
Kini dihadapan Abel ada dua manusia yang entah sejak kapan dekat. Dan itu mampu membuat hati Abel merasa iri karena harus menyaksikan acara malu-malu kucing antara dia orang didepannya secara langsung didepannya ini.
"Ehem, napa rasanya canggung gini yak?" sindir Abel membuat dua orang diseberangnya ikut berdehem untuk mencairkan suasana.
Falida langsung saja melanjutkan makannya, sementara pria disampingnya masih mengatur napasnya sebelum akhirnya bertanya pada Abel. "Gimana lukamu?" tanya pria itu pada Abel yang sedang memakan makanannya.
Abel mendongakkan kepalanya dan menatap pria yang duduk disamping Falida. "Oh ini? Udah baikan sih. Yang penting rutin dikasih salep aja kok," jawab Abel sebelum kembali melanjutkan memakan makanannya. Tentu saja suasana canggung masih ada disini, walaupun pria itu berusaha memulai pembicaraan lebih dulu.
"Kalau kalian ada masalah, selesaikan baik-baik. Aku akan pergi dulu ke kelas, dan aku peringatkan padamu Rian! Jangan apa-apakan Falida sahabatku!" ujar Abel yang kemudian memilih pergi meninggalkan dua manusia yang saling diam itu.
Falida yang mendengar Abel pamit ke kelas, menjadi panik sendiri dan mencoba untuk berdiri tat kala tangannya di cekal oleh pria disampingnya itu. "Jangan pergi. Ada hal yang harus kita bahas bukan?" ujar Rian membuat Falida bertambah panik namun pasrah saja.
Dan disinilah kedua manusia itu sekarang, di rooftop sekolah yang sepi. Jam istirahat memang tidak lama, tapi Falida maupun Rian tetap naik ke rooftop sampai bell masuk berbunyi. Tentu saja kini suasana terasa canggung, apalagi hanya. mereka berdua disini.
"Untuk yang waktu itu, gue nggak sengaja." ujar Rian mendahului pembicaraan. Dan itu mampu membuat Falida terjengkat kaget karena tiba-tiba Rian berbicara tanpa aba-aba sedikitpun.
Mengatur napasnya, Falida mencoba untuk kembali ke ekspresinya semula. "Emm, tidak usah dipikirkan lagi. Gue tau itu bukan sengaja," jawab Falida membuat Rian tersenyum kecut, sembari mengingat kejadian waktu itu yang hampir membuatnya gila.
Flashback on
Saat mansion milik Acarl sedang tegang, semua orang berusaha sekuat tenaga mereka untuk mencari Abel yang diculik. Dan itu berarti juga membuat Rian dan Falida ikut mencari keberadaan Abel.
Rian yang saat itu ingin mengambil beberapa contoh drone untuk mencari Abel, mengajak Falida yang saat itu terlihat bingung juga harus berbuat apa. Karena Clara yang sibuk memarahi kakaknya dan juga Eron yang mengatur strategi bersama anak buahnya.
"Ikut gue ambil beberapa drone," ujar Rian pada Falida yang langsung saja di angguki gadis itu.
Falida yang berada satu mobil dengan Rian, merasa canggung sendiri karena berada di samping Rian yang notabene cow kost wanted di sekolahnya. Entah kenapa, rasanya insecure melihat Rian yang terlampau tampan dengan rambut acak-acakan menutupi jidatnya. Tak lama, Falida tersadar dari lamunannya tentang Rian, karena pria disampingnya mengetuk stir lumayan keras.
__ADS_1
"Bodoh! bagaimana bisa Abel sampai diculik di kediaman Acarl seperti itu!" gerutu Rian membuat Falida menelan ludahnya susah. Jujur saja, Falida sedikit terkejut dengan gerutuan Rian. Falida memang tau kalau Rian menyukai Abel ,tapi apakah Rian tidak mengingat kalai sekarang Acarl lah yang memiliki Abel?
"Apa kamu sangat khawatir dengan Abel?" tanya Falida membuat Rian menoleh pada Falida. Tatapan dingin yang Falida dapat dari Rian, membuat Falida langsung mengalihkan pandangannya kedepan, begitu juga dengan Rian yang langsung kembali fokus ke jalan sampai akhirnya mobil berhenti di kediaman Ariens.
Dengan malu-malu, Falida turun mengikuti Rian yang mendahuluinya. Dan tanpa diduga, sambutan dari nyonya dan tuan Ariens langsung Falida dapatkan saat itu juga.
"Lo boleh duduk dulu, gue mau keatas ambil drone nya." ujar Rian mempersilahkan Falida untuk duduk di ruang tamu yang ada. Dan Falida dengan malu-malu mengangguk mengiyakan apa yang Rian katakan.
Belum lama Falida duduk, kini dihadapannya duduk sepasang suami istri yang tadi juga menyambut Falida. Sungguh, Falida sangat malu jika seperti ini. Apalagi melihat nyonya Ariens yang cantik dan juga awet muda itu. Benar-benar membuat Falida insecure kalau melihatnya.
"Nak, sudah berapa lama kamu dengan Rian?" tanya nyonya Ariens membuat Falida membelalakkan matanya terkejut dengan pertanyaan nyonya Ariens yang tiba-tiba.
"Itu, saya, saya tidak bersama Rian. Kami hanya berteman." jawab Falida dengan tawa kecil diakhirnya.
"Ma, apa kamu tidak pernah muda saja. Tentu saja dia malu kalau kamu bertanya seperti itu!" ingat tuan Ariens membuat nyonya Ariens memanyunkan bibirnya. Dan itu membuat Falida berharap agar Rian cepat turun, karena situasinya sekarang sungguh mengkhawatirkan.
"Apa kamu tau? Baru kali ini Rian membawa perempuan kerumah. Mama sungguh bingung dengan anak itu, bahkan mama sempat mengira anak laki-laki ku itu g*y." ujar nyonya Ariens membuat Falida gelagapan sendiri. Harus dengan cara apa lagi dia menyangkalnya?!
"Falida, kamu sungguh cantik. Saat kamu datang bersama Rian tadi, mama sudah yakin akan segera menggendong cucu." lanjut nyonya Ariens yang seketika membuat pipi Falida memanas karenanya. Sungguh, sekarang ingin sekali Falida berteriak menyangkal segala hal yang nyonya Ariens katakan.
Langkah yang berasal dari tangga, membuat Falida cukup bernapas lega. Setidaknya pria yang datang bersamanya kini sudah turun sebelum nyonya Ariens semakin menanyainya macam-macam. "Apa yang mama katakan pada Falida? Dan bahkan tidak ada makanan atau minuman untuk tamu?" tanya Rian membuat nyonya Ariens menepuk jidatnya.
"Aduh mama lupa, kalau begitu Falida tetap disini ya? kita makan bersama. Falida belum makan kan?" pinta nyonya Ariens yang di jawab gelengan kepala dari Falida, tapi gelengan itu membuat nyonya Ariens salah paham sendiri.
"Huh, memang anakku tidak peka. Kekasihnya belum makan, tapi tidak diberi makan!" sindir nyonya Ariens pada Rian yang kini terkejut mendengarnya. Apa? Kekasih? Falida? Rian langsung mengalihkan pandangannya pada Falida, sementara gadis itu menggeleng mengerti arti tatapan dari Rian.
"Itu, nyonya. Saya tidak lapar, dan juga ada hal yang harus saya dan Rian urus." ujar Falida mencoba kabur dari sini. Dan itu malah membuat senyum jail terlihat jelas diwajah wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Dengan senyumnya, nyonya Ariens mendekat pada Falida untuk membisikan sesuatu. " Tidak apa-apa jika didalam, itu akan membuat mama cepat mendapatkan cucu."
Passtt!
Wajah Falida seketika memerah mendengar bisikan dari nyonya Ariens. "Ti-tidak!"
.
.
.
.
.
Halo semua 😂
Apa kabar semuanya👌
Sehat kan? Sehat-sehat ya🥺
Jangan lupa like, komen dan vote ya ðŸ¤
Dukung wajib 👌
See you next part:)
__ADS_1