Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 105


__ADS_3

Entah sejak kapan, Abel menjadi penurut begini. Dirinya yang digiring pria tidak dikenal tadi, ikut saja tanpa membantah. Sungguh, sekarang yang Abel rasakan hanya lelah dan pusing. Pengaruh obat bius itu sebenarnya belum sembuh total, tapi Abel harus bisa menahannya agar terbebas dari Noara yang ingin menyerahkannya ke pria hidung belang itu.


"Signorina, posso sapere il suo ****?" (Nona, apa saya boleh tau namamu?) tanya laki-laki itu dengan sopan pada Abel yang terlihat sayu.


"Mi chiamo Abele, e tu?" (Namaku Abel, kalau anda?) jawab Abel seraya bertanya balik pada pria itu.


Pria itu tersenyum seraya menggiring Abel untuk duduk di kursi yang ada di cafe tempatnya mengamati Abel tadi. "Oh sì, presenta il mio **** Agam." (Oh iya, perkenalkan nama saya Agam.) jawab Pria itu yang kini duduk diseberang Abel.


Abel mengangguk-angguk paham. Dirinya masih mengedarkan pandangannya ke sekitar. Berjaga-jaga kalau Noara tau dirinya sudah tidak berada di ruangan itu. Pasti Noara akan segera menyuruh seseorang untuk mencarinya. Sedangkan Agam yang melihat Abel mengedarkan pandangannya, mengikuti arah mata Abel dan tidak ditemukan apapun selain orang-orang yang berjalan santai menikmati malam ini.


"Signorina, c'è qualcosa che ti preoccupa?" (Nona, apakah ada yang mengganggumu?) tanya Agam sembari menepuk tangan Abel yang berada diatas meja. Tentu saja Abel terkejut karena tepukan itu.


"Astaga! iya?" kaget Abel. Sekarang giliran Agam yang terkejut karena mendapati gadis didepannya ini bukanlah orang negara ini, melainkan negara yang sama dengan dirinya berasal.


"Kamu bukan orang sini?" tanya Agam membuat Abel membelalakkan matanya. Apakah ini yang disebut nasib baik bagi mereka yang baik?


Dengan senyumnya, Abel dengan antusiasnya menggenggam tangan Agam yang tadi menepuk punggung tangannya. "Kamu juga berasal dari negara yang sama denganku?" tanya Abel dengan antusias. Agam mengangguk mengiyakan, dan itu cukup membuat Abel berterimakasih pada Tuhan yang mempertemukannya dengan Agam.


"Apa kamu berwisata disini?" tanya Abel dengan senyumnya dan juga melepaskan tangannya dari tangan Agam. Jujur Abel malu juga karena saking antusiasnya, sampai tidak sadar bahwa tangannya sudah menggenggam tangan Agam dengan erat pula.


Agam tertawa kecil melihat Abel yang malu tapi berusaha menutupinya. "Tidak, aku bekerja disini. Dan cafe ini salah satu usahaku." jawab Agam yang membuat Abel ber oh ria.


"Kamu?" tanya Agam balik. Pertanyaan yang seketika membuat Abel tegang untuk menjawabnya. Tidak mungkin kan Abel mengatakan kalau dia diculik oleh orang yang terobsesi dengan kekasihnya. Padahal Abel dan Agam baru bertemu beberapa menit yang lalu.


Melihat Abel yang terdiam, membuat Agam mengalihkan pembicaraan." Yah, disini sangat dingin kalau malam. Tidak bagus untuk gadis sepertimu keluar dengan pakaian itu." ujar Agam membuat Abel semakin malu. Pasti terdapat sindiran dari kata-kata Agam, itu yang Abel pikirkan.


"Huh, apa begitu sambutanmu pada turis!" kesal Abel sambil memalingkan wajahnya. Agam yang melihat Abel tentu saja tertawa, apalagi melihat kedua tangan Abel yang berusaha memanjang-manjangkan rok yang tidak sampai lutut itu.


Kruyuukk~~


"HAHAHAHA!"


Suara tawa yang mewakili semu merah dipipi Abel. Abel memejamkan matanya dan merutuki perutnya yang tidak bisa diajak kompromi. Bagaimana bisa berbunyi saat dirinya sedang kesal pada pria di seberang tempat duduknya ini!?


Tak lama, seorang pelayan datang dengan membawa buku menu. Abel hanya melirik padahal dalam hatinya dia sangat ingin membuka menu itu dan membelinya. Tapi ingatkan kalau Abel diculik? Darimana uang yang dia dapat untuk membeli makanan di cafe yang terlihat mewah ini!

__ADS_1


"Perutmu mengatakan untuk minta traktir." ujar pria di seberang Abel. Dengan sok kesalnya, Abel mencoba membuka menu itu. Lembar demi lembar Abel buka, matanya tak sanggup melihat menu makanan Italia yang lengkap disini.


"Ehem! Lasagne con tanto formaggio sopra." (Ehem! Lasagna dengan keju yang banyak diatasnya.) ujar Abel dengan gaya anggunnya. Tentu saja dibalik itu ada suara berdesis orang yang menahan tawanya!


Setelah pelayan itu pergi, Abel kembali memalingkan wajahnya. Dan tanpa disadari, sepasang mata yang berada diseberangnya menatap kagum ciptaan Tuhan didepannya. Dilihat dari sisi manapun, Abel tetap cantik bukan? Tentu saja banyak pria yang tertarik dalam sekali bertemu dengannya. Apalagi dengan beruntungnya, pria diseberang Abel ini melihat kekonyolan Abek yang menambah kesan plus untuk Abel.


Tak lama, pesanan Abel datang. Dan aromanya....


"Aaaaaaaa lasagna! I miss you so much!" batin Abel berteriak saat aroma Lasagna merasuk kedalam indra penciumannya.


"Apa kamu tidak makan?" tanya Abel pada Agam sebelum menyantap lasagna yang sudah tersaji. Gelengan kepala langsung terlihat dari kepala pria itu. Sedangkan Abel mengangkat bahunya lalu menyantap makanannya. Setidaknya perutnya harus terisi sebelum harus berlomba lari lagi agar aman dari Noara.


"Kamu tinggal dimana?" tanya Agam tiba-tiba. Abel yang mendengar pertanyaan Agam, langsung saja tersedak. Dengan cepat Abel meraih minum dan meminumnya untuk menghilangkan rasa sakit di tenggorokannya.


"Emm... Ya?" tanya Abel untuk memastikan apa yang Agam katakan tadi. Dengan kepekaan yang tinggi, Agam menggeleng tanda tidak jadi bertanya. Agam tau kalau ada hal yang Abel sembunyikan, tapi untuk bertanya lebih jelas pasti bukanlah hal yang bagus. Mengingat kalau dirinya dan Abel belum lama kenal.


Sedangkan Abel masih dalam kegiatannya menghabiskan lasagna yang kini ada dihadapannya. "Kalau boleh tau, apa kamu merekrut pegawai?"


"Apa?!"


"Tuan, seperti rencana. Kini yang mencari keberadaan Nona di Italia sudah menyebar." lapor Cheiz yang masih. setia di samping Acarl yang masih sibuk dengan pencariannya.


"Hmm. Lanjutkan!" jawab Acarl yang langsung diangguki Cheiz.


Acarl yang kini terlihat, sangat berbeda dari biasanya. Mata seperti panda, badan yang tiba-tiba kurus seperti sedang diet, dan rambut yang acak-acakan seperti gembel. "Aroma apa ini?!"


Pertanyaan itu, tentu saja sindiran untuk Acarl yang tak pernah pergi dari tempat duduknya itu. "Kak! Apa kau sudah gila! Tidak mandi, tidak makan! Kalau kakak ipar liat nanti, siap-siap aja bakal kena omel!" cerocos Clara yang kini bergantian membujuk Acarl yang semakin lama semakin gila.


"Pergilah kalau tidak ada hal penting." jawab Acarl dingin tanpa menoleh sedikitpun pada Clara.


Clara yang geram, langsung saja mencabut kabel yang tersambung dengan komputer itu. Dan pastinya komputer itu langsung mati dan membuat Acarl kesal. "APA YANG KAU LAKUKAN! APA KAU TIDAK LIHAT AKU SEDANG BERUSAHA MENCARI ABEL!" marah Acarl pada Clara yang menatap Acarl tajam.


"APA KAKAK SUDAH GILA! MENELUSURI SENDIRIAN NEGARA ITALIA YANG LUAS ITU DENGAN SATELIT YANG KAKAK SIAPKAN ITU!" teriak Clara yang tak kalah kerasnya. Ya, dia harus menyadarkan kakak nya yang sudah gila ini. Sebelum akhirnya kacau sebelum menemukan Abel.


"Apa kakak tau, sudah berapa lama kakak meninggalkan kantor? Apa kakak tau kapan terakhir kakak makan? Dan apa kakak tau kapan terakhir kali kakak tidur!" serbuan pertanyaan langsung Clara lontarkan. Dan benar saja, sekarang Acarl langsung memijat pangkal hidungnya karena pusing dengan semua yang terjadi.

__ADS_1


"Aku tau kakak cemas karena Abel yang belum ketemu. Tapi apa dengan kakak seperti ini, maka semua akan baik-baik saja! Apa yang terjadi kalau kakak sakit? Sudah pasti kakak juga tidak akan pernah bisa mencari Abel yang mungkin masih berada ditangan wanita itu." lanjut Clara dengan melipat tangannya di dada.


Acarl menghela nafasnya, membenarkan apa yang Clara katakan. Dirinya memang gila sekarang, gila karena Abel yang tiba-tiba menghilang dan semua itu karenanya. "Apa yang harus ku lakukan!" lirih Acarl sembari mengusap rambutnya kasar.


Ini kali pertama Clara melihat kakaknya seperti ini. Saat dulu dia di pukul ayah sekalipun, tidak pernah Clara melihat kakaknya ini menangis. Tapi sekarang?


"Tenang saja, lebih baik kakak bergegas mandi. Lalu makan dan yang terakhir tidur. Ini sudah malam, dan lusa kakak harus ke Italia."Ujar Clara yang langsung membuat Acarl menoleh pada Clara.


"Italia?" tanya Acarl pada Clara. Gadis itu mengangguk membenarkan apa yang Acarl dengar.


"Carilah dia, bawa dia pulang." ujar Clara dengan senyumnya. Acarl tercengang, kenapa tidak dari dulu dia mencoba mencari Abel dengan tenaga sendiri? Acarl mengangguk mengiyakan permintaan Clara yang pastinya harus dia lakukan.


"Tunggu aku,Abel"


.


.


.


.


.


Hai semua 🥳


Udah nunggu ya?


Gimana nih? Babang Acarl udah bangkit loh!


Jangan lupa like, komen dan vote ya 🤭


Dukung wajib 👌


See you next part:)

__ADS_1


__ADS_2