Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 100


__ADS_3

Situasi menegangkan terasa di mansion milik Acarl. Beberapa orang berkumpul dalam ruang tamu, dengan pikiran yang sama tentunya. Clara, Eron, Rian, Falida dan jangan lupakan orang yang paling cemas disini, Acarl. Semua orang itu merenungi pikiran masing-masing, dengan Cheiz yang mengintrogasi para bodyguard Acarl.


Acarl pulang dengan segera setelah mendengar kabar kalau Abel diculik. Acarl yang sudah memastikan penjagaan ketat untuk Abel, bahkan bisa lolos begitu saja. Geram rasanya saat mengingat para suruhannya tidak becus menjaga kekasihnya. Tapi setelah mendengar Abel yang ditusuk kalau mereka menyerang, Acarl tidak jadi menyalahkan suruhannya.


"Deon," panggil Acarl pada salah satu suruhannya. Yap, dia adalah orang yang Abel ingat sebelum dirinya diculik tadi.


Deon melangkahkan kakinya mendekat pada Acarl yang sedang duduk dengan tatapan kosong. " Iya Tuan," jawab Deon dengan sopan. Dengan perlahan, Acarl membangkitkan kesadarannya dan menoleh pada Deon.


"Apa rekan yang lain selamat?" tanya Acarl setelah mengatur nafasnya. Entah kenapa, Acarl merasa lemah sekarang. Rasanya separuh dari dirinya menghilang, membuatnya tidak mempunyai tenaga untuk melakukan sesuatu.


Deon melongo mendengar pertanyaan Acarl. Deon pikir Acarl akan menghancurkan wajahnya sekarang, karena tidak bisa menjaga Abel yang sudah terkenal dapat melunakkan Acarl. "Se-semua selamat,Tuan." jawab Deon apa adanya. Yah bisa dikatakan selamat bukan? kalau masih hidup?!


Acarl mengangguk-anggukkan kepalanya. Pikirannya kacau sekarang, bahkan wajahnya terlihat pucat. Semua yang melihat Acarl, ikut merasakan apa yang Acarl rasakan. "Apa kita akan diam terus seperti ini?" pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari seseorang yang geram sejak tadi. Clara. Dengan wajah garangnya, ia berjalan mendekat pada Acarl yang masih terduduk dalam diamnya.


Plak....


Sebuah tamparan, mendarat sempurna dipipi kiri Acarl. Acarl tidak bereaksi apapun, rasanya sakit ini tidak sebanding dengan apa yang ia rasakan sekarang. Acarl memang terlihat seperti mayat hidup sekarang, bernyawa tapi tidak bergerak. Sejak kepulangannya, Acarl berubah jadi gila sampai meninju tembok-tembok tidak bersalah. Tapi sekarang, pria itu diam bagaikan tidak punya raga.


"Apa kakak akan seperti ini terus? Abel pasti ketakutan disana! Dan kakak hanya berdiam diri kayak orang bodoh gini?!" kesal Clara sampai nafasnya naik turun.


Acarl yang mendengarkan apa yang Clara katakan, sekarang dirinya seperti mendapat hidayah. Tubuh lemas tadi, kini bangkit dari duduknya. Acarl berjalan dengan tergesa menuju ruang cctv yang sekarang sedang di cek oleh para pelayannya yang bekerja dimasion Acarl. Kejadian dimana Abel diculik, masih berada dipengawasan mansion Acarl. Seharusnya petunjuk cepat ditemukan bukan?


"Bagaimana penyelidikannya?" tanya Acarl dengan tegas pada suruhannya. Semua menatap Acarl dengan ragu, karena entah sejak kapan cctv dibagian penculikan mati.


"Ma-maafkan saya tuan, tidak tau sejak kapan cctv dilokasi itu mati semua." jawab salah satu pekerjannya.


Acarl yang mendengar itu, menggertakan giginya. Bagaimanapun juga, rasanya Acarl lemah untuk sekedar berpikir. Bayang-bayang Abel tertusuk masih berputar dibenak Acarl, padahal ia hanya diceritakan oleh Deon.

__ADS_1


"Ta-tapi tuan, kami bisa mengecek melalui cctv disebelahnya. Cctv itu tidak mati, tapi untuk melihat kejadian dengan jelas harus diperhatikan lebih seksama lagi." ujar pekerja itu membuat Acarl menghela nafas, setidaknya ada kemungkinan untuk dia mendapatkan informasi lebih lanjut tentang Abel.


Eron dan Rian tak henti-hentinya juga mengerahkan suruhannya untuk mencari Abel. Begitu juga dengan Clara dan Falida yang sama kesalnya dengan satu nama yang ada dibenak mereka berdua. Falida yang menyadari ketidak tertarikan Abel pada Noara, juga Clara yang mengetahui kalau Noara mulai mendekati Abel. Rasa geram di kedua wanita itu menjadi-jadi, lebih tepatnya saat...


"Nona sebenarnya terluka ditangannya. Nona Abel menyuruh saya untuk tidak memberitahukan siapapun, kalau saja hal ini tidak terjadi pada nona Abel." Semua yang mendengar penjelasan ini tentu saja terkejut.


Emely, dengan berani mengungkapkan semua yang Abel katakan padanya semalam pada Acarl dan yang lainnya. Bahkan kini tatapan dengan arti yang berbeda-beda mengarah pada Emely. "Maafkan saya, tapi saat itu nona Abel mengatakan hal yang mneyedihkan. Saya tidak tega untuk..."


"Hal menyedihkan?" tanya Acarl yang memotong penjelasan Emely. Dari kemarin Acarl menunggu panggilan dari Abel, tapi tidak ada satupun panggilan yang masuk. Dan apa hari ini? Abel diculik, semalam dia mengatakan hal sedih, kemarin dia terluka. Seberapa banyak lagi yang Acarl tidak tau?


"I-iya, Tuan. Nona Abel seperti orang yang berpamitan, Nona Abel mengatakan kalau seandainya dia pergi dari sini dengan nada yang sedih." ujar Emely menceritakan kejadian tadi malam saat ia membantu mengobati luka Abel.


"Apa Abel tau akan terjadi hal seperti ini? Tapi bagaimana bisa?" batin Acarl yang bertanya-tanya tentang penjelasan uang Emely katakan.


Acarl beralih menatap Emely lagi, seperti orang yang sudah menemukan sesuatu. " Apakah kemarin Abel pergi?" tanya Acarl dengan antusias. Emely mengangguk ragu pada Acarl. Acarl menggertakan giginya lagi dan berjalan dengan cepat untuk menemui pak Terry yang selalu mengantarkan Abel kemanapun gadis itu pergi.


"Saya mengantarkan nona Abel ke restauran Jepang yang ada di dekat alun-alun, Tuan." jawab pak Terry. Tanpa pikir panjang, Acarl menyambar kunci mobil miliknya dan melajukan mobilnya ketempat yang pak Terry katakan. Berharap ada petunjuk ditempat itu, Acarl optimis akan menemukan Abel secepatnya.


Disis lain....


Gadis dengan mata tertutup dan mulut terikat, hanya bisa meronta saat kedua tangan dan kakinya ditahan oleh orang-orang yang gadis itu tidak kenal. Tiba-tiba, kaki gadis itu ditendang dari belakang membuat gadis itu bertumpu lutut.


"Hei, cepat buka mulutnya. Bagaimana caranya memasukan obat kalau tidak dibuka mulutnya!" ujar salah satu orang yang memegang tangan gadis itu.


"Jangan katakan bodoh! Kalau gadis ini mendengarnya kan dia akan menolak." jawab pria satunya lagi yang tadinya juga memegang tangan gadis itu. Dan juga dia adalah pria yang menendang kedua kaki gadis itu agar bertumpu.


"Bodo amat! tinggal dipaksa saja."

__ADS_1


Gadis itu yang tak lain adalah Abel, berusaha keras meronta agar lepas dari cengkeraman pria yang tidak Abel ketahui itu. Apalagi sekarang Abel mendengar akan diberi obat? Tentu saja Abel terus berputar-putar sampai akhirnya salah satu kakinya diinjak lumayan keras oleh pria yang masih memeganginya.


"Kau banyak tingkah banget sih, lebih baik nurut untuk minum obatnya. Setelah itu, kau akan pergi jalan-jalan." ujar pria yang menginjak kaki Abel.


"Jalan-jalan?"


.


.


.


.


.


Hai semua 😭


Aku comeback 🥺


Aduh gimana ya? Gemes juga sama Acarl yang tiba-tiba gak bisa ngapa-ngapain gini😭


Tapi tunggu next ya🤭


Jangan lupa like, komen dan vote ya 😂


Dukung wajib 😂

__ADS_1


See you next part:)


__ADS_2