel yang berada didekat mereka dengan telinga yang ia pasang lebar-lebar.
Setelah mengatakan itu, Rian langsung pergi melewati mereka dan sungguh rasanya Abel menjadi kepo sekarang. Tapi melihat Falida yang tidak berani menatap wajah Rian, seakan mengingatkan dirinya saat bertemu Acarl dulu. "Pasti ada kejadian seru." batin Abel tertawa.
----------------
"Heeuummm, rasanya bisa pas gini ya?!" puji seorang gadis pada pria didepannya.
Berbagai masakan tersaji dengan indahnya dimeja makan, dan itu khusus untuk gadis itu yang tak lain adalah Abel. Dan jangan lupa pria berapron yang sudah menyiapkan makanan itu, siapa lagi kalau bukan Acarl!
"Makan pelan-pelan aja. Itu khusus untuk istriku tercinta," ujar Acarl yang langsung mendapat pelototan langsung dari Abel.
"Istri istri! Mana cincinnya?" sarkas Abel membuat Acarl tertawa. Inilah Abelnya, dengan ragam ekspresinya yang membuat Acarl jatuh cinta setiap harinya.
Melihat tawa Acarl, membuat Abel juga ikut tersenyum dengan tawa kecil yang seakan memuji wajah tampan Acarl saat sedang bahagia seperti sekarang.
"Tapi aku setuju menjadi istrimu, apalagi dengan masakan seperti ini." ujar Abel yang langsung mendapat usapan dikepalanya. Sementara Acarl, kini pria itu mengeluarkan smirknya seraya mengusap pucuk kepala Abel dengan sayang.
" Kapan kamu lulus? Kita harus menyiapkan tempat untuk membuatnya bukan?" bisik Acarl membuat Abel semakin merona.
Hidup bersama Acarl, membuat Abel tau betapa beratnya menjadi Acarl yang selalu menahan dirinya demi Abel. Dan disitu, Abel menjadi tambah sayang pada Acarl yang selalu menjaga dirinya. Jika pria lain, Abel tidak yakin kalau sekarang ia belum gol.
"Acarl, apa kamu seingin itu denganku? Tapi kan belum pasti kita akan bersama." ujar Abel yang langsung mendapatkan kecupan hangat di bibirnya.
"Jangan pernah katakan itu lagi, aku sudah bilang kan kalau hanya Abelrta Gourich Guston yang bisa menjadi nyonya Xelone!" jawab Acarl setelah selesai mengecup bibir Abel. Sungguh, hanya Abel yang dia mau. Tidak untuk orang lain!
"Muahhhhh..... Aku juga tidak mau mempunyai pria lain selain Acarl Xelone. Pria sempurna di depanku ini, hanya boleh menjadi milikku!" ujar Abel seraya mengalungkan tangannya ke leher Acarl dan jangan lupa dengan kecupan yang dalam di bibir Acarl yang hangat.
Acarl yang mendengar Abel, langsung saja mendaratkan kembali bibirnya di bibir Abel. Menyesapnya dalam dan juga tangannya yang menahan tengkuk Abel. Ciuman indah di ruang makan nan sepi, menjadi saksi bisu betapa inginnya Acarl dan Abel untuk bersama dengan hubungan yang lebih kuat.
"Benar-benar manis." ujar Acarl setelah melepaskan bibirnya dari bibir Abel. Abel tersenyum dengan apa yang Acarl katakan, karena Abel juga merasakan apa yang Acarl rasakan. Tapi tanpa berlama lagi, Acarl kembali membuat Abel terpejam karena Acarl yang mulai manja dan mendaratkan wajahnya di ceruk leher Abel.
__ADS_1
"Aroma mu benar-benar candu."
"Acarl," gumam Abel membuat Acarl menjauhkan wajahnya untuk menatap Abel yang terlihat mengatur napasnya.
"Hampir saja kamu membenciku." ujar Acarl dengan tawa renyahnya.
Abel yang mendengar ucapan Acarl, menggelengkan kepalanya dengan senyum diwajahnya. "Mana mungkin aku membencimu. Paling aku akan membunuhmu." balas Abel dengan candaannya.
"Aku menunggumu,"
.
.
.
.
.
Hai semua 🥳
Apa kabar?
Baik baik ya!!!
Jangan lupa like, komen dan vote ya 🤭
Dukung wajib 👌
See you next part:)
__ADS_1