
"Hosh hosh hosh... Mereka suruhan Noara kah? Mati aku kalau mereka menemukan ku." gerutu Abel di sepanjang jalannya. Bahkan tadi Abel sempat berlari karena takut tertangkap lagi.
Kini Abel sudah memasuki pasar yang ditunjukkan si kasir galak tadi. Abel menoleh kebelakang lagi untuk memastikan dia sudah aman, tapi harapannya pupus saat pria berjas hitam tadi masih berdiri tak jauh darinya. Mencari akal lagi, Abel berusaha masuk kedalam pasar dibagian yang ramai. Dia memilih berhimpitan agar pria berjas hitam itu tidak melihatnya lagi.
Dan benar saja, sekarang pria berjas itu sudah tidak terlihat lagi. Abel menghela nafas lega saat dengan menghilangnya pria berjas tadi.
Disisi lain, Pria berjas hitam dengan mata melihat sekeliling, berusaha mencari seorang gadis dengan kacamata dan masker tadi. "Tuan, maafkan saya. Entah kenapa, nona Abel lari dan sekarang saya kehilangan jejaknya di pasar." ujar pria berjas itu pada seseorang yang ada diseberang dengan menggunakan alat komunikasi ditelinganya.
Diseberang sana, seorang pria langsung bergegas menuju tempat yang dibicarakan suruhannya. Yap, pria itu adalah Acarl. Walaupun hari ini adalah dia baru sampai di negara ini, tapi tetap saja tekad Acarl untuk menemukan Abel lebih besar dari rasa lelahnya.
Sedangkan seorang gadis dengan topi dan maskernya, langsung melanjutkan langkahnya menuju tempat yang menjual ikan. Ikan yang diminta si kasir galak itupun berhasil Abel dapatkan. Abel melangkahkan kakinya untuk kembali ke cafe dengan terus mewaspadai sekitarnya. Takut-takut nanti dia bertemu dengan pria berjas hitam lagi.
Acarl yang langsung bergegas menuju pasar dimana kabarnya Abel berada, tidak menemukan gadis itu. Tapi Acarl sedikit lega, artinya gadisnya itu tidak berada ditangan Noara sekarang. Namun semua itu belum membuat Acarl puas, Acarl akan terus mencari Abel dan yang pasti akan memeluknya lagi.
-------------------------
"Abel? kenapa pakek masker dan kacamata seperti itu?" tanya seorang pria pada Abel setelah gadis itu sampai ke cafe tempatnya bekerja.
"Hehehe, itu karena....... karena.......karena apa ya?" jawab Abel yang malah bertanya balik pada pria didepannya yang tak lain adalah Agam, bosnya sendiri. Agam yang mendengar pertanyaan dari Abel, menepuk jidatnya melihat gadis didepannya ini.
Menghela napasnya, Agam menatap gadis didepannya yang membawa kantong berisikan ikan. " Hmm, lanjutkan saja kerjamu." perintah Agam yang langsung diangguki Abel.
Sebenarnya, Agam yakin betul kalau Abel bukanlah gadis dengan kehidupan tertekan seperti yang gadis itu ceritakan tempo lalu. Tapi, melihat Abel yang berusaha menyembunyikan cerita sebenarnya, membuat Agam yakin jika gadis itu sedang dalam masalah sekarang.
"Gadis seperti apa sebenarnya kamu?" gumam Agam sembari melihat Abel yang sedang bekerja menulis menu yang pelanggan minta.
Mengabaikan pemikirannya, Agam segera mengangkat telepon yang sejal tadi berdering. Setelah menerima ponsel itu, Agam pergi begitu saja dengan raut wajah panik. Sedangkan Abel yang melihatnya, menatap bingung dengan bos nya itu. Tapi Abel tidak menduga kalau yang dilakukannya ini sedang diawasi sepasang mata yang menatap tajam padanya.
"Ei tu! Mettiti al lavoro!" (Hei kamu! Cepat bekerja!) teriak si kasir galak yang memergoki Abel menatap kepergian bos nya tadi. Abel yang notabene ngeri saat melihat wajah si kasir galaj itu, akhirnya mengangguk saja sebelum kepalanya dipenggal nantinya.
__ADS_1
Segera Abel melanjutkan kerjanya yang sempat tertunda tadi. Hari ini pikiran Abel benar-benar berat! Hampir tertangkap oleh pria berjas hitam tadi, diinterogasi oleh bos nya, kena mental si kasir galak. Wah, sepertinya kesialan Abel tidak ada habisnya. Saat memikirkan itu, Abel tersadar saat tiba-tiba telepon cafe yang berada tak jauh darinya berdiri berdering. Tapi melihat kasir yang kosong, membuat Abel berinisiatif untuk mengangkatnya.
"Ciao con il caffè Agam qui. Posso aiutarla?" (Halo dengan cafe Agam disini. Ada yang bisa saya bantu?) sapa Abel dengan ramah.
"Ini aku, katakan pada karyawan lainnya kalau dalam seminggu ini aku tidak datang ke cafe dulu." jawab orang diseberang yang tak lain adalah Agam.
"Oh, iya baik. Saya akan beritahukan." jawab Abel sebelum akhirnya telepon terputus. Abel meletakan telepon itu, tapi....
Tunggu dulu! Kasir tidak ada orang, dan belum ada pengunjung lain yang datang. Apakah ini kesempatan Abel? Abel tersenyum terharu sebelum akhirnya jari-jarinya bergerak lincah di angka-angka itu.
"Halo?"
"Acarl?"
"Cosa stai facendo qui?" (Apa yang kamu lakukan disini?)
Prakkk....
"Ecco, il signor Agam ha chiamato prima per dirgli che non può tornare al caffè tra una settimana". (Anu itu, tadi pak Agam menelpon untuk memberitahu kalau dia tidak bisa datang ke cafe dulu selama seminggu nanti.) jawab Abel dengan menundukkan kepalanya. Beruntung si kasir galak mempercayainya, dan sekarang menyuruh Abel untuk kembali bekerja.
Disisi lain, Seorang pria sedang berkeliling mencari gadisnya. Merasakan ada getaran di sakunya, pria itu segera mengambil dan langsung mengangkatnya. Bukan apa, tapi pria itu mengira si pemanggil adalah suruhannya.
"Halo?" sapa pria itu dengan dingin.
"Acarl?"
Deg...
Saat itu juga, pria yang dipanggil Acarl itu menghentikan langkahnya. Suara yang familiar, suara yang amat dia rindukan. Acarl yang tadinya menempelkan ponselnya di telinga, langsung melihat layar ponselnya yang kini sudah berganti wallpaper seorang gadis yang amat dia rindukan itu.
__ADS_1
"Ada tugas penting untukmu. Lacak dimana nomor ponsel ini berada! Aku mengandalkan mu Eron." ujar Acarl pada orang diseberang sana melalui panggilan suara. Acarl yakin betul jika tadi itu bukanlah halusinasi Acarl.
Gadisnya, orang yang dirindukannya, menyapanya dengan singkat namun berarti untuk Acarl. Dalam hati Acarl, dia bersumpah akan secepatnya menemukan gadisnya ini. Apapun yang harus Acarl lalui, dia akan melakukan apapun demi gadisnya.
"Tunggu aku Abel, kita akan pulang bersama." gumam Acarl sebelum akhirnya dia melanjutkan langkahnya.
-----------
Malam hari yang dingin, membuat Abel sedikit kedinginan di mess yang kini ia tinggali. Kalau di rumahnya sendiri pasti ada penghangat ruangan, disini berbeda. Abel harus beradaptasi dengan semua keadaan yang ia jalani sekarang. Walaupun harus menahan dingin, menahan badannya yang sakit karena kasur yang lumayan keras.
Abel melihat sekeliling, semua kosong. Tentu saja kosong! disini dia baru dan tidak memiliki barang bawaan apapun. Hanya ada lemari, kasur dan meja didalam mess ini. Yah, walaupun mess ini terlihat nyaman karena bersih sih. Tapi tetap saja rasanya hampa. Abel hanya berharap, ia cepat bisa kembali. Abel berharap, Acarl menemukannya. Abel berharap, panggilan tadi Acarl mendengar dengan baik. Intinya Abel ingin pulang sekarang.
.
.
.
.
.
Hay semua 🤭
Apa kabar?
Babang Acarl dikit lagi bakal ketemu sama mbak Abel loh😊
Jangan lupa like, komen dan vote ya 🤭
__ADS_1
Dukung wajib 👌
See you next part:)